BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#68



"Apa???? Dia pergi?" tanya Phoenix pada Matt yang mengabarkan kepergian Lara.


"Ya, Tuan. Nona Lara pergi kemarin dan dia kabur dari Gonza. Menurut tuan Silas, dia hanya ingin kita membatalkan kerjasama kita dengan perusahaan Nona Wilson," jawab Matt.


"SHHIITTTT!!" umpat Phoenix kesal.


"Kau sudah mencarinya?" tanya Phoenix.


"Ya, semua anak buahku sudah mencarinya tetapi sama sekali tak ada jejak, bahkan di bandara sekalipun," jawab Matt.


"Cari lagi!!! Dia tak akan pergi jauh dari sini," perintah Phoenix.


"Baik, Tuan." Matt pun leluar dari ruangan Phoenix.


Phoenix mengambil ponselnya dan menelepon Rey.


"Dad, Lara pergi. Kerahkan semua koneksi daddy untuk mencarinya," kata Phoenix.


"Oh God ... Kau bertemu lawan yang sulit kali ini, Phoenix. Lara sangat cerdas dan pintar. Kita bahkan tak memikirkan hal ini sebelumnya," jawab Rey.


"Kapan daddy sampai di sini?" tanya Phoenix.


"Malam ini, mommy belum daddy beri tahu masalah ini. Mommy ada di mansion Damon saat ini. Jadi daddy akan ke New Jersey bersama Damon," jawab Rey.


"Baiklah," jawab Phoenix.


Setelah menutup ponselnya, Phoenix langsung pupang ke apartemennya karena dari bandara tadi, dia langsung menuju ke kantornya.


Setibanya di apartemen, Phoenix menuju apartemen Lara dan memncet tombol kuncinya tetapi ternyata Lara sudah mengganti nomer pinnya.


Phoenix mengumpat kembali dan akhirnya masuk ke apartemennya sendiri.


Setelah membersihkan tubuhnya, Phoenux langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Tak ada yang bisa dilakukannya selain membatalkan kerjasama itu meskipun dia akan mengalami kerugian yang cukup banyak serta akan membuat kegaduhan dengan dewan direksi dan para pemegang saham.


Sekarang di pikirannya hanya keselamatan Lara dan bayinya. Dia tak ingin terjadi apapun pada Lara dan bayinya mengingat Lara adalah wanita yang sangat nekat dan berani melakukan apapun.


Phoenix bekerja seharian untuk menyelesaikan urusan ini. Phoenix tak menunggu kedatangan Rey untuk mendiskusikan hal ini.


*


*


*


"Bibi ... Berapa jauh pemukiman penduduk dari sini?" tanya Lara sambil memakan roti yang dibuat oleh Lorris.


"Aku ingin membeli bunga," jawab Lara.


"Di luar sana banyak bunga-bunga liar yang indah. Apakah nona ingin kuamvbilkan?" tawar Mollis dengan cerianya.


"Benarkah?"


Mollis mengangguk dan tersenyum lebar seperti biasanya dan itu otomatis membuat Lara juga tersenyum.


"Baiklah, ayo kita cari bersama," kata Lara semangat.


"Jangan Nona. Nanti nona kelelahan," ucap Lorris.


"Oh God ... Aku bukan wanita berpenyakitan, Bibi," jawab Lara.


"Tapi nanti tuan Gonza akan ..."


"Sudahlah, aku hanya ingin mencari bunga saja, Bi," potong Lara dan segera beranjak dari kursinya lalu menarik tangan Mollis keluar.


"Hati-hati, Nona," ucap Lorris.


"Ya, Bi," teriak Lara yang sudah ada di depan pintu.


Mollis tampak berlari kecil dan Lara mebgikutinya di belakang sembari merentangkan tangannya menyentuh rumput ilalang yang terlihat indah menyejukkan di matanya.


Sejenak Lara lupa akan semua masalahnya. Dia merasa damai tinggal di sini. Senyumnya selalu terpancar indah. Mata birunya bersinar. Wajahnya terljhat sangat cantik dan ceria mengikuti keceriaan Mollis yang tampak riang berlari di depannya.


"Nonaaa ... Lihatlaaaahhh ... Banyak bunga indah di siniiiii," teriak Mollis yang sudah berada sedikit jauh dari Lara.


"Baiklaaaahhh ... I'm comiiingg," jawab Lara.


Lara kemudian melihat hamparan tanaman bunga yang lumayan luas di depan matanya.



"Ooohhh .... Ini benar-benar indah, Mollis," kata Lara takjub.


"Ayo kita petik bunganya," kata Mollis.


"Tidak, jangan ... Biarkan mereka di tempatnya. Mereka terlalu indah untuk di ambil. Aku akan kemari saja jika ingin melihat bunga-bunga ini," ucap Lara.


Mollis pun mengangguk dan bermain di sana layaknya anak-anak pada umumnya.


Lara ikut memutari taman bunga alami itu dengan perasaan bahagia dan tertawa sepanjang waktu.