Vita Nova

Vita Nova
Episode 14 "Sebuah Ungkapan"



Flashback


Aku melihat ke arah daratan,dan melihat seorang lelaki berambut pirang dan bermata biru sedang duduk di sebuah kursi roda,yang tak lain adalah Yusto,melihat kami dengan muka sayu,lalu beranjak pergi bersama kepala pelayan yang tadi disampingnya.Aku berpikir,apakah aku mengambil Ian dari sisinya?,walau mereka tidak dekat,tetapi Ian tetaplah kakak Yusto,aku merasa bersalah dengan Yusto.


Tak lama kemudian, matahari benar benar telah menghilang. Aku dan Ian sudah kembali ke tepi danau dan berencana langsung pulang. Tapi aku masih memikirkan tentang Yusto,aku tidak tau hal itu akan melukainya.


'Apa yang harus aku lakukan?..'


.


.


Episode 14


Setelah hari itu,aku mencoba menjauh sedikit dari Ian,tapi Ian selalu mendekat lebih dari aku yang menjauhinya.Seolah ketika aku mundur 1 langkah,dia maju 2 langkah,hal itu membuatku sulit untuk menjauhinya,dan tugas yang aku lakukan harus terus berada di sisi Ian,hal itu terjadi sampai Grand Duke dan Grand Duchess pulang ke Grand Duchy.


/Skip Grand Duke dan Grand Duchess pulang/


"Selamat Datang kembali Tuan dan Nyonya" ucap Kepala Pelayan dan Pelayan lain menyambut kedatangan Grand Duke dan Grand Duchess.Ian,Aku,Yusto dan Yesra juga menyambut kedatangan mereka setelah 1 bulan lamanya,


"Selamat datang kembali Grand Duke dan Grand Duchess" ucapku memberi sambutan,


"Selamat datang kembali Ayah,Ibu.Saya senang kalian baik baik saja" ucap Ian pada Pasangan suami istri itu,


"Terima kasih Ian,kau tampak lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu, sepertinya kau terlalu banyak bekerja" ucap Grand Duke sambil menepuk pundak Ian yang sedikit lebih tinggi dari beliau,


"Ayah!Ibu!Selamat datang!" ucap Yusto dan Yesra sambil tersenyum lebar kearah Grand Duke dan Grand Duchess,


"!?",tampak wajah pasangan itu sangat terkejut,dan air mata keluar dari mata mereka


"Yusto..?Yesra..?" gumam Grand Duchess tak percaya dengan melihat senyuman mereka berdua,


"Iya ibu!" ucap mereka dengan senyum lebar yang masih terlihat dari wajah mereka,


"Anakku..!" ucap Grand Duchess sambil menangis bahagia lalu memeluk meraka berdua,


"Ini sebuah keajaiban.. terimakasih dewa.." gumam Grand Duchess sangat bersyukur bisa melihat wajah si kembar tersenyum kembali,


"Ian..apa yang terjadi?" tanya Grand Duke pada Ian dengan wajah terharu,


"Jangan tanyakan hal itu padaku,tanya lah kepada Calon Menantu mu yang membuat Yusto dan Yesra bisa tersenyum kembali" ucap Ian sambil tersenyum tipis,


"Lily?..kau yang membuat mereka kembali tersenyum?.." tanya Grand Duchess dengan nada rendah,


"Saya hanya memberi mereka sebuah makanan yang bisa dimakan mereka berdua tanpa membuatkan masing masing satu,setidaknya lebih hemat untuk musim dingin ini" jawabku sambil tersenyum,


Grand Duchess berlari ke arahku dan langsung memelukku erat,


"Terimakasih..aku sangat beruntung memiliki calon menantu sepertimu.." ucap Grand Duchess sambil menangis bahagia,


"Saya hanya melakukan hal yang harus saya lakukan" ucapku sambil membalas pelukan Grand Duchess,


Setelah itu,Grand Duke dan Grand Duchess mengucapkan terimakasih berkali kali padaku hingga memberiku banyak sekali hadiah, mulai dari gaun mewah,permata,bahkan sebuah vila di tanah Trizen yang terkenal keindahannya disetiap musim.Sebenarnya aku sudah menolak semua itu dengan sopan,tapi mereka berdua tetap bersikeras untuk memberiku hal hal itu.Ini agak merepotkan.


Hal itu terjadi selama 3 hari penuh,dan kepulanganku ke Duchy Everon ditunda sampai Minggu depan karna Grand Duchess tidak ingin melepasku pulang.


Untungnya Ian selalu ada bersamaku saat keadaan mendesak,sangat sering dia membawaku berjalan jalan di taman berdua untuk mencari angin segar,tanpa kusadari aku mulai menyukai pria itu.Aku tau kalau hubungan kami hanyalah sebatas tunangan kontrak,kami juga sudah berjanji tidak akan saling mencintai sampai kontrak selesai.Tapi aku tidak bisa mengelak lagi,aku benar benar telah jatuh hati pada Ian.Sikap yang dia tunjukan padaku sekarang sangat berbeda,dia lebih perhatian dan hangat,dia juga sering tersenyum walau terkadang raut muka datarnya lebih sering terlihat.


Sejak kami bertunangan,Ian sudah jarang membantai orang orang di pelabuhan dan beberapa penjahat di gang desa,bahkan hampir tidak pernah.Aku dengar dari Rina kalau di Ibu kota sedang membicarakan tentang Ian yang tidak pernah membunuh orang lagi,bahkan sangat jarang dijumpai mayat mayat di gang kecil atau sekitar pelabuhan.


Aku semakin jatuh hati padanya,tapi tidak bisa ku ungkapkan,karna aku tau itu hanya akan membuat masalah. Dan tidak mungkin juga Ian menyukaiku,aku benar benar berharap dia menyadari perasaan ku padanya.


Setelah hal hal itu,malam hari tiba dan rasa lelah pun datang.Aku masih berada di Kediaman Grand Duke Darvin 2 hari lagi lalu kembali ke Duchy Everon.Karna lelah,aku menjatuhkan tubuhku ke kasur yang empuk dan berniat istirahat,


"Hadeh lelahnya.." gumamku,


"Nona,lebih baik anda mandi dulu supaya lebih nyenyak" ucap Rina menyarankan ku,


"Sepertinya begitu,tolong siapkan ya" ucapku pada Rina,


"Baik!anda mau pake aroma apa?" tanya Rina,


"Mawar saja" jawabku,


"Baik" ucap Rina lalu pergi menyiapkan air mandi untukku,


Aku masih memikirkan tentang Yusto yang melihatku dan Ian di Danau Menlis waktu itu.Aku merasa sangat bersalah padanya dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuknya,tidak..tapi untuk mereka berdua.Bahkan sejak waktu itu


"Semoga saja Yusto memaafkan ku" gumamku,


"Baiklah" jawabku,lalu pergi ke kamar mandi


"Oh ya Rina,kau istirahat saja,aku akan mengurus baju ku sendiri" ucapku sebelum Rina keluar,


"Benarkah nona? terimakasih banyak!kalau begitu saya permisi dulu,selamat malam nona" ucap Rina senang lalu keluar,


"Selamat malam" balasku,lalu masuk ke kamar mandi dan berendam,


'Untuk saat ini,aku hanya perlu menenangkan diri dulu,beban ku sangat berat,kepala ku rasanya mau meledak' pikirku sembari berendam,


Setelah selesai berendam,aku mengeringkan rambutku lalu memakai piyama yang sudah Rina siapkan di kamar mandi tadi,setelah itu aku kembali ke kamar dan berencana untuk tidur,


"Kupikir kau kemana" ucap seorang pria yang tak lain adalah Ian,hanya memakai piyama dengan dada bidangnya yang terbuka dan sudah duduk di kasur,


"I-ian!?sejak kapan kau masuk!?" ucapku berteriak karna terkejut,


"Aku merasa kau agak aneh,apa kau lelah?aku juga tidak pernah melihatmu istirahat selama menjaga Yusto dan Yesra sebelumnya" ucap Ian dengan tampang yang tidak bisa kupahami,


"Aku sudah istirahat denganmu waktu itu bukan?itu sudah cukup" jawabku meyakinkan Ian,lalu duduk diseblahnya


"Itu berbeda,kau pasti sangat lelah" ucap Ian terkesan khawatir,


"Tidak usah khawatir,aku baik baik saja" ucapku sambil tersenyum tipis,


"Baiklah, aku hanya khawatir padamu" ucapnya lesu dan wajahnya murung. Aku tidak tega melihat Ian yang biasanya tetap terlihat gagah tiba tiba murung dan tampak lemah seperti ini,


"Aku tidak apa, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku" ucapku lalu mencium pipinya,


"Iya,aku mengerti" jawabnya lalu tersenyum tipis,


Setelah itu Ian mendekat kearah ku lalu meletakkan kepalanya di pundakku,


"Aku ingin bersamamu malam ini" gumamnya,


"Apa maksudmu!?kita ini masih tunangan!" tanyaku gugup,


"Tidak apa apa,aku hanya ingin tidur bersamamu" ucapnya lesu,


"Umm,baiklah, berbaringlah disini" ucapku memintanya untuk berbaring,Ian menurut ucapan ku lalu berbaring,aku pun berbaring tetapi membelakangi nya,


Ian sepertinya kesal,lalu memutar badanku sehingga menghadap kearahnya,


"Ini lebih baik" ucapnya sembari menyentuh pipiku lalu tersenyum tipis,


"Kenapa kau melakukan ini?" tanyaku dengan wajah agak memerah,


"Ntahlah,sejak hari itu aku terus memikirkanmu..aku tidak ingin kau jauh dari sisiku,dadaku sesak saat tidak melihatmu..aku ingin memilikimu seutuhnya.." jelasnya,


"E-eh?..kenapa bisa?aku juga merasakan hal yang sama,rasanya hangat setiap kali melihatmu,aku juga nyaman saat berada didekatmu" ucapku mengalihkan pandangan dari Ian,


"Lily,aku menyukaimu" ucap Ian sangat jelas dan penuh keyakinan,


"Eh?.."gumamku tidak percaya,bahkan aku tidak sadar air mata mengalir dari mataku,


"Kenapa kau menangis?..maafkan aku jika membuatmu tidak nyaman" tanyanya sedih,


"Tidak..aku hanya..sangat bahagia..Aku benar menantikan kata kata itu.." ucapku sambil menangis,


"Aku benar benar sungguh mengatakan hal itu..bahkan sepertinya..Aku mencintaimu Lily" ucap Ian sangat yakin,


"Aku juga mencintaimu Ian.." ucapku lalu memeluk Ian erat.Ian juga membalas pelukanku dengan hangat dan penuh perasaan,suatu hal yang sangat tidak mungkin bagi Iblis seperti Ian,tapi itu benar benar terjadi padanya,


"Lily,tetaplah disampingku" Ucap Ian memohon,


"Iya,aku akan selalu berada di sisimu" jawabku membalas perkataan Ian,


Ian yang tadinya memelukku, mendongakkan kepalaku ke arahnya sehingga wajahku berada sangat dekat dengannya. Lalu Ian mencium keningku dengan lembut dan hangat. Aku sempat terkejut karna tingkahnya itu,tapi aku senang dia melakukannya.


"Tidurlah Lily" ucapnya halus,


"Iya, Ian" jawabku,


Kami berdua tidur pulas sambil berpelukan,hal itu lah yang membuatku tetap hangat walau sedang musim dingin,dan turun salju.


Yo Minna:3 makasii udah baca Vita Nova,mulai besok sampai Minggu 17 Januari 2021,novel ini akan Hiatus untuk sementara,sekian dari author✨terima gaji🗿✨