
"Tak perlu membeli mobil, Nona. Aku punya mobil ya meskipun sedikit jelek," jata Iris.
"Tidak, Iris. Aku akan tetap membeli mobil. Mobilmu akan dibutuhkan bibi Lorris di sini," ucap Lara.
"Baiklah, Nona," jawab Iris.
"Kita akan berangkat besok siang. Kita pergi dulu memakai kendaraan umum lalu aku akan membeli mobilnya di kota sebelah. Aku tetap tak ingin terlacak. Rumah ini akan selalu menjadi tempat rahasia kita," ucap Lara.
Iris tersenyum dan mengangguk.
"Nona, apakah aku harus menghubungi Gonza?" tanya Lorris yang datang dari arah dapur.
"Tidak perlu, Bibi. Jika Gonza tak tahu tentang hal ini, itu akan memberikan efek terkejut yang alami baginya. Apalagi aku akan membawa Iris," jawab Lara.
"Aku tak sabar melihat wajah terkejutnya," Iris tertawa.
"Ingatlah, Iris. Bekerjalah yang benar. Di sana kau bekerja membantu Nona Lara, bukan untuk mengejar Gonza semata." Lorris memberikan wejangannya.
"Ya, Mom. I know it," ucap Iris.
"Di mana Mollis? Aku ingin ke taman bunga," kata Lara.
"Dia sedang ku suruh ke desa sebelah, Nona. Ada bahan yang harus kubeli," jawab Lorris.
"Ayo kutemani," ucap Iris.
"Oke, ayo!" jawab Lara dan mereka pun beranjak dari kursinya.
Lara dan Iris berjalan keluar rumah. Kali ini Iris tak membiarkan Lara lari. Dia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Lara misalnya terjatuh.
"Kau mencintai tuan Phoenix, Nona?" tanya Iris.
"Hmm, dan tak ada yang mengetahui hal ini. Aku mencintainya dalam waktu yang sangat lama," jawab Lara dengan pandangan yang terarah pada langit biru yang cerah.
"Berapa tahun anda mengenalnya?" tanya Iris.
Lara tertawa pelan.
"Oh my ... Kukira sudah bertahun-tahun seperti aku dan Gonza. Itu waktu yang sebentar, Nona," ucap Iris.
"Aku bertemu dengannya 8 tahun yang lalu. Tapi aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu." Jawaban Lara sedikit membuat Iris bingung.
"Jadi sebelum mengenalnya, kau sudah bertemu dengannya sebelumnya? Jadi dia cinta pertamamu? Ooohh, so sweet," ucap Iris.
"Jangan katakan hal ini pada siapapun. Ini rahasia kita berdua karena kau adalah asisten pribadiku," kata Lara.
"Siap, Nona!" Iris menaikkan tangannya di kening layaknya memberikan tanda hormat.
Lara tertawa.
"Dia tak mencintaiku. Dia hanya menyukaiku dengan terpaksa karena aku sudah melakukan hal itu dengannya untuk pertama kalinya. Aku menjebaknya dan hanya Gonza yang tahu hal ini. Dan sekarang dirimu. Aku mengatakan hal ini padamu karena aku mempercayaimu meskipun kita baru kenal beberapa hari. Berbanggalah," ucap Lara.
Iris tertawa dan memegang tangan Lara.
"Terima kasih sudah mempercayaiku," sahut Iris.
"Dan kau tahu? Dia tak mengatakan hal ini pada siapapun termasuk pada keluarganya." Lara menoleh pada Iris.
"Karena dia menyukaimu, Nona. Pria mana yang tak menyukai wanita secantik dirimu. Siapa yang tak senang dijebak di ranjang olehmu, Nona?" jawab Iris.
Lara hanya mengedikkan bahunya dan tertawa kembali.
"Di sana nanti, kau tak akan melihat tawaku ini. Terbiasalah dan jangan bertanya apapun. Aku akan menjadi orang yang sangat berbeda nanti," Lara menerawang jauh.
"Hmm." Iris mengangguk dan mengamati wajah cantik Nona barunya ini.
Lara memiliki senyum yang sangat cantik, mempunyai bibir yang penuh, hidung mancung dan garis rahang yang tegas seakan angkuh.
Netra birunya sangat indah dengan alis yang tebal membuat pandangan matanya semakin tajam.
Rambut brown goldnya yang terurai indah tertiup angin membuat wajahnya semakin cantik. Iris yang wanita saja sangat mengagumi kecantikan Lara, apalagi laki-laki. Itulah yang ada di pikiran Iris.