
Flashback
"Kau sendiri bagaimana? Marchioness Gradina pasti sedang menunggu mu untuk mempersiapkan acara pernikahan bukan?" tanya Putra Mahkota pada Ian,
"Saya masih ada rasa bersalah padanya,dan kondisi Kaisar sedang tidak baik baik saja,akan banyak rumor buruk yang tersebar jika melangsungkan pernikahan di saat seperti ini" jawab Ian tenang,
"Dasar!Bisa bisanya memamerkan tunangan kalian di depan Putra Mahkota yang bahkan belum mempunyai tunangan!, kapan aku punya pasangan?!Setidaknya kenalkan lah satu gadis untukku!" rengek Putra Mahkota sambil menangis tersedu-sedu,
"Bukankah anda sendiri yang menolak para wanita?.." jawab Ian dan Lucas bengong,
"MEREKA BUKAN SELERAKU!"
.
.
Episode 54
"Kak?"
"..."
"Kak Fei?"
"Eh?ah!kenapa Lily?"
"Kenapa dari tadi kakak melamun?"
"Aku hanya sedang banyak pikiran, hehehe"
Fei tampak memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya kacau,Lily yang sedang dibantu Fei bersiap-siap menghadiri rapat di kamarnya,mulai khawatir pada Fei yang tampak muram sejak tadi,
"Sudah selesai,Lily" Fei selesai mempersiapkan Lily untuk menghadiri rapat,
"Terimakasih Kak,kalau begitu aku berangkat dulu,aku titip mansion pada kakak", ucap Lily,
"Tentu saja,aku harap rapatnya berjalan lancar",
"Tentu saja!"
Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar Lily agak keras,
"Lily,bolehkah kami masuk?" suara Vel dari luar ruangan terdengar jelas,
"Tentu saja masuklah",Vel dan Bel langsung masuk begitu mendapat izin dari Lily.Tampak mereka berpakaian sangat rapi dan mempesona,
"Wahh,kalian mau kemana?" tanya Lily penasaran,
"Ada barang yang harus kami ambil di Luanvier,mungkin 5 hari lagi kami akan pulang", ucap Bel berseri-seri,dia pasti sangat menantikan saat saat pergi ke luar negeri,
"Barang?kalian bisa minta tolong padaku jika hanya ingin mengambil atau membeli barang", heran Lily,
"Ah,tidak perlu,itu terlalu merepotkan,dan waktunya juga lumayan lama,maka dari itu kami harus segera kesana sebelum stok nya habis" jelas Vel,
"Oh begitukah?huhu,baiklah,nikmati waktu kalian disana,jangan lupa membelikan ku dan yang lain oleh oleh!" ujar Lily licik dengan senyuman lebarnya,
"Kalau begitu kami pergi dulu,jaga dirimu selama kami pergi,Sampai Jumpa!" Vel dan Bel langsung menghilang begitu saja dengan sihir teleportasi mereka,
"Fiuh, untungnya sihir mereka sudah stabil" gumam Lily lega,
"Anu,Lily,sihir teleportasi mereka berdua kan merupakan sihir kelas tinggi yang hanya kurang dari 100 orang di kekaisaran bisa melakukannya,dan juga butuh waktu 30 menit untuk teleportasi antar wilayah,darimana mereka bisa melakukan itu dengan sangat cepat padahal jarak Luanvier dan Raveldra lumayan jauh?" tanya Fei penasaran,
"A-ah..entahlah..aku juga tidak tau..hehe",
'Mana mungkin aku bisa bilang kalau mereka berdua adalah Dewa Dewi Kembar Beyola!Maafkan aku kak Fei' pikir Lily sambil menangis dalam hati,
Istana sudah dipenuhi oleh kereta kuda dari para bangsawan,rapat kali ini adalah rapat paling heboh yang akan disiarkan langsung menggunakan sihir hologram raksasa yang akan ditunjukan di pusat kota,
"Wah,canggih sekali" Lily terpungkau dengan sebuah layar tipis berwarna hitam yang mengambang di pusat kota,
"Aku harus mengabadikannya!" Lily mengambil smartphone nya dan merekam layar raksasa itu,
'Diduniaku hal seperti ini masih dalam pengembangan,tapi tidak heran juga karna disini ada sihir'
Sesampainya di Istana,Lily melihat banyak sekali kereta kuda yang memenuhi halaman istana utama.Para pengikut Duke Wilen dan Grand Duke Darvin hadir langsung dalam rapat kali ini.
"Uwah..aku merasakan aura yang menekan",
Saat hendak masuk,Ian menghampiri Lily dengan pakaian formal yang secara turun temurun ditunjukan pada penerus keluarga Darvin dan sangat cocok dengannya,
"Ian?!Tumben kau memakai pakaian formal keluarga,apa tidak apa-apa?" tanya Lily yang terkejut,
"Aku harus menunjukan jati diri yang sesungguhnya pada para baj*ingan itu kalau lawan mereka adalah seorang Darvin" jawab Ian santai dan datar, seperti biasa,
"Kau tidak datang bersama para pengikut mu?" tanya Ian sambil melihat sekitar,
"Kali ini aku datang sebagai seorang Miscess,bukan Marchioness Gradina, jadi untuk apa aku membawa para pengikut" jawab Lily dengan sorot mata datar menatap Ian,
"Tapi tetap saja-!" jari telunjuk Lily menekan bibir Ian agar dia diam,
"Lagipula kau akan ada bersama ku kan,hihi",ujar Lily dengan senyum tipis,
"Tentu saja" balas Ian,
"Ayo masuk" lanjutnya,
Lily dan Ian langsung masuk ke ruang rapat di istana utama,begitu mereka sampai di depan pintu ruang rapat,penjaga mengumumkan kedatangan mereka berdua,
"TUAN MUDA LEVIAN DE DARVIN DAN MARCHIONESS LILY FIDUCIA VI GRADINA MEMASUKI RUANGAN!!"
Pintu ruangan terbuka,tampak meja yang disusun melingkar dan sangat besar tertata rapi, singgasana Kaisar masih kosong,di deretan seblah kiri adalah Duke Wilen,Arina dan para pengikut,sedangkan diseblah kanan adalah Ian,Lucas,dan beberapa perwakilan para pengikut mereka berdua,dan tepat di seberang singgasana Kaisar adalah tempat Lily sebagai Miscess.Ada beberapa kursi di belakang tempat duduk Lily sebagai tempat para saksi,tentu saja ada Yusto dan Yesra disana.
Lily dan Ian duduk di kursi masing masing sambil menunggu kedatangan Putra Mahkota sebagai wakil dari Baginda Kaisar.Lily melihat Arina yang duduk diseblah Duke Wilen dengan wajah pucat dan bercucuran keringat,begitu juga dengan Duke Wilen yang tampak sangat gugup,
Lily melihat ke arah tempat duduk para saksi,ada beberapa di antara mereka yang sangat tenang dan malah bercanda, tapi ada juga yang merasa tidak tenang berada di ruangan ini,tentu saja Yusto dan Yesra tetap tenang karna mereka adalah saksi yang sesungguhnya,
'Ada beberapa di antara para saksi yang sudah disogok oleh Duke Wilen agar mengatakan kebohongan,tapi ada Yusto dan Yesra yang melihat langsung,jadi aku bisa sedikit tenang'
Tak lama kemudian, penjaga mengumumkan kedatangan Putra Mahkota dari sebuah pintu khusus,
"PUTRA MAHKOTA FELIX TIGRIS RAVELDRA MEMASUKI RUANGAN!!"
Seluruh hadirin langsung bangkit dari kursinya begitu Putra Mahkota berjalan memasuki ruangan dan menuju tempatnya.
"Hari ini..adalah hari yang penuh teka teki ya" gumam Putra Mahkota,
"Kalau begitu..kita mulai saja" lanjut nya,
Putra Mahkota membaca beberapa lembar kertas di mejanya,itu adalah hasil laporan dari pihak Ian dan Lucas sebagai ganti Lily dalam membuka mulut,Duke Wilen dan Arina yang ditunjuk sebagai pelaku,serta beberapa saksi yang turut hadir dalam rapat.
Begitu Putra Mahkota selesai membaca semua laporan,ia menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya ditopang dengan tangan,
"Dari ringkasan semua laporan dari ketiga pihak,Lady Arina dituduh melakukan penghinaan pada orang suci,seperti Marchioness Gradina yang seorang Miscess,tapi pihak Duke Wilen berkata kalau Marchioness lah yang memulai perdebatan dan membuat Lady Arina emosi sampai sampai mengeluarkan kata kata yang seharusnya tidak dia tunjukan pada Marchioness,dan lagi ada beberapa saksi yang mengatakan kalau Lady Arina cemburu dan iri pada Marchioness yang bertunangan dengan Tuan Muda Levian,pria yang dicintainya sejak lama,la-"
"YANG MULIA!SUDAH JELAS MARCHIONESS LAH YANG MENGHASUT PARA SAKSI DAN MENYOGOK MEREKA AGAR MENGATAKAN KEBOHONGAN!LAGIAN TIDAK ADA BUKTI YANG KUAT KALAU LADY ARINA LAH YANG MEMULAI PERDEBATAN ITU!" salah satu pengikut Duke Wilen memotong perkataan Putra Mahkota dan menuduh nuduh tidak jelas pada Lily,
'Dasar pria tua,dia hanya tidak mau uangnya sia sia kan,konyol sekali' pikir Lily sambil menatap rendah pengikut Duke Wilen itu,
"Count Fedren,siapa yang mengizinkan anda membuka mulut?dan lagi kau memotong perkataanku?Dimana etika mu?!" Putra Mahkota menatap dingin ke arah pengikut Duke Wilen tadi,yaitu Count Fedren.Walau takut dengan tatapan Putra Mahkota,tapi dia tetap keras kepala dan melanjutkan kata katanya,
"Yang Mulia.. percayalah pada Duke Wilen dan Lady Arina! Duke Wilen tidak bersalah Yang Mulia!",Putra Mahkota mulai kesal dengan Count Fedren tapi dia tau harus mengontrol emosinya,
"Huh..apa anda ada bukti kalau Lady Arina tidak bersalah?", tanya Putra Mahkota,
"I-itu..", Count Fedren tidak dapat menjawab pertanyaan Putra Mahkota,
"Duduklah atau kau akan dikeluarkan dari rapat"
Count Fedren hanya bisa terdiam dan duduk kembali dengan perasaan kesal,
"Marchioness,bisakah anda memberikan penjelasan yang sebenarnya?" tanya Putra Mahkota menatap Lily dengan penuh kepercayaan,
"Tentu saja Yang Mulia.Kemarin lusa, Pergaulan Kelas Atas diadakan di mansion Duke Wilen,lalu saya datang karna undangan langsung dari Lady Arina,di undangan itu tertulis kalau acara kali ini mengharuskan membawa partner untuk dansa,dan tentu saja saya mengajak Tuan Muda Levian sebagai partner saya karna dia tunangan saya.Begitu saya datang ke tempat acara,Lady Arina menyambut saya dengan sangat baik.Lalu..Ian pergi ke meja makan untuk mengambil minuman dan meninggalkan saya dengan Lady Arina. Saat itu Lady Arina terus terusan memandang Ian,dan tersipu malu, tentunya hal itu tidak sopan untuk seorang Lady memandang pria yang sudah menjadi tunangan orang lain,semua orang juga tau hal itu" Mendengar penjelasan Lily,Arina bangkit dari kursinya dengan ekspresi kesal,
"APA YANG KAU BICARAKAN DASAR WANITA TIDAK TAU DIRI!KAULAH YANG MEREBUT TUAN MUDA LEVIAN DARIKU!" ucapan Arina langsung membuat para hadirin dari pihak Ian dan Lucas serta para saksi berbisik bisik,
"LADY ARINA!ANDA SUDAH KELEWAT BATAS!JIKA ANDA BERBUAT ULAH SEKALI LAGI SAYA TIDAK AKAN MENOLERANSI APAPUN DAN LANGSUNG MENJATUHI HUKUMAN 10 TAHUN PENJARA SERTA PENURUNAN KASTA MENJADI RAKYAT BIASA!" Putra Mahkota langsung mendobrak mejanya begitu Arina menghina Lily sekali lagi,
"Arina!",
"..." Arina langsung duduk kembali begitu Putra Mahkota marah dengan sikapnya,
"Sepertinya dia terobsesi denganmu" ucap Lucas pada Ian yang duduk disebelahnya
"Hah..Ini menakutkan.."
Bersambung...