
Flashback
"Ini hadiah dari temanku" jawabku ragu, 'Kupikir itu hanya mimpi' pikirku,
"Hadiah?dari siapa??" tanya Ian agak kesal,
"Dari Luke,teman pria ku dulu,dia bilang ini hadiah pertunangan kita" ucapku berbohong karna tidak tahu harus mengatakan apa,
"Oh" Jawab Ian singkat dan nada kesal,
'Apa apaan pria ini,aku ingin membunuhnya' pikirku kesal.
.
.
Episode 15
Sudah 3 Minggu aku berada di Grand Duchy Darvin tanpa keluar dari kediaman.Aku melakukan tugas yang Grand Duchess berikan padaku sebelumnya dengan baik. Yusto dan Yesra mulai kembali periang,walau hanya karna sebuah Pudding Roti,ini sebuah keajaiban yang sangat menguntungkan ku.Aku juga mengirim surat pada Ayah dan Ibu yang sangat khawatir padaku,karna Kakak sudah kembali ke Medan perang,ayah dan Ibu jadi kesepian.
Sebenarnya aku masih memikirkan hubungan Pangeran kedua dengan Ian,sepertinya mereka dekat,tetapi aura yang mereka pancarkan saat itu mengerikan, seperti Serigala dan Singa yang ingin bertarung.Aku mencoba bertanya pada Ian soal hal itu,tetapi dia mengalihkan pembicaraan.Aku memang tidak tahu banyak soal masa lalunya, tetapi ini seperti trauma. Apa yang Ian alami di masa lalu ya?Aku ingin tau.
3 hari sebelum Grand Duke dan Grand Duchess kembali ke Grand Duchy,Ian mengajakku berkeliling desa wilayah Grand Duchy untuk melihat lihat hal hal yang ada karna ada festival musim dingin disana, sekalian menyegarkan pikiran dari masalah masalah yang menumpuk di meja kerjanya.Waktu tempuh kesana pun lumayan lama, sekitar 17 menit dari kediaman walaupun masih dalam 1 wilayah.
"Lily,apakah kau ingin beli sesuatu?" tanya Ian sambil berjalan menggandeng tangan ku,
"Aku sedikit lapar,apakah disini ada makanan khas?" jawabku dan bertanya kepada Ian,
"Ada,mau ku antar?" jawabku sambil menawarkan,
"Iya,terima kasih" jawabku,
Ian membawaku ke sebuah restoran yang tak jauh dari lokasi kami tadi.
"Wah,restoran aesthetic" gumamku melihat keindahan restoran itu,
"Aesthetic,apa itu?" tanya Ian penasaran,
"Ah tidak!bukan apa apa kok,haha" ucapku lalu menarik tangan Ian masuk ke dalam restoran,
Setelah masuk,Ian meminta ruangan khusus untuk kami berdua,lalu pelayan mengantar kami keruangan itu,
"Pelayan,bawakan makanan khas Grand Duchy Darvin kemari" ucap Ian pada pelayan tadi,
"Baik tuan,akan segera kami siapkan" jawab pelayan itu lalu pergi,
"Ian,apakah tidak apa apa kita meninggalkan Kediaman? bukankah pekerjaan mu sedang menumpuk?" tanyaku pada Ian karna khawatir,
"Tidak apa,Irvan mengurus itu semua sampai kita pulang nanti" jawabnya yakin,
Irvan adalah tangan kanan Ian,walau aku tidak pernah bertemu dengannya,tapi Ian selalu mengatakan hal tentang dia jika selesai bekerja,mulai dari tugas,latar belakang,bahkan sikapnya yang konyol saat bekerja.
"Sepertinya dia tersiksa" gumamku ragu,
"Dia sangat suka berada diseblahku,bahkan tidak pernah mengeluh" ucap Ian sangat yakin,
'Tentu saja!kau itu pembunuh berdarah dingin!siapa saja akan takut jika kau tidak menyukai mereka!' teriakku dalam hati,tidak mungkin aku mengucapkan hal itu didepan seorang Iblis,
"Begitu kah" jawabku dengan senyum terpaksa,
Tak lama kemudian,seorang pelayan datang ke ruang kami membawa nampan berisi 2 piring yang ditutup. Setelah diletakan,pelayan itu membuka penutup makanan dan undur diri.
"Ini garós?"tanyaku pada Ian setelah melihat makanannya,
Note:Garós adalah saus dari fermentasi ikan yang digunakan untuk menggantikan garam sebagai penyedap rasa asal Kekaisaran Bizantium pada zaman Romawi,sekaligus warisan dari tradisi Yunani yang disajikan dengan zaitun,minyak zaitun,roti gandum dan banyak ikan.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Ian terheran heran,
"K-kebetulan aku mendengarnya tadi dari warga sekitar" jawabku gugup,
'Aku tidak bisa bilang kalau aku pernah mencoba makanan ini di kehidupanku sebelumnya' pikirku,
"Oh begitu,cobalah" ucapnya meminta,
Aku pun memakan makanan itu,walaupun aku sudah tau rasanya,
"Lho?" gumamku setelah mencicipinya,
"Enak kan?" tanya Ian,
"Iya ini enak" ucapku senang,
'Entah kenapa rasanya agak berbeda dengan garós di duniaku sebelumnya,ini lebih enak' pikirku lalu lanjut memakannnya.
/skip selesai makan/
"Benar benar enak" ucapku puas,
"Sepertinya kau sangat suka" ucap Ian memastikan,
"Iya,seandainya didunia ini ada smartphone aku akan mempostingnya di sosmed" gumamku,
"Smartphone?..posting?..sosmed?" gumam Ian bertanya tanya,
"Lagi lagi kau mengatakan hal aneh, sebenarnya darimana kau dapat kata kata itu" ucap Ian membalas gumam ku,
"Oh, smartphone itu benda yang bisa mengeluarkan- hmp" ucapku lalu berhenti,
"Ada apa?" tanya Ian,
"Tidak bukan apa apa!kalau begitu ayo kita lanjutkan jalan jalan kita!" ucapku lalu menarik Ian keluar restoran,
/di luar restoran/
"Aku ingin mengunjungi sesuatu tempat yang bagus,tunjukan padaku!" ucapku meminta Ian cepat cepat,
'Hampir saja aku menjelaskan sesuatu tentang duniaku' pikirku di sela perkataan ajakan pada Ian,
"Aku akan mengantarmu ke Danau Menlis" ucap Ian menawarkan,
"Danau Menlis??" tanyaku,
"Danau Menlis adalah danau yang menjadi simbol keluarga Darvin,bahkan nama itu diberikan karna keindahannya, men dari mense yang artinya bulan dan Lis dari solis yang artinya matahari.Saat Bulan naik,danau akan memancarkan cahaya bulan yang sangat terang,sampai sampai dasar danau pun terlihat, sama saat Matahari terbenam,danau itu akan mengeluarkan warna jingga seperti matahari yang menyilaukan mata,bahkan danau yang jernih bisa terlihat terisi dengan madu yang berkilau" jelas Ian dengan danau itu,
"Apakah cuacanya akan bagus?aku pikir akan turun salju sangat sekarang sudah sangat dingin" tanyaku,
"Danau itu selalu cerah kapanpun musimnya" jawab Ian dengan senyum tipis,
"Sepertinya sangat mengagumkan,ayo kita kesana saat matahari terbenam"ajakku karna penasaran dengan Danau Menlis itu,
Sambil menunggu matahari terbenam,aku dan Ian menghabiskan waktu di desa dengan berbelanja,melihat lihat hiasan dan bahkan bersenang senang di festival dengan berdansa tradisional.
Ian yang pandai berdansa pun sangat mahir dengan dansa tradisional,aku yang bahkan tidak tau cara dansanya pun dapat menyesuaikan gerakan Ian,bahkan aku terpungkau dengan keahliannya yang satu ini.
Waktu pun berlalu,matahari mulai tenggelam,aku segera meminta Ian menunjukan danau yang dia maksud, ini
"Ian!ayo kita pergi!" teriakku memanggil Ian yang sedang berjalan kearah ku,
"Dasar tidak sabaran" ucapnya yang sudah berdiri di depanku,
"Hehe" jawabku tertawa kecil,
Aku dan Ian pergi ke Danau Menlis yang dia ceritakan dengan berjalan kaki karna katanya tidak jauh dari desa.Kami melewati hutan kecil untuk sampai ke danau itu,
"Bertahanlah Lily,sebentar lagi" ucap Ian,
"Aku tidak sanggup.." jawabku kecapean,
"Terlalu cepat untuk menyerah" ucapnya lagi,
"AH!!" teriakku karena tersandung akar pohon,untungnya Ian menangkap ku cepat,
"Pohon sialan!kau bilang akan cepat sampai!" omelku pada Ian,
"Hanya 2 menit bukan?" tanya Ian dengan tampang tidak berdosa,
"5 menit melewati hutan kecil yang sangat meresahkan bagiku sama saja 2 jam!" bantah ku kesal,
"Aku tidak tahu kalau kau selemah itu" ucap Ian mengejekku,
"Aku tidak lemah!" bantah ku lagi,
Kami pun melanjutkan sedikit perjalanan ke danau itu. Sekitar 2 menit setelah itu, kami pun sampai di Danau Menlis.Aku pun terpungkau dengan keindahan Danau itu.Seperti kata Ian,saat matahari tenggelam,air danau itu terlihat bagaikan madu yang sangat berkilau indah,benar benar momen yang sangat indah untuk diabadikan.
"Ini..sangat indah!" ucapku terpungkau dengan mata berbinar binar,
"Kau suka?" tanya Ian,
"Iya aku sangat suka! terimakasih banyak Ian" ucapku sambil tersenyum lebar kearah Ian,
"Sama sama" jawabnya sambil memalingkan wajahnya,
"Kau mau naik perahu?masih ada 17 menit sampai matahari tidak lagi terlihat" tawar Ian,
"Iya aku mau!" ucapku girang,
Ian pun menarik tanganku lembut menuju sebuah perahu kecil di pinggiran danau. Ian menaiki perahu itu, lalu membantuku naik juga.Ian mulai mengarahkan perahu ke tengah tengah danau,dengan pelan.
"Dari dekat tetap saja seperti madu" ucapku sambil melihat air danau yang indah itu,
"Sentuhlah,kau akan merasakan perbedaan air danau ini dengan air biasa" ucap Ian meminta,
"Baiklah" jawabku lalu menyentuh air itu,sebuah cahaya kecil bersinar keluar dari bagian air yang ku sentuh,
"Apa ini?!" tanyaku terkejut,
"Itu adalah keajaiban yang diberikan Dewi Artius,Dewi Air Kekaisaran Raveldra"
"Wah,indah sekali" ucapku terpungkau,
"Ian,terimakasih telah mengajakku kesini,aku sangat bahagia" ucapku sambil tersenyum kearah Ian,dan saat itu juga angin berhembus lumayan kencang,dan membuat rambutku yang sebelumnya ku ikat terurai.
Aku melihat Ian sedikit terkejut dengan muka yang agak memerah,lalu dia tersenyum lebar dengan tulus sambil berkata "Sama sama Lily"
Senyuman Ian kali ini sangat hangat,aku merasakan hal yang aneh,jantungku berdegup kencang,dadaku sesak.
"Lily?kenapa mukamu merah?kau demam?" tanya Ian,
Ternyata mukaku merah padam tanpa kusadari. Senyuman Ian tadi membuatku tersipu,hal yang baru kali ini ku alami.
"T-Tidak!!aku tidak apa apa!" teriakku mengelak sambil memalingkan wajah,
'Sialan,aku bisa gila gara gara senyumannya tadi!' pikirku,
Aku melihat ke arah daratan,dan melihat seorang lelaki berambut pirang dan bermata biru sedang duduk di sebuah kursi roda,yang tak lain adalah Yusto,melihat kami dengan muka sayu,lalu beranjak pergi bersama kepala pelayan yang tadi disampingnya.Aku berpikir,apakah aku mengambil Ian dari sisinya?,walau mereka tidak dekat,tetapi Ian tetaplah kakak Yusto,aku merasa bersalah dengan Yusto.
Tak lama kemudian, matahari benar benar telah menghilang. Aku dan Ian sudah kembali ke tepi danau dan berencana langsung pulang. Tapi aku masih memikirkan tentang Yusto,aku tidak tau hal itu akan melukainya.
'Apa yang harus aku lakukan?..'
Bersambung..
Yoo Minna⊂((・▽・))⊃✨maaf ya author telat up 1 Minggu,nyehehe kebiasaan🗿🔫. Makasii yang sudah membaca novel Vita Nova,author sangat berterimakasih walau masih belum seberapa,sekian dulu,terima gaji 🗿✨