Vita Nova

Vita Nova
Episode 83 "Perdebatan Kecil"



Flashback


"Anda tahu kan Permaisuri.Anak anda,adalah pria yang lembut pada wanita yang dicintainya." ucap Ratu tampak puas.


Permaisuri pun paham apa yang dikatakan Ratu.Suara Pangeran Arhen ketika menyebut nama Arina tadi,gerakan tangan ketika mengusap,dan tatapan matanya pada Arina.


"Cinta tidak mengenal waktu dan hubungan ya,Yang Mulia Ratu." ucap Permaisuri tertawa kecil.


"Aku merasa begitu tua,ahahaha." balas Ratu ikut tertawa.


"Kita sudah berumur,sebentar lagi hanya jadi sejarah."


"Anda benar.Waktu berjalan begitu cepat ya."


.


.


Episode 83


/Di wilayah Darvin.


"Yusto,kau benar-benar tidak ikut?"


"Tentu saja tidak.Siapa yang akan menjaga wilayah dan jatah peninjauan bulan ini selain aku?Kakak pasti akan sibuk bolak-balik ibu kota,masih ada kemungkinan kakak akan menetap di ibu kota sementara waktu."


Yesra cemberut dan kesal.Yusto tidak bisa menemaninya ke acara putra Duke.Ian bilang akan menemaninya dan menjaganya,tapi sudah jelas dia akan lebih sering bersama Lily untuk alasan hubungan tunangan.


"Hari sudah mulai gelap.Aku akan meminta pelayan menyiapkan makan malam dulu."


"Yusto."


Langkah Yusto berhenti begitu Yesra memanggilnya.Ia membalik badannya dan melihat Yesra tampak sedikit ketakutan.


"Ada apa?Kau tidak enak badan?" tanya Yusto.


"Bukan itu.Emm.." Yesra kembali diam.


"Kita sudah 21 tahun kan?" lanjut Yesra bertanya.


"Eh?Ah,iya." jawab Yusto.


"Aku pernah mendengar dari seseorang.Saat dimana seseorang jatuh cinta yang sesungguhnya,adalah saat ia melewati usia 20 tahun.Yusto,sudah mencintai seseorang?" ucap Yesra bertanya.


Yusto tertegun dengan pertanyaan Yesra.Dia menyukai Lily,tapi dia tidak tahu harus bagaimana.


"Belum.Bagaimana denganmu?" jawab Yusto lalu bertanya.


"Aku terlalu menutup diri pada pria selain keluarga kita.Ku rasa tidak ada." jawab Yesra.


"Tidak perlu terburu-buru.Ada saatnya kita bertemu dengan orang yang tepat mencintai kita setulus hati." ucap Yusto tersenyum pada Yesra.


Yesra terdiam lalu mengangguk.Yusto pun beranjak keluar dari kamar begitu Yesra mengangguk paham.


Yesra terdiam di kamarnya sambil berpikir terus menerus.Sosok pria yang tidak ia kenali melintas di angan-angannya.


'Orang yang kita cintai ya..?Mana mungkin..'


H-1/Tempat Lily.


"Ya Ampun!Lihatlah dia!Sangat cantik!"


"Rina!Apakah itu benar-benar kau?!"


"Dia berubah drastis!"


Para pelayan lain begitu heboh melihat Rina, maksudnya Lady Viona Ricardo.Rambut biru tosca nya yang panjang terurai dan mata merah ruby,sangat padu dengan gaun merah layaknya mawar yang ia kenakan.


Lily begitu puas dengan penampilan Rina sekarang.Walau tanpa riasan,dia sudah begitu cantik dan begitu menyilaukan mata.


"Aku harus mengabadikan ini!" Lily pun segera mengambil foto Rina dari segala sisi.Dia sangat kegirangan melihat Rina sekarang.


"Aura seorang putri Duke benar-benar terasa ya!" ucap Lily.


Tok!tok!tok!


"Masuklah."


"Nyonya,maaf mengganggu anda.Ada surat lagi." ucap Jeremy.


"Surat?Dari siapa?" tanya Lily penasaran.


"Surat dari Duke Ricardo." jawab Jeremy sambil menyodorkan sepucuk surat.


"Utusannya berkata kalau surat ini ditunjukan untuk Lady Ricardo." lanjutnya.


"Eh?Saya?" tanya Rina bingung.


"Iya nona." jawab Rina.


Lily pun memberikan surat itu pada Rina.Rina membuka surat itu dan membacanya.Raut wajahnya berubah kesal begitu selesai membaca.


"Ada apa??" tanya Lily.


"Tuan Duke meminta agar ibu saya dibawa bersama saya.Tapi itu harus hari ini.." jawab Rina.


"Apa?!Dasar pak tua sialan itu!Memangnya dia pikir dia siapa?!" Lily pun ikut kesal hanya dengan sekilas perkataan Rina.


"Bagaimana ini..ibu pasti tidak ingin hadir.." ucap Rina cemas dan bingung.


"Aku akan mendatangi Duke sekarang.Jeremy siapkan kereta kuda." Lily segera bangkit dari tempatnya dan beranjak keluar.


"T-tunggu nona!"


"Lady Viona!"


Rina terdiam begitu Lily menegaskan kata-katanya.Ekspresi Lily tampak marah.


"Anda tidak boleh diam begitu saja!Anda adalah seorang lady yang harus di segani banyak orang.Apakah anda akan menerima perintah seorang ayah yang sudah menelantarkan anda begitu mudah?!"


Rina tidak bisa membantah lagi.Lily benar,dia adalah bangsawan,terlebih dia adalah putri Duke Ricardo.


"Huft..Mari ikut saya menemui Duke."


Lily pun beranjak keluar,diikuti Rina dibelakangnya.Mereka pun pergi secepat mungkin ke mansion Duke.


/Di Mansion Duke.


tok!tok!tok!


"Tuan, Marchioness datang untuk menemui anda."


Seorang pria tua yang duduk di kursi ruang kerjanya langsung berdiri dari tempatnya dan tersenyum tipis.


"Ini lebih cepat dari dugaan.Apa yang akan beliau lakukan kira-kira." ucap pria itu yang tak lain tak bukan adalah Duke Ricardo.


"Erdo, siapkan untuk Yang Mulia Marchioness,dan tolong panggilkan anak-anakku." lanjutnya.


"Baik Tuan."


Duke segera keluar dari ruangannya dan menyambut Lily di depan.


Begitu tiba di pintu depan,Duke melihat Lily yang begitu tenang,tapi hawa disekitarnya tidak tenang sama sekali.Di sampingnya terlihat Rina yang gugup karna ini pertama kalinya ia melihat Duke setelah 14 tahun lamanya.


"Selamat datang Yang Mulia.Saya tidak mengira anda akan langsung kesini membawa putri saya." ucap Duke begitu ramah.


"Terimakasih sudah repot-repot menjemput saya.Lagipula saya hanya akan sebentar disini." ucap Lily datar.


"Maafkan saya, sepertinya rumah ini terlalu sempit." ucap Duke.


"Ya ampun anda sadar akan hal itu?Baguslah." balas Lily.Duke hanya bisa tersenyum tipis dengan kata-kata Lily.


"Jangan terlalu kaku Yang Mulia.Mari kita berbincang sebentar.Banyak pertanyaan yang ingin saya ajukan pada anda." ucap Duke.


"Pelayan,antar Yang Mulia Marchioness ke taman.Bunganya sedang mekar dengan sangat indah di musim gugur ini." lanjutnya pada pelayan.


/Di taman.


"Putriku,sudah lama tidak bertemu.Apakah kabarmu baik-baik saja?" tanya Duke pada Rina.


"..berkat Marchioness,saya baik-baik saja selama ini Yang Mulia." jawab Rina.


"Tidak perlu basa-basi lagi Duke.Saya hanya akan bertanya 1 hal pada anda." ucap Lily serius.


"Silahkan Yang Mulia.Saya akan menjawab pertanyaan anda."


"Apa tujuan anda sebenarnya?" tanya Lily.


Duke terdiam setelah menyeruput secangkir teh.Ia tersenyum tipis dan meletakan cangkirnya.


"Apa maksud anda Yang Mulia?Saya hanya ingin putri saya yang berharga kembali ke pelukan saya.Selama ini dia menghilang entah kemana karna saya terlalu mengabaikannya. Saya orang tua yang buruk." jawab Duke.


"Lalu?Kenapa Duchess juga?Anda mengabaikan mereka.Membiarkan mereka terpuruk sendirian di vila tua yang kusam."


"Yang Mulia,saya begitu merasa bersalah pada mereka.Maka dari itu kali ini saya ingin memberikan apa yang seharusnya mereka dapatkan." balas Duke.


Lily mengernyitkan keningnya.Dia benar-benar kesal dengan tingkah Duke yang begitu konyol.


"Saya tidak akan membiarkan anda merebut Lady.Saya akan tetap membawa nya bersama saya.Begitu juga Duchess."


Senyuman di wajah Duke memudar.Kali ini dia benar-benar tampak serius.


"Yang Mulia, sepertinya ada sedikit kesalahpahaman disini.Mungkin karna putra saya Thevan yang menyerang anda 4 tahun lalu,anda jadi begitu menargetkan saya." ucap Duke.


"Entahlah.Apa perlu saya tegaskan lagi?"


Suasana berubah hening.Duke hanya menatap lurus ke arah Lily.


"Ayah!"


Ketiga anak Duke tiba di taman.Kedua putranya,Zarex dan Thevan serta putrinya, Senia.Lily dan Rina menatap mereka bertiga bersamaan.


"Kalian sudah datang.Marchioness datang kesini sebelum upacara perayaan kelulusan Zarex besok." ucap Duke.


"Salam kepada Yang Mulia Miscess, Marchioness Gradina." ucap mereka bertiga serempak sambil membungkuk.


"Semoga Dewa memberkati kalian." balas Lily.


Mereka bertiga kembali tegak.Mata mereka langsung tertuju pada Rina yang duduk disamping Lily.


"Viona!!" Senia yang merupakan putri Duke langsung mendekati Rina dan memeluknya erat.


"T-tunggu!Kak Senia!"


Zarex dan Thevan hanya bisa menatap Rina datar.Kebencian hanya terlihat di mata Thevan.Tapi Lily menyadari itu dan menatap tajam Thevan.


"Khk-!"


"Ada apa Thevan?" tanya Zarex pada adiknya.


"T-tidak..tidak apa-apa kak.." jawab Thevan yang sudah merinding ketakutan.


'Gawat..aku tidak bisa bertindak seenaknya..Bisa-bisa nyawaku melayang..' pikir Thevan ketakutan.


"Sudah-sudah.Duduklah." ucap Duke.


Zarex,Thevan,dan Senia pun duduk ke tempat mereka masing-masing.


"Yang Mulia, perkenalan ini putra pertama saya." ucap Duke memperkenalkan Zarex pada Lily.


"Salam kenal Yang Mulia.Nama saya Zarex Celestian Ricardo.Suatu kehormatan bertemu dengan anda." ucap Zarex begitu sopan.


"Senang bertemu dengan anda juga." ucap Lily sambil tersenyum.


Zarex menatap Lily kagum.Entah aura apa yang dia rasakan tapi,rasa nyaman seolah tercipta di sekitar Lily.


"Anda sangat mirip dengan Lady Senia.Suara anda juga lembut." ucap Lily.


"Terimakasih banyak Yang Mulia.Anda juga cantik dan bercahaya seperti rumor yang saya dengar." balas Zarex.


"Ya ampun, itu berlebihan."


"Omong-omong..Saya ingin bertanya pada Duke.Kenapa,anda ingin meminta Lady Viona serta Duchess kembali?" lanjut Lily bertanya pada Duke.


Anak-anak Duke kaget dengan pertanyaan Lily pada ayah mereka.Duke sama sekali tidak memberitahu anak-anaknya sebelumnya.


"Apakah itu benar ayah?" tanya Senia..


"Kenapa ayah tidak memberitahu kami?!" tanya Thevan.


"Huh..Saya hanya ingin keluarga saya kembali dan menjalin hubungan yang harmonis.Tidak ada lagi selain itu.Saya juga merasa kalau Senia selalu memikirkan Viona." jawab Duke.


"Ayah..saya tidak ingin Viona berada di tangan ayah lagi jika ayah masih terus mengabaikannya.Terlebih bersama Duchess?Apakah ayah sudah gila?!" ucap Senia emosi.


"Lebih baik Duchess dan Viona aman bersama Yang Mulia Marchioness daripada berbahaya bersama kita.." lanjutnya.


"Senia..ini demi kebaikanmu.. Kenapa kamu begitu memperdulikan mereka?" tanya Duke.


"Karna mereka keluarga saya!Duchess adalah ibu saya walau bukan ibu kandung.Tapi..beliau menyayangi saya dan Viona.Saya ingin melihat senyuman beliau yang tulus seperti dulu!Tapi ayah menghancurkan semuanya!" jawab Senia.


"Kakak!Tolong tahan emosi kakak.." ucap Rina mencoba menenangkan Senia.


"Ayah,apakah itu benar?" tanya Zarex tidak percaya.


Duke terdiam.Zarex beralih menatap Thevan,tapi Thevan tampak ragu dan hanya mengangguk pelan.


"Ayah bilang kalau saya harus mengabaikan Viona karna dia penyebab Duchess terus murung..tapi ternyata selama ini ayah lah penyebabnya?.."


"Iya.Terlebih adik laki-laki mu lebih sering merudung dan menyiksa Lady Viona bersama para pelayan,tepat saat tidak ada orang sama sekali." jelas Lily.


Zarex makin terkejut mengetahui kenyataan itu.Selama ini dia ada di akademi demi bisa mempelajari sihir lebih dalam,dan membuat Duchess tersenyum.Ia hanya melihat Duchess tersenyum satu kali walau tipis dan samar.


"Kenapa ayah tidak menyukai Viona?..apa salahnya?!Dia hanya anak yang lahir tanpa mengetahui kesalahannya!" bentak Zarex pada ayahnya dengan penuh emosi.


"Dia adalah anak yang tidak kuinginkan!Kenapa kamu dan Senia sangat peduli padanya dan ibunya?!" ucap Duke.


"Ah..aku tahu..Tuan Duke.."


Rina berdiri dari tempatnya.Dia menatap Duke begitu tajam dengan mata merah yang sama persis dengan Duke.


"Anda membawa saya untuk pernikahan politik demi keuntungan anda sendiri.Ibu saya hanya alat anda untuk mendapat hak anak, yaitu saya.Bukankah begitu?"


Duke terdiam.Ekspresi Rina yang begitu tajam dan dingin sangat mirip dengan Duchess.


"Maka dari itu Tuan Duke menyelenggarakan pesta perayaan kakak pertama untuk mencari pasangan anak-anak anda.Apakah saya salah?" lanjut Rina.


"Viona..maafkan aku.." Senia merasa bersalah pada Rina walau sebenarnya ayahnya lah yang bersalah.


"Kakak tidak perlu minta maaf.Ini bukan salah kakak." ucap Rina.


Lily tersenyum tipis.Ia memanggil Jeremy dan membisikkan sesuatu padanya.Segera mungkin Jeremy pergi setelah Lily membisikkan sesuatu.


"Bagaimana Duke?Anda tidak bisa mengelak bukan?" tanya Lily sambil tersenyum.


"KAU-"


"CUKUP CLARX!"


"?!"


Suara seorang wanita memotong perkataan Duke.Ia menoleh kearah suara tadi berasal.


"I-ibu?!"


Suara itu adalah suara Duchess Ricardo.Ibu dari Rina yang selama ini bersembunyi di villa milik Lily.


"L-Leona?.." Duke tidak dapat membuka mulutnya.Seorang wanita yang selama ini menutup diri bahkan dari dirinya,sekarang berdiri tepat di taman itu.Duchess berjalan perlahan dengan tubuh lemahnya mendekati mereka.


Lily berdiri dari tempatnya dan membungkuk salam pada wanita itu.


"Salam kepada Duchess Ricardo.Semoga Dewa memberkati anda." ucap Lily.


"Ya ampun Yang Mulia!Anda tidak seharusnya membungkuk seperti ini pada saya..Semoga Dewa memberkati anda juga." balas Duchess.


"Ibu..kenapa bisa?.." tanya Thevan.


"Saya sudah mendengar semuanya Clarx.Sudah saatnya saya turun tangan atas apa yang anda lakukan pada Viona selama ini."


Bersambung...