BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#92



TOK TOK TOK ...


Suara ketukan terdengar di pintu ruangan Lara ketika Lara dan suami tampannya itu berciuman.


"Lepaskan aku," kata Lara dan melepaskan tangan Phoenix yang ada di pinggangnya.


Lara menghapus lipsticknya yang belepotan di bibirnya dan juga bibir Phoenix. Kemudian Lara turun dan meja dan merapikan bajunya yang sedikit berantakan.


Phoenix juga merapikan rambut Lara yang sedikit terlepas ikatannya.


"Masuklah," ucap Lara.


Lalu Beatrice tampak masuk dan menghampiri meja Lara. Di balik Beatrice ada seseorang yang sangat di kenalnya.


"Ada tamu untuk anda, Nona," ucap Beatrice dan terlihat Davina di belakangnya.


Davina tak tahu jika ada Phoenix di sini.


"Ada apa Davina?" tanya Phoenix terlebih dahulu karena sebenarnya Phoenix sudah memperingatkan Davina untuk tak menemui Lara apapun alasannya.


"Aku ingin berbicara dengan Lara," jawab Davina sedikit canggung.


"Ada apa?" tanya Lara.


"Beatrice keluarlah," ucap Lara pada sang asisten.


Lalu Beatrice pun keluar dari ruangan Lara.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu dan Phoenix, Lara," kata Davina.


"Kau tak perlu datang kemari hanya untuk mengucapkan selamat," sahut Phoenix.


"Ada yang ingin kau katakan selain itu?" tanya Lara lagi.


Davina terdiam sebentar lalu dia memberanikan dirinya untuk menatap ke arah Phoenix.


"Apakah karena permusuhanku dengan Lara, kau mendepakku dari kursi kepemimpinan perusahaanku sendiri, Phoenix?" tanya Davina.


"Ya," jawab Lara tanpa menunggu jawaban dari Phoenix.


"Sungguh tak masuk akal. Kinerjaku sangat bagus dan aku berhasil menjalankan perusahaan itu dengan sangat baik. Tetapi kau menurunkan posisiku hanya karena seorang wanita?" tanya Davina tajam.


"Apa kesalahanku? Hanya karena dia?" Davina menunjuk Lara.


"Aku istrinya jika kau lupa, Davina. Dan aku bukan 'HANYA DIA'. Aku adalah istrinya," jelas Lara dengan tegas dengan senyum meremehkan pada Davina.


Davina terdiam karena kata-kata dari Lara itu. Betapa sakit hatinya mendengar hal itu.


"Kau sangat jahat, Lara. Kau sangat jahat. Kau menggunakan Phoenix untuk membalasku," kata Davina.


"Sebaiknya kau pulang, Davina. Jangan memperkeruh suasana," ucap Phoenix karena tak ingin ada keributan di sini.


"Aku hanya mengambil posisimu, Davina. Jika aku mau, aku bisa saja menyewa seorang pria untuk memperkosamu seperti yang kau lakukan padaku dulu," kata Lara.


"LARA!!" teriak Davina.


"DAVINA!! Keluarlah, please" teriak Phoenix yang berdiri di depan Lara karena takut Davina akan melakukan sesuatu yang buruk pada Lara yang sedang hamil.


"Aku sudah bersujud minta maaf padamu, Lara. Apakah itu masih kurang? Aku benar-benar meminta maaf padamu akan perlakuan burukku padamu dulu," kata Davina yang mulai menangis.


"Kau tak akan pernah kumaafkan, Wanita jahat. Tak akan pernah. Kau hanya serigala berbulu domba. Kau terlalu banyak playing victim. Sudahi dramamu," ucap Lara santai.


"Kau bisa membuatku mati perlahan karena hal ini," kata Davina yang masih menangis dan sedikit berteriak.


"Itu yang kutunggu," ucap Lara.


"Oh God. Davina, aku mohon keluarlah!!" bentak Phoenix.


"Aku tak akan keluar, Phoenix!! Dia wanita yang sangat jahat. Dia akan menghancurkan hidupku secara perlahan. Dia sudah menghancurkan persahabatan kita. Tidak sadarkah kau akan hal itu?" bentak Davina.


"Matilah Davina. Lebih baik kau bunuh diri sekarang daripada semakin tersiksa nantinya," balas Lara dengan tenangnya.


Phoenix kemudian menarik lengan Davina dan membawanya keluar ruangan dengan paksa. Sekali lagi, Phoenix tak ingin ada keributan di kantor Lara.


Lara melihatnya dengan melipat tangannya di depan dadanya.


"Sangat tidak seru," gumam Lara. Tak lama kemudian, Phoenix kembali masuk.


"Ayo kita pulang," kata Phoenix menggenggam tangan Lara.