BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#48



Galy dan Rey memutuskan untuk kembali ke Swiss dan Rey sudah membicarakan hal ini pada Phoenix. Lagi pula Davina tinggal di New York jadi Davina dan Lara tak akan bertemu.


Rey juga menyuruh Phoenix untuk tak terlalu sering bertemu Davina. Rey juga mengawasi pergerakan Lara dan Davina untuk sementara.


Dia hanya ingin Lara tak terlibat dalam masalah yang membahayakan apalagi sampai melakukan tindakan kriminal. Ini dilakukannya juga untuk kebaikan Lara.


*


*


*


Seminggu berlalu ...


Tak ada sesuatu yang terjadi dan Lara tampak sibuk dengan pekerjaannya. Velvet sering meneleponnya dan bahkan tiap hari selalu mengiriminya pesan semangat untuk Lara.


Velvet ingin Lara hidup dengan baik dan menjadi sukses sesuai dengan apa yang diimpikannya selama ini.


Bukannya Velvet ingin membuat Lara lupa akan dendamnya, tetapi dia ingin melihat Lara bahagia dan hidupnya berjalan baik-baik saja karena Lara sudah cukup banyak mengalami ujian hidup yang begitu berat dulu.


Lara juga jarang bertemu Phoenix karena pekerjaan mereka belum mengharuskan mereka untuk bertemu. Hanya terkadang mereka berpapasan di apartemen apalagi Phoenix memang sedang sibuk-sibuknya ke luar kota.


"Nona, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap Caroline -- asisten Lara.


"Siapa?" tanya Lara yang tak melihat ke arah Caroline dan masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Dia tak menyebutkan namanya. Dia seorang wanita paruh baya," jawab Caroline.


"Suruh dia masuk," perintah Lara.


"Baik, Nona," jawab Caroline.


PLAK ...


Tangan wanita itu tampak menampar Lara dengan keras. Lara memegang pipinya dan melihat ke arah wanita itu.


"Kau berani melukai putriku??? Kurang ajar sekali kau!!! Dasar anak haram!!! Meskipun kau sudah sukses, aku akan selalu melihatmu sebagai anak haram jalanan yang menjijikkan, Lara!!" teriak Berly Wilson.


Lara hanya diam dan mengawasi Berly saja. Dia tak menanggapi apapun.


"Jauhi keluarga Robert!!! Mereka tak sepadan denganmu dan jangan merusak kehidupan putriku lagi dengan mendekati Phoenix. Dia milik Davina ... Hanya milik Davina!!!" kata Berly dengan nada marah.


Senyum Lara tersungging tipis.


"Jadi Davina menyukai Phoenix? Dan dia takut aku merebutnya? Begitu?" tanya Lara datar.


"Kau tak akan bisa merebutnya, Lara. Keluarga Robert sangat menyayangi Davina begitu juga dengan Phoenix. Kau tak akan bisa masuk ke dalam kehidupan mereka yang berkelas. Kau hanya manusia rendahan dari dulu hingga sekarang," geram Berly.


Lara tiba-tiba tertawa dan membuat Berly semakin kesal karena merasa Lara menertawakannya. Lara beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Berly.


Tingginya yang semampai, membuat dia harus menunduk ketika melihat ke arah Berly.


"Aku akan membuat putri kesayanganmu itu kehilangan semua yang di milikinya termasuk keluarga Robert. Bahkan aku berancang-ancang akan membeli perusahaannya. Aku ingin melihatnya hidup di jalanan bersamamu, wahai Nyonya sombong," ucap Lara dengan nada dingin.


"Kau pikir Phoenix akan membiarkan hal itu?" tanya Berly meremehkan.


"Aku akan melakukan apapun untuk bisa mewujudkan keinginanku ini. Oh ya, aku berterima kasih padamu telah mengatakan hal ini padaku. Jadi aku bisa menentukan langkahku selanjutnya untuk menghancurkan Davina dari titik terdalamnya yaitu Phoenix," jawab Lara dengan menatap tajam mata Berly yang tampak sudah berapi-api.


Ucapan Lara membuat Berly marah dan menaikkan tangannya lagi untuk menampar Lara tetapi Lara menangkisnya dan mendorongnya.