
Pagi menjelang dan Lara sudah terbangun sejak tadi. Dia tak beranjak dari ranjangnya dan hanya menatap wajah sang suami yang masih tertidur lelap.
Lara menyusuri wajah Phoenix dengan jari lentiknya yang kukunya berhiaskan cat kuku berwarna merah menyala.
Jarinya menyentuh hidung mancung pria tampan itu dan beralih ke area bibir yang selalu membuat tubuh Lara bergetar ketika bertautan dengan bibirnya.
Phoenix yang menyadari hal itu, memegang tangan Lara lalu menciumnya. Matanya terbuka separuh karena masih mengantuk.
"Morning, Baby. I love you," katanya pelan dengan suara seraknya.
Lara tersenyum tipis dan tangannya menangkup pipi Phoenix. Kemudian Lara mencium bibir Phoenix dengan pelan dan lembut. Lidahnya menyusup ke dalam bibir Phoenix yang kini sudah terbuka menyambut ciuman Lara.
Jarang-jarang Lara menciumnya terlebih dulu seperti ini. Hal ini membuat Phoenix tersenyum dan merengkuh pinggang Lara agar lebih mendekat padanya.
Ciuman pelan itu kini meningkat menjadi ciuman dalam dan penuh naffsuu. Tangan Phoenix sudah berkelana di kulit hangat Lara yang ada di bawah selimut.
Lara yang hanya menggunakan celanaa dalamnya saja tentu saja membuat kerja Phoenix lebih mudah.
Lara mencium leher Phoenix yang selalu menjadi tempat favoritnya dan sedikit menggigitnya dengan gemas hingga tercipta cetakan merah yang indah di sana.
Phoenix menanggalkan kain terakhir yang tersisa di tubuh Lara hingga akhirnya Lara sudah tak memakai apapun lagi di tubuh mulusnya yang hangat.
Kepala Phoenix masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Lara. Dia mulai menjelajahi tubuh polos Lara dan membuat Lara mendesaah karena sentuhan bibir dan tangan Phoenix.
"Aaaahh ..." desah Lara pelan ketika Phoenix mulai memainkan aksi lidahnya di dada bulat Lara yang penuh.
Tangannya tampak pas menangkup dada Lara yang sebelah kanan disaat bibirnya melumaat puncak dada Lara yang sebelah kiri.
Lara membuka pangkal pahanya lebih lebar ketika Phoenix sudah mulai bergerak di atas areaa sensitiifnya itu.
Lara membuka selimut yang menutupi tubuh mereka dan melihat Phoenix yang bergerak liar di atas tubuhnya. Lara mencengkeram punggung Phoenix yang berhiaskan tatoo itu.
Kepala Phoenix kembali ke atas dan kini mata mereka saling bertatapan. Dia mencium kembali bibir merah Lara yang merekah.
Tangannya bertumpu di atas ranjang dan kembali menjelajahi leher Lara dengan penuh gairaah.
Tubuh mereka saling bergesekan dan membuat Lara merasakan kenikmatan yang tak ada duanya itu.
Setelah cukup lama bergulat di atas ranjang dengan tempo sedang, akhirnya mereka menyelesaikan intermezo panas di pagi ini.
Mereka tak langsung beranjak dari ranjang melainkan masih berpelukan di bawah selimut karena memang cuaca sedang sangat dingin.
"Aku malas mandi," ucap Phoenix.
"Kita harus mandi. Ayo," ajak Lara dan mulai membuka selimutnya tetapi tangan Phoenix menahannya.
"Lima menit lagi ... Ah tidak, lima belas menit lagi," kata Phoenix.
"Hmm, baiklah anak manja," jawab Lara.
Phoenix menggigit gemas bahu Lara dan memeluknya lebih erat lagi.
"Apakah aku harus memundurkan waktu meetingku?" tanya Phoenix.
"Kak Damon akan menghajarmu kurasa," jawab Lara.
"Ya, dia memang sangat bar-bar seperti istrinya," sahut Phoenix.
Lara kembali tertawa. "Ayo mandi. Aku yakin sebentar lagi kak Velvet akan mengetuk pintu kamar kita," ucap Lara membukan tautan tangan Phoenix yang melingkar di perutnya.
"Hmm, ayo," jawab Phoenix yang sebenarnya masih sangat malas untuk beranjak dari ranjang.