Vita Nova

Vita Nova
Episode 76 "Ingatan Masa Lalu"



Flashback


"Saya akan berusaha yang terbaik.Saya permisi."


Senyuman tipis terukir diwajahnya.Entah kenapa dia merasa tenang dan lega,tapi juga sedikit merasa sedih.


Di lorong istana utama,Lucas tidak sengaja berpapasan dengan Putra Mahkota.Wajahnya tampak tidak baik.


"Yang Mulia,apakah ada masalah?" tanya Lucas.


"Surat sihir dari Grand Duke Darvin baru saja tiba..keadaan Nona Yesra sangat tidak stabil! Marchioness dan Saint Zergan harus bertindak dan pergi kesana sekarang juga!"


"?!.."


.


.


Episode 76


"Mungkin surat itu sudah tiba pada mereka juga,tapi setidaknya kita harus kesana juga untuk memastikannya dan melaporkannya pada Baginda Kaisar",ucap Putra Mahkota.


"Tentu saja Yang Mulia,kalau begitu kita harus berangkat sekarang",ujar Lucas.


"Baiklah,ayo pergi."


"Putra Mahkota!",suara memanggil Putra Mahkota terdengar.Yang Mulia Ratu berlari menghampiri Putra Mahkota sambil membawa sebuah kotak kecil ditangannya.


"Ibu, kenapa anda berlari seperti itu?anda bisa terjatuh." tanya Putra Mahkota heran.


"Ini,bawalah kotak ini.Didalamnya berisi botol halusinasi yang diberikan elf pada ibu beberapa bulan lalu.Ada 4 botol didalamnya.Gunakan 1 saja pada Yesra,dan laporkan seluruhnya pada ibu dan ayahmu nanti." ujar Yang Mulia Ratu menyodorkan kotak kecil itu.


"Ah.. Terimakasih ibu,saya akan segera menangani ini.",ucap Putra Mahkota.


"Berhati-hatilah,ibu takut terjadi sesuatu yang lebih buruk pada gadis itu..",


"Saya mengerti.Kami pergi dulu ibu."


"Permisi Yang Mulia Ratu."


"Hati-hati di perjalanan.."


Lucas dan Putra Mahkota segera pergi ke wilayah Darvin begitu mendapat perintah.


/Di wilayah Darvin.


"Yesra!Sadarlah!",


"TIDAKKK!!AKHHHH!!!",


"Nona!!Sadarlah nona!!",


BRAK!!


Yusto datang bersama Lily dan Zergan yang langsung tiba begitu mendapat surat dari Ian.Saat ini Yesra mengerang sangat keras dan terus-terusan memukul kepalanya sendiri.Ian dan beberapa pelayan sudah mencoba melawan tapi Yesra terus memberontak.


"Yesra!Tenanglah!",Ian segera berusaha menggengam kedua pergelangan tangan Yesra kebelakang.Luka goresan karna jari Yesra sendiri tampak sangat jelas di lengannya.


"Kenapa hal ini bisa tiba-tiba terjadi?!.." tanya Zergan pada Yusto.


"Sebenarnya tadi saya sedang membawa makanan untuk Yesra,tapi dia tidak menanggapi nya.Lalu saya keluar sebentar,saat kembali Yesra sudah mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri.." jawab Yusto.


"Tidak..Tidak!!.. Keluarlah dari kepalaku!!arghh!!!",teriak Yesra terus menerus memutar kepalanya.


"Yesra,tenanglah!Aku disini!",Lily memegang kepala Yesra dengan kedua tangannya dan mengucapkan sebuah mantra.Perlahan Yesra mulai tenang dan berhenti berteriak.Yesra pun tertidur lelap di dada Ian dengan kondisinya yang sangat berantakan.


"Maaf..ibu..maafkan aku..",Yesra bergumam pelan dalam tidurnya.Air mata hampir menetes dari matanya,Ian mengusap air mata itu pelan dan merapikan rambut Yesra.


"Sepertinya ini efek samping dari traumanya,sangat parah sampai bisa dibilang terlalu parah." ucap Zergan.


"Bagaimana cara kita menyembuhkan Yesra?..tidak mungkin dia akan terus seperti ini..", ucap Lily khawatir.


"Lily,kita perlu bicara dua mata.",ujar Zergan keluar dari ruangan Yesra.


"Eh?ah,baiklah.",Lily mengikuti Zergan dari belakang.Mereka bicara di lorong yang agak jauh dari kamar Yesra.


"Ada apa?" tanya Lily.


"Cika,kau ingat sihir api ungu beberapa bulan lalu kan?",


"Eh?Iya tentu saja.Sihir api yang bisa keluar karna hasrat membunuh yang tinggi.. kenapa kau bertanya hal mengerikan seperti itu?.",Zergan menengok ke kanan dan kekiri memastikan tidak ada seorang pun yang lewat.


"Sebenarnya..sihir itu menyerang masa lalu kelam targetnya.Jadi..bisa dikatakan sihir itu membunuh target dengan menggali ingatan yang tidak ingin dilihat targetnya." jelas Zergan sedikit berbisik.


"He?!Jadi maksudmu kita bisa melihat ingatan kelam target kita dengan sihir itu dan membunuhnya?." tanya Lily memastikan.


"Benar.Cika,kita harus melihat apa yang terjadi 5 bulan lalu saat kematian Grand Duchess yang diceritakan Ian.Dengan begitu setidaknya kita bisa mencari cara untuk mengatasi trauma Nona Yesra." jawab Zergan sedikit ragu.


"Yesra bisa mati!Apa kau-"


"Maka dari itu kita akan melakukannya bersama.Sihir putih yang ada dalam diriku bisa melihat isi pikiran seseorang melalui kontak fisik.Jika aku mengambil kelebihan dari sihir api milikmu itu,maka aku bisa melihat apa yang terjadi waktu itu tanpa membahayakan Nona Yesra."


Lily terdiam.Dia tidak yakin apakah hasrat membunuh itu bisa muncul secara tiba-tiba.Tapi dia harus melakukan itu demi Yesra.


"Aku tidak tau apakah hasrat membunuh bisa muncul tiba-tiba..apa yang harus ku lakukan?",tanya Lily cemas.


"Emm,mengingat kejadian yang membuatmu ingin membunuh orang itu." jawab Zergan.


Lily kembali mengingat perkara yang sekiranya membuat hasrat membunuhnya muncul.Lalu ia mendapatkannya.


"Aku sudah dapat." ucap Lily.


'Auranya langsung berubah drastis..' batin Zergan sedikit merinding.


Zergan dan Lily masuk kembali ke dalam kamar.Yesra sudah terbaring di kasur. Di sampingnya ada Ian dan Yusto yang menunggu mereka berdua.


"Kami akan melakukan pengecekan pada Nona Yesra,apa kalian mengizinkan?" tanya Zergan pada Ian dan Yusto.


"Lakukanlah.Apapun..asalkan Yesra sembuh,aku akan mengizinkan." jawab Ian.


"Baiklah.Terimakasih."


Zergan duduk di samping Yesra,tangannya menyentuh lembut tangan Tangan Yesra dan mengecup punggung tangannya.


'Orang itu..!Dia mau mati! Berani-beraninya mengecup punggung tangan Yesra!' batin Yusto kesal dalam hati.


Lily memegang pundak Zergan.Ia fokus memikirkan hasrat membunuhnya dan mengalirkan sihir api ungu ke tubuh Zergan.Rasa sakit Zergan rasakan karna tabrakan kedua sihir yang sangat bertentangan.


"lanjutkan..", ucap Zergan pelan.


Sihir putih milik Zergan tampak menerangi tangannya yang menggenggam tangan Yesra.Lama kelamaan sihir putih itu mulai berwarna ungu cerah.


'Hasrat membunuh..fokuskan pada hal itu Lily..' pikir Lily fokus.


Ingatan masa lalu tentang ibu tirinya yang kejam dan tega membunuhnya lewat.Mau tidak mau Lily harus memiliki ***** membunuh ibu tirinya itu.


Zergan menutup matanya.Ia dapat melihat masa lalu kelam milik Yesra,dan tepat nya itu adalah saat dimana Grand Duchess dibunuh.


"Tuan, Putra Mahkota dan Grand Duke Everon sudah tiba." ucap Kepala pelayan yang masuk ke ruangan.


"Aku akan kesana.Yusto,jaga Yesra disini dan jangan kemana-mana", ucap Ian.


"Baiklah kak." balas Yusto lalu Ian pergi.


Zergan makin melihat dengan jelas kejadian yang menimpa Yesra saat Grand Duchess mati.Ia ikut merinding dan ketakutan melihat kejadian itu.


'Pantas saja Yesra mengalami trauma separah ini..ini sudah cukup.' Zergan hendak melepas sihirnya,tapi ingatan yang muncul di kepala Lily ikut dia lihat secara tidak sengaja.


'Lho?..ini kan..!'


Siksaan,hinaan,dan kekerasan yang sangat brutal dia saksikan dari ingatan Lily yang ikut terbawa bersama dengan sihir api ungu itu.


"Cika!Sadarlah!!"


Zergan segera membuka matanya dan berdiri, mencengkeram kedua lengan Lily mencoba menyadarkannya.Sontak Lily langsung membelalakkan kedua matanya.Keringat dingin muncul di wajahnya cukup banyak.Air mata sudah turun dari kelopak matanya.


"Lily,ada apa?.." tanya Yusto cemas.


"Eh?..Yusto?..apa yang terjadi..?" gumam Lily kebingungan.


"Sekarang sudah tidak apa-apa..tidak ada yang menyakitimu..",Zergan memeluk Lily erat.Dia tahu persis bagaimana Lily menjalani kehidupannya dulu bersama ibu tirinya.Hatinya ikut sesak melihat ingatan itu lagi.


"Aku..",suara Lily terdengar serak.Air mata mulai berjatuhan dari matanya.


"Tidak apa-apa..wanita itu sudah tidak ada Cika..", ucap Zergan mencoba menenangkan Lily.


"Zergan..maaf..",Lily menangis terisak-isak di pelukan Zergan.Dia menangis cukup lama.


"Saint..apa yang terjadi pada Lily?..dia baik-baik saja?.." tanya Yusto benar-benar tampak sangat khawatir.


"Tidak apa-apa,dia melihat kejadian itu 'lagi'..biarkan dia menangis seperti ini..",jawab Zergan dengan raut wajah yang sulit diartikan.


'Lagi?Apa maksudnya..?',batin Yusto sedikit curiga.


Tak lama kemudian Ian dan Putra Mahkota serta Lucas tiba di kamar Yesra.Ian yang melihat Zergan memeluk Lily yang menangis sedikit kaget dan kesal.


"Lily?!Saint,apa yang terjadi!?" tanya Lucas cemas.


"Dia melihat sesuatu yang menakutkan..seharusnya aku tidak memaksanya tadi..Biarkan dia istirahat,dia pasti sangat lelah sekarang." jawab Zergan.Ia melirik Ian dan mengisyaratkan untuk mengantar Lily ke kamar lain.Ian pun mengangguk dan mengantar Lily untuk beristirahat di kamarnya.


"Bagaimana kondisi Yesra?Apakah dia akan bertahan sekarang?",tanya Putra Mahkota.


"Aku sudah melihat kejadian kematian Grand Duchess.Benar-benar sangat mengerikan..aku paham kenapa Nona Yesra mengalami trauma yang berlebihan seperti ini." ucap Zergan.


"Apakah.. benar-benar sangat mengerikan?" tanya Lucas.


"Iya,sangat.. mengerikan.." jawab Zergan.


"Apakah anda sudah menemukan cara untuk mengobatinya?" tanya Yusto.


Zergan mengangguk, "Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya,dan ini membutuhkan aura dari Elf." jawab Zergan.


"Ah,Yang Mulia Ratu memberikan kotak bersisi botol halusinasi yang katanya diberikan langsung oleh bangsa elf beberapa bulan lalu.Mungkinkah ini obat yang anda cari?" Lucas menyodorkan kotak yang tadi diberikan Yang Mulia Ratu pada Putra Mahkota.


"Sulit dipercaya,Ratu benar-benar hebat bisa mendapatkan botol halusinasi secara cuma-cuma dari bangsa elf yang pelit itu." ucap Zergan sambil tersenyum tipis.Ia menerima kotak itu dan melihat isinya.4 buah botol kecil berisi cairan berwarna biru muda yang berkilau.Tidak salah lagi itu adalah obatnya.


"Obat ini harus diberikan saat Nona Yesra sadar.Kita harus menunggu sampai dia bangun."ucap Zergan.


"Baiklah Tuan Saint."


/Di kamar Lily.


"Sudah lebih baik?Kau menangis cukup lama,apa yang terjadi?" tanya Ian sambil mengusap air mata yang tersisa di mata Lily.


"Aku mengingat kejadian buruk.. benar-benar menakutkan..tubuhku merinding mengingat kejadian itu.." jawab Lily.


"Apakah itu kejadian kematian Ibu ku?.." tanya Ian memastikan.Lily hanya diam.Ian tidak mau membuat Lily lebih memikirkannya.


"Istirahatlah yang cukup"


"Iya.."


Bersambung...