
Flashback
"Kakak!Sudah cukup sampai disitu!Kita hanya mencobanya!" ucap Lily memperingkatkan Ken.
"Aku masih bisa bertahan.." balas Ken.Dia cukup keras kepala dengan tubuhnya yang mulai melemah itu.
"Dasar! Ian pegang ini." Lily memberikan alat komunikasi pada Ian lalu segera menghampiri Ken.
"Kakak cukup!Kakak sudah kelewatan!" ucap Lily sambil menghentikan sihir Kjlen.
"Aku tidak..akh!uhuk!" Ken mengeluarkan darah.Dia terlalu memaksakan diri menggunakan sihir pemurniannya berlebihan.
"Kakak!!/Marquess!!"
.
.
Episode 95
"Kakak!Sudah cukup! Kita kembali sekarang."
"Kurang sedikit.."
"TIDAK! Ian, tolong bantu kakak kembali ke kereta,dan Tuan Zarex bantu saya membuat penguat sihir, setidaknya ini bisa bertahan sementara waktu."
"Baiklah/Baik,Yang Mulia!"
Lily dan Zarex berusaha untuk menguatkan pelindung dengan sihir mereka.Walau tidak sekuat bagian lainnya yang terbuat dari sihir putih, setidaknya mereka bisa menahan itu sementara waktu.
"Kau terlalu memaksakan diri." ujar Ian sambil memberikan sapu tangan.
"Hah..mungkin kau benar.Aku membuat Lily khawatir dan marah seperti tadi,aku jadi merasa bersalah." ucap Ken.
"Ini memang salahmu." balas Ian.
"Tapi,bukankah Lily juga menggunakan sihir cahaya?Aku pernah melihatnya sekali saat dia menyembuhkan seekor kelinci." tanya Ken.
"Lily memang bergelar Miscess,tapi kekuatan sihirnya tidak sama rata di setiap macamnya.Aku dengar beberapa tahun lalu dari Vel,kekuatan sihir cahaya Lily adalah yang paling lemah diantara semua sihir yang dia kuasai." jawab Ian.
"Syukurlah dia meminta bantuanku tadi.Aku tidak mau dia terluka." gumam Ken.
Tak berselang lama,Lily dan Zarex kembali ke dalam kereta.Lily sudah menempatkan beberapa penyihir untuk memantau sekitar perbatasan dan kesatria untuk menjaga para penyihir.Urusan mereka untuk sementara sudah selesai.Mereka pun akhirnya pulang ke ibu kota.Walau sepanjang jalan Lily hanya mengomeli Ken tak henti-henti,bahkan saat melaporkan peninjauan penghalang sihir pada Felix,Lily masih mengoceh pasal kesalahan Ken.Lucas yang mendengar ocehan Lily hanya bisa menertawakan Ken.Dan akhirnya mereka bertengkar seperti biasa.
4 hari berlalu,istana ruby milik Yesra sedang cukup ramai karna kejadian waktu itu.Para pelayan memang diam-diam mengintip,tapi tidak mereka sangka Felix akan melakukan 'itu' (mereka salah paham!).
"Tuan Putri!"
"Hm?Oh,Jena!Ada apa?"
"Putri Silviana dan Pangeran Arta hendak menemui anda."
"Eh?Kenapa?"
"Saya juga kurang tahu.Apa yang harus saya lakukan?"
"Siapkan teh dan kudapan di ruanganku.Aku akan menyambut mereka."
"Baik."
Yesra pun segera pergi menyambut kedatangan dua orang itu.Lucas pernah mengatakan bahwa utusan dari Luanvier sangatlah penting,jadi harus diperlakukan sebaik mungkin.
'Karna Yusto sedang bersama Asher,aku jadi sendirian menyambut mereka..huft.'
"Selamat datang,Putri Silviana dan Pangeran Arta.Suatu kehormatan anda berdua datang berkunjung."
"Halo,Putri Yesra.Terimakasih banyak telah menyambut kami.Maaf jika kami mengganggu waktu anda siang-siang begini." balas Putri Silviana.
"Tidak sama sekali,kebetulan saya sedang sendirian karna kakak saya sedang keluar.Silahkan masuk,putri dan pangeran."
.
.
"Teh nya sangat enak.Apa nama teh ini?" tanya putri Silviana.
"Saya lupa namanya.Teh ini saya dapatkan dari tunangan kakak pertama saya sebagai hadiah di ulang tahun saya beberapa bulan lalu." jawab Yesra.
"Tunangan kakak pertama anda,itu berarti Yang Mulia Miscess?!" tanya Pangeran Arta.
"Benar sekali,pangeran.Katanya perlu waktu 6 bulan untuk mengimpor teh ini karna berasal dari benua yang cukup jauh." jawab Yesra.
"Mungkin kah..Rooibos Tea ?"
"Ya ampun putri,saya baru ingat namanya begtu anda sebutkan.Bagaimana putri bisa tahu?" tanya Yesra.
"Em,beberapa waktu lalu saya menemukan buku terbaru tentang kehidupan Yang Mulia Miscess yang begitu sederhana.Dari sekian banyaknya buku yang ada di perpustakaan umum istana,hanya buku tentang Miscess lah yang paling menarik perhatian saya.Lalu ada beberapa hal yang di sebutkan mengenai hal yang disukai Yang Mulia Miscess,seperti teh ini." jelas putri.
"Li-ekhem,maksud saya Yang Mulia Miscess memang menyukai teh.Dibalik mansionnya yang begitu besar dan mewah bahkan seukuran istana kaisar ditambah paviliunnya,ada orang sederhana seperti dirinya.Jarang sekali saya melihatnya pergi ke pesta dan lebih sering melakukan pekerjaannya atau berjalan-jalan di taman."
Putri Silviana hendak membuka sarung tangannya,tapi Pangeran Arta menghentikannya.
"Jangan." ucapnya.
"Tidak apa-apa.Aku sudah tidak masalah lagi." ucap putri.
Ia membuka sarung tangannya.Yesra cukup kaget melihat tangan putri Silviana kapalan.Sepertinya ia berlatih pedang dengan sangat keras.
"Ayah saya menentang keras saya menggunakan pedang karna saya seorang perempuan.Setiap kali melihat saya menyentuh pedang,beliau selalu memarahi saya.'Tidak ada wanita yang memegang pedang' itulah yang ayah saya ajarkan.Untungnya,kak Arta membantu saya berlatih diam-diam walau ia sendiri akan mendapat hukuman jika ketahuan." ucap putri Silviana.
"Ayah anda,itu artinya Raja Henri?"
"Benar."
"Pemikirannya salah.Semua orang berhak menggunakan pedang.Pedang digunakan untuk melindungi diri dan orang lain.Apakah beliau ingin putrinya terlalu tergantung pada orang lain?Saya tahu apa yang anda rasakan walau saya tidak mengalaminya.Yang Mulia Miscess pernah berkata pada saya 'Lakukanlah yang ingin kamu lakukan selama kamu masih bisa bebas.' begitulah.Beliau sepertinya sudah sangat paham apa itu kekangan walau ia tumbuh di keluarga harmonis yang sangat jarang mengekangnya." ucap Yesra.
"Maka dari itu.."
"Hum?"
"Tujuan saya kesini adalah untuk lebih dekat dengan putri.Saya ingin bisa lebih dekat dengan Yang Mulia Miscess juga.Jika anda berkenan,saya ingin sekali menjadi teman berbincang putri!Anu..saya tidak tertarik dengan pemilihan putri mahkota ini,tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin." ucap putri Silviana malu-malu.
"Dia bilang dia jatuh cinta pandangan pertama pada Yang Mulia Miscess saat upacara penyambutan.Hanya karna beliau menyemangati nya untuk belajar pedang." ucap pangeran Arta tertawa kecil.
"Egh!Kakak jangan katakan itu pada putri!" balas putri Silviana malu-malu.
"Benarkah?Yang Mulia Miscess pasti sangat senang mendengar itu." ucap Yesra tertawa kecil.
"Saya mengagumi beliau.Saya merasa beliau meminta saya untuk belajar pedang lebih keras,beliau benar-benar mendukung saya!" ujar putri Silviana malu-malu.
'Ya ampun dia menggemaskan sekali!!' pikir Yesra.
"Bagaimana kalau anda juga belajar pedang disini?Di kekaisaran,mau pria atau wanita boleh belajar menggunakan pedang.Ada banyak guru terlatih yang bisa mengajar anda." ucap Yesra menawarkan.
"Tapi,bagaimana dengan kelas putri mahkota?.." tanya putri Silviana.
"Tenang saja.Saya akan membantu anda."
"Benarkah?! Terimakasih banyak,Tuan Putri!!"
"Sama-sama.Saya akan mengusulkan ini pada baginda terlebih dahulu."
"Baik!"
Setelah berbincang cukup lama,putri Silviana dan pangeran Arta kembali ke istana mereka.Dalam waktu yang singkat,putri Silviana dan pangeran Arta telah menjadi teman dekat Yesra.
'Aku tidak menyangka akan sangat menyenangkan berbincang seperti ini.Putri Silviana sangat menggemaskan,pangeran Arta juga begitu ramah dan humoris.Aku menyukai mereka!'
Yesra larut dalam pikirannya sendiri.Dia benar-benar senang setelah menikmati tea time bersama putri Silviana dan pangeran Arta tadi.
Para pelayan yang melihat Yesra tersenyum dan tertawa sendiri di kamarnya dari balik celah pintu pun jadi cemas.
"Kenapa kalian diam disitu?"
"P-pangeran!"
Yusto diam-diam melihat Yesra dari balik pintu.Terlihat Yesra dan tampak sangat senang di atas ranjang.
"Ada apa dengannya?" tanya Yusto.
"Baru saja putri Silviana dan pangeran Arta bertemu dengan tuan putri.Mereka berbincang cukup lama.Mungkin karna itu tuan putri terlihat sangat senang." jawab salah satu pelayan.
'Apa yang mereka bicarakan sampai dia kegirangan begitu?' pikir Yusto heran.
Sementara itu,di kuil suci.
"Dimana Cika?"
"Dia sedang pergi ke menara sihir.Apakah anda perlu sesuatu,Yang Mulia?"
"Bubur ayam buatan Damian tidak enak.Aku mau buatan Cika!"
Hari ini Ian menggantikan Lily memantau kondisi Zergan.Sudah 4 hari berlalu sejak Zergan terkapar lemas di ranjang.Sihirnya juga perlahan pulih seiring berjalannya waktu walau tidak terlalu cepat.Selera makan Zergan makin bertambah setelah pulih.Tapi sayangnya,dia menyisakan makanan yang dibuat di kuil suci karna tidak sesuai dengan lidahnya.
"Yang Mulia,Lily sedang pergi,bagaimana bisa anda memakan masakannya?" tanya Ian datar.
"Kau ini menyebalkan sekali!Buatkan makanan untukku!" jawab Zergan yang masih emosi.
"Baiklah."
"Eh?"
'Dia bisa memasak?'
Bersambung...