
Ting Tong ..
Bel di pintu apartemen Lara berbunyi.
"Ambilkan makananku, please," ucap Lara pada Phoenix.
"Hmm," jawab Phoenix singkat dan mengecup bibir Lara.
Phoenix menuju pintu dan membuka pintunya. Iris dan Gonza tampak sudah berada di depan pintu dengan membawa banyak makanan.
"Ini semua pesanannya?" tanya Phoenix yang cukup amazing dengan makanan yang dibawa Gonza.
"Ini semua makanan kesukaan Nona Lara, Tuan. Jadi nona Lara akan memilih makanan mana saja yang diinginkannya nanti," jawab Gonza.
Phoenix melihat Gonza dengan sedikit pandangan cemburu.
"Jadi kau tahu semua makanan favorit istriku?" tanya Phoenix seakan tak terima karena dia bahkan tak tahu satupun makanan kesukaan Lara.
"Aku mendampingin Nona Lara sejak remaja, Tuan. Jadi aku sangat mengenalnya," jawab Gonza menunduk.
"Wait, kau tahu kesukaanku juga, Gonza?" tanya Iris.
"Bukan tugasku untuk mengetahuinya," jawab Gonza pada Iris.
Lalu Phoenix mengambil semua makanan itu dari tangan Gonza dan Iris.
"Di mana kalian tidur? Maksudku Iris," tanya Phoenix.
"Aku akan menginap di rumahnya, Tuan," jawab Iris.
"Ah baiklah. Itu ide yang bagus," jawab Phoenix.
"Terima kasih atas bantuannya," ucap Phoenix lagi.
Lalu Phoenix menutup pintunya.
Dia kemudian berjalan menuju ke sofa di mana Lara duduk. Setelah itu, Phoenix membuka bungkusan itu dan menatanya di meja.
Lara kemudian menata kembali makanan yang diletakkan Phoenix di atas meja itu.
Menurut Lara, Phoenix menaruhnya asal-asalan dan sangat tak rapi.
"Kau hanya tinggal memakannya, Sayang," kata Phoenix.
"Aku tak bisa memakannya jika tidak menatanya dengan rapi. Itu akan mempengaruhi moodku," jawab Lara.
"Mirip? Apakah wajah kami mirip? Kurasa tidak," jawab Lara yang masih menata makanannya.
"Tidak, dia perfeksionis sepertimu. Kau akan cocok dengannya. Rumahnya benar-benar rapi hingga tak ada satu pun barangnya yang keluar dari tempatnya. Seperti kau, bukan?" ucap Phoenix tersenyum sembari mencicipi makanan yang ada di atas meja itu.
"Oh my ... Aku yang harus mencicipinya terlebih dulu. Mengapa kau sudah mengambilnya?" Lara mencebik.
"Makanan itu tampak menggoda di mataku, Baby," kata Phoenix.
"Ck." Lalu Lara mulai memakan makanan favoritnya itu satu persatu.
"Kau suka semua makanan ini?" tanya Phoenix.
Lara mengangguk.
"Aku iri pada Gonza. Dia sangat mengenalmu lebih dari pada aku," kata Phoenix.
Lara menoleh ke arah Phoenix.
"Hidupku sangat datar. Jadi kau pasti cepat mengenalku," kata Lara.
"Tidak, kau sangat rumit, Sayang. Aku bahkan belum memahamimu sampai sekarang," jawab Phoenix.
"Itu resikomu menikahiku," sahut Lara kembali menikmati makanannya.
Phoenix kembali tertawa dan mengambil ponselnya lalu mem-videokan Lara yang sedang makan dengan lahapnya.
"Kau akan menghabiskan semua ini, Sayang?" tanya Phoenix yang masih merekam Lara.
"Mungkin saja. Jika tidak habis, kau harus membantuku memakannya," jawab Lara.
Setengah jam berlalu, mulut Lara masih sibuk mengunyah. Phoenix yang lelah menunggu akhirnya bermain ponselnya dan merebahkan tubuhnya di samping Lara.
Lara masih makan dengan lahap dan belum ada tanda bahwa dirinya sudah kekenyangan.
"Apakah masih lama, Baby?" tanya Phoenix yang tampak sudah mengantuk saat ini.
"Tidurlah jika kau sudah mengantuk." Lara mengambil remote televisi dan menyalakannya.
"Aku akan menunggumu," kata Phoenix sembari merapika bathrobe Lara yang sedikit terbuka hingga dadanya sedikit terlihat.
"Hmm, terserah kau saja," jawab Lara dengan mata yang mulai fokus pada film yang ditontonnya kini.