
Flashback
"Baiklah, keputusannya ada ditangan mu Lily,pilihlah baik baik.." ucap Yang Mulia Ratu memperingatkan ku,
"Baik, Yang Mulia Ratu" jawabku ragu,
"Kamu bisa kembali, terimakasih atas waktunya Lily" ucap Yang Mulia Ratu dengan senyum yang tulus,
"Suatu kehormatan bagi saya bisa mengisi waktu bersama Yang Mulia Ratu.Kalau begitu saya izin pamit" ucapku sambil membungkuk,dan Yang mulia ratu mengangguk,beliau meminta pelayan mengantarku sampai gerbang.Aku pulang bersama Rina dengan banyak pikiran yang menghantui kepalaku,
'Apa yang harus aku pilih?'
.
.
Episode 17
2 hari berlalu setelah Baginda Kaisar dan Yang Mulia Ratu memanggilku ke Istana.Aku benar benar pusing memikirkan permintaan mereka berdua,antara permintaan Baginda Raja,atau Yang Mulia Ratu yang tujuannya sangat bertolak belakang.
Selama 2 hari,aku meminta tolong Rina mencari info tentang seluruh gadis bangsawan yang seumuran dengan Putra mahkota. Banyak sekali dokumen yang menumpuk di meja ku,dan harus di cek satu persatu.
"Hadeh..lelahnya.." gumamku sambil mengecek dokumen dokumen tadi,
"Nona,saya izin pulang untuk beberapa hari kedepan,Ibu saya sedang sakit dan kakak sedang tidak ada dirumah" ucap Rina meminta Izin dengan ekspresi sangat khawatir,
"Baiklah,hati hati Anna,dan bawalah ini",aku mendekati Anna dan memberinya sekantong kecil koin emas bernilai 100 gold,
"T-tunggu nona!saya tidak bisa menerima ini!" ucap Rina menolak,
"Tidak apa apa,kau belum dapat gaji bukan?pakailah uang itu untuk pengobatan ibumu" ucapku,
"Terimakasih nona,saya harap nona selalu sehat" ucap Rina gembira dengan senyum lebar,
"Terimakasih kembali, pergilah Rina" ucapku,
"Baik!saya pergi dulu Nona!" ucap Rina lalu berlari keluar,
Mungkin aku tidak akan melihat rambut Biru tosca dan mata merah milik Rina untuk beberapa hari kedepan,aku akan merindukannya.
/Skip besok/
~Hari ketiga mengecek dokumen~
"Benar benar!kapan dokumen ini akan habis?!" teriakku emosi,
"Huh..lelahnya..aku ingin jalan jalan ke kota" gumamku sambil meletakan kepala di meja,
Lalu aku melihat jam pasir dan jam berbentuk kalung yang aku beli di toko antik beberapa bulan sebelumnya,
"Kenapa aku membeli ini ya?" gumamku,
Aku membalikan Jam pasir itu kearah kanan,lalu sebuah keajaiban terjadi,aku sedang berada di Kereta Kuda bersama Ayah dan Ibu,
"Eh?" gumamku,
"Hum?ada apa Lily?" tanya Ayah,
"Kita mau kemana?" tanyaku kebingungan,
"Hah?apa kamu lupa?kita akan pergi ke Baron Hovell,sebentar lagi kita sampai" jawab Ayah,
"loh?" gumamku,lalu melihat keluar yang sedang hujan,
Tak lama kemudian,kereta kuda yang kami tumpangi berguncang hebat,saat kusadari,ternyata kami jatuh ke jurang karna jalur curam yang kami lewati runtuh.Disaat yang sama pula,aku memutar jam pasir yang ada di tanganku kekiri..dan keajaiban pun terjadi lagi. Aku kembali ke hari dimana aku memutar jam pasir itu ke kanan. Itu artinya,saat jam ini diputar ke kanan,maka berada 1 hari setalah hari ini,sedangkan saat diputar ke kiri,maka berada 1 hari sebelum hari ini.
"Menarik,ini bisa membantuku" gumamku sambil menggenggam jam pasir itu erat erat,
Tak lama kemudian,seseorang mengetuk pintu kamarku,ternyata dia adalah ayah,
"Masuklah ayah" ucapku dari dalam kamar,
"Terimakasih Lily" jawab ayah sembari masuk,
"Ada apa?" tanyaku,
"Ayah dan Ibu ingin pergi ke Baron Hovell besok untuk mengambil pesanan Ibumu,apakah kau mau ikut?" tanya ayah,
'Tunggu dulu..bukankah besok adalah hari dimana Ayah,Ibu,dan Aku akan mengalami kecelakaan?!ini tidak bisa dibiarkan!' pikirku,
"Emm,ayah bagaimana kalau lain kali saja?bukankah akhir akhir ini sering turun hujan?akan berbahaya melewati jalan tebing ke arah wilayah Baron Hovell" jawabku,
"Benar juga ya,akan berbahaya jika seperti itu.Baiklah,kita akan pergi lain kali" ucap ayah,
"Baik ayah!"ucapku senang karna berhasil mencegah kematian kami bertiga,
Tapi..2 hari setelah itu,Ayah dan Ibu meninggal karna kecelakaan kapal.Diduga kecelakaan tersebut karna badai dan ombak besar yang sedang mengamuk.
Untuk kedua kalinya..aku kehilangan orang tua yang menyayangi ku..mungkin ini akan jadi trauma bagiku untuk kedua kalinya.
Sesak..gelap..sunyi..hampa..
Itulah yang kurasakan sejak Kematian pasangan Duke dan Duchess Everon.Aku tidak keluar kamar lebih dari 1 minggu dan membiarkan dokumen yang harus ku cek terasingkan.Aku bahkan tidak ada nafsu untuk makan atau melihat dunia luar.Walau Rina sudah kembali dan mencoba mengembalikan diriku, tidak ada perubahan yang terjadi. Bahkan surat yang dikirim Ian tidak ku balas,dia bahkan sampai datang kesini 3 hari setelah kematian Pasangan Duke dan Duchess sekaligus orang tua ku didunia ini,tapi aku tidak mengizinkannya masuk.
Aku selalu merasa kalau ini salahku..kenapa aku tidak menggunakan jam pasir saja?.. benar benar..hampa.
2 Hari setelah itu,para kesatria dari Medan pertempuran kembali dengan membawa kemenangan.Tapi kakak hanya menampakan diri sebagai komandan depan lalu pergi meninggalkan pesta perayaan demi pulang kerumah.
/Skip saat dirumah/
"Lily!!" teriak kakak dari depan pintu yang terdengar sampai kamarku,
"Kakak ya.." gumamku dibalik selimut yang menutupi tubuhku,
"Lily!?Apa yang terjadi!?" tanya berteriak sambil mendekati ku,
"Siapa?.." gumamku pelan,walau aku sudah tau itu kakak tapi aku bertanya,
"Siapa?.. Tentu saja aku ini Kakak mu!!ada apa denganmu Lily!?" Jawab kakak sambik menggoyang badanku yang lemas,
"Kakak?.." seketika air mata keluar dari mataku yang tatapannya kosong,
"Maafkan aku..harusnya aku menjagamu.." ucap kakak dengan nada lesu sambil memelukku,
"Kakak..Ayah dan Ibu.." gumamku membalas pelukan nya,
"Aku tau Lily..aku tau itu.." ucap Kakak dengan nada gemetar,tubuhnya juga bergetar dan pelukannya tambah erat,aku merasa pundakku basah..Kakak menangis pertama kalinya di hadapanku.
Ruangan hanya terdengar suara tangisan ku di pelukan Kakak.Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam sambil menangis kecil,betapa sakitnya kami kehilangan orang yang kami sayang..mereka berdua adalah orang yang sangat baik.
3 hari setelah itu,Kakak diangkat menjadi Kepala Keluarga Duke Everon.Karna Kakak adalah komandan pasukan yang membawa Kekaisaran menuju kemenangan,gelar yang kakak terima awalnya adalah Duke menjadi Grand Duke Everon. Sekarang kami setingkat dengan Grand Duke Darvin.
Kesehatan ku mulai pulih sejak pengangkatan Kakak menjadi Grand Duke Everon. Dan aku mulai mengirim surat pada Ian lagi dan meminta maaf karna tidak mengizinkannya masuk ke kediaman.
Di hari ke-2 kakak diangkat menjadi Kepala Keluarga Grand Duke Everon,Ian kembali mendatangi ku,tentu saja aku tidak bisa menolaknya untuk kali ini.
"Lily, bagaimana keadaan mu?" tanya Ian yang duduk disebelah ku,menatapku dengan khawatir,
"Aku baik baik saja,sebentar lagi aku sudah diperbolehkan beraktivitas seperti biasa" jawabku,
"Akan lebih baik setelah pulih total kau tetap istirahat setidaknya 2 hari" ucap Ian,
"Baiklah,aku akan mengingatnya" jawabku,
"Ngomong ngomong Lily,kita harus menyiapkan pernikahan kita" ucap Ian,
"Tapi,situasinya sedang begini.." jawabku,
"Aku tau itu,tapi kita harus segera menyelesaikan masalah ini" ucap Ian,
"Anu.. Ian..ada suatu hal yang harus ku beritahu padamu" ucapku gugup,
"Apa itu?" tanya Ian,
Aku pun menjelaskan Ian tentang permintaan Baginda Kaisar dan Yang Mulia Ratu 2 minggu yang lalu,dan tentang dokumen dimeja yang ku kumpulkan untuk calon tunangan Putra Mahkota Felix. Ian sangat terkejut mendengar permintaan Baginda Kaisar dan Yang Mulia Ratu.
"Sepertinya Yang Mulia Ratu menyukaimu" ucap Ian agak sedih,
"Tapi..aku tidak ingin menjadi tunangan Putra Mahkota Felix.." jawabku,
"Aku akan bicara dengan Yang Mulia Ratu nanti,untuk saat ini aku akan membantumu mencari calon tunangan Putra Mahkota" ucap Ian,
"Baiklah,terimakasih Ian" jawabku tersenyum tipis ke arahnya,
"Aku harap kau bisa tersenyum lebar seperti dulu.." gumam Ian pelan tapi aku bisa mendengar nya,
"Apa?" tanyaku,
"Tidak, Tidak apa apa." jawab Ian,
"Baiklah(?)" ucapku,
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu,ada sedikit masalah di kediaman" ucap Ian,
"Masalah?apakah tentang sihir Viridis itu?" tanyaku,
"Iyaa,kekuatan sihir itu tiba tiba menghilang dari Grand Duchy" ucap Ian,
"Begitu" gumamku,
"Tenang saja,aku akan menemukannya lagi" ucap Ian yakin,
"Baiklah,semoga beruntung" ucapku,
"Iyaa,kalau begitu sampai jumpa lain waktu Lily,jaga kesehatanmu" ucap Ian sembari mencium keningku,
"Iyaa, terimakasih" balasku,
Ian pun pulang ke Grand Duchy Darvin dengan cepat.Tidak kusangka dia mengkhawatirkan ku.
"Wah..Dia benar benar licik" ucap Vel masuk ke kamarku bersama Bel,
"Vel?apa maksudmu?" tanyaku,
"Iblis itu sudah mengetahui kekuatanmu" ucap Vel serius,
"Tapi,aku tidak memberi tahu nya" ucapku,
"Dia itu penyihir,dia bisa merasakan kekuatan sihir dimana mana" ucap Vel,
"Tapi tenang saja,dia akan berpikir kekuatan sihirmu masih lemah karna tidak memancarkan aura yang kuat" ucap Bel,
"Kenapa?" tanyaku,
"Karna kalung yang kami berikan untukmu,aku sudah bilang itu 2 minggu yang lalu" ucap Vel,
"Oh begitu, terimakasih.."ucapku khawatir,
'Aku harus berhati hati dengan Ian,tapi.. apakah aku bisa mencintai nya walau sudah tau dia bisa saja berkhianat'
Bersambung..
Yo minna⊂((・▽・))⊃✨akhirnya author up lagi UnU ✨ walau up nya 2 hari sekali atau bahkan 1 Minggu 2x doang hehe,tapi author makasii banget buat para readers yang nunggu crazy up🥺✨ ditunggu terus yak!🐝💫sekian terima gaji 🗿✨