
Flashback
Fei diam-diam memasukan cairan yang diberikan orang asing sebelumnya ke dalam minuman Vel.
'Berhasil!' batin Fei lega,
"S-sakit!.." ucap Vel merasakan sakitnya,
"Sebentar lagi..!Tahan lah"Untungnya sihir Zergan berhasil dan Vel kembali tenang.
"Terimakasih..Zergan.." balas Vel,
"Ini sudah tugasku..hah.." jawab Zergan lelah,
"Bel..ini" Fei memberikan cangkir tadi pada Bel,
"Terimakasih Fei.Tristan minumlah.." ucap Bel memberikan teh itu pada Vel dan Vel meminumnya,
'Akhirnya!'
.
.
Episode 62
"Hah..hah..aku sudah sedikit lebih baik.. terimakasih.."
"Aku akan memberimu pil obat dari sihir ku nanti, konsumsi saat rasa sakit itu menyerang mu"
"Terimakasih Zergan..aku berhutang padamu"
"Tidak perlu seperti itu, ini sudah kewajiban"
Bel dan Zergan cukup tenang melihat Vel yang terbebas dari rasa sakitnya walau sebentar.Tapi disisi lain,Fei syok dan tidak percaya kalau cairan itu tidak bereaksi pada Vel sama sekali,
'Kenapa?!..apakah itu palsu?..sial!' batin Fei,
"Lady Fei,anda tidak apa-apa?" tanya Zergan melihat Fei yang berkeringat dingin,
"Eh?T-tidak apa-apa..saya butuh udara segar..permisi" Fei segera keluar dari kamar Vel di paviliun lalu pergi ke rumah utama.
"Mungkin Lady Fei masih kurang enak badan" ucap Bel mengira-ngira,
"Hm,mungkin saja" balas Zergan,
"Dimana Lily?.." tanya Vel lemah,
"Sepertinya dia sudah tidur,ini sudah larut malam" jawab Zergan,
"Begitu ya.." 'Aku merindukannya..'
Disisi lain,Fei berjalan terhuyung memasuki rumah utama hendak pergi ke kamarnya.Saat melewati lorong yang terkena sinar bulan,Fei mengingat kembali pertemuannya dengan Vel yang membuatnya jatuh cinta pada Vel.
'Aku harus bisa mendapatkannya!..tapi..aku tidak bisa melepaskan Lucas..' batin Fei,
Sosok berbadan besar berjalan dari lorong, mendekati Fei.Fei yang dejavu langsung mengira kalau itu adalah Vel.
"Ve-!?" sosok itu bukan Vel,melainkan Lucas.
"Fei?kenapa kamu belum tidur?" tanya Lucas mendekati Fei,
"Dokter bilang kamu harus banyak istirahat kan,harusnya kamu berbaring saja ditempat tidur" lanjutnya cemas,
Fei yang sedikit kecewa, pura-pura tersenyum di hadapan Lucas,
"Maaf,tadi aku memberikan teh pada Bel dan Saint Zergan terlebih dahulu" ucap Fei,
"Itu tidak perlu,ada pelayan yang membawakan nya" balas Lucas,
"Aku menggantikan Lily sebentar,tidak perlu cemas Lucas" ucap Fei sambil tersenyum tipis,
"Baiklah..kembalilah ke kamar mu,aku harus kembali ke mansion sekarang",
"Eh?malam-malam begini?"
"Benar,aku tidak bisa membiarkan Irvan terus-terusan yang mengerjakan pekerjaan ku"
"Baiklah..hati-hati"
"Tentu saja,jaga dirimu"
"Iya"
Lucas mencium Fei sekilas lalu pergi,Fei hanya bisa menatap punggung Lucas dari belakang yang perlahan menjauh dan menghilang.
'Aku harus bertemu perempuan itu!'
/esoknya
"Lily,aku mau pergi dulu sebentar ya"
"Lho?Tumben kakak mau pergi,kemana?"
"Sebentar saja bertemu kenalan lama"
"Oh,baiklah, hati-hati kak"
"Tentu saja"
Fei pergi ke hutan Drimson untuk menemui orang asing yang mendatanginya waktu itu,tanpa sepengetahuan Lily.
Sesampainya disana,Fei menggunakan jubah hitam yang dibawanya dan masuk ke hutan,mengikuti pita hitam yang diikat dipohon.Tak lama kemudian,Fei menemukan sebuah gubuk kayu yang cukup besar.
"Apa benar disini tempatnya??"
Seorang wanita keluar dari gubuk itu,dan menyadari keberadaan Fei.
"Lho?Lady Fei?Kau datang lebih cepat dari yang ku kira,masuklah kemari",
"Anda..Lady Arina?!"
/di dalam gubuk
"K-kenapa anda bersembunyi di hutan ini?.."
"Tentu saja untuk melarikan diri.Seorang wanita cantik sepertiku tidak pantas untuk dihukum"
Fei dan Arina duduk berbincang didalam gubuk sambil menikmati teh.Dengan santainya Arina menunjukan dirinya di depan Fei dalam keadaan penuh luka dan berantakan,bahkan kuku nya sudah panjang dan tidak terawat.
'Keadaanya tampak sangat buruk' batin Fei,
"Jadi,bagaimana dengan cairan sihir itu?" tanya Arina dengan anggun,
"Tidak bekerja sama sekali!" jawab Fei cepat,
Arina tertegun,menatap Fei tajam dan mengernyit heran,
"Itu tidak mungkin,aku membelinya di toko sihir!" ucap Arina kesal,
"Jika itu berfungsi aku tidak akan datang kemari untuk menemui mu!" balas Fei ikut geram,
"Ada apa ribut-ribut?"
Seorang pria masuk ke dalam gubuk itu lewat pintu belakang dan menghampiri mereka. Rambut perak dan mata emas,pria itu adalah Pangeran Arhen.
"Selamat datang Yang Mulia" ucap Arina pada Arhen,
"Yang Mulia?" Fei berdiri dari tempatnya dan menunduk,
"Lho?Jadi wanita ini adalah tunangan dari Grand Duke Everon?Dia cantik juga" ucap Arhen,
"Salam Yang Mulia.." ucap Fei memberi salam,
"Bagaimana dengan obatnya?" tanya Arhen pada Fei,
"Tidak bekerja sama sekali" jawab Fei murung,
Arhen terdiam lalu mendekati Fei,
"Sial..siapa sebenarnya si Vel itu?!" lanjut Arhen kesal,
"Aku dengar dia tangan kanan Lily,tapi sama sekali tidak ada informasi mengenai dirinya" ucap Arina,
"Hah?Tidak ada informasi sama sekali?itu tidak mungkin" balas Arhen heran dan kesal,
"Tapi itulah kenyataannya Yang Mulia,sama sekali tidak ada identitas,asal usul,atau apapun tentangnya" ucap Arina,
"Cih!Aku ingin membuat wanita itu menyesal karna lebih memilih Levi daripada aku!Aku harus membuatnya menyesal dan tersiksa ketika melihat Vel itu menjauh darinya..tapi..masih ada Saint Zergan yang harus diurus..",
"Kalau begitu bunuh saja,saya bisa melakukannya"
Perkataan Fei membuat Arina dan Arhen tersentak.Tatapan Fei yang datar dan kosong, seperti dirasuki sesuatu.
"Kau benar.."
Arhen tersenyum licik dan melihat ke arah mata Fei,ia benar benar suka ide dari Fei, begitu juga dengan Arina.
"Kita lakukan itu..dengan kutukan ku..aku bisa melakukannya.." Arhen mengeluarkan kutukannya dan merasuki Fei,
Fei tampak kesakitan menerima kutukan itu dari Arhen,sampai wajahnya berubah sangat pucat dan terjatuh ke lantai.
"Gunakan kekuatan ini Fei..!Dapatkan apa yang kau mau!Balaskan dendamku!!"
Arina ikut tersenyum melihat kegilaan Arhen yang terobsesi untuk belas dendam pada Lily,begitu juga dengannya yang ingin menghancurkan Lily karna berpikir Ian telah direbut darinya.
'Dengan kematian Lily..semua pasti akan berubah drastis!..'
/Disisi mansion Lily,
"Cika, ini obat yang ku buat dari sihir ku untuk mencegah rasa sakit pada kutukan Vel,tapi tidak bisa menghentikan perubahannya",
"Baiklah, terimakasih Zergan"
"Kau juga harus hati-hati,karna Arina masih belum ditangkap"
"Iya aku tau,setelah ini kau mau kemana?"
"Aku harus ke istana untuk memeriksa kondisi Permaisuri Renata dan Pangeran Arhen"
"Ah.."
"Kenapa??"
"Tidak,tidak apa-apa"
Penyataan Zergan tentang Pangeran Arhen membuat Lily teringat kejadian di acara pertunangannya,dan betapa kasarnya Pangeran Arhen,
"Kalau begitu aku pergi dulu,katakan saja apapun yang kau butuhkan padaku melalui surat" ucap Zergan hendak pergi ke kuda nya,
"Kenapa kau tidak menggunakan kereta??" tanya Lily heran,
"Itu terlalu lama,lebih cepat jika menggunakan kuda" jawab Zergan,
"Oh, baiklah,hati-hati Zergan"
"Tentu saja"
Zergan menunggangi kudanya lalu pergi dari mansion.Tak lama setelah itu Fei kembali dengan ekspresi yang sangat senang.
"Kak Fei!"
"Ah!Lily!"
Lily berjalan ke arah Fei dan memeluknya,begitu juga dengan Fei yang membalas pelukan Lily,
'Lho?Entah kenapa aura yang kurasakan dari kak Fei berbeda dari biasanya' batin Lily,
"Bagaimana pertemuan kakak tadi?" tanya Lily,
"Sangat menyenangkan!Kami minum teh bersama,mengobrol,dan bahkan belanja!Aku sangat senang!" jawab Fei kegirangan,
"Begitukah? Baguslah!"
"Benar!Aku sangat menikmatinya..huh..Aku mau mandi dulu ya",
"Baiklah kak"
Fei pergi menuju kamarnya dan meninggalkan Lily di ruang utama.Di kamarnya,Fei tersenyum licik sambil mempersiapkan beberapa 'rencana'.
Beberapa saat kemudian,sebuah gagak datang menghampiri Lily membawa sebuah gulungan kertas di kakinya.
"Ini gagak Ian,apa ini?"
Lily mengambil kertas itu dan membaca isi nya,
'Lily,aku sedang dalam perjalanan ke ibu kota,aku akan sampai besok pagi dan segera menghampiri mu untuk menceritakan apa yang terjadi pada Vel..'
"Dia peka juga..hm?"
'...dan berhati-hatilah,Pangeran Arhen sedang merencanakan sesuatu sesuai informasi yang kudapat dari Putra Mahkota,aku harap kau baik-baik saja sebelum aku tiba disana."
"Lagi-lagi..aku harus berhati-hati kali ini.."
Sebelum kembali ke kamarnya,Lily meminta Rina mengantarkan obat ke Paviliun Vel dan Bel.
/Skip malam
Lily menulis surat untuk Kel yang sedang berada di luar negri dan menitipkannya pada seekor merpati,
"Antar ini ke Kel ya"
Lily memberikan sihir pada merpati itu agar surat sampai lebih cepat.Merpati itu dengan cepat langsung terbang menjauh secepat kilat.
"Waktunya tidur..hoam.."
Lily hendak pergi tidur,tapi seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Lily,ini Fei.Apakah kau sudah tidur??
"Oh?Masuklah kak"
Fei masuk ke kamar Lily dengan senyum lebar dan menyembunyikan tangannya di belakang.
"Ada apa kak?" tanya Lily heran,
"Aku ada hadiah!Aku membelinya saat belanja tadi" jawab Fei sumringah,
'Eh?Firasatku tidak enak..' batin Lily,
"Benarkah?Aku ingin melihatnya!"
"Baiklah,santai saja karna hadiah ini...SANGAT ISTIMEWA"
Tatapan tajam dengan mata merah dan nada bicara yang mengerikan membuat Lily tersadar kalau yang sekarang berada dihadapannya bukanlah Fei.
"MATI KAU!!" sebuah pisau tajam dengan cepat menyerang Lily dari balik tangan Fei,
"Ukh!-" Lily langsung menghindari serangan Fei dan mencengkram tangannya,
"Lepaskan!-AKH!" Lily memutar tangan Fei kebelakang dan menyekapnya ke lantai,
"Siapa kau?!?Katakan padaku!" desak Lily,
"AKH-!LEPAS!"
Tak lama kemudian seseorang mendobrak pintu kamar Lily dengan sangat keras,membuat Lily dan Fei menatap ke arah pintu,
"!?!"
Lucas berdiri di ambang pintu dengan tatapan syok dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini,
"L-lily?.. kau..apa yang kau lakukan pada Fei?..kenapa kau menyerangnya?.."
Bersambung...