
"Lara ... Buka pintunya, kau sudah terlalu lama di kamar mandi. Aku akan mendobraknya jika kau tak membukanya," ucap Phoenix.
Tak lama kemudian, Lara membuka pintunya dan tampak sudah segar dengan hanya memakai bathrobe saja.
"Mengapa kau masih di sini? Pergilah, ini kamarku, bukan kamarmu," ucap Lara dingin.
Lalu Phoenix memegang bahu Lara tetapi Lara menghempaskannya dengan kasar.
"Don't touch me. Jangan menyentuhku sama sekali," jawab Lara menjauh dari Phoenix.
"Aku akan memanggil kak Velvet untuk mengusirmu dari sini jika kau sampai menyentuhku," ancam Lara.
"Aku bukan milikmu. Dan aku menikahimu karena anak yang kukandung saja. Jadi jangan pernah menyentuhku sama sekali. Aku membencimu," ucap Lara dingin dan mengambil baju apapun yang ada di dalam lemari karena bajunya masih ada di kopernya. Dan kopernya ada bersama Iris.
"Kau pikir aku akan menuruti ucapanmu? Tidak, kau milikku, Lara. Aku akan selalu berada di dekatmu apapun yang terjadi," ucap Phoenix tak mau kalah.
Lara dan Phoenix memang memiliki sifat keras kepala yang sama.
"Uuuuurrgghh," geram Lara sambil memakai kemeja putih yang ada di dalam lemari itu.
"Itu baju milik daddy," ucap Phoenix.
"I don't care," jawab Lara kesal dan tetap memakai baju itu di depan Phoenix.
Pemandangan tubuh polosnya tentu saja membuat Phoenix mematung. Apalagi dia sangat merindukan Lara.
Phoenix akhirnya menghampiri Lara dan mencium bibirnya dengan penuh gairaah. Bibir penuh yang sangat dirindukannya.
Lara berada dalam posisi galau. Dia ingin mendorong dada Phoenix tetapi dia tak memungkiri bahwa dirinya juga menginginkan hal ini.
Beberapa lama tak bertemu Phoenix membuatnya merindukan Phoenix begitu dalam. Dan Lara yakin bahwa setelah ini dirinya pasti akan goyah.
Tangan Phoenix langsung masuk ke dalam kemeja Lara yang belum terkancing itu. Ya, itu memang salah Lara karena telah membangkitkan hassrat Phoenix.
"Kau yang memulainya, Baby," ucap Phoenix berbisik.
Kini ciuman Phoenix berpindah ke leher putih Lara yang membuat guratan-guratan merah di sana karena goresan kasar jambangnya.
"Kau tak akan bisa menolak sentuhanku, Lara. Kujamin itu," lirih Phoenix.
Lara mengakuii bahwa dia memang tak bisa menolak hal ini dari Phoenix dan dia merutuki dirinya sendiri karena hal itu.
"Aku akan menikmatinya. Hanya menikmatinya saja," jawab Lara pelan dengan tubuh yang sudah menempel pada Phoenix saat ini.
Lalu Phoenix mengangkat tubuh Lara ke atas ranjang dan membuka baju mereka berdua. Kemudian, Phoenix langsung memasukkannya dengan perlahan.
Dia ingin tetap berhati-hati karena Lara dalam keadaan hamil muda.
"Kau menyukaiku karena hanya sekss semata?" tanya Lara.
"Tidak. Apakah kau percaya jika aku mencintaimu sejak pandangan pertama?" bisik Phoenix.
Lara menatap mata Phoenix dan Phoenix menghentikan gerakannya sementara.
"Aku sepertimu, Lara. Aku menyukaimu tetapi sayangnya aku sama sekali tak mengingat wajahmu." Jari Phoenix mengusap pelan pipi Lara.
Lalu Phoenix menggerakkan tubuhnya kembali di atas Lara.
Lara terdiam karena ucapan Phoenix itu. Dia masih sangsi dengan yang diucapkan oleh Phoenix.
"Kau masih tak percaya?" tanya Phoenix.
"Hmm," jawab Lara jujur.
"Aku tak peduli hal itu," ucap Phoenix tersenyum dan melanjutkan permainan panasnya bersama Lara.
Cukup sulit bagi Phoenix untuk tidak bergerak liar di atas Lara karena Phoenix memang benar-benar sangat merindukan Lara.
Tetapi demi bayinya, Phoenix berusaha keras mengontrol tenaganya agar tak menyakiti Lara dan calon bayinya.
"I love you. Itulah mengapa aku ingin kau kembali menjadi Laraku yang dulu. Gadis cantikku yang penuh kasih," bisik Phoenix.