BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#114 (EDISI IRIS-GONZA)



Seminggu berlalu dan Iris sudah diperbolehkan pulang hari ini. Iris memutuskan untuk tetap tinggal di apartemen Gonza. Mereka enggan untuk menempati apartemen Lara karena tak mau merepotkan Lara.


Dan Lara-pun tak memaksanya. Dia ikut mengantar Iris ke apartemen Gonza bersama Phoenix juga. Apartemen Gonza lumayan bagus dan mewah karena itu adalah hadiah dari tuan Silas karena kesetiaan Gonza pada Silas selama bertahun-tahun menjaga Lara.


Phoenix juga melengkapi semua fasilitas Gonza. Phoenix dan Lara sudah menganggap Gonza seperti keluarga mereka sendiri.


Apalagi kini Gonza di pekerjaan Phoenix di kantornya untuk menjadi salah satu asisten kepercayaannya.


Lara dan Tuan Silas tak masalah dengan hal itu karena tugas utama Gonza tetap menjaga Lara jika dibutuhkan.


"Apa kau yakin aku tak perlu menyewa perawat untuk Iris, Gonza?" tanya Lara.


"Tidak perlu, Nona." Gonza menjawab dengan sangat yakin.


"Baiklah kalau begitu. Kami pulang dulu dan jagalah Iris dengan baik. Kau kubebas-tugaskan dari pekerjaanmu sampai Iris benar-benar sembuh," ucap Phoenix.


"Baiklah, Tuan."


"Terima kasih, Tuan, Nona," jawab Iris tersenyum.


Lalu Lara dan Phoenix-pun pulang kembali ke mansion mereka karena hari sudah menjelang malam.


Iris melihat ke arah Gonza yang baru saja menutup pintu apartemennya.


"Kurasa kita harus mempekerjakan perawat. Tak mungkin kau membantuku mandi, bukan?" tanya Iris.


"Kau tak mau dirawat olehku?" tanya Gonza.


"Bukan begitu. Tapi kau laki-laki dan aku perempuan. Meskipun aku menyukaimu, aku tak mungkin membiarkanmu melihatku tak memakain baju, kan?" kata Iris.


"Ada yang ingin kukatakan padamu," ucap Gonza dengan wajah datarnya seperti biasa.


Iris melihat wajah Gonza yang tetap tampan meskipun terdapat gurat luka yang cukup panjang menghiasi pipinya.


Iris tak bisa menebak apa yang akan dikatakan Gonza karena ekspresi Gonza selalu sama seperti itu setiap saat.


"Hmm, katakan saja," ucap Iris.


Lalu Gonza mengeluarkan kotak kecil dari kantong celananya dan kemudian memberikannya pada Iris.


"Apa ini?" tanya Iris.


"Kau pasti tahu isi di dalamnya. Langsung buka saja," perintah Gonza dengan suara beratnya yang dingin.


Iris membuka kotak perhiasan itu dan benar ada cincin di sana.


'Wait... Apa ini? Apakah dia akan melamar gadis dan meminta pendapat padaku tentang cincin ini? Oh tidak,' batin Iris.


"Cincin siapa ini?" tanya Iris.


"Aku memberikannya padamu berarti itu adalah milikmu," jawab Gonza.


Iris masih memandangnya heran.


"Kau memberi ini untuk merayakan kepulanganku dari rumah sakit?" tanya Iris.


"Menikah-lah denganku," ucap Gonza tiba-tiba.


"WHATT??!!" sahut Iris yang hampir setengah berteriak.


"Kau salah minum obat, Gonza. Aku tahu jika aku menginginkan hal ini sejak lama. Tapi aku tetap terkejut karena kau mengatakan hal itu," lanjut Iris dengan wajah shocknya.


"Aku tak suka bertele-tele. Katakan apakah kau menerima lamaranku atau tidak," kata Gonza yang masih tak ada ekspresi.


"Kau melamarku? Oh my God. Aku tak percaya ada seorang laki-laki melamar seorang wanita sedatar itu," sahut Iris.


"Karena aku tak suka terlalu banyak drama. Jika kau bersedia aku akan menikahimu dalam minggu ini," ucap Gonza.


Iris masih shock dengan lamaran Gonza yang sama sekali jauh dari ekspektasinya selama ini.


"Mengapa kau ingin menikahiku?" tanya Iris.


"Kau menyukaiku dan aku membutuhkan pendamping. Jika kita menikah, aku akan lebih leluasa merawatmu," jawab Gonza.


"Kau tak menyukaiku?" tanya Iris.