BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#120 (EDISI IRIS-GONZA)



Akhirnya setelah 10 jam perjalanan, mereka tiba juga di rumah nenek Gonza.


Iris langsung masuk ke rumah begitu Gonza memberikan kunci rumah padanya.


Iris dengan cepat membuka pintunya dan menuju ke arah kamar di mana dia dulu tidur dengan Lara.


Iris langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan merentangkan kedua tangan serta kakinya lebar-lebar.


"Aaahhh ... Akhirnya sampai juga," gumamnya dan matanya mulai terpejam.


Sepanjang perjalanan tadi, Iris memang sama sekali tak tidur karena ingin menemani Gonza.


Hanya 1 menit saja di atas tempat tidur, sudah membuat Iris tertidur dengan nyenyaknya.


Iris masih memakai bajunya dengan lengkap serta sepatunya.


Gonza yang baru saja masuk ke kamar melihat hal itu dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Ini baru hari pertama. Baiklah, aku pasti bisa menjalaninya," gumam Gonza pelan.


*


*


Pagi menjelang. Mentari pagi telah menampakkam sinarnya. Mata Iris menjadi silau karena jendela kamar sama sekali tak tertutup.


Rupanya Gonza membuka jendela mulai pagi buat tadi.


Iris mulai mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan mulai menyadari bahwa dirinya kini sedang berada di rumah nenek Gonza.


Iris langsung bangun dan duduk di ranjang. Karena gerakannya terlalu cepat membuat perutnya terasa nyeri.


"Aaawwhh," pekiknya pelan.


Iris memegangi perutnya yang sakit dan menghembuskan nafasnya perlahan.


CEKLEK ...


Pintu kamar terbuka dan Gonza melihat Iris yang sediki meringis kesakitan dengan tangan yang ada di atas perutnya.


"Perutmu sakit?" tanya Gonza.


Iris mengangguk dan menggigit bibirnya untuk menahan nyeri di perutnya.


Lalu Gonza mengambil kotak obat Iris yang sudah Gonza taruh di meja nakas di sebelah tempat tidur.


"Tidurlah. Aku akan mengganti perbannya dan memberi obat pada lukanya," ucap Gonza.


Iris kembali mengangguk dan menuruti perintah Gonza. Kemudian Gonza membuka perlahan baju Iris.


"Apakah lukaku bernanah?" tanya Iris.


"Sedikit," ucap Gonza yang mulai membuka perbannya.


"Hmm, tahanlah. Karena aku akan membersihkannya jadi akan sedikit perih," ucap Gonza.


"Huufffttty ... Aku benar-benar tak suka proses ini," pasrah Iris dan menutup matanya.


Gonza membersihkan dan mengobati luka di perut Iris dengan sangat perlahan.


"Sudah?" tanya Iris.


"Belum," jawab Gonza.


Lalu Iris bertanya lagi. "Sudah?"


"Sebentar lagi." Gonza masih memasang obatnya dan mulai menutupnya.


"Sudah?" tanya Iris lagi untuk kesekian kalinya.


"Bisakah kau diam?" ucap Gonza.


"Ck, kau hanya perlu menjawab," sahut Iris.


"Tapi kau mengulangi pertanyaan yang sama," jawab Gonza.


"Tak bisakah kau bergerak cepat? Karena benar-benar tak nyaman rasanya." Iris mulai tak sabar.


Gonza tak menjawab dan memilih menyelesaikan pekerjaannya itu.


"Done," ucap Gonza akhirnya.


"Finally." Iris merasa sangat lega.


"Berbaringlah dulu selama setengah jam," kata Gonza.


"Hmm," jawab Iris singkat.


"Aku akan mengambil makan pagimu." Kemudian Gonza keluar dari kamar dan Iria hanya melihatnya saja.


"Dia manis sekali. Tapi ini hanya sementara. Kalau aku sudah sembuh, pasti dia tak seperhatian ini padaku," gumam Iris pelan.


Tak lama kemudian, Gonza datang dengan membawa senampan makanan dan jus jeruk.


"Kau yang memasaknya?" tanya Iris.


"Tak ada orang selain aku dan kau di sini," jawab Gonza.


Iris tertawa pelan, tetapi itu membuat perutnya sakit kembali.


"Jangan terlalu banyak bicara dan tertawa jika tak ingin perutmu sakit," kata Gonza.


"Yes, Sir," jawab Iris.


Kemudian Gonza mulai menyuapi Iris dan kini Iris terbiasa dengan hal itu.