
"Jadi ini rumah nenek buyutmu, Gonza?" tanya Lara.
"Ya, Nona," jawab Gonza mengangguk.
Lara tersenyum tipis dan mengedarkan pandangannya pada rumah kuno yang masih tampak nyaman karena terawat dengan baik.
"Terima kasih, Gonza," ucap Lara.
Gonza memang sangat setia pada Lara. Gonza adalah mantan seorang pasukan khusus anggota militer yang setengah wajahnya sedikit rusak karena pernah terkena bom.
Gonza menganggap Lara seperti adiknya sendiri. Gonza memiliki adik seumur Lara yang telah meninggal karena tertabrak mobil ketika Gonza sedang bertugas di negara konflik.
Sejak saat itu dia memutuskan pulang ke tanah kelahirannya hingga akhirnya bertemu dengan tuan Silas yang memberinya pekerjaan untuk menjaga Lara -- gadis remaja dengan sikap dingin dan penuh masalah yang pelik.
Gonza masih beruntung masih memiliki keluarga dan tahu asal usulnya berbeda dengan Lara yang sejak kecil menjadi yatim piatu dan selalu tertindas.
Itulah mengapa dia ingin menjaga Lara meskipun harus menentang tuan Silas. Lara hanya sendirian dan tak punya siapapun.
Awalnya dia berharap Phoenix akan menjadi pelindung Lara, tetapi ternyata Phoenix masih belum sepenuhnya mendukung Lara.
Lara memutuskan akan tinggal sementara di rumah nenek Gonza sampai Phoenix menyetujui syaratnya dan jadwal pernikahannya sudah ditentukan.
Gonza dan Lara sudah menyusun semuanya dengan sangat rapi. Gonza yakin tak akan ada yang bisa melacak keberadaan Lara saat ini. Dan Gonza nantinya akan kembali ke New Jersey.
Gonza sudah menyewa seorang pelayan untuk menemani Lara di rumah nenek buyutnya.
"Istirahatlah, Nona. Aku akan lansgung kembali ke New Jersey," kata Gonza.
"Ya, berhati-hatilah. Uncle dan keluarga Robert pasti akan mencariku serta menginterogasimu," ucap Lara.
"Ya, Nona. Aku pergi dulu," jawab Gonza menunduk hormat dan keluar dari rumah kuno itu.
Rumah itu terletak di sebuah pertenakan yang ada di daerah perbukitan yang sangat jauh dari pemukiman penduduk.
Gonza sudah menyiapkan semua kebutuhan Lara selama 1 minggu di sana.
"Halo, Nona. Namaku Lorris dan ini putriku Mollis. Kami akan menemani anda selama berlibur di sini," ucap Lorris -- seorang wanita berumur 50 pertengahan.
"Nona sangat cantik sekali," ucap Mollis -- gadis berambit merah keriting dengan banyak freckless di hidung mancungnya.
"Terima kasih. Kau juga sangat cantik. Berapa umurmu?" tanya Lara.
"Umurku 13 tahun," jawab Mollis.
"Kau tidak sekolah?" tanya Lara.
"Aku sekolah tetapi aku libur seminggu ini untuk ikut mom bekerja," jawab Mollis.
Lara tersenyum.
"Nona, istirahatlah. Tuan Gonza menyuruh anda banyak-banyak istirahat karena anda sedang hamil," kata Lorris.
"Ya, aku akan ke kamar dulu," jawab Lara.
"Jika masuk waktu makan malam, aku akan memanggil anda, Nona," kata Lorris.
"Terima kaish, Bibi," ucap Lara dan berbalik menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah saja dari ruang tamu.
*
*
*
PLAK ...
"Bagaimana bisa kau kehilangan Lara???!!" marah Silas pada Gonza. Silas menampar pipi Gonza dengan sangat keras.
"Maaf, Tuan. Nona Lara hanya mengatakan padaku dia akan membeli roti di seberang apartemen. Aku lengah, maaf," Gonza menunduk.
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Silas dan Silas mengumpat karena itu dari Lara.
Lara hanya mengatakan dia akan pergi sementara saja. Dan akan kembali jika Silas dan Phoenix membatalkan kerja samanya dengan Davina.