
Phoenix merebahkan tubuh Lara di atas ranjang kingsizenya. Tangan lentik Lara membuka satu persatu kancing kemeja Phoenix.
Phoenix memandang ke arah paras cantik Lara yang tampak asyik memandang dadanya yang sudah terbuka.
"Hanya kau yang membuat tattoo?" tanya Lara memegang dada Phoenix yang bertato.
"Hmm ... Daddy juga," jawab Phoenix yang kini tangannya mulai masuk ke dalam sweater putih Lara.
Kepala Phoenix masuk ke dalam sweater Lara dan menciumi benda bulat padat di dalamnya. Lara terpekik pelan ketika Phoenix mulai memainkan lidahnya di sana.
Lalu Lara membuka sendiri bajunya dan menyisir rambut hitam Phoenix dengan jari jemarinya. Phoenix membuka celana pendek Lara dan membuangnya ke atas lantai.
"Apakah sakit?" tanya Lara dengan suara lirih dan masih membelai lengan kekar Phoenix.
"Tidak jika sudah terbiasa." Phoenix mencium kembali bibir merah Lara.
Phoenix membuka celananya dan bermain perlahan di atas tubuh Lara. Mereka bergerak seirama dan saling memandang.
Lara dan Phoenix sama-sama memiliki mata yang tajam serta karakter yang keras. Tetapi kekeras-kepalaan Lara tak ada yang menandingi termasuk Phoenix yang akhirnya harus mengalah karena rasa cintanya yang terlalu besar pada sang istri.
Phoenix membuat tanda di leher Lara dan sikunya bertumpu di atas ranjang di sisi wajah Lara. Lara menyusuri punggung Phoenix dengan jari-jari putih nan lentik itu.
Setelah cukup lama bergulat santai di ranjang, mereka pun akhirnya menyelesaikan adegan panas di siang itu.
Phoenix bena-benar menjaga Lara dan mengikuti saran dokter agar tak terlalu sering berhubungan ranjang karena bisa memicu kontraksi. Dan itu pun selalu dilakukannya dengan perlahan dan lembut.
*
*
"Ayo kita berenang," ucap Lara yang kini sedang berada di dapur untuk membuat jus buah.
"Hmm, sebentar lagi," jawab Phoenix yang berjalan menuju dapur.
"Kau bisa menyuruh pelayan untuk membuatnya, Honey," ucap Phoenix ketika melihat Lara mengupas buah.
"Tidak, aku suka takaranku sendiri. Aku suka memakai krim yang banyak," jawab Lara.
Lalu Phoenix mengambil potongan buah apel yang sudah di kupas oleh Lara kemudian mengecup bibir Lara.
"Kau mau jus buah juga?" tanya Lara.
Phoenix mengangguk sembari mengunyah buah apelnya. Phoenix hanya memakai celana pendeknya saja.
Lara mengecup leher Phoenix yang berdiri tepat di sebelahnya.
"Aku selalu suka harum lehermu," kata Lara dan kembali mengupas buahnya lalu memasukkannya ke dalam blender.
Phoenix tersenyum miring dan membantu Lara membuat jus.
"No no no ... Kau duduk saja. Kau akan membuatnya berantakan nanti," cegah Lara ketika Phoenix akan mengupas apel itu.
"Aku tak akan mengacau, Honey," kilah Phoenix.
"No ... I said NO. Okay?" Lara mengacungkan jari telunjuknya pada Phoenix seperti seorang ibu yang memperingatkan anaknya yang berbuat nakal.
"Kau terlihat seperti mommy," kata Phoenix dan akhirnya duduk di sebelah Lara.
"Good ... Duduk saja yang manis. Aku yang akan membuatnya," ucap Lara.
"Oh God ..." gumam Phoenix.
Tak lama kemudian jus mix fruit buatan Lara pun telah jadi. Lara memberikan topping krim yang cukup tinggi di atas jusnya.
"Itu terlalu banyak, Honey," ucap Phoenix.
"Ini favoritku," jawab Lara.
Suasana santai seperti ini sangat dinikmati oleh keduanya. Setelah menghabiskan jusnya, mereka pun akhirnya berenang di bawah air terjun mini itu yang memanjang itu.
Phoenix selalu mendampingi Lara selama mereka berenang. Lara melingkarkan tangannya ke leher Phoenix dan Phoenix membawanya ke tengah kolam.