
Sebulan kemudian ...
"Jadi ini rumah pelarianmu?" tanya Phoenix ketika mereka tiba di rumah nenek Gonza.
"Hmm, indah kan?" ucap Lara dan turun dari mobil.
Lara kemudian berjalan menuju rumah dengan tangan yang bertautan dengan Phoenix.
"Sepertinya Gonza sedikit mengubah desain rumah ini," kata Lara ketika melihat beberapa perubahan di rumah itu.
"Gonza pasti membuatnya lebih nyaman karena mungkin akan bisa sering-sering kemari untuk mengunjungi keluarga Iris," ucap Phoenix.
"Ya, itu mungkin saja," sahut Lara dan mengetuk pintunya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Lara mengetuk pintu rumah itu dan kemudian pintu itu terbuka.
Tampak wajah bibi Lorris yang tersenyum lebar menyambutnya.
"Bibi ..." Lara memeluk bibi Lorris dengan erat.
"Aku merindukanmu, Nona," ucap Lorris mengusap lembut punggung Lara.
Lorris melihat Phoenix yang berdiri di belakang Lara.
Lara melepaskan pelukannya.
"Selamat datang, Tuan," ucap Lorris sembari menunduk hormat.
"Halo, Bibi Lorris," jawab Phoenix tersenyum.
"Ayo, silahkan masuk," kata Lorris.
"Di mana Mollis?" tanya Lara.
"Dia sibuk sekolah karenaakan ujian minggu ini" jawab Lorris.
"Sayang sekali aku tak bisa menemuinya," sahut Lara.
"Aku akan mengajaknya ke sini nanti jika sudah tak terlalu padat jadwal sekolahnya," ucap Lorris.
"Oh ya, aku sudah menyiapkan semua kebutuhan kalian selama berada di sini. Jika ada yang kurang, telepon saja aku," kata Lorris.
"Ya, Bi. Terima kasih."
"Apakah nona yakin tak perlu kutemani di sini?" tanya Lorris.
"Sepertinya kau akan menyiksaku jika dilihat dari nada bicaramu, Sayang" sahut Phoenix yang mendengar pembicaraan itu.
Lara dan bibi Lorris tertawa pelan.
"Ya, aku akan menyiksamu, Honey," jawah Lara.
"Baiklah, Nona. Nikmati waktu istirahatmu. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian di atas meja makan," kata Lorris.
"Terima kasih banyak, Bibi Lorris." Lara tersenyum dan mencium kedua pipi Lorris.
Lalu Lorris pun keluar dari rumah itu setelah berpamitan pada Lara dan juga Phoenix.
"Kau memang terlihat berbeda jika berada di sini." Phoenix menghampiri Lara dan memeluk pingganggnya.
"Begitukah?" Lara tersenyum tipis.
Phoenix mencium bibir Lara yang selalu menjadi candunya.
"Ini masih sore, jadi ayo temani aku berjalan-jalan di sekitar bukit." Lara melingkarkan tangannya di leher Phoenix.
"Kau tak capek?" tanya Phoenix.
"Tidak, kita naik helikopter tadi dan melanjutkan sisa perjalanan dengan mobil. Jadi tak membuatku lelah," ucap Lara.
"Baiklah, ayo." Phoenix menggandeng tangan Lara dan membawanya keluar rumah kembali.
Mereka berjalan santai melewati hamparan rumput yang sangat luas dan indah itu.
"Akan lebih menyenangkan jika ada kolam renang dan kandang kuda di sini. Aku akan membangunnya," kata Phoenix.
"Kau harus meminta izin dulu pada Gonza. Ini rumahnya, bukan rumah kita," sahut Lara.
"Dia pasti akan setuju. Dan aku akan membeli lahan di sebelah sana," kata Phoenix menunjuk ke arah bukit kosong yang sangat luas itu.
"Aku akan membuat rumah peternakan yang cukup besar di sana serta membuat helypad, jadi kita bisa berlibur ke sini sewaktu-waktu." Lara cukup tertegun mendengar rencana Phoenix yang disusunnya dengan secepat kilat.
"Tanah itu belum tentu dijual oleh pemiliknya," kata Lara.
"Aku pebisnis ulung, Baby. Dia pasti akan menjualnya padaku," jawab Phoenix.
"Aku menunggu kau benar-benar mewujudkannya," ucap Lara yang kemudian mengecup bibir Phoenix.