BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#51



Tak ada obrolan apapun antar keduanya selama dalam pejalanan seperti biasanya. Sesampainya di apartemen, Lara turun dari mobil terlebih dulu begitu Phoenix memakirkan mobilnya di depan lobby apartemen.


Lara tak mengucapkan ucapan terima kasih atau apapun pada Phoenix. Lara berjalan menuju arah lobby dan tiba-tiba sebuah sepeda motor menuju ke arahnya dengan menyerempet Lara hingga Lara terjatuh akibat melangkah mundur dan tubuhnya tak seimbang akibat memakai sepatu hak tinggi.


Phoenix segera menghampiri Lara dan membantunya berdiri.


"Are you okey?" tanya Phoenix.


"Hmm," jawab Lara singkat dan membuka sepatunya lalu menentengnya kemudian kembali berjalan dengan santai.


"Kau tahu siapa dia?" tanya Phoenix mengikuti Lara di sampingnya.


"Ya," jawab Lara seakan tak terjadi apapun.


"Kau bercanda? Kau tak melaporkan ini?" tanya Phoenix yang heran melihat sikap Lara.


Lara tak menanggapi dan membuat Phoenix menahan tangan Lara hingga Lara menghentikan langkahnya.


Lara menatap mata biru keabu-abuan milik Phoenix. Dan Phoenix masih melihatnya dengan heran.


"Siapa dia?" tanya Phoenix.


"Seseorang yang tak penting," jawab Lara mendongak ke arah wajah Phoenix karena dia telah melepaskan sepatu hak tingginya dan otomatis tingginya berada jauh di bawah Phoenix.


"Aku masih tak memahamimu, Lara," ucap Phoenix.


"Tak ada yang menyuruhmu untuk memahamiku," jawab Lara dan mencoba melepaskan tangan Phoenix dari pergelangan tangannya.


"Aku sudah biasa dengan hal ini. Dan tak ada Gonza disampingku saat ini, jadi tak ada yang menjagaku," lanjut Lara.


Lalu Lara berjalan kembali masuk ke dalam lobby dan menuju lift. Phoenix mengikuti Lara dari belakang. Kemudian masuk bersama ke dalam lift.


Lara masih bertelanjang kaki dan tampak luka segaris di betisnya. Lara hanya melihatnya dan memain-mainkan kakinya saja sambil bersender di dinding lift yang dingin itu.


Phoenix juga melihat luka kecil itu.


TING ...


Lara berjalan di depan dan Phoenix tetap berjalan di belakangnya hingga akhirnya Lara sampai di depan pintu apartemennya.


"Kau punya kotak obat?" tanya Phoenix sebelum Lara membuka pintunya.


Lara hanya diam dan mengikuti langkah Phoenix. Dia berjalan menuju ruang tengah dan duduk bersender di sofa.


Tak lama kemudian, Phoenix keluar dari arah kamarnya sembari membawa kotak obat. Phoenix berlutut dan mengobati luka yang ada di betis Lara itu.


"Itu hanya luka kecil," kata Lara.


"Tapi lukanya cukup panjang," jawab Phoenix.


Setelah mengobati luka Lara, Phoenix memberikan kotak obat itu pada Lara.


"Ambillah untukmu," ucap Phoenix.


"Aku bisa membelinya sendiri nanti," jawab Lara.


"Aku ingin minum, kau tak keberatan mengambilkanku minum, bukan?" ucap Lara.


Phoenix tak menjawab dan langsung menuju dapurnya untuk mengambil 2 kaleng minuman soda di kulkasnya.


Lara tersenyum tipis ketika Phoenix membawa 2 kaleng minuman. Itu artinya Phoenix juga akan minum bersamanya.


"Thanks," ucap Lara ketika mengambil minuman itu dari Phoenix.


"Tak biasanya kau mengucapkan kata keramat itu," kata Phoenix yang ikut duduk di sebelah Lara.


"Aku sedang mood untuk mengatakannya. Bersyukurlah kau mendengar kata keramat itu dariku," jawab Lara sembari meminum minuman sodanya.


Lara kemudian mengambil ponsel di tasnya dan tampak mengirim pesan pada seseorang.


"Aku akan menghabiskan ini dulu lalu akan pergi jika kau tak keberatan," ucap Lara tanpa melihat ke arah Phoenix.


"Kau mencurigakan," jawab Phoenix.


Lara tertawa pelan.


"Bukankah kau ingin kita lebih dekat karena kita sedang berbisnis? Baiklah, aku akan pulang saja," ucap Lara.


Phoenix ikut tertawa pelan dan kemudian bel pintu terdengar. Phoenix beranjak dari sofanya dan segera menuju ke arah pintu.