Vita Nova

Vita Nova
Episode 87 "Pertama dan Terakhir" (END Season 2)



Flashback


"Jadi,apakah kakak tidak masalah siapa yang akan naik tahta nanti?" tanya Pangeran Arhen.


"Tentu saja.Tugas kita nanti hanyalah mendukung dan menghormati keputusan yang anak-anak kita buat.Dan,tentunya itu bermaksud ke hal yang baik." jawab Putra Mahkota sambil tersenyum.


Pangeran Arhen baru pertama kali melihat Putra Mahkota tersenyum kepadanya setelah sekian lama.Pangeran membalas senyuman itu dengan ikhlas.


"Terimakasih,kak Felix."


.


.


Episode 87


2 minggu kemudian


"CEPAT AMBILKAN AIR!LADY TOLONG BERTAHAN LAH!"


"ARGHHH!!"


"DORONG LEBIH KUAT!"


"LADY BERTAHANLAH! MARCHIONESS DAN TUAN SAINT AKAN SEGERA TIBA!"


BRAKK!!


"MARCHIONESS!TUAN SAINT!"


"KATAKAN DETAILNYA!"


"Tekanan darah Lady Arina sangat rendah..sudah 15 menit berlalu tapi kepalanya bahkan belum terlihat!Lady juga kesulitan mendorong karna tubuhnya lemah..!Anda harus bergegas,Yang Mulia Marchioness."


"Ini buruk..Cika,gunakan sihir mu untuk menambah tenaga pada Lady Arina!Aku akan membantu dibawah untuk mengurangi rasa sakitnya."


"APA?!ZERGAN ITU BISA MEMBERIKAN EFEK SAMPING YANG BURUK PADA ARINA! TUBUHNYA BISA LUMPUH SELAMANYA JIKA MENERIMA SIHIR ITU!"


"Kita tidak ada pilihan lain!Kondisi keduanya penting!"


"Baiklah!.."


Zergan dan Lily pun bergegas pada posisinya masing-masing.Pangeran Arhen berada di samping Arina dengan sangat cemas.Genggaman tangannya sangat erat, menguatkan Arina yang saat ini mati-matian mengorbankan hidupnya demi anak mereka.


"Arina bertahanlah!Kamu pasti bisa!.."


"Lady!Anda dengar saya kan!Tolong tetaplah berusaha!Saya disini untuk membantu anda!"


Lily mulai menyalurkan sihirnya demi kekuatan Arina.Walau ini akan berdampak negatif nantinya,tapi tidak ada cara lain.


1 jam berlalu.Proses persalinan pun selesai dengan normal.Yang Mulia Ratu dan Permaisuri segera masuk ke kamar dan mengecek kondisi Arina.


Arina bersandar di tubuh Pangeran Arhen yang memeluknya.Pangeran mencium kening Arina lama sambil menangis.


"Kamu berhasil Arina..Anak kita sudah lahir." ucap Pangeran.


"Kamu sudah berusaha keras,putriku.." ucap Permaisuri menangis bahagia.Ratu pun ikut menangis bahagia melihat persalinan berhasil.


Tak lama kemudian seseorang mendobrak pintu paviliun.Tak disangka orang itu adalah Duke Wilen yang sekarang adalah Baron, serta kedua kakak Arina.Wajah mereka tampak sangat cemas.


"Arina!"


"Ayah?..Kak Olux dan Kak Eri.."


Mereka bertiga segera mendekati Arina karna sangat khawatir.Ratu dan Permaisuri pun lega melihat keluarga Arina datang setelah sekian lama,terlebih Lady Eri yang sudah menikah datang tanpa membawa suaminya,dan Olux yang 3 bulan lalu sudah kembali ke Kekaisaran.


"Ya ampun putriku.. lihatlah dirimu..Kamu begitu berantakan.." ucap Baron.


"Tidak apa-apa ayah..demi putraku.." balas Arina begitu lemas.


"Kak Olux dan kak Eri.sudah lama tidak bertemu . bagaimana kabar kakak?.." lanjut Arina bertanya.


"Kami sangat baik-baik saja Arina..Maafkan kami tidak pernah ada disisimu selama ini.." jawab Olux.


"Arina..kakak benar-benar minta maaf.." ucap Eri.


"Tidak..ini semua salahku sendiri..biarkan aku menanggungnya.Jangan salahkan diri kalian sendiri.." balas Arina.


Tak berselang lama,Zergan dan Lily datang menggendong seorang bayi kecil berambut hitam di tangannya.


"Lady,ini putra anda." Zergan memberikan bayi itu pada Arina dan Pangeran Arhen.


Mata mereka membelalak.Betapa kecil dan lucunya bayi itu,bayi mereka berdua.


"Lucunya!!" Ratu dan Permaisuri sangat gemas melihat bayi itu.Tidak terkecuali Eri yang sampai mimisan melihat bayi itu.


"Anak ini..putra kita?.." Arina meneteskan air matanya.Ia tersenyum lebar melihat anak itu terlahir normal dan sehat.


"Dia sangat mirip denganmu..Dia putra kita..Kamu sudah berusaha keras." ucap Pangeran Arhen ikut tersenyum.


Arina menangis sejadi-jadinya sambil memeluk putranya.Pangeran Arhen pun menangis,mengingat setelah ini ia akan pergi bersama Arina meninggalkan putra mereka.


"Arina..nama apa yang cocok untuknya?" tanya Pangeran Arhen.


Tidak ada jawaban.Suara tangisan Arina pun tidak terdengar.Tiba-tiba anak mereka menangis kencang.Lily dengan sigap mengambil bayi itu dan mencoba menenangkannya.


"Arin-?!!"


Pangeran Arhen tidak merasakan denyut nadi di leher Arina.Nafasnya pun tidak terasa.Tangan Arina jatuh lemas begitu saja.


"ARINA!!"


Semua orang panik begitu Arina tidak bergerak.Zergan dan Lily segera mencoba segala cara untuk memulihkan Arina.Semua usaha mereka lakukan dengan sihir.Lily bahkan sampai menghubungi Vel dan Bel.


Dalam sekejap Vel dan Bel sudah tiba disana membantu.Keluarga Arina,Ratu dan Permaisuri pun sangat cemas pada Arina,terlebih Pangeran Arhen yang tak henti memanggil nama wanita itu terus menerus layaknya orang gila.


Semua usaha yang mereka lakukan hasilnya nihil.Nyawa Arina sudah tidak terselamatkan.


"Maafkan saya pangeran...Nyawa Lady Arina..sudah tidak bisa diselamatkan." ucap Lily sedih.


"Tidak..tidak mungkin..Arina bangunlah..jangan bercanda seperti ini.Kamu bilang kita akan pergi bersama bukan?..Arina kumohon buka matamu..anak kita menunggu...Arina, bangunlah!.."


Semua harapan pangeran Arhen hilang.Arina pergi meninggalkannya duluan.


"Ibu..Arina hanya tidur kan?.." tanya pangeran pada Permaisuri.Tapi,beliau sudah menangis bersama Ratu.Baron dan anak-anaknya juga menangis tanpa suara.Lily pun menangis,menyesal tidak bisa menyelamatkan nyawa Arina.Zergan mencoba menenangkan Lily,ia juga merasa bersalah tidak bisa menolong Arina.


"Vel..tolong hubungi Lucas..Bel,tolong katakan pada Ian dan adik-adiknya untuk bersiap besok pagi.." bisik Zergan.


"Baiklah.." Vel dan Bel pun pergi sesuai perintah Zergan.


"Marchioness..Arina hanya bercanda kan?..Dia tidak meninggalkan ku bukan?.." tanya Pangeran Arhen pada Lily.


"Pangeran..Maafkan saya..." jawab Lily sambil menangis deras.


.


.


Esok paginya,upacara pemakaman Arina berlangsung penuh kesedihan, terlebih langit yang tertutup awan gelap,menambah rasa sakit untuk Pangeran Arhen.Hari ini ia juga akan pergi meninggalkan Kekaisaran Raveldra setelah pemakaman usai.


Pangeran Arhen berlutut di depan makam Arina sambil menggendong anak mereka.Upacara itu hanya di hadiri oleh keluarga kerajaan,keluarga Darvin,keluarga Wilen,serta Lucas,Lily,Ken,dan juga Zergan.


"Arina.. bagaimana disana?..Kamu pergi begiu saja tanpa meninggalkan sepatah katapun untukku dan anak kita."


"Kemarin,anak kita sempat membuka matanya..Dia punya mata yang sama denganku.Dia sangat menggemaskan..aku tidak tega untuk meninggalkannya.Ini akan menjadi terakhir kalinya aku melihatnya.Aku juga sudah memikirkan namanya sejak kemarin malam.Aku..ingin dia menjadi orang yang sepanjang hidupnya diberkati..maka dari itu aku memberinya nama Asher.Bagaimana?Dia akan menjadi pemuda yang sangat tampan nanti.."


Pangeran Arhen menangis.Betapa sakit hatinya ia harus pergi meninggalkan anak semata wayangnya setelah kepergian istrinya.Tapi,ia harus menanggung dosa atas semua yang ia perbuat.


"Arina..suatu saat nanti kita akan bertemu lagi di kehidupan kedua.Kita akan saling mencintai..menikah..hidup bersama dan punya anak seperti Asher..Sampai saat itu tiba..tunggulah aku disana.Aku akan menghapus semua dosa yang ku perbuat dan pergi menemuimu...Aku mencintaimu."


Tangisan pangeran Arhen menjadi makin deras setelah ia mencium batu nisan milik Arina.Asher yang digendong oleh Pangeran Arhen ikut menangis.Putra Mahkota mendekati Pangeran Arhen, memberi isyarat untuk segera menyelesaikan pemakamannya.Pangeran mengerti,ia kembali ke belakang dan hendak mengucapkan perpisahan pada keluarganya.


"Semuanya..saya sangat meminta maaf atas semua kesalahan saya.Setelah ini,saya akan menghabiskan seluruh hidup saya untuk menembus semua dosa yang selama ini saya perbuat.Saya..hanya punya satu permintaan..Tolong jaga putra saya.Saya tidak pantas menjadi seorang ayah untuk anak ini.."


Para wanita yaitu Ratu, Permaisuri,Lily dan Yesra menangis melihat Pangeran Arhen sekarang.Mereka tidak tega melihat Pangeran Arhen terpaksa meninggalkan Kekaisaran demi menembus dosanya,dan tidak melihat Asher tumbuh besar nanti.


"Putraku..jagalah dirimu baik-baik..Ibu akan menjaga Asher dengan baik.." ucap Permaisuri sambil menangis tersedu-sedu.


"Terimakasih banyak..Ibu.." balas pangeran menahan air matanya.


"Grand Duke Everon..Saya titip Asher.." Pangeran memberikan Asher pada Lucas.Dengan sukarela Lucas menerima permintaan Pangeran Arhen untuk terakhir kalinya.


"Pangeran..dengan seluruh jiwa dan raga saya,akan saya berikan demi keselamatan putra anda." ucap Lucas.


"Aku juga karna aku pamannya." lanjut Ken.


"Terimakasih banyak Grand Duke dan Marquess.."


Pangeran Arhen menatap Yesra dan Yusto yang ada disebelah Lucas.Ia tersenyum tipis melihat kedua adiknya sudah besar.


"Yesra, putraku mirip denganmu ya.Mungkin suatu saat nanti kamu bisa menjadi ibu baptisnya." ucap Pangeran Arhen tersenyum tipis.


"Kak Arhen..Jaga dirimu baik-baik..Aku berjanji akan menjaga Asher seperti anakku sendiri.." ucap Yesra menangis deras.


"Hahaha,aku percayakan padamu dan juga Yusto." Pangeran Arhen mengusap lembut kepala Yesra dan Yusto.Yusto hanya diam karna menahan air matanya.


Secara bergilir,Pangeran Arhen meminta maaf pada setiap orang.Saat giliran Baginda Kaisar,beliau menangis dan memeluk erat putranya itu.Ia terus mengucapkan kalimat berkat untuk putranya.Sekarang giliran Ian dan Lily.


"Ian dan.. Marchioness..Maafkan saya yang telah berbuat seenaknya dimasa lalu..Saya harap anda berdua memaafkan saya.."


"Saya sudah memaafkan anda pangeran,tapi.. entah kalau Ian." Lily dan Pangeran Arhen menatap Ian cukup lama.Tatapan Ian datar seperti biasa tapi terkesan kesal dengan Pangeran Arhen.


"Aku sudah memaafkannya,dan..semoga anda selalu sehat,Arhen." ucapnya cuek.


"Terimakasih banyak, Ian."


Setelah selesai,Zergan memberikan doa dan berkat untuk Pangeran Arhen.Tak lupa,ia diam-diam memberikan sihir pendeteksi dari Lily sesuai perintah Lily.


"Izinkan saya mengambil gambar sebagai kenang-kenangan."


"Eh?Lily?"


Lily berlari cukup jauh ke depan,ia menggunakan sihir angin untuk menahan smartphone nya diudara.


"Kau pintar juga." ucap Zergan.


"Otakku lancar tidak seperti mu." balas Lily tenang.


"Semuanya, tersenyumlah ke arah sana!Aku hitung ya! 1..2..3!"


.


.


Saat itu juga,adalah hari terakhir dimana mereka akan melihat Pangeran Arhen.Setelah itu, Pangeran Arhen benar-benar pergi meninggalkan Kekaisaran,dan tidak akan kembali.Sekiranya ia kembali,mungkin hanya akan mengunjungi makam Arina atau melihat Asher secara jauh.


"Aku akan kembali untukmu suatu saat nanti..Asher.."


Perjalanan panjang Pangeran Arhen akan dimulai.Ia merasa seseorang terus berada disisinya sejak keluar dari gerbang perbatasan.


"Aku selalu disisimu,Arhen.."


"Eh?" Suara samar-samar seorang wanita terdengar di telinga Pangeran Arhen.Ia sangat yakin kalau itu adalah suara Arina.Senyum lebar pun terukir jelas di wajah pria itu.


'Terimakasih Arina..'


.


Saat kembalinya Lucas ke mansion,ia kembali bersama Yesra sebagai pengganti sosok ibu dari Asher,bisa dibilang pengasuhnya. Orang-orang di mansion sangat senang dengan kedatangan Yesra dan Asher karna merasa memiliki nyonya besar dan Tuan Muda.


Sebelumnya,alat sihir pendeteksi yang ada bersama Lily,ia berikan pada Lucas untuk memantau Pangeran Arhen.Lucas menerimanya untuk berjaga-jaga jika Asher suatu saat nanti mencari sosok ayahnya.


Sementara itu,Ian dan Lily.


"Perpisahan yang menyakitkan ya.."


"Kamu menangis cukup deras tadi."


"Tentu saja! Siapa yang tidak menangis melihat perpisahan seperti itu?!..Ya,mungkin itu cuma kamu."


Ian tersenyum tipis melihat Lily.Dia merasa sekarang kondisinya sangat tenang untuk mereka berdua.


"Lily,kamu tidak mau mengatakan sesuatu padaku?"


"Eh?Apa?.."


"Mungkin..rahasia?"


Lily tersentak.Ia mulai khawatir Ian mengetahui asalnya.Apakah ini waktu yang tepat?


"Aku akan mengatakannya nanti."


"Aku akan menunggu."


Ian mendekatkan Lily padanya.Perlahan wajah mereka berdekatan dan akhirnya mereka berciuman.


Suasana tenang dan tidak berisik di halaman Istana sangat mendukung kedua pasangan itu.Setelah sekian lama,Ian bisa mencium lagi bibir wanita itu dengan tenang.


"Aku mencintaimu,Lily."


"Aku juga,Ian."


(END S2)