BECOME AN ANTAGONIST

BECOME AN ANTAGONIST
#66



2 hari tak ada kabar dari Lara. Hingga akhirnya Phoenix menyuruh asistennya untuk melihat keadaan Lara di perusahaannya.


"Pergilah ke perusahaannya, Matt. Aku ingin tahu keadaannya," ucap Phoenix.


"Baik, Tuan." Matt kemudian segera berangkat ke perusahaan Lara begitu menerima perintah dari sang bos.


Setibanya di sana, Matt langsung ke ruangan Lara yang di dampingi oleh sekretaris Lara.


"Ada apa?" tanya Lara.


"Tuan Phoenix hanya ingin mengetahui kabar anda, Nona," jawab Matt.


Lara tersenyum tipis dan memberikan sebuah amplop pada Matt.


"Berikan ini padanya," ucap Lara.


Matt mengambil amplop itu. "Tuan masih akan datang seminggu lagi, Nona," jawab Matt.


"Kau bisa membukanya nanti di kantormu," ucap Lara.


"Baiklah, Nona. Aku permisi dulu." Matt menunduk hormat dan berbalik keluar dari ruangan Lara.


"Aku tak sabar melihat reaksimu, Honey," gumam Lara bersandar santai di kursi kebesarannya.


*


*


Phoenix tampak menatap serius ke arah ponselnya. Pesan dari Matt sungguh sedikit mengejutkannya.


Matt mengirimkan sebuah surat di mana Lara dinyatakan hamil. Dan tentu saja itu adalah anaknya karena Lara hanya melakukan hal itu dengannya saja.


Tak lama kemudian, Phoenix menelepon Lara.


"Halo," jawab Lara.


Phoenix masih tak berbicara apapun.


"Jika kau tak bicara, seharusnya kau tak meneleponku," ucap Lara.


"Aku tak tahu harus berkata apa," jawab Phoenix akhirnya.


"Itu hal yang pasti akan kulakukan tanpa kau menyuruhku," jawab Phoenix.


"Putuskan kerjasama dengan perusahaan Davina. Jika tidak, kau tak akan pernah melihat anakmu sampai kapanpun," ucap Lara.


"Kau memanfaatkan calon bayi kita, Lara?" tanya Phoemix yang sedikit geram.


"Aku tak peduli dengan hal itu. Bukankah sejak awal kau tahu aku memanfaatkanmu?" kata Lara.


"Kau sama sekali tak punya empati, Lara. Kau menggunakan bayi kita. Sesuatu yang seharusnya tak kau lakukan," geram Phoenix.


"Kau yang memulainya. Kau membuatku kesal karena kau masih saja berhubungan dengan jalaang itu. Dan kau menjebakku untuk bekerja sama dengannya. Apa maumu? Agar aku berdamai dengannya? Never ... Aku tak akan pernah berdamai dengannya. Selamanya!!!" bentak Lara.


"Kita tak bisa memutuskan kerja sama ini begitu saja. Proyek sudah berjalan 50 persen. Bersikaplah profesional, Lara," jawab Phoenix.


"Aku tak peduli. Semua ada di tanganmu, Phoenix. Jika kau melanjutkannya, kujamin kau tak akan pernah melihatku lagi dan juga anakmu!!" Lara langsung menutup teleponnya karena tak ingin berbicara lagi pada Phoenix.


"SHHIIITT ...." Phoenix mengumpat keras.


Phoenix seharusnya bahagia dengan kehamilan Lara. Tetapi dia tak suka dengan sikap Lara yang memanfaatkan kehamilannya untuk mengancamnya.


Lalu Phoenix memutuskan untuk pulang malam ini ke New Jersey. Dia ingin cepat bertemu dengan Lara.


Phoenix belum membicarakan tentang hubungannya dengan Lara pada Rey karena mereka masih sama-sama sibuk dan belum ada waktu untuk bertemu secara langsung.


Phoenix ingin berbicara langsung pada Rey dan tak ingin melalui telepon.


Lalu mau tak mau, Phoenix akhirnya mengirim pesan pada Rey -- sang daddy -- bahwa dirinya akan menikahi Lara secepatnya karena Lara sedang hamil.


Tak lama, Rey pun menelepon langsung pada Phoenix.


"Daddy terlalu sibuk hingga daddy tak bisa mengawasimu, Phoe. Ada apa ini?" tanya Rey.


"Aku berhubungan dengan Lara, Dad. Jadi aku akan menikahinya secepat mungkin karena dia sedang hamil sekarang," jawab Phoenix sembari berjalan keluar dari ruangannya.


"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Rey.


"Apartemen kami berdekatan dan kami sudah cukup dewasa, Dad. Bisakah tak membahas hal ini? Ada yang lebih penting ingin kubahas dengan daddy. Datanglah cepat ke New Jersey. Aku akan pulang malam ini ke New Jersey," jawab Phoenix.


"Baiklah," sahut Rey dan menutup teleponnya.