Vita Nova

Vita Nova
Episode 78 "Brotherhood"



Flashback


"CIKA!MAAFKAN AK-UGH!!"


"TERUSLAH BERKATA SEPERTI ITU SAMPAI USUS MU KELUAR DARI MULUTMU!!"


"APA KAU GILA?!KAU MAU MEMBUNUH-AKHH!!"


"Apa?..kau mau melawanku?.."


"KENAPA AKU SELALU JADI KORBAN KEKERASAN MU?!"


"KARNA ITU SALAHMU BODOH!"


"AKH!!"


Ian, Lucas dan Putra Mahkota yang mendengar teriakan itu dari ruangan ikut merinding ketakutan.


'Tuan Saint..semoga anda selamat..' batin mereka bersamaan.


.


.


Episode 78


Malam pun tiba.Langit tampak sangat cerah dan bulan bersinar cukup terang.Udara musim gugur waktu malam benar-benar dingin.


"ugh.."


'pusing..'


Yesra perlahan membuka matanya.Rasa sakit di kepalanya sangat menggangu.Tangannya terasa berat, disebelahnya ada Yusto yang tertidur pulas dengan posisi duduk sambil menggenggam tangan Yesra sejak tadi.


'Bodoh.. tubuh mu bisa sakit..' pikir Yesra.


Dia mencoba membuka mulutnya dan bicara.Suaranya sama sekali tidak keluar.


'Lho?.. sepertinya aku kurang minum..' pikir Yesra.Di meja sebelah kasurnya ada air putih dan botol kaca berisi cairan halusinasi.


Yesra mendekat perlahan ke arah meja.Ia mengabaikan cairan halusinasi itu dan hanya minum segelas air putih.


"Huh..dingin..",gumam Yesra dengan suaranya yang sangat pelan.


Perlahan ia beranjak dari kasurnya.Mengambil selimut dan memberikannya pada Yusto.Yesra keluar dari kamarnya hendak masuk ke kamar kakaknya.


"Kepala ku sangat berat.." gumamnya.


Yesra berjalan sambil meraba dinding,melewati kamar Yusto lalu ke kamar Ian.Sesampainya di depan kamar Ian,rasa sakit itu makin parah.Tanpa basa-basi Yesra membuka pintu kamar kakaknya.


Pengelihatannya kabur,ia tidak bisa melihat dengan jelas,hanya sosok bayangan pria yang ia kira Ian.


"Kakak.." ujar Yesra lemas memanggil pria itu.


"Eh?Yesra?" sosok bayangan itu bukan Ian,melainkan Putra Mahkota.


Suaranya tidak begitu jelas di telinga Yesra,ia tidak bisa membedakan suara Ian atau suara Putra Mahkota sekarang.


"Kenapa kau berjalan kesini?Tubuhmu masih lemah,harusnya kau menggunakan lonceng." ucap Putra Mahkota cemas.


"Udaranya dingin,kau tidak menggunakan selimut dan hanya menggunakan pakaian tipis itu?yang benar saja." Putra Mahkota mengambil selimut dan memberikannya pada Yesra.


Wajah Yesra benar-benar pucat.Tubuhnya sangat lemas,dia bahkan susah untuk berdiri sekarang.


"Yesra,kau harus-?!"


Tubuh Yesra jatuh saking lemasnya.Putra Mahkota dengan sigap menangkap Yesra.


"Hah..kakak..aku lelah.." ucap Yesra lemas.


'Apakah dia berpikir aku ini Ian?Mungkin pengelihatan dan pendengarannya cukup terganggu.' pikir Putra Mahkota.


"Kau belum makan sejak pagi,tentu saja lemas.Mau makan dulu?" ujar Putra Mahkota menawarkan.


"Aku mau bubur buatan Lily.." ucap Yesra.


"Baiklah,aku akan segera kembali.Tunggu disini." Putra Mahkota membaringkan Yesra lalu beranjak keluar.


Ia mencari Lily di kamarnya tapi tidak ada.ruang tamu dan ruang keluarga bahkan ruang makan juga tidak ada.


"Dimana dia?Padahal sudah tengah malam." gumam Putra Mahkota sambil menyusuri lorong-lorong mencari Lily.


Sampai dimana Putra Mahkota melewati lorong yang mengarah ke taman.Disana ia mendapati Ian dan Lily sedang membicarakan sesuatu dengan raut wajah muram.


Putra Mahkota sontak bersembunyi dibalik pilar dan mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Keadaan Yesra memang separah itu..aku bahkan sangat syok melihat ingatan itu.",ucap Lily.


"Ian,apakah kau tidak merasakan apa-apa?.." lanjut Lily bertanya.


"..soal itu, sebenarnya aku sangat ketakutan melihat hal itu terjadi tepat didepan mata kepalaku sendiri...Aku sudah sering melihat mayat yang tidak utuh di medan perang,tapi..kali ini berbeda.Beliau ibu ku,dan seharusnya aku sebagai anak nya melindunginya..tapi aku gagal.Jujur saja,saat itu aku tidak bisa bergerak sesaat,tapi begitu sadar aku terpaksa menggerakkan badan yang tidak mau bergerak ini.Melihat Yesra yang duduk dengan badan gemetar sontak aku menebas iblis itu dan membawa Yesra keluar." jawab Ian sambil menggenggam tangannya yang gemetar.


Lily tidak kuasa menahan air matanya melihat Ian seperti itu.Raut wajah Ian seolah ingin menangis tapi air mata tidak keluar dari pupil biru tua miliknya.


"Ian..kau anak terhebat yang mendiang Grand Duchess punya..pasti beliau begitu bangga padamu.." ucap Lily sambil berlinang air mata.


Ian tersenyum pahit.Ia mengusap air mata Lily dan mencium keningnya.


"Tidak apa-apa.Aku bisa menangani perasaan ini dan juga aku punya kamu disisiku,jadi aku tidak khawatir." ucap Ian sambil meletakkan tangan Lily di pipinya.


Rasa nyaman dari tangan Lily membuat Ian lega.Berada di dekat wanita itu membuat hati dan pikirannya yang bercampur aduk menjadi tenang.


"Ian?"


"Biarkan seperti ini sebentar saja."


"Baiklah,lakukan yang kamu mau." Lily menempelkan keningnya ke kening Ian.Keheningan itu membuat mereka berdua begitu menikmati suasana malam yang begitu dingin menjadi lebih hangat diantara mereka.


Putra Mahkota yang melihat itu semua dibalik pilar merasakan sakit di dadanya.Dia merasa tidak bisa bernafas dengan teratur dan segera kembali ke kamar.


'Sakit..'


Raut wajahnya sontak berubah muram dan gelap.Sorot mata nya kosong.Ia terus memegang dadanya yang sakit dengan erat.Begitu sampai di kamar,ia melihat Yesra duduk di pinggir ranjang dengan wajah khawatir.


"Kakak darimana?aku takut.." ucap Yesra pelan.


Putra Mahkota yang melihat Yesra menunggunya seperti itu perlahan melupakan rasa sakit di dadanya.Ternyata beginilah Yesra yang manja pada Ian seperti yang pernah diceritakan mendiang Grand Duchess padanya.


"Dasar..Yesra juga adikku walau sepupu..Aku iri sekali pada Ian." gumam Putra Mahkota dengan senyumannya yang terkesan terpaksa.


Yesra berjalan mendekat ke arah Putra Mahkota dan memeluknya.


"Kakak..jangan sedih..aku tahu kakak pasti merasa sangat kehilangan ibu..tidak hanya kakak tapi kita semua kehilangan sosok ibu.." ucap Yesra dengan suara bergetar.Saat ini dia pasti sedang menangis di dada Putra Mahkota.


"Yesra..", Putra Mahkota tidak tega melihat Yesra menangis seperti itu,ia pun membalas pelukan Yesra dan mengusap rambutnya pelan.


"Aku ingin bertemu ibu..untuk terakhir kalinya..aku ingin minta maaf padanya tapi tidak mungkin.." ucap Yesra.Putra Mahkota terdiam dan teringat cairan halusinasi yang diberikan ibunya.


"Eh?Kakak?.."


'Tidak biasanya kakak memelukku dengan lembut seperti itu..suaranya juga sedikit lebih ringan dari biasanya..Semuanya masih buram .' pikir Yesra.


"Akh..!Kepalaku..", Rasa sakit di kepala Yesra kembali menyerangnya.Dia terduduk di lantai sambil mengerang kesakitan.


Zergan yang baru saja kembali dari perpustakaan melewati kamar Ian melihat Yesra.Matanya membelalak terkejut,ia segera menghampiri Yesra.


"Yesra!Apa yang terjadi?!"


"Kepalaku..eghh!Sakit..AKHHH!!"


Suara Yesra terdengar sampai ke telinga Lily dan Ian, begitu juga dengan Yusto yang langsung terbangun dari tidurnya.Putra Mahkota mengambil cairan halusinasi dan pergi ke ruangannya bersama Yusto.


"Yesra!Bertahanlah!" Zergan mengangkat tubuh Yesra dan segera membaringkan tubuhnya di kasur.Sekeras mungkin dia mencoba meredakan rasa nyeri di kepala Yesra dengan sihirnya.


Tak lama kemudian Ian,Lily Putra Mahkota,dan Yusto tiba di kamar Ian begitu melihat sinar sihir Zergan di kamar Ian.Dengan raut wajah yang begitu panik mereka masuk karna suara Yesra yang makin nyaring.


"Zergan!Apa yang terjadi?!" tanya Lily panik.


"Aku tidak tahu..Aku baru saja kembali dari perpustakaan dan melewati kamar Ian.Aku sudah melihat Yesra terduduk di lantai sambil memukul kepalanya.. Sepertinya dia sangat kesakitan.." jawab Zergan.


"Akhhh..!Sakit..keluarlah dari kepalaku!!" teriak Yesra yang tampak makin kesakitan.


"Disaat ini cairan halusinasi tidak akan berfungsi,kita harus meredakan rasa sakitnya dulu.." ucap Zergan.


"Baiklah,aku akan mencobanya." Lily ikut membantu Zergan meredakan rasa sakit Yesra.


Sementara itu Putra Mahkota menjelaskan semuanya pada Ian dan Yusto sejak awal sampai akhir,tapi dia tidak menceritakan soal dia mendengar pembicaraan Lily dan Ian tadi.


"Akh..Yusto..Yusto kau dimanaa.." ucap Yesra lirih sambil menangis.


"Aku disini Yesra.." Yusto segera menghampiri Yesra dan menggenggam tangannya.Yesra mencoba bangkit dari tempatnya dan memeluk Yusto erat.


"Aku takut..jangan tinggalkan aku.." ucap Yesra yang masih dipulihkan Zergan dan Lily.


"Aku tidak akan meninggalkan mu Yesra..tenanglah.." ucap Yusto menenangkan Yesra.


Perlahan rasa sakit Yesra menghilang.Ia sudah kembali tenang dan terlihat sangat kelelahan.Matanya bengkak karna menangis daritadi.


Zergan mengambil cairan halusinasi dari Putra Mahkota dan meminta Yesra meminumnya perlahan.Yesra meminum cairan itu dan duduk bersandar di dada Yusto.Setelah itu Yesra tertidur.


"Dia akan berada di alam halusinasi untuk bertemu seseorang yang ingin dia temui.Dia akan bangun sebentar lagi." ucap Zergan.


"Begitu ya,baiklah..Omong-omong kenapa pelayan yang lain tidak bangun?Kak Lucas juga." tanya Lily heran.


"Aku menggunakan sihir peredam suara di kamar mereka.Aku juga menggunakannya pada Lucas karna 'sesuatu'." jawab Zergan.


Lily memiringkan kepalanya bingung.Apa yang Zergan maksud dengan 'sesuatu' itu?


/Di alam bawah sadar Yesra


"Yesra, bangunlah nak."


'Lho?suara ini.."


Suara lembut yang memanggil namanya.Sontak Yesra membuka matanya dan mendapati mendiang Grand Duke dan Grand Duchess tepat di depan matanya tersenyum lembut.


"Ayah?..ibu?.."


"Halo Yesra,apa yang terjadi padamu nak? kenapa kamu sangat berantakan seperti ini?.." tanya Grand Duchess begitu khawatir.


"Apakah Ian atau Yusto mengganggu mu? Bagiamana dengan Felix?dia juga?Awas saja mereka mengganggu putriku satu-satunya!" ucap Grand Duke kesal dan mengepalkan tangannya.


Yesra melamun menatap mereka berdua.Air mata perlahan membasahi kedua pipinya.Grand Duchess kaget dan segera mengusap air mata Yesra.


"Yesra ada apa nak? kenapa kamu menangis?.." tanya Grand Duke.


"Ini..benar-benar kalian?.." tanya Yesra dengan suara lirihnya.


"Apa maksudmu?tentu saja ini kami.Walau kami bukan lagi manusia normal, tapi ini adalah kami." ucap Grand Duchess.


"Apa maksudnya? Kenapa aku disini?..apakah aku sudah mati?.." tanya Yesra kebingungan.


"Kamu berada di alam bawah sadar karna efek cairan halusinasi.Cairan itu membantumu melihat orang yang sangat ingin kamu temui dalam jangka waktu pendek." jawab Grand Duke.


"Jangka pendek?..itu artinya setelah ini kita tidak bisa bertemu?!.." tanya Yesra lagi.


Grand Duchess mengangguk, "Benar,walau kamu menggunakan cairan halusinasi itu lagi tapi itu mustahil karna kamu ingin bertemu dengan orang yang sama." jawabnya.


"Waktu kita tidak banyak.Yesra,dengarkan ayah."


"He?"


Grand Duke memeluk Yesra dan istrinya.Grand Duke dan Grand Duchess mencium kedua pipi Yesra bergiliran.


"Yesra,walau kita tidak akan bertemu lagi sekarang,tapi percayalah suatu saat nanti kita akan bertemu lagi.Saat ini percayalah pada kakak-kakak mu.Ingatlah,kamu adalah satu-satunya Tuan Putri di Kekaisaran ini.Kamu adalah putri dari saudara Kaisar.Mau orang berkata apapun,kamu tetaplah putri ku dan keturunan Kaisar sebelumnya.Disaat Ian atau Yusto tidak ada di samping mu,masih ada Putra Mahkota Felix yang akan selalu ada,dia juga kakakmu.Lily dan Grand Duke Everon pasti juga akan membantumu kapanpun,maka dari itu tetaplah sehat dan hiduplah bahagia disana."


Setelah mengucapkan itu semua,tubuh Grand Duke dan Grand Duchess perlahan menghilang dan berubah menjadi butiran cahaya yang bertebaran.


"T-tunggu!Ayah!Ibu!!Jangan pergi!Maafkan aku tidak bisa menjaga kalian!" ucap Yesra begitu sedih dengan kepergian mereka berdua sekaligus merasa bersalah.


"Kami menyayangi mu putriku." ucap mereka berdua lalu menghilang.


Diluar alam bawah sadar Yesra,dia menangis.Dia bergumam terus menerus.


"Kakak..Yusto.." gumam Yesra pelan masih di pelukan Yusto.


"Ian, Yesra memanggil mu." ucap Putra Mahkota menyenggol bahu Ian.


"Hm, mendengar ceritamu tadi sepertinya 'kakak' yang Yesra maksud adalah kau." ucap Ian balas menyenggol bahu Putra Mahkota.


"Apa maksudmu?Kau lah kakaknya." ucap Putra Mahkota.


"Kau juga kakaknya jika disesuaikan." balas Ian.


"Aku hanya sepupu kalian, cepatlah kesana!" ucap Putra Mahkota mulai sedikit kesal.


"Ha?Sudah jelas itu kau!" balas Ian ikut kesal.


"Ekhem." Lily sudah berdiri tegak dengan kedua tangan disilangkan didepan dadanya.Sorot mata tajam menatap Ian dan Putra Mahkota bergantian, beralih menatap Yesra.


"Baiklah.." Ian dan Putra Mahkota mendekat ke Yesra dan Yusto.


Kedua tangan Yesra tampak begitu pucat dan dingin.Putra Mahkota menggengam tangan kanan Yesra sedangkan Ian tangan kiri.Mereka berdua serempak mencium punggung tangan Yesra.


"Aku menyayangi kalian.." gumam Yesra dalam tidurnya.


Ketiga bersaudara sepupu itu tersenyum.


"Selamat Tidur,Tuan Putri."


Bersambung..