Vita Nova

Vita Nova
Episode 5 "Persiapan"



Flashback


"Kenapa kamu berteriak seperti itu!?Kamu itu putri bangsawan Duke!Bagaimana kamu bisa berteriak dengan suara lantang seperti itu!?" ucap Duke mengomeli Lily.


"Maaf!Aku tidak sengaja ayah!" jawab Lily pada Duke.


Setelah itu,Duke terus mengomeli Lily tentang sikapnya sebagai putri bangsawan yang sangat tidak sopan dan tentang kekayaan keluarga Everon.Lucas hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat Lily diomeli ayahnya.Duchess pun tertawa kecil melihat omelan Duke.


'Telingaku seperti akan meledak!!seseorang tolong aku!'


.


.


Episode 5


1 Minggu setelah itu musim gugur telah tiba.Tampak daun daun pepohonan sudah berwarna coklat kemerahan berguguran dan upacara kedewasaan Lily tinggal 1 minggu lagi,tepat saat pesta yang digelar di istana. Selama 1 Minggu terakhir ini,Ian terus datang untuk membahas pertunangan.Walau Lily tahu kalau pertunangan itu hanya sebatas kontrak agar wilayah Grand Duchy Darvin tetap stabil dan menjaga keamanan wilayah Duke Everon, masih ada 1 hal yang harus dilakukan saat pertunangan,yaitu 'Mahkota Dewi'.


Selama turun temurun,anak perempuan dari Duke Everon yang akan bertunangan,harus bisa mendapat restu dari mahkota itu. Mahkota Dewi hanya berada di ruang rahasia di bawah tanah milik Duke Everon.Tapi selama 100 tahun terakhir,tidak ada anak perempuan yang lahir di keluarga Duke Everon,Mahkota itu pun tersimpan selama 100 tahun di ruang bawah tanah. Setelah 100 tahun,lahir lah anak perempuan di Keluarga Duke Everon, yaitu Lily.Karna Cika adalah Lily untuk sekarang dan seterusnya,ia harus mendapat restu dari Mahkota itu untuk bertunangan dengan Ian.


Walau mahkota itu berada di kediaman Everon,tapi untuk mendapatkan restu dari mahkota itu diperlukan 'pengorbanan'.


"Benar-benar rumit." ucap Lily sembari minum teh di balkon kamar.


"Ada apa nona?Apakah anda kurang enak badan?" tanya Rina yang berada di seblah Lily.


"Tidak apa apa,aku hanya kepikiran soal pertunangan." jawab Lily.


"Saya tidak menyangka nona akan segera bertunangan,padahal saya merasa baru kemarin nona berlari lari ditaman sambil membawa boneka" ujar Rina.


Memang sejak kecil,Rina selalu ada disamping Lily, mereka sudah seperti kakak adik,Rina hanya lebih tua 3 tahun dari Lily,pasti berat baginya melepas Lily yang sudah seperti adiknya kandungnya sendiri.


"Rina,terima kasih telah menjagaku selama ini." ujarku sambil tersenyum kepadanya.


"Nona.."jawabnya sambil ingin menangis.


Lily pun berdiri dan memeluknya sambil menepuk pundaknya.Ia membalas pelukan Lily dan berharap Lily akan bahagia.


Tak lama kemudian,kepala pelayan datang dan membawa pesan dari Duke.Duke meminta Lily untuk segera datang menemuinya.Lily sudah paham apa yang akan ayahnya katakan.Ia meminta Rina membantunya ganti baju.Setelah selesai,Lily beranjak pergi menemui Duke di ruang kerjanya.


/Di ruang kerja.


"Ada apa ayah?" tanya Lily


"Lily,duduklah dulu." ujarnya meminta Lily untuk duduk.


"Jadi ada apa ayah memanggil ku?" tanya Lily.


"Lily,kamu tahu kan kalau kamu adalah anak perempuan pertama setelah 100 tahun di Keluarga ini?" tanya Duke.


"Tentu saja aku tahu." jawab Lily.


"Dan kamu akan segera bertunangan.Kamu pasti tahu apa yang-"


"Aku tahu kalau aku harus mendapat restu dari Mahkota Dewi." ujar Lily memotong perkataan Duke.


"Dasar kamu ini.Jadi tujuan ayah memanggilmu kesini adalah untuk mendapat restu Mahkota Dewi nanti malam." ucap Duke.


"Kenapa harus malam ini?" tanya Lily.


"Karna malam ini kamu harus bertemu Baginda Kaisar dengan 'tanda' bahwa kamu telah mendapat restu Mahkota Dewi." jawab Duke.


"Baiklah,akan aku lakukan."


"Baguslah.Pertunangan mu tergantung pada Restu itu.Jika kamu tidak mendapat restu dari Mahkota Dewi,maka kamu akan terjebak dibawah sana,sama seperti beberapa leluhur mu terdahulu."


"Aku paham." jawab Lily.


"Baiklah, kamu bisa kembali ke kamar mu."


Lily mengangguk lalu beranjak kembali ke kamar.Saat hendak kembali,ia berpapasan dengan Rina.


"Nona,Tuan Muda Levian meminta anda untuk bertemu dengannya di ruang utama." ujar Rina.


"Hah!?Dia sudah disini!?" tanyaku kaget.


"Iya nona." jawab Rina.


"Dasar!Kenapa tidak memberi kabar dulu sih." gumam Lily,lalu beranjak ke ruang utama.


Tampak seorang laki laki berpakaian rapi dengan mantel bulu berdiri menungguku di depan pintu.


"Kenapa anda hanya berdiri disana?" tanya Lily sambil mendekati Ian.


"Aku hanya menjaga sopan santun." jawab Ian datar tanpa ekspresi.


"Harusnya anda memberitahu saya kalau akan datang." ucap Lily sedikit kesal.


"Ada urusan mendadak,sekarang kau ikuti aku." ucapnya sambil menggandeng tangan Lily keluar.


"T-tunggu!Kita mau kemana?!"


Dia tidak menjawab dan langsung meminta Lily naik kereta kuda miliknya.Ia hanya bisa menuruti perkataan Ian.Ian mengikuti Lily masuk ke kereta kuda, lalu meminta kusir untuk pergi ke sebuah butik.


"Tuan Muda,jawab pertanyaan saya." ucap Lily kesal sambil melihatnya.


"Kita harus mengukur ukuran gaun yang akan kau pakai saat pertunangan nanti." jawabnya datar,dan jelas.


"Anda tidak perlu terburu-buru seperti ini, pertunangan kita masih 1 minggu lagi." ujarku.


"Lebih cepat lebih baik, gaun yang akan kau pakai nanti butuh 5 hari untuk membuatnya."


"5 hari!?Saya cukup pakai gaun yang sederhana." ucapku.


"Apa yang akan dipikirkan orang orang kalau tahu tunangan Tuan Muda Levian,Putra Dari Grand Duke Darvin memakai gaun pertunangan yang biasa saja?" tanya Ian.


"Kau seperti nenek-nenek saja." ujar Ian mengejek.


"Saya bukan nenek-nenek!Saya cuma sedikit lupa." jawab Lily kesal dan malu.


/Sesampainya di Butik.


"Selamat datang Tuan Muda Levian!Apakah dia calon tunangan anda?Dia sangat cantik!" ucap wanita pemilik butik yang sangat antusias menyambut Ian.


"Iya dia memang cantik." jawab Ian dengan sedikit tersenyum sambil melihat Lily.Lily yang heran hanya menatap Ian datar curiga.


"Ya ampun, kalian sangat cocok. Kemarilah nona,saya akan mengukur gaun yang akan anda pakai nanti." ucap wanita itu.


"Baik." Lily masuk ke ruangan lain untuk diukur baju dan hiasan apa yang akan ia pakaikan di gaun nanti.


/1 jam kemudian.


"Tuan Muda,Apakah anda ingin mengukur jas anda sekalian?Supaya lebih serasi saat acara kalian nanti." tawar wanita pemilik butik.


"Hm,baiklah." jawabnya.


"Kau tunggu saja disini,jangan kemana mana." lanjut Ian pada Lily,lalu beranjak pergi ke ruang lain.


Sambil menunggu Ian,Lily meminum teh dan dessert ringan yang disediakan pemilik butik tadi.Tiba-tiba,Lily teringat kejadian di kereta kuda beberapa hari lalu,saat Ian memeluknya secara tiba-tiba.Hanya dengan memikirkan nya saja,wajahnya sudah berubah merah padam.


'Apa yang sebenarnya aku pikirkan dasar bodoh!'


Karna bosan,Lily berkata pada pelayan butik akan keluar sebentar mencari udara segar.


"Hah,benar-benar membosankan." gumam Lily di luar butik.


Sekilas,ia melihat sebuah toko antik di sebelah butik yang membuatnya penasaran.Lily beranjak pergi ke toko itu tanpa sepengetahuan pelayan butik.


/Di toko antik.


"Selamat sore nona cantik,ada yang bisa saya bantu?" seorang kakek tua menyapa Lily dan bertanya.


"Selamat sore juga tuan.Apa tuan penjual barang-barang antik ini?" tanya Lily


"Seperti yang nona lihat,ya itu benar.Banyak barang antik disini,tetapi sangat jarang orang membelinya."jawab kakek itu sedikit sedih.


"Apakah saya boleh melihat lihat?" tanya Lily.


"Tentu saja boleh nona." jawab kakek itu dengan senyuman.


Lily melihat banyak barang antik disini.Mulai dari perabotan sederhana dan beberapa jam kuno.Lalu sebuah kalung berwarna emas dan jam pasir yang usang menarik perhatiannya.


"Kalung dan jam pasir ini terlihat mahal." ucap Lily sambil mengambil kalung emas yang usang itu.


"Ah,itu bukan kalung nona,itu jam." jawab kakek itu sambil tertawa.


"Eh!?Yang ini bukan kalung?!" tanya Lily kaget.


"Bukan,nona dapat mengetahuinya dengan membuka jam itu." jawab kakek.


"Membuka?" Lily mencoba membuka jam itu dari beberapa sisi.Jam itu pun terbuka dan menunjukkan isi nya yang sebenarnya.


"Wah!Ini betul jam,indah sekali." ucap Lily terpungkau melihat jam berhiaskan beberapa permata kecil itu.


"Kelihatanya nona menyukai jam itu." ujar kakek.


"Iya!Saya sangat suka." jawab Lily senang.


"Nona bisa memiliki kedua jam itu.Saya tidak akan meminta harga untuk jam itu." ucap kakek.


"Eh!?Maksud anda gratis?Saya tidak perlu membayar?" tanya Lily.


"Iya nona." jawab kakek itu dengan senyum tulus.


"Tapi,saya tidak bisa menerima ini secara gratis" ucap Lily tidak enak pada kakek itu.


"Tidak apa apa,anggap saja itu benda keberuntungan nona dari saya. Saya mohon nona bisa menyimpan itu baik baik." ucap kakek.


"Baiklah tuan,terima kasih banyak." ujar Lily berterima kasih.


Lily pun pamit pulang pada kakek,karna harus segera kembali.Tapi-


Bruk!


"Aduh!" Lily tidak sengaja terjatuh karna bertabrakan dengan seseorang didepan pintu toko.


"Nona tidak apa apa?!Maafkan saya." ucap seorang laki-laki berambut merah dan mata ungu dengan suara lembut.Ia memberikan tangannya hendak membantu Lily berdiri


"Ah,saya tidak apa-apa." Lily menerima uluran tangan pria itu.


"Saya minta maaf,karna saya gaun nona jadi kotor." ucapnya agak sedih.


"Eh!Tidak udah pedulikan gaunnya,saya tidak apa-apa.Seharusnya saya yang minta maaf karna tidak memperhatikan jalan.." jawab Lily.


"Lily kau darimana saja?" Ian yang baru saja keluar dari butik.Ia menghampiri Lily yang sedang bersama pria asing itu.


"Maaf,saya baru saja mengunjungi toko antik,lalu tidak sengaja bertabrakan dengan pria ini." ujar Lily menjelaskan.


Ian melihat laki laki didepan Lily.Tampak ia sedikit terkejut,dan sontak membungkuk.


"Saya memberi salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota.Semoga Dewa memberkati anda." ucap Ian.


Seketika wajahku sangat kaget mendengar Ian memberi salam kepada pria asing ini.


'E-eh!?Apa!?Putra Mahkota!?!?'


Bersambung...