Vita Nova

Vita Nova
Episode 6 "Restu Sang Dewi"



Flashback


"Lily kau darimana saja?" Ian yang baru saja keluar dari butik.Ia menghampiri Lily yang sedang bersama pria asing itu.


"Maaf,saya baru saja mengunjungi toko antik,lalu tidak sengaja bertabrakan dengan pria ini." ujar Lily menjelaskan.


Ian melihat laki laki didepan Lily.Tampak ia sedikit terkejut,dan sontak membungkuk.


"Saya memberi salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota.Semoga Dewa memberkati anda." ucap Ian.


Seketika wajahku sangat kaget mendengar Ian memberi salam kepada pria asing ini.


'E-eh!?Apa!?Putra Mahkota!?!?'


.


.


Episode 6


"Semoga Dewa memberkati mu juga Ian." jawab Putra mahkota kepada Ian terdengar santai.


"Maaf kan kelancangan saya Yang Mulia,hamba pantas dihukum." ujar Lily sambil membungkuk dihadapan Putra Mahkota.


"Nona tidak perlu seperti itu hanya karna masalah sepele." jawabnya sambil tersenyum.


Tidak ada hal apa pun tentang Putra Mahkota di ingatan Lily,wajar saja ia sekarang juga terkejut.Tapi tidak ia sangka, Putra Mahkota setampan ini.


"Ngomong-ngomong,bukankah nona ini adalah Lady Everon, putri dari Duke Everon?" tanya Putra Mahkota pada Lily.


"Iyaa Yang Mulia." jawab Lily.


"Saya mendengar rumor dari para wanita bangsawan.Lady sempat jatuh pingsan selama 3 bulan tapi tidak di sebarkan ke pubik,dan apakah benar lady akan bertunangan dengan 'Iblis' ini?" tanya Putra Mahkota sedikit bercanda.


"Anda tidak takut mati?" tanya Ian pada Putra Mahkota dengan nada dingin dan mengancam.


"H-hey!Aku cuma bercanda sobat,jangan terlalu serius!" jawab Putra Mahkota sedikit gugup.


"Iya Yang Mulia,kami akan bertunangan 1 minggu lagi saat pesta di Istana." jawab Lily.


"Ternyata Ayah tidak berbohong." gumam Putra Mahkota.


"Kami harus segera kembali,udara mulai dingin.Ayo, Lily." ujar Ian datar.


"Kalian sudah mau kembali?Yasudah lah mau bagaimana lagi,hati-hati dijalan" ucap Putra Mahkota.


"Terimakasih Putra Mahkota.Kami pamit dulu." ucap Lily sambil tersenyum.


Sekilas telinga Putra Mahkota memerah lalu ia pergi bersama beberapa pengawalnya.


/Skip di Kediaman Duke.


Setelah sampai di kastil,Duke meminta Ian untuk menginap malam ini dan juga untuk membahas tradisi pertunangan anak perempuan keluarga Duke Everon.


"Tuan Muda, seperti yang anda tahu,pertunangan anak perempuan keluarga kami harus mendapat restu dari Mahkota Dewi."


"Iya saya tahu.Ayah juga sudah memberi tau saya 2 hari lalu." jawab Ian.


"Apakah anda sudah tahu cara melakukan tradisi itu?" tanya Duke memastikan.


"Saya dengar wanita keluarga Everon yang bertunangan, akan melakukan penyerahan diri pada Sang Dewi terlebih dahulu. Dan,setelah melakukan Penyerahan diri, wanita harus mendapatkan Mahkota Dewi sendirian tanpa bantuan orang lain dan Pria yang akan menjadi tunangan harus menunggu sampai wanita itu mendapat restu dan keluar dengan selamat.Jika wanita gagal maka pria yang menjadi tunangan wanita itu tidak akan pernah bisa mempunyai anak." jelas Ian.


"Anda benar, kepercayaan pada Sang Dewi lah yang menentukan restu itu akan diberikan atau tidak." ucap Duke.


"Lily,apa kau percaya?" tanya Ian.


"Hum??Tentu saja." jawab Lily agak ragu karna tidak paham.


"Baiklah.Lily,bersiaplah untuk malam ini, kamu harus segera mendapat restu itu." ucap Duke.


"Baik ayah." jawab Lily.


"Kalian bisa beristirahat dikamar masing masing.Lily,antar Ian ke kamarnya dan jangan lupa nanti malam." ujar Duke.


"Iya ayah.Ayo Ian,akan saya antar ke kamar anda."


"Kau tidak perlu bicara formal padaku." ucap Ian.


"Mana mungkin.Anda kan Tuan Muda keluarga Darvin." ujar Lily.


"Pakailah bahasa informal,itu akan lebih nyaman bagiku." ucap Ian.


"Baiklah."


'Jadi dia tidak nyaman saat aku menggunakan bahasa formal?Aneh.' pikir Lily.


Lily pun mengantar Ian ke kamarnya yang letaknya hanya disebelah kamar Lily.


"Ini kamarmu.Istirahat lah,aku akan membangun kan mu nanti malam." ucap Lily dari pintu.Ian masuk ke kamar itu lalu duduk dipinggir kasur.


"Lily,kemarilah." ucapnya.


"Hum??" Lily yang bingung hanya menuruti perkataan Ian.


"Ada apa?" tanya Lily.


Ian menarik tangan Lily sampai terjatuh diatas badannya dan Ian memeluknya.


"T-tunggu Ian apa yang kau lakukan!?" tanya Lily gagap dengan muka yang sudah memerah karna malu.


"Biarkan aku istirahat bersamamu." ucapnya dengan nada pelan.Sepertinya Ian sangat kelelahan.


"T-tapi bukan begini!" ucap Lily sambil memberontak ingin melepaskan pelukannya.Tidak ada respon,ternyata Ian sudah tertidur.


"Dasar.."


'Dia seperti bayi saat tertidur' pikir Lily sambil menyentuh wajah Ian.


'Apa yang ku pikirkan lagi dasar bodoh!!'


/Skip malam.


Duke, Duchess,Lucas dan Lily berkumpul diruang bawah tanah.Duke mengambil sebuah pisau kecil lalu memberikannya kepada Lily.


"Lily,goreslah telapak tangan mu dan biarkan darah mu mengalir.Jangan kamu usap sedikitpun,itulah tanda kamu sudah mulai menyerahkan diri pada Sang Dewi." ucap Duke.


"Baik ayah." jawab Lily.


Lily yang sudah terbiasa terluka di kehidupan


sebelumnya karna ibu tirinya, menganggap hal ini biasa saja.Langsung saja ia gores telapak tangannya dengan pisau itu,darah yang mengalir pun deras,tapi tidak ia hiraukan.


Lucas yang melihat Lily menggores tangannya sedalam itu merasa aneh.Tangan orang yang baru pertama kali menggoreng tangannya sendiri seharusnya gemetar,tapi tidak dengan Lily.


Ayah pun membuka pintu besi yang terlihat sangat usang tapi kokoh yang merupakan pintu menuju Mahkota Dewi itu berada,betapa gelap dan sunyinya ruangan itu.


"Masuklah,dan lakukan dengan hati-hati." ucap Duke khawatir.


"Tenang saja ayah,aku akan baik baik saja."jawab Lily.


"Lily,hati-hati." ucap Ian singkat.


"Kau pikir aku ini siapa tuan muda." ucap Lily dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


"Aku percaya padamu." jawabnya dengan senyum tipis.


Lily pun masuk ke ruangan itu menggunakan sebuah obor yang Duke berikan tadi.Hanya suara angin kecil yang bisa ia dengar.


"Jika saja dunia ini ada senter pasti lebih muda melihat jalan." gumam Lily.


Seketika ruangan dipenuhi dengan cahaya berwarna hijau berpadu biru di setiap dindingnya.Cahaya itu menuntut Lily kearah mahkota itu berada.


"Benar-benar sihir.." gumam Lily begitu terpungkau.


Sambil mengikuti arah cahaya itu,Lily melihat di dinding-dinding ruangan ada beberapa gambar kuno yang menunjukan leluhur-leluhur terdahulu.


"Bukankah tidak ada waktu untuk mereka hanya untuk menggambar hal seperti ini??Membuang waktu saja,aku harus cepat."


Sampailah Lily diujung ruangan.Terdapat sebuah pintu besi yang terlihat sangat kokoh dan kuat,seolah tidak bisa digerakan sama sekali.


"Tidak mungkin bagiku membuka ini sendirian.Apakah disini ada petunjuk yang bisa membantu?"


Lily melihat sebuah lubang yang dangkal di pintu itu yang tidak sampai menembus ruangan dibalik pintu.Ada beberapa pola yang berada di pintu itu.


"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan!Bagaimana ini,tidak ada satupun petunjuk yang aku tau." gumamnya kesal.


Sangat lama untuknya berpikir tentang pintu ini,dan ia teringat sebuah permata dibuat kalung yang selalu dibawa Lily dari mendiang kakeknya.Lily pun mengambil permata dari kalung yang selalu Lily pakai.


"Permata ini..Kenapa aku baru sadar kalau 'Lily' menggunakan kalung?" gumamnya heran sambil mencocokkannya dengan lubang di pintu itu.


"Sama persis.Tapi pola-pola di pintu..Oh ya!darah ini."


Lily memasukan permata itu di lubang dan meneteskan darahnya pada permata itu. Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka dan terlihat sebuah mahkota berwarna biru di podium yang diterangi dengan cahaya di atasnya membuat mahkota itu terlihat sangat berharga.


"Indahnya." Lily menyentuh mahkota itu dengan pelan.Tiba-tiba keluar cahaya yang sangat terang dari mahkota itu.Terlihat sosok cahaya putih menyerupai wanita cantik berambut panjang muncul dari cahaya itu.


"Setelah 100 tahun lamanya akhirnya aku bisa keluar." ucap sosok wanita itu.


"Maaf,anda siapa?" tanya Lily pada wanita itu.


"Ya ampun,ada gadis cantik disini.Kau pasti Lily,aku sudah tau mengenai mu.Kau tidak tahu siapa aku?" tanya wanita itu.


"Tidak." jawab Lily.


"Aku adalah pemilik mahkota itu.Aku adalah Dewi Lisera,penjaga mahkota itu sekaligus pelindung keluarga Everon." ucap wanita yang mengaku Dewi Lisera,pelindung keluarga Everon.


"Jadi apakah kau kesini untuk mendapat restu dariku?" lanjut nya bertanya.


"Iya Dewi."jawab Lily.


"Siapa pria yang akan menjadi pasanganmu?" lanjutnya.


"Putra pertama sekaligus ahli waris dari Grand Duke Darvin, Levian de Darvin".


"Bagus juga.Akan ku lihat berapa jauh kalian akan bertahan.Akan ku beritahu,jika abu abu maka kalian tidak akan bisa hidup bersama lebih dari 5 tahun.Kuning berarti kalian hanya didasari kontrak demi penerus,tidak akan ada yang tau apa yang akan berubah nanti,dan jika berwarna ungu maka kalian akan bahagia sampai akhir hayat kalian,apa kau siap?" jelas nya.


"Iya saya siap." jawab Lily tegas.


"Anak yang pintar, tutuplah matamu." ucapnya.


Lily menutup matanya,dan Sang Dewi membaca sebuah kalimat asing,.Tak lama kemudian Dewi itu menyuruh Lily membuka mata kembali.


"Aneh sekali."


"Ada apa?Apakah ada yang salah?" tanya Lily.


"Warna masa depanmu adalah putih." ucapnya.


"Putih??Apa maksudnya itu?" tanyaku lagi.


"Aku pun tidak begitu tau.Sebelumnya tidak ada yang mendapat warna putih." jelasnya.


"Jadi apa yang harus saya lakukan?"


"Aku akan menanyakan itu pada Lucitus nanti." jawabnya.


"Lucitus??" tanya Lily.


"Dia Dewa pelindung Kekaisaran.Untuk sementara aku akan memberikan sebuah jimat untukmu." ucapnya sambil memberikan Lily sebuah kalung jam.


"Ini kan jam yang waktu itu di toko antik." ucap Lily.


"Aku memberikan beberapa sihir di jam itu.Jagalah baik baik,dan juga aku sudah merestui mu." ujarnya.Ia memberikan sebuah mahkota permata putih yang sangat indah sebagai bukti bahwa ia telah merestui hubungan.


"Baik Dewi,terima kasih banyak." ujar Lily senang.


"Aku akan mengembalikan mu ke tempat ayah mu dan yang lain berada.Sampai bertemu lagi." ucapnya lalu pergi dan Lily kembali ketempat awal.


"Lily!apa kamu baik baik saja!?" tanya Duke khawatir.


"Saya baik-baik saja dan,mahkota itu sudah merestui." jawab Lily sambil menunjukan sebuah mahkota yang diberikan Dewi Lisera padanya.


"Mahkota itu cocok untukmu Lily." ucap Ian memuji.


"Benarkah? Terimakasih." balas Lily.


"Apa warna masa depan kalian?" tanya Ibu.


"Emm,ituu..Putih" jawab Lily ragu.


"Apa maksud-"


"Tuan Duke!Paduka Kaisar datang ingin menemui anda!"


Seorang pelayan tergesa-gesa memberitahu Duke tentang kedatangan Kaisar.Bukannya kaget tapi Duke tetap santai sambil tersenyum.


"Baiklah,aku akan segera kesana." ucapnya laku berjalan pelan naik ke atas untuk menyambut Kaisar.


'Kenapa sekarang paduka kaisar yang kesini?!Dan juga ayah bisa sesantai itu?!' pikir Lily heran.


"Kita juga harus menyambut beliau.Ayo kita pergi." ucap Duchess.


"Baik."


Bersambung...