Vita Nova

Vita Nova
Episode 82 "Tujuan Tersirat"



Flashback


Perlahan-lahan Zergan mengajarkan semua yang ia tahu tentang smartphone sampai Vel benar-benar paham.Bagaimana cara menggunakannya dan apa saja yang bisa dia dapat dari alat itu.


Vel pun merasa takjub dengan smartphone Zergan.Dia sangat tertarik untuk mempelajari lebih banyak hal yang belum dia ketahui.


Mereka sangat akrab.Zergan tampak seperti seorang kakak,dan Vel seperti seorang adik.Tidak ada yang menyangka mereka akan sedekat itu dalam waktu yang sangat singkat.


Lily yang melihat mereka bermain bersama seperti kakak adik ikut merasa senang.Ia tertawa kecil melihat tingkat kedua orang dewasa itu.


'Dasar,ada-ada saja mereka ini.'


.


.


Episode 82


"Rina, bagaimana kabar Duchess?"


"Ibu baik-baik saja.Sudah lama sejak beliau sembuh dan sekarang menikmati hidup di vila yang nona berikan!"


"Syukurlah.Kau mau menjenguknya?"


Rina tersentak dengan wajah berseri-seri.Dia terlihat senang tapi juga tidak.


"Saya sangat ingin menjenguk beliau tapi.." Rina berhenti melanjutkan kata-katanya.


"Tapi?"


"Ibu pasti akan meminta saya ikut dalam pergaulan kelas atas..padahal saya hanya 'pelayan' nona." lanjutnya.


Lily terdiam dan menatap Rina cukup lama.


"Lady Viona."


"?!"


"Ingat jati diri anda yang sebenarnya.Saya membiarkan anda untuk tetap menjadi pelayan saya karna pilihan anda.Tapi jangan lupa kalau anda adalah putri Duke Ricardo.Darah bangsawan murni tetap mengalir dalam tubuh anda.Dan juga,anda sangat diperbolehkan untuk menginjakkan kaki di pergaulan kelas atas.Saya akan membantu anda." jelas Lily tegas.


"T-tunggu nona!Jangan berkata formal pada saya.." ucap Rina gugup.


"Saat ini saya berbicara pada anda sebagai Lady Viona,bukan sebagai Rina." balas Lily.


Rina terdiam.Ia tidak bisa mengelak lagi dari Lily.


"Lady,saya sudah memikirkan ini sejak lama tapi,saya ingin memberi anda kebebasan juga.Saya tidak bisa membiarkan anda terus melayani saya seumur hidup anda.Setidaknya anda perlu mencari pasangan." ucap Lily sambil menghela nafas.


"Tapi saya sudah-"


tok!tok!tok!


"Nyonya,maaf mengganggu pembicaraan anda."


"Ada apa?Masuklah."


Jeremy masuk ke kamar Lily,ia memberikan sepucuk surat dengan cap hijau berlambang kuda.Surat dari Duke Ricardo.


"Tidak biasanya.Apa ada pesan?" tanya Lily.


"Pengantar bilang kalau surat ini harus dipenuhi.Hanya itu nyonya." jawab Jeremy.


"Baiklah, terimakasih Jeremy.Kau bisa keluar."


Jeremy membungkuk salam lalu keluar dari kamar Lily.Rina memiliki firasat tidak enak tentang surat dari Duke.


Lily membuka surat itu dan membaca isinya.


...Kepada Marchioness Gradina....


...Saya sebagai Duke Clarx Rodean Ricardo,kepala keluarga Ricardo secara resmi mengundang anda ke acara penyambutan putra pertama saya,Zarex.Ini pesta yang diakan demi kebahagiaannya di jalan setelah lulus akademi tinggi di luar negeri atas kemurahan hati Baginda Kaisar.Saya harap anda bisa membawa putri saya juga ke pesta 4 hari lagi di mansion saya.Semoga Dewa memberkati anda....


......Dari,Kepala Keluarga Ricardo.......


Lily langsung meremas surat itu dan menyobeknya menjadi sangat kecil.Rina yang melihat Lily begitu kaget dan ternganga.


"N-nona!Kenapa anda merobeknya?!" tanya Rina panik.


"Baru sekarang dia menganggap mu putrinya?..Dia pikir selama ini apa yang dia lakukan padamu hah?!Tidak bisa dibiarkan!" jawab Lily sangat kesal.


"Memangnya apa isi surat itu nona?" tanya Rina penasaran.


"4 hari lagi putranya yang pertama akan keluar dari akademi tinggi hanya dalam waktu 5 tahun.Dan aku harus membawa mu Rina.Ah tidak, maksudku Lady Viona." jawab Lily.


"A-apa?!Kak Zarex?!B-bagaimana bisa?!" tanya Rina panik.


"Berapa umurnya tahun ini??" tanya Lily.


"Emm,beliau lebih tua 5 tahun dari saya.. sekitar 28 tahun?" jawab Rina tidak yakin.


"Berarti dia seumuran kakak ya..baiklah."


Akademi Tinggi adalah tingkat lanjutan dari akademi di Kekaisaran.Hanya sedikit orang yang bisa masuk ke akademi lanjutan itu.Biasanya orang yang bisa masuk ke Akademi Tinggi adalah orang yang ingin mengembangkan mana di dalam tubuhnya.Semua orang memiliki mana di dalam tubuhnya,tergantung dia bisa menggunakannya atau tidak.Dan di dalam kekaisaran,kurang dari 10% orang yang bisa melakukannya.Maka dari itu Akademi Tinggi ini dibuat hanya untuk orang yang sangat menekuni bidang sihir.Bisa dikatakan Akademi Tinggi sama dengan Sekolah Bakat Sihir.


"Lady Viona,anda harus hadir di pesta bersama saya." ucap Lily.


"Ya?S-saya?!"


Tak butuh waktu lama,Lily segera memanggil para desainer terkenal termasuk Madam Sena demi acara kali ini.Ia juga memanggil puluhan perias penjual permata yang harganya bukan main-main.Tidak lupa ia juga membeli riasan baru untuk disesuaikan dengan Rina,lebih tepatnya Viona sekarang.


"Anu, nyonya..apa-apaan keributan ini?.." tanya Jeremy.


"Apa maksudmu?Tentu saja untuk Rina,ah tidak lebih tepatnya Lady Viona,putri Duke Ricardo." jawab Lily.


"A-APAAA?!!"


"Kenapa kau sekaget itu?Tutup mulutmu dan selesaikan ini semua.Jangan lupa untuk meminta tagihan.Aku akan menghubungi Ian dulu!~" ucap Lily girang lalu pergi ke ruang kerjanya.


"T-tunggu! Nyonya!!" Jeremy benar-benar syok sekarang.Kenyataan yang selama ini disembunyikan Lily dari para pekerjanya ia katakan langsung pada Jeremy yang merupakan Kepala Pelayan.


/Di kamar Lily.


"Kenapa?Kamu tampak sangat senang tapi juga marah...Apa sesuatu terjadi?"


"Aku mendapat undangan dari Duke."


degh.


Ian tersentak mendengar ucapan Lily.Ia tampak mengalihkan pandangannya dari Lily.


"Ekhem.Apa yang dia katakan?" tanya Ian.


"Dia mengundang ku dan Ri-ah tidak,Lady Viona untuk pesta penyambutan putra pertamanya.Dia baru saja lulus dari Akademi Tinggi." jawab Lily.


"Kenapa Viona juga?Selama ini dia tidak peduli sama sekali bahkan sampai ia kabur dari rumah.Baru sekarang ia memanggil Lady kembali." ucap Ian heran.


"Mungkin ini waktu yang tepat untuk membuat relasi dengan keluarga lain.Umur Lady Viona sudah 23 tahun.Duke pasti memanfaatkan hal itu." balas Lily kesal.


"Omong-omong,apa yang terjadi saat kunjungan Duke Ricardo waktu itu?" lanjut Lily bertanya.


"Tidak ada,tapi.." Ian berhenti bicara.Tampak dari raut wajahnya,ia sedang memikirkan hal serius.


"Tapi?"


"Duke sering bertanya tentang Yesra dan Yusto.Tapi kebanyakan tentang Yesra.Dia bilang dengan dalih khawatir dengan keadaan mereka berdua." lanjut Ian.


"Dia bilang Yesra dan Yusto harus ikut datang saat acara.Tapi sepertinya Yusto tidak bisa ikut karna harus meninjau wilayah,jadi hanya aku dan Yesra." jawab Ian.


"Yesra sudah tahu hal itu?" tanya Lily lagi.


"Dia tahu,hanya saja dia terlihat tidak suka." jawab Ian.


"Jika dia tidak mau ikut tidak perlu dipaksa.Sepertinya dia sudah tahu apa yang direncanakan Duke." ucap Lily.


"Dia tetap ikut karna ada kamu disana.Dia juga percaya padaku.Tidak perlu khawatir." balas Ian.


"Baiklah.Kita bertemu 4 hari lagi.Pekerjaan ku masih menumpuk karna kakak-kakak." ucap Lily mulai menutup topik.


"Lily,bolehkah aku menjemputmu nanti?" tanya Ian.


Lily tersentak,lalu ia tersenyum.


"Tentu saja.Aku akan menunggu!" jawab Lily


Ian tampak tersenyum tipis dan berterima kasih.Lalu mereka berdua menutup komunikasi.


"Lihat saja Duke!Akan ku buat putrimu yang ada di sisiku menjadi bintang utama di acara putramu!AHAHAAA!" ucap Lily begitu licik dengan tawa jahatnya.


Vel dan Kel yang tidak sengaja mendengar suara tawa Lily dari luar pun merinding ketakutan.Hawa dingin seolah menusuk sampai ke tulang mereka.


"Hari ini cukup dingin ya.." ucap Vel.


"Sepertinya begitu..Aku perlu segelas cocoa." balas Kel.


"Ayo kita minta Trisela untuk membuatnya.." ajak Vel.


"Apa kau tidak ingin hidup lama?" tanya Kel datar.


"Ah..benar juga." jawab Vel tersenyum datar.


/Sementara itu di paviliun Istana Permaisuri.


"Anakku,kamu tampak lelah,ada apa??" tanya Permaisuri pada Arina.


"Maaf Yang Mulia.. sepertinya akhir-akhir ini saya terlalu banyak pikiran.." jawab Arina lemas.


"Jangan kaku begitu,aku ini ibumu juga." ucap Permaisuri sambil tersenyum tipis.


"Benar Lady.Aku juga ibu dari Putra Mahkota yang merupakan kakak Pangeran.Itu artinya aku juga ibumu." ucap Yang Mulia Ratu yang juga ada disana.


Arina menatap mereka berdua cukup lama.Entah kenapa dia merasa sangat buruk.Permaisuri dan Ratu menyambutnya dengan begitu lembut dan hangat,padahal sebelumnya ia telah ikut campur tangan penderitaan mereka.


"Iya..ibu.." ucap Arina sambil meneteskan air mata.


"Ya ampun nak!Kenapa kamu menangis?!" tanya Ratu cemas.


"Apakah ada yang salah? Ceritakan pada kami." ucap Permaisuri sambil mengusap air mata Arina.


Pangeran Arhen dan Putra Mahkota baru saja tiba di paviliun.Mereka sudah melihat Arina menangis cukup deras.Pangeran Arhen terkejut dan segera menghampiri ketiga wanita itu.


"Ibu,ada apa dengan Arina?" tanya Pangeran Arhen cukup cemas.


"Dia tiba-tiba menangis.Mungkin bawaan bayi.Tapi kami juga tidak tahu." jawab Permaisuri.


Pangeran Arhen mencoba menenangkan Arina yang masih menangis dan membujuknya untuk bercerita.Tetapi,Arina hanya menggelengkan kepalanya,ia tidak mau mengatakan apa-apa.


"Putra Mahkota,kamu juga ada disini.Tumben sekali kalian datang bersama." ucap Permaisuri.


"Iya,Yang Mulia.Kebetulan saya hendak bertemu ibu,dan tidak sengaja berpapasan dengan Arhen yang hendak kembali ke paviliun,jadi kami bersama kesini." jelas Putra Mahkota.


"Kenapa kamu mencari ibu?" tanya Yang Mulia Ratu.


Putra Mahkota mendekat dan membisikkan sesuatu pada Ratu.Raut wajah Ratu tampak kaget.


"Kamu akan pergi?" tanya Yang Mulia Ratu pada Putra Mahkota.


"Sejujurnya saya tidak ingin pergi karna tugas istana.Tapi,saya punya firasat buruk jika tidak pergi.." jawab Putra Mahkota.


Yang Mulia Ratu terdiam.Putra Mahkota cukup lama sambil memikirkan sesuatu tentang 'seseorang'.


"Pergilah.Ibu takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika kamu tidak pergi." ucap Yang Mulia Ratu tampak tenang bahkan tersenyum.


Putra Mahkota pun heran kenapa ibunya begitu tenang.


"Kenapa??" tanyanya.


"Kamu akan tahu ketika pergi nanti.'Sepupumu' pasti ada disana." jawab Ratu.


Putra Mahkota hanya memiringkan kepala lalu mengangguk.Ia pun pamit undur dari setelahnya.


"Pangeran,apa kamu,pernah mencintai seseorang selain Permaisuri?" tanya Yang Mulia Ratu.


Pangeran Arhen,Arina dan Permaisuri pun tersentak.Tentunya hal itu sebenarnya tampak mustahil bagi seorang 'Pangeran Arhen'.


Ia menatap Arina yang terdiam sambil menunduk.Menyembunyikan wajahnya diantara rambut hitamnya yang terurai.


"Saya..tidak pernah." jawab Pangeran Arhen sedikit ragu.


"Bahkan sekarang?" lanjut Ratu.


"Apa maksud anda?.." tanya Pangeran Arhen kebingungan.


"Bayimu,akankah kamu tidak akan mencintainya nanti?"


"Ah.."


Pangeran Arhen hanyut di dalam pikirannya.Seorang anak yang sebenarnya tidak ia inginkan akan terlahir ke dunia yang begitu kejam.Anak yang tidak bersalah.Ia bahkan tidak tahu akankah dia mencintai anaknya atau tidak.Walau akhirnya dia tidak akan bertemu anaknya setelah lahir nanti.


Pangeran duduk di samping Arina dan mendekap gadis itu dengan lembut.Tangannya mengusap kepala Arina dan mengusap pelan perut yang berisi darah dagingnya.


"Anak ini tidak bersalah.. Sekiranya saya tidak akan melihatnya tumbuh, setidaknya saya akan terus menyayanginya sepanjang hidup." ucap Pangeran Arhen sedu.


"Kenapa?" tanya Yang Mulia Ratu tersenyum tipis.


"Karna..saya.." Pangeran tidak melanjutkan kata-katanya.


Yang Mulia Ratu makin tersenyum lebar.Permaisuri yang bingung hanya bisa menatap Pangeran Arhen yang masih mendekap erat Arina.


"Lady,hiruplah udara diluar.Daun sedang berguguran.Pangeran temani Lady ya." ucap Ratu.


"Baik..Ayo Arina."


Pangeran Arhen dan Arina pun keluar dari kamar dan berjalan-jalan ditaman.Yang Mulia Ratu dan Permaisuri melihat mereka dari jendela ruangan.


"Anda tahu kan Permaisuri.Anak anda,adalah pria yang lembut pada wanita yang dicintainya." ucap Ratu tampak puas.


Permaisuri pun paham apa yang dikatakan Ratu.Suara Pangeran Arhen ketika menyebut nama Arina tadi,gerakan tangan ketika mengusap,dan tatapan matanya pada Arina.


"Cinta tidak mengenal waktu dan hubungan ya,Yang Mulia Ratu." ucap Permaisuri tertawa kecil.


"Aku merasa begitu tua,ahahaha." balas Ratu ikut tertawa.


"Kita sudah berumur,sebentar lagi hanya jadi sejarah."


"Anda benar.Waktu berjalan begitu cepat ya."


Bersambung...