BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#112



"Huffttt ... Mengapa mommy selalu mengganggu di saat-saat yang penting," gumam Phoenix yang masih memeluk pinggang Lara.


"Sssttt ... Diamlah," ucap Lara menutup mulut Phoenix.


"Halo, Mom. Ada apa?" tanya Lara.


"Di mana kalian? Mengapa lama sekali? Dan sampai sekarang belum tiba di mansion," ucap Galy.


"Kami masih di apartemen, Mom. Ada barang yang ingin kuambil," jawab Lara.


"Kapan kalian kemari?" tanya Galy lagi.


Phoenix yang mendengar percakapan itu langsung mengambil ponselnya dari tangan Lara.


"Kami akan menginap di apartemen, Mom. Ada urusan penting yang harus kami kerjakan," jawab Phoenix.


"Apa yang kau katakan?" bisik Lara.


"Urusan apa?" tanya Galy.


"Urusan ranjang," jawab Phoenix tanpa rasa sungkan sedikitpun.


Lara mencubit perut Phoenix hingga membuatnya berteriak.


"Ooouucchh ..." teriak Phoenix.


"Itu sakit, Sayang."


"Rasakan itu!!" kesal Lara dan mengambil ponsel itu kembali dari tangan Phoenix.


"Nanti malam kami akan kesana, Mom," ucap Lara.


Galy tampak tertawa di ujung telepon.


"Tak apa-apa, Sayang. Nikmatilah waktu kalian berdua. Besok kemarilah," jawab Galy.


"Apakah tak masalah?" tanya Lara.


Galy kembali tertawa.


"Istirahatlah. Mommy tutup teleponnya, Oke?"


"Ya, Mom. See you tomorrow," sahut Lara.


Lalu Lara menutup ponselnya dan memberikannya pada Phoenix kembali.


"Kita lanjutkan?" tanya Phoenix.


"Aku ingin berendam," kata Lara melepaskan tangan Phoenix yang melingkar di pinggangnya.


"Kita akan mengulangi bagian pembukanya?" tanya Phoenix mengikuti Lara dari belakang.


"Hmm, itu bagus, kan?" ucap Lara.


Lara memutar tubuhnya dan menghadap Phoenix lalu membuka bajunya di depan sang suami.


"Di mana bra ku tadi? Apa kau meninggalkannya di mobil?" tanya Lara menaikkan alisnya.


Phoenix tertawa dan mengambil bra Lara yang dikantonginya di dalam coat hitamnya itu.


Phoenix menghampiri Lara dan Lara mengambil bra itu di kantong coat Phoenix kemudian memasukkannya ke dalam keranjang itu lagi.


Phoenx pun membuka coatnya dan membuangnya ke lantai.


"Taruh di sini," perintah Lara ketika pakaian Phoenix bertebaran di lantai.


"Nanti saja," jawab Phoenix dan melanjutkan membuka celananya.


"No ... Jika tidak kau bereskan, kita tak akan melakukannya," ancam Lara.


"Oh ya?" Phoenix menghampiri Lara dan menggendongnya menuju kamar mandi.


Lara mencebik karena ancamannya sama sekali tak di dengarkan oleh Phoenix.


"Kau menyebalkan," kesal Lara.


"Aku akan membereskannya nanti. Sekarang urusan kita lebih penting kurasa," jawab Phoenix dan mendudukkan Lara di meja wastafel.


"Aku akan mengisinya sebentar." Phoenix menyalakan air hangat dan juga memasukkan sabunnya agar busanya melimpah.


Setelah bath tub penuh, Lara dan Phoenix pun masuk ke dalam bath tub bersamaan.


Phoenix mulai memijat bahu Lara dengan perlahan. "Kau sangat pandai memijat. Berapa wanita yang pernah merasakan pijatanmu?" tanya Lara.


"Hanya mommy dan dirimu," jawab Phoenix jujur.


"Oh ya?"


"Hmm, aku bukan pria murahan," sahut Phoenix yang membuat Lara tertawa.


"Mengapa kau tertawa?"


Lara mengubah poisis tubuhnya dan menghadap Phoenix.


"Jadi hanya aku kekasihmu?" tanya Lara.


"Itu rahasia," jawab Phoenix.


"Hei ... Aku ingin tahu."


"Aku terlalu pemilih. Dan tak mudah menjadi kekasihku," jawab Phoenix.


"Aku tak puas dengan jawabanmu," kata Lara.


"Yang jelas, kau adalah cinta sejati pertamaku. Kau puas?"


"Jadi ada cinta tak sejatimu?"


"Dulu aku menyukai Velvet. Ketika aku masih berumur 12 tahun."


Mendengar hal itu, Lara langsung tergelak. Dia menganggap hal itu sangat lucu.


"Benarkah??? Aku bisa membayangkan bagaimana kak Velvet dan kak Damon menggodamu," jawab Lara tak bisa menahan tawanya.


"Itu tak lucu, Baby."


"Ini sangat lucu," jawab Lara dengan masih tertawa hingga akhirnya Phoenix mencium bibirnya agar Lara terdiam.