
Flashback
"Salam kepada Duchess Ricardo.Semoga Dewa memberkati anda." ucap Lily.
"Ya ampun Yang Mulia!Anda tidak seharusnya membungkuk seperti ini pada saya..Semoga Dewa memberkati anda juga." balas Duchess.
"Ibu..kenapa bisa?.." tanya Thevan.
"Saya sudah mendengar semuanya Clarx.Sudah saatnya saya turun tangan atas apa yang anda lakukan pada Viona selama ini."
.
.
Episode 84
Suasana makin tegang setelah kedatangan Duchess.Lily masih terlihat santai karna sejak awal dia sudah tau respon Duke akan bagaimana.
"Ayah,jelaskan semuanya.Sekarang." ucap Zarex sudah menahan emosinya.
"..." Duke masih terdiam.Ia menatap Rina dan Duchess cukup lama.
"Tidak ada yang bisa ku jelaskan.Semuanya sudah dijelaskan Marchioness." ucap Duke pasrah.
"Apakah ayah tidak menyayangi kami dengan tulus?..Kami hanya alat untuk pernikahan politik?.." tanya Senia.
"Kurang lebih seperti itu.Aku tidak ada rasa sayang hang tulus pada kalian.Semua itu hanya agar kalian menuruti kata-kataku." jawab Duke.
"Huh?.." Senia benar-benar syok dengan jawaban ayahnya.Semua kata ramah yang ayahnya tunjukan padanya dan kakak-kakaknya hanya sebuah tipu muslihat.
"Hanya itu yang bisa ku katakan.Tapi keputusan saya tetap bulat untuk mengambil Viona dan Leona dari anda, Marchioness." lanjut Duke serius.
"Saya tidak akan membiarkan itu." jawab Lily masih tenang.
"Kenapa anda begitu memihak Viona?Dia hanya anak pembawa sial..Dia tidak pantas mendapat semua perlakuan baik seperti itu." tanya Duke.
"Siapa yang sebenarnya anak pembawa sial?Dia hanya anak yang lahir atas kesalahan anda dan Duchess,tapi Duchess memberinya kasih sayang, beliau pantas disebut ibu.Anda?Bahkan manusia pun tidak." jawab Lily.
"Maaf menyela anda Yang Mulia." Zarex mulai membuka suaranya.Dia sudah muak dengan kebohongan ayahnya selama lebih dari 20 tahun.
"Saya ingin mengatakan sesuatu.Saat acara besok,saya harus di berkati langsung oleh ayah dan ibu sebagai bukti perjalanan pengetahuan saya.Tapi..dengan begitu,secara tidak langsung ibu akan masuk ke dunia sosialita bangsawan.Akan ada banyak mata yang mengawasi gerak-gerik ibu.Sejak ayah dan ibu menikah,ibu dan Viona sudah menutup diri.Maka artinya jika ibu masuk ke sosialita bangsawan,maka Viona akan masuk juga ke pergaulan kelas atas." lanjut Zarex.
"Itu artinya Viona dan Ibu harus ada di keluarga kita secara terbuka kan?" tanya Thevan.
"Aku tidak masalah.Tapi Viona.." Duchess mengkhawatirkan Rina yang akan masuk ke pergaulan kelas atas nantinya.
Niat Lily untuk mengajak Rina masuk ke pergaulan kelas atas tanpa sangkut paut keluarga Duke Ricardo tidak berjalan mulus.
"Lady Viona,jika anda tidak mau-"
"Tidak apa-apa."
Lily cukup kaget Rina memotong perkataannya.Terlebih dia tidak apa-apa akan masuk pergaulan kelas atas lewat kedudukan keluarganya.
"Saya akan tinggal di keluarga Duke, Marchioness." ucap Rina sambil tersenyum tipis.
"Tapi.."
Melihat senyuman Rina,Lily tahu kalau perkataannya itu demi ibunya.Jika dia menolak masuk ke pergaulan kelas atas,ibunya bisa menjadi bahan gosip dan akhirnya mengarah ke Duke.Rina takut ibunya terluka karenanya lagi.
"Duke,jika ini bukan permintaan langsung dari Lady,saya tidak akan membiarkan anda.Tapi karna ini keputusannya,maka saya dengan berat hati menyerahkan lady Viona yang sebelumnya pelayan pribadi saya masuk kembali ke keluarganya." ucap Lily.
"Anda terlalu percaya diri mengatakan hak itu Marchioness.Mau tidak mau dia pasti akan kembali ke keluarga ini." balas Duke.
"Jangan salah paham Duke."
"??"
"Saya tidak akan memberikan anda menyentuh Lady sesuka hati anda.Tentu ada syaratnya."
Duke terdiam.Cara licik Lily untuk mempertahankan tujuannya sekaligus menghormati keputusan Rina mulai terlihat.
"Apa itu?" tanya Duke.
"Duchess dan Lady Viona akan bebas melakukan apapun yang mereka mau.Dan,anda tidak berhak melarang mereka jika masih dalam ketentuan pribadi mereka.Jika saya sampai tahu sesuatu terjadi pada Lady Viona dan Duchess, saya tidak akan tinggal diam." jawab Lily.
Perbincangan dingin antara Duke Ricardo dan Lily berakhir.Rina memutuskan untuk tinggal bersama ibunya di keluarga Duke.Lily mempercayakan keselamatan Rina sebagai Viona dan Duchess kepada Seina dan Zarex.
"Anu.. Marchioness."
"Ya,Tuan Muda?"
Mata Zarex sangat terlihat dia terpungkau dengan Lily.Lily dalam pengelihatannya seperti seseorang yang sangat ahli dalam segala bidang.Dia sangat mengagumi wanita itu.
"Maafkan ayah saya karna membuat anda repot hari ini." ucap Zarex.
"Tidak,ini juga salahku karna tidak memperhitungkan tanggapan Duke." balas Lily.
"Anda benar-benar baik hati." ucap Zarex sambil tersenyum.
Lily tersenyum menatap pemuda itu.Dapat dilihat sekilas,Zarex adalah tipe pria yang lembut, bertanggung jawab,dan penuh pertimbangan.Dia juga bisa mengatur emosinya dengan baik.
"Tuan Muda,saya minta maaf."
"Ya?"
Lily meletakan tangannya di kepala Zarex.Perlahan sebuah cahaya keluar dari tangan Lily, diiringi angin yang begitu sejuk.
"Semoga Dewa selalu memberkati setiap jalan yang anda lewati.Langkah yang perlahan membawa anda menuju keberhasilan dan kemakmuran.Setiap detik yang anda habiskan akan menjadi bantuan bagi para mahluk."
Lily memberikan sebuah berkat pada Zarex secara langsung.Hal itu merupakan sebuah kehormatan besar yang diberikan seorang utusan Dewa seperti Lily dan Zergan.
"Y-Yang Mulia?!"
"Hehe.Anggap saja ini hadiah 'kecil' dari saya.Saya harap anda akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi keluarga anda kedepannya." ucap Lily dengan ringannya.
'SEJAK KAPAN BERKAT UTUSAN DEWA ADALAH HADIAH KECIL?!!' teriak Zarex dalam hati.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin.Ini adalah hadiah paling berharga yang saya dapatkan.Terimakasih banyak Yang Mulia." balas Zarex.
"Hadiah apa itu?"
"Hum?K-kakak?!"
"Yo!"
Lily dan Zarex di kejutkan kedatangan Lucas secara tiba-tiba disana.Entah apa yang membawa Lucas,tapi ia tampak senang.
"Sudah lama tidak bertemu,bagaimana kabarmu?" tanya Zarex sambil mengulurkan tangannya pada Lucas.
"Seperti biasa.Kau tampan sehat juga." jawab Lucas membalas uluran tangan Zarex.
"Apa yang membawa kakak kemari?" tanya Lily.
"Aku mencarimu.Saat ada di mansion tadi banyak pedagang masih disana.Karna kamu tidak ada jadi aku yang membayarnya." jawab Lucas.
"APA?!BAHKAN AKU BELUM MEMILIH!Apa saja yang kakak bayar?!" tanya Lily panik.
"He?Entahlah,aku tidak tahu mana yang kamu beli jadi aku membeli semua yang mereka bawa." jawab Lucas sambil tersenyum tanpa beban dan rasa bersalah.
JDERRR!
Seolah disambar petir.Lily dan Zarex benar-benar syok begitu tau Lucas membayar semua dagangan penjual yang Lily panggil ke rumah.
"K-kakak..Barang yang ingin ku beli bahkan bisa lebih dari 1jt gold..Sekarang kakak malah membeli semuanya?.." tanya Lily membatu.
"Aku tidak melihat harganya,aku tidak tahu." jawab Lucas masih dengan senyumannya.
"Aku tidak memikirkannya.Lagi pula aku akan melakukan apapun demi 'adikku'." jawab Lucas dengan polosnya.
'Kuasa seorang Grand Duke sangat tidak terkalahkan..' pikir Lily dan Zarex.
Hari Perayaan.
"Nyonya,anda mau gaun warna apa?" tanya Marie,pelayan pribadi Lily yang baru.
"emm..aku pikir merah bagus." jawab Lily.
"Baiklah!Tataan rambut apa yang anda inginkan?" tanya Marie lagi.
"Sanggul saja.Terimakasih Marie." jawab Lily.
"Baik!"
Setelah selesai bersiap.Lily mendapat kabar dari Jeremy bahwa Ian dan Yesra sudah menunggu di depan.Segera mungkin Lily keluar menyambut mereka.
"Aku penasaran betapa cantiknya Lily hari ini.Kakak pasti berpikir begitu juga kan?" ucap Yesra menggoda Ian.
"Kalau itu Lily dia pasti sudah sangat cantik." balas Ian sambil membayangkan ini.
'Uwah..aku tidak menyangka kakak akan diperbudak cinta oleh Lily..Lily memang terbaik!' pikir Yesra.
"Maaf, kalian pasti menunggu lama ya..!"
"Ah!Li-UWAHH!!"
"?!"
Ian dan Yesra membelalak kaget melihat pesona Lily yang memancar begitu kuat.Seolah Lily adalah wanita yang diturunkan langsung oleh Dewa dengan pesona bak bidadari.
"Eh?Kenapa?" tanya Lily bingung.
"Lily!Kenapa riasanmu sangat cantik?!Jangan sampai banyak pria melirikmu!" ucap Yesra masih kaget.
"Riasan?Maaf tapi..aku tidak terlalu suka dengan riasan jadi aku hanya memakai pelembab bibir..Apa itu masih riasan?" tanya Lily bingung dan heran.
"Lily,jika aku jadi dirimu aku tidak akan berhenti menatap cermin." jawab Yesra.
"Apa maksudmu?Ahahaa!"
"Yang Mulia." Ian mengulurkan tangannya pada Lily.Semburat merah tipis terlihat di pipinya.Mata biru tua yang begitu dalam melirik ke arah lain,sangat terlihat kalau Ian tidak berani menatap Lily.
"Apa ada sesuatu merasuki mu?" tanya Lily sambil tersenyum tipis.
"Entahlah.Sepertinya aku sudah dimabuk cinta pada bidadari di depan mataku." jawab Ian tersenyum licik.
"Dasar kamu ini." Lily menerima uluran tangan Ian.Mereka bertiga pun masuk ke dalam kereta kuda dan pergi.
Dari jalan,Ian melihat sebuah ledakan dari arah mansion Lily yang belum jauh dari mereka.
"Lily,rumahmu meledak." ucap Ian datar.
"Hum?Ah!Tidak apa-apa,itu hanya ulah si kembar yang sedang bermain." balas Lily dengan senyum lebarnya.
"Ah..baiklah." ucap Ian percaya begitu saja.
/Di mansion Duke Ricardo.
"Woah!Zarex!Sudah lama tidak bertemu!Bagaimana kabarmu?"
"Dia bintang acara hari ini.Lihatlah pesonanya itu, membuatku iri."
"Tuan Muda.Anda sangat menawan!"
"Aku akan mencalonkan diri nomor 1 untuk menjadi istri anda!"
Pujian dari teman sebaya Zarex muncul dari segala arah.Banyak bangsawan lain yang memanfaatkan hal itu untuk memperluas relasi mereka.
'Dasar manusia rakus.' pikir Zarex.
"Anda terlihat kewalahan,Tuan Muda Zarex."
"Ah!Salam kepada Putra Mahkota.Semoga Dewa memberkati anda."
"Semoga Dewa memberkati anda juga."
Waktu yang sangat tepat Putra Mahkota datang membantu Zarex keluar dari kerumunan itu.Orang-orang sontak memberi jarak privasi pada mereka berdua.
"Dimana Duke dan Duchess?" tanya Putra Mahkota.
"Sedang bersiap.Terlebih karna hari ini ayah mengundang Yang Mulia Saint dan Penyihir Agung.Butuh waktu cukup lama untuk bersiap." jawab Zarex.
"Omong-omong Yang Mulia,saya tidak menyangka anda akan datang.Biasanya anda tidak peduli dengan acara seperti ini." ujar Zarex penasaran.
"Ibu memintaku datang.Sepertinya beliau punya firasat buruk jika aku tidak datang." ucap Putra Mahkota.
"Yang Mulia Ratu?Kalau beliau sudah pasti benar.Firasat seorang ibu itu sangat kuat." ujar Zarex.Sekilas wajahnya terlihat muram.
"Yang Mulia Marchioness dan Grand Duke Darvin serta Yang Mulia Tuan Putri Yesra memasuki ruangan!"
"Ah!Mereka dat-EH?!UWAHH!!!"
"Ah..ah..Mereka memang mengagumkan." ucap Putra Mahkota
Kerumunan orang-orang di pesta selalu dikejutkan dengan kedatangan pasangan itu.Terlebih sekarang Yesra juga ikut di pesta dengan skala besar seperti ini.
Zarex segera merapikan penampilannya dan menyapa mereka bertiga.
"Selamat datang Yang Mulia Grand Duke,Yang Mulia Marchioness,dan Tuan Putri Yesra.Terimakasih banyak sudah menghadiri acara ini.Suatu kehormatan untuk saya." ucap Zarex.
"Selamat atas kelulusan anda sebagai siswa terbaik Akademi Tinggi,Tuan Muda Zarex." ucap Ian menyelamati Zarex dan mengulurkan tangannya.
"Terimakasih banyak Yang Mulia Grand Duke." balas Zarex senang dan membalas uluran tangan Ian.
Putra Mahkota yang melihat mereka berempat berbincang hanya fokus pada Lily.Ia merasa begitu kosong melihat Lily.Sakit di dadanya tetap terasa,tapi ia menikmatinya.
"Hari ini kalian bertiga tampak sangat mencolok.Terlebih kedatangan Tuan Putri kesini.Saya benar-benar tidak menyangka." ucap Zarex.
"Halo,Tuan.Selamat atas kelulusan anda.Semoga anda bisa terus berkembang kedepannya." ucap Yesra begitu ramah.
"A-ah! T-terima kasih Tuan Putri.." balas Zarex sedikit merona.
"Apakah kakak sudah datang?" tanya Lily.
"Iya.Dia ada disana,dikerumuni para wanita bersama Marquess." jawab Zarex sambil menunjuk ke arah Lucas dan Ken yang kewalahan di dekati banyak wanita.
"Wah..mereka populer.." gumam Lily.
"Siapa gadis yang bersama Lady Ricardo itu?"
"Aku baru pertama kali melihatnya."
"Apakah dia putri bungsu Duke Ricardo?"
"Benarkah?!Apa benar dia secantik itu?!"
"Siapa yang datang?" Yesra dan Lily melihat ke arah suara berisik itu datang.
"AKHH?!!" betapa terkejutnya mereka berdua mengetahui penyebab keributan itu.Dua sosok gadis dengan paras sangat cantik menjadi tatapan semua orang.
'Pelayan Lily?!/Rina?!'
Bersambung...