
Aku adalah Putra Pewaris ke-24 dari Keluarga Grand Duke Darvin,Levian de Darvin, dari kekaisaran Raveldra.Kekaisaran ini sudah ada sejak 480 tahun yang lalu, bangsawan tertua di kekaisaran ini adalah Grand Duke Darvin,Duke Everon, Duke Ricardo dan Marquess Minela.
Sebagai Pewaris,aku sudah diajarkan etika sejak umur 4 tahun,mulai dari sejarah,politik , dan lain lain yang bersangkutan dengan kekaisaran. Aku tidak memiliki teman, kecuali pangeran Arhen.
14 tahun berlalu,usiaku menginjak 18 tahun,usia dewasa untuk seorang Pria di kekaisaran dan sangat dianjurkan untuk mencari pasangan. Tapi aku tidak tertarik dengan hal seperti itu,sampai suatu hari saat ada keperluan ke Ibu kota aku bertemu dengan Anna. Anna adalah Putri dari Marquess Minela,dia lebih muda 3 tahun dariku. Rambut panjang berwarna hitam dan Mata berwarna merah gelap tapi bercahaya itu membuatku terpesona. Kami tidak sengaja bertemu di depan sebuah toko permata saat dia hampir terjatuh.
Flashback
"Lady,apakah anda baik baik saja?" tanyaku pada gadis yang hampir terjatuh didepan toko sambil membantu dia berdiri,
"Saya baik baik saja,terimakasih Tuan" jawabnya dengan senyum tulus,hal itulah yang membuatku terpesona dengan dirinya,
"Nona Anna!apakah anda baik baik saja?!" teriak seorang wanita paruh baya yang turun dari sebuah kereta kuda,
"Aku baik baik saja Bibi,Tuan ini membantu saya" ucap gadis yang bernama Anna kepada Wanita itu,
"Terimakasih banyak tuan" ucap wanita itu padaku,
"Tidak perlu berterima kasih" jawabku,
"Perkenalkan,nama saya Anna Vi Minela,Putri Kedua dari Marquess Minela" ujar Anna,
"Saya Levian de Darvin,Putra Pertama Grand Duke Darvin" ucapku santai
"Ya dewa!saya sedang berhadapan dengan Tuan muda,apakah anda mau mampir ke kafe bersama saya?suatu kehormatan jika anda berkenan" ajak Anna,
"Saya ada urusan,kita bisa minum teh lain kali" ucapku menolak ajakannya,
"Maafkan saya sudah membuang waktu anda yang berharga" ucapnya sambil membungkuk
"Angkatlah badanmu,tidak perlu minta maaf,kalau begitu saya pergi dulu tuan putri" ucapku lalu mencium punggung tangannya,dan pergi.
Setelah hari itu,aku terus memikirkan senyumnya gadis itu yang tidak bisa hilang dari ingatanku. Pangeran Arhen tau kalau aku sedang jatuh cinta,aku memang tidak paham soal kisah percintaan seperti ini.
Beberapa hari kemudian,aku mampir ke kafe hanya untuk sekedar minum kopi,lalu bertemu lagi dengan Anna,kami pun duduk satu meja dan berbincang banyak hal,dia gadis yang asik dan sulit ditebak apa isi pikirannya.
"Anna,apakah kau ada waktu besok?aku ingin mengajak mu ketempat yang indah" ajak ku pada Anna,
"Tentu saja!saya akan menunggu ada di air mancur saat tengah hari" jawabnya senang
"Baiklah,tunggu aku besok,pakailah gaun yang indah" ujarku.
Setelah beberapa lama kami berbincang,aku pamit pulang padanya dan berterima kasih telah menerima tawaranku.
Besoknya saat tengah hari,aku segera menemui Anna di air mancur seperti janji kemarin,tapi apa yang kulihat tidak seperti pemikirianku..
"Anna?.." gumamku,gadis itu menengok lalu tersenyum,
"Tuan Muda!anda sudah datang" ucapnya sambil menggandeng seorang pria yang tak lain adalah Pangeran Arhen,
"Kenapa kau bersama Pangeran Arhen?.." tanyaku pelan,
"Sebenarnya aku sudah menyukai pangeran sejak lama,dan kemarin setelah kita bertemu,pangeran ingin aku jadi tunanganya,jadi aku menerima tawarannya,pertunangan kami akan dilaksanakan 2 bulan lagi" ucapnya dengan senyum lebar,dia terlihat bahagia,sedangkan Pangeran Arhen,yang sudah kuanggap seperti kakak ku sendiri tersenyum licik seolah mengatakan bahwa dia berhasil melakukan rencana nya
"Selamat ya untuk kalian berdua.." ujarku dengan senyum terpaksa,
"Jadi apakah kita bisa pergi ke-" "Aku mau pulang." ucapku memotong perkataan Anna lalu pergi.
Setelah sampai di kediaman,ku lempar tubuhku ke kasur,dadaku sesak,ini benar benar menyakitkan,seorang sahabat yang sudah kuanggap kakak ku sendiri malah mengkhianati ku. Karna lelah,aku meminta pelayan menyiapkan mandi,dan aku segera membersihkan tubuhku.Setelah selesai aku melanjutkan pekerjaan ku yang menumpuk beberapa hari ini.
Sekitar 2 Minggu setelah kejadian itu,aku mendapat kabar bahwa Anna ditemukan tewas dengan sangat mengenaskan di sebuah lumbung gandum yang tidak terpakai. Wajahnya penuh luka lebam,pedang yang menusuk bagian jantungnya,dan dikakinya mengalir sebuah darah. Dari hasil pengamatan para dokter ahli,Anna dibunuh oleh seseorang karna hamil diluar nikah.Karna shock berat,aku tidak keluar dari kediaman sekitar 4 bulan lamanya,dan tidak ada kabar pasti dari Pangeran Arhen.
Hingga,suatu hari Putra Mahkota Felix datang menemui ku.Dia ingin mengatakan sesuatu tentang fakta kematian Anna yang hanya dia yang tau.
"Ada hal yang harus aku katakan denganmu",ucap Putra Mahkota,
"Silahkan" jawab ku datar,
"Ini tentang kematian Anna" ucapnya,sontak hal itu membuatku gemetar dan keringan dingin mulai muncul di wajahku
"Anna?!apakah anda tau soal sesuatu!?siapa yang membunuhnya?!" tanyaku tergesa-gesa padanya,
"Tenang lah,sebelum hal itu aku ingin bertanya,apakah kau akan membunuh orang telah merencanakan pembunuhan itu?" tanyanya dengan serius tapi tenang,
"Tentu saja!akan saya bantai mereka semua!" ucapku marah,
"Pangeran kedua,Arhen" ucapnya,
"A-apa maksud anda?.." tanyaku memastikan,
"Arhen lah yang membunuh Anna, bukan dengan tangannya sendiri,dia membayar seorang pembunuh bayaran" ucapnya,
"Tidak mungkin!dia adalah calon tunangan Anna,untuk apa dia membunuhnya?!" tanyaku sambil marah,
"1 Minggu sebelum kematian Anna,Arhen keluar untuk bertemu seseorang,karna dari wajahnya yang kurang meyakinkan,aku meminta seorang kesatria untuk mengikuti nya secara diam diam,kesatria itu berkata kalau Arhen pergi ke sebuah penginapan bersama seorang wanita berambut hitam panjang menggunakan gaun wanita bangsawan." jelasnya
"Wanita berambut hitam di kekaisaran banyak yang mulia,apa kah anda mencoba menjatuhkan Pangeran Arhen?" tanyaku,
"Memang banyak,tapi menurut kesaksian kesatria itu,wanita itu keluar dari kereta kuda berwarna putih, berlambang bunga Lily berwarna emas,bukankah sudah jelas kalau itu kereta kuda milik keluarga Marquess Minela?" jelasnya,hal itu membuatku sangat terkejut,selama ini orang yang sudah kuanggap kakak ku sendiri adalah pengkhianat,
"Aku tidak menyebarkan hal itu lebih jauh,hanya kau dan Yang mulia ratu yang tau"lanjutnya,
"Bukankah seharusnya anda melakukan tindakan atas kelakuan Pangeran kedua?" tanyaku dingin
"Aku tidak bisa melakukan hal itu,wewenang politik dan hukum tetap berada di tangan Kaisar,dan aku sedang mengumpulkan bukti bukti yang kuat" jawabnya,
"Saya akan membunuh mereka.." ujarku dingin
"Lakukanlah apa yang kau mau,asal jangan kelewat batas" ujarnya
"baiklah,aku harus segera kembali,jangan lupa untuk tetap tutup mulut mengenai hal ini" ujar nya lalu pergi,
2 tahun berlalu,aku terus melampiaskan amarah kematian Anna dengan membunuh para pembunuh bayaran di Ibu kota sampai daerah lain,aku tidak mengenal kata ampunan..karna itulah aku pun dijuluki 'Iblis kekaisaran'.Tak lama setelah itu Ayah memintaku untuk bertunangan dengan Bintang Pergaulan Kelas Atas yang sekarang,Iris Vartita,Putri keluarga Marquess Vartita,aku menolak mentah mentah hal itu,tapi rumor sudah tersebar kemana mana.
Aku membenci Iris,dialah yang membuat adikku Yusto dan Yesra mengalami kelumpuhan di usia 13 tahun.Itu kejadian 4 tahun yang lalu,Iris mendorong mereka berdua dari sebuah tangga saat berada di kediaman Marquess Vartita.Iris yang masih berusia 14 tahun itu berkata,kalau Yusto dan Yesra jatuh karna terpeleset di tangga,dan orang tua ku percaya saja dengan apa perkataannya.Tentu saja aku tidak percaya,karna aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri.
Karna perjodohan itu,aku pergi ke kediaman Duke Everon dan meminta Lily yang merupakan Bunga Utara sekaligus Bintang Pergaulan Kelas Atas yang dulu,untuk membantu ku menyingkirkan Iris dari posisinya,dan dia setuju dengan ku karna tujuannya sama denganku.
Tak lama kemudian,Iris tergeser dari posisinya dan tergantikan oleh Lily.Ayah berkata kalau ini merupakan hal bagus,karna ayah merasakan sihir yang kuat dari gadis itu.Maka dari itu,ayah memintaku untuk melamarnya dan aku setuju. Saat acara dimana Lily mendapatkan gelarnya kembali,aku segera menemui nya dan melamarnya.
"Maukah lady menikah dengan saya?" tanyaku sambil membungkuk dihadapannya dan mencium tangannya. Awalnya dia menolak,tapi akhirnya dia setuju,dia memang wanita yang penurut.
Saat perjalanan pulang,Lily terlihat murung seperti merindukan sesuatu yang hilang,dia terlihat hampir menangis,aku tidak tahan melihat dia seperti itu dan tanpa sadar aku memeluknya.
"Maafkan aku,badanku bergerak sendiri" ucapku saat melepas pelukan dengan muka sedikit memerah
"T-tidak apa apa!" ucap gadis itu gagap dengan muka seperti udang rebus.
Beberapa hari berlalu rumor itu tersebar dengan sangat cepat sampai ke pelosok negeri,aku pun harus mempersiapkan pertunangan dengan Lily.Semua sudah ku persiapkan secara matang.1 Minggu sebelum bertunangan,aku mengajak Lily untuk memesan gaun,disana kami bertemu dengan Putra Mahkota yang sedang membantu Lily berdiri karna jatuh,entah kenapa saat melihat mereka berdua seperti itu,aku merasa kesal,tapi aku tidak bisa marah.Aku mengajak Lily kembali ke kediaman karna hari mulai petang.
1 Hari sebelum Pertunangan,aku pergi ke kediaman Duke Everon untuk melihat hasil gaun yang sudah dipesan,aku meminta pelayan menyampaikan pada Lily kalau aku ingin bertemu dengannya.
"Silahkan masuk tuan,nona sudah mengizinkan" ucap pelayan itu,aku pun langsung masuk,dan melihat Lily dengan gaun yang sangat indah berwarna putih dengan permata seperti warna matanya,sangat cocok dengannya,
"Apakah saya terlihat aneh?" tanyanya,tapi tidak ku jawab,aku langsung mendekati nya,
"Semua keluar,biarkan kami berdua disini" mintaku pada para pelayan disana, tinggallah kami berdua dikamar itu,
"Apaa yang anda lakukan?" tanyanya,aku melingkarkan tangan ke pinggangnya yang ramping dan mencium keningnya,
"kau mengira aku akan mencium bibir mu?" tanyaku mengejek,
"S-s-saya tidak berpikir seperti itu!!" jawabnya dengan muka yang sudah memerah,
Besoknya saat Hari pertunangan sekaligus pesta perayaan kedewasaan Lily dan Pesta tahunan Istana,seluruh orang yang ada di Istana mengucapkan selamat pada kami berdua,terlebih lagi Lily yang sudah lama tidak ada kabar, tiba tiba muncul sebagai tunangan Tuan Muda. Banyak sekali wawancara yang harus kami jawab,walau semua itu bohong,kami melakukannya dengan baik.
Lily pergi ke balkon untuk mencari udara segar,tentu saja ini berat untuknya karna lama tidak bersosialisasi dengan para bangsawan.Aku berbincang dengan pemuda pemuda bangsawan lain yang sudah bertunangan dan bahkan menikah,aku tidak terlalu menanggapi hal itu, sampai salah satu dari mereka membahas soal Anna.
"Saya jadi teringat kejadian 2 tahun lalu,Putri keluarga Marquess Minela yang merupakan calon tunangan Pangeran Arhen,dia meninggal dengan sangat mengenaskan" ucap salah satu dari mereka,
Sontak kepalaku terasa pusing, dunia seakan bergerak tak terkendali.
"Ah,maksudmu Lady Anna?benar,kasian sekali ya,siapa yang tega membunuhnya seperti itu" ucap yang lain,
Aku pun pergi meninggalkan mereka dan duduk disalah satu meja.Aku meminum kopi untuk meredakan rasa pusing,lalu Lily datang.
Tiba tiba seorang Pria yang sangat kukenali datang dan mengajak Lily berdansa.
"Lady,apakah anda mau berdansa dengan saya?"ucap pemuda yang bisa dipanggil Pangeran Kedua,Aku pun langsung menarik pinggang Lily membuatnya menempel padaku
"Maaf yang mulia pangeran,dia adalah tunangan saya,anda tidak bisa berdansa dengan nya" ucap ku dingin,
"Yang mulia?apa maksudmu Ian?" tanya Lily,mungkin dia tidak tau soal pangeran ke dua.
"Dia adalah anak dari permaisuri pertama,yaitu permaisuri Renata, sekaligus adik Putra Mahkota Felix.Pangeran ke dua, Arhen de Raveldra" jelasku
"Yo!" ucap Pangeran,
"Maafkan hamba tidak mengenali anda yang mulia" ucap Lily ragu,
"Tidak apa apa lady,aku memang jarang memperkenalkan diri ke dunia luar" jawab Pangeran itu
"Jadi dia tunanganmu, Levi?" tanya Pangeran ke padaku
"Iya yang mulia,dan sepertinya anda masih mengingat nama panggilan itu" jawabku dengan dingin tanpa emosi
"Tentu saja aku ingat, bukankah itu nama panggilanmu waktu kecil"ujar pangeran,
"Dan kita sering berbagi dulu,bagaimana kalau sekarang kita Berbagi lagi?" lanjut Pangeran
"Maaf yang mulia,kita bukan anak kecil yang membagi sebuah mainan untuk bersama" jawab ku
"Kalau begitu bagaimana kalau bergantian?" ucap pangeran memaksa,
"Maaf yang mulia,dia adalah tunangan saya,dia adalah milik saya" jawab ku membantah
"Kalian hanya bertunangan,tidak menikah" ucap Pangeran makin menjadi jadi seolah memancing amarah ku keluar
"Tolong sudahi pembahasan ini yang mulia pangeran" ujar Lily yang mencoba melerai pertarungan singkat kami
"Saya adalah tunangan Tuan muda Levian,anda tidak bisa mengambil saya secara sepihak seperti tadi yang mulia" lanjut Lily terkesan dingin,
"Baiklah baiklah,aku paham" jawabnya,
"Tapi,kita lihat saja nanti Lady" lanjutnya lalu pergi',
"Dasar Rubah.." gumamku
"Sudahlah Ian,lebih baik kau istirahat" ujar Lily mencoba menenangkanku
"Baiklah.." jawabku,lalu kamu meminta Izin pada Baginda kaisar agar pulang terlebih dahulu untuk beristirahat,lalu Baginda mengizinkan,dan kami pulang.
Di kereta kuda,aku terus kepikiran soal Anna dan Pangeran kedua,hal itu benar benar menyakitkan.Lily yang menyadari kalau aku terlihat lesu,pindah ke seblah ku dan menyenderkan kepalaku ke bahunya,karna dia tidak terlalu pendek,kepalaku terasa nyaman dan tanpa sadar aku tertidur di bahunya. Tangannya yang lembut mengelus rambut ku sangat nyaman,hingga tidak ingin bagiku bangun dari tidur ini.
Ini episode special masa lalu Tuan Muda Levian U_U✨✏️ jadi apa lagi nih yang bakal dijadiin episode special?:3 request please,author butuh inspirasi 😾✨📝sekian terima gaji 🗿👋🏻✨