Vita Nova

Vita Nova
Episode 63 "Petunjuk"



Flashback


"MATI KAU!!" sebuah pisau tajam dengan cepat menyerang Lily dari balik tangan Fei,


"Ukh!-" Lily langsung menghindari serangan Fei dan mencengkram tangannya,


"Lepaskan!-AKH!" Lily memutar tangan Fei kebelakang dan menyekapnya ke lantai,


"Siapa kau?!?Katakan padaku!" desak Lily,


"AKH-!LEPAS!"


Tak lama kemudian seseorang mendobrak pintu kamar Lily dengan sangat keras,membuat Lily dan Fei menatap ke arah pintu,


"!?!"


Lucas berdiri di ambang pintu dengan tatapan syok dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini,


"L-lily?.. kau..apa yang kau lakukan pada Fei?..kenapa kau menyerangnya?.."


.


.


Episode 6****3


"Kakak?.."


"Aku bertanya padamu!!Apa yang sudah kau perbuat pada Fei?!"


Lucas mendekati Lily dan Fei dengan tatapan marah yang ditunjukan pada Lily.Lily tidak dapat membuka mulutnya melihat tatapan Lucas padanya.Fei tiba-tiba pingsan.Lily melepaskan cengkraman tangannya dan berdiri.


"Fei!!Bangunlah!"


Lucas mencoba membangunkan Fei tapi Fei tidak tersadar dan menggendongnya.


"Aku akan meminta penjelasan mu nanti." ucap Lucas lalu beranjak pergi,


Lily terdiam membatu.Baru pertama kali ini dia mendapat tatapan kejam dari orang lain selain ibu tirinya.Dada nya terasa sakit,tanpa sadar air matanya mengalir deras.Lily menangis dalam diam.


'Itu..bukan kak Fei..'


/Pagi


"Rina,tolong bantu aku bersiap-siap,sebentar lagi Ian sampai"


"Baiklah Nona!"


"Aku ingin menggunakan gaun yang sederhana saja,kainnya ringan dan..jangan gunakan terlalu banyak riasan.."


Rina memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung,


"Apakah ada yang terjadi semalam nona?" tanya Rina sembari menyisir rambut Lily,


"Tidak..tidak ada.."


Setelah selesai bersiap-siap,Lily segera pergi ke depan pintu ruang utama untuk menyambut Ian.


"Nyonya,apakah ada masalah?..anda sedikit berbeda" tanya Jeremy cemas,


"Tidak..aku baik-baik saja.." jawab Lily pelan,


Tak lama kemudian,kereta kuda milik Ian tiba di mansion Lily.Lily dan para pelayan menyambut kedatangan Ian secara formal seperti biasanya.


Begitu Ian turun dari kereta kuda,dia melihat ekspresi Lily yang berbeda,begitu juga dengan aura yang terpancar darinya.


'Lily memang sederhana tapi..tidak biasanya ia mengurai rambutnya tanpa hiasan,bahkan dia tidak memakai kalung peninggalan mendiang Duchess' batin Ian,


"Selamat datang Yang Mulia Grand Duke,Nyonya Marchioness sudah menunggu anda",ucap Jeremy menghampiri Ian,


"Terimakasih" balas Ian lalu segera mendekati Lily yang berdiri dengan tatapan kosong di ambang pintu.


"Selamat datang Ian.." ucap Lily lemas sambil menunduk,


"Ada apa denganmu?" tanya Ian,


"Tidak ada apa-apa.." jawab Lily,


Ian yang merasa janggal dengan sikap Lily.Ian menyentuh wajah Lily yang pucat dan menatap matanya lekat-lekat.


"Lebih baik kita masuk" ucap Ian,


"Tentu.. ayo"


Lily membawa Ian ke ruang kerja nya dan meminta Rina untuk menyiapkan teh dan camilan pagi.


"Lily,katakan padaku,apa yang terjadi?"


"Tidak ada.."


"Jujurlah,kamu bisa mengatakan padaku apapun"


Lily terdiam,ia tidak bisa berkata apa-apa.Terlalu sulit baginya menceritakan kejadian tadi malam.


"Ian,apakah kamu pernah membentak adik-adikmu?.." tanya Lily,


"Tidak,ibu bilang seorang kakak tidak sepatutnya membentak adik,terutama adik perempuan" jawab Ian,


"Kalau begitu..bagaimana jika seorang kakak membentak adik perempuannya?.." tanya Lily sedikit gemetar,


"...dia tidak pantas dianggap seorang kakak"


Jawaban Ian membuat dada Lily sesak.Ini juga pertama kalinya ia dibentak seperti itu oleh kakaknya sendiri.


"Apakah..Grand Duke Everon membentakmu?" tanya Ian sedikit terkejut,dan Lily mengangguk pelan,


"Jelaskan semuanya.."


Lily pun menjelaskan semua yang terjadi semalam antara Lucas,ia,dan Fei.Mendengar cerita Lily,rasa curiga Ian pada Fei mulai terjawab.


"Mata merah??"


"Benar,padahal kak Fei memiliki warna mata sama seperti kakak..dan juga,aku merasakan sesuatu yang aneh darinya",


"Sepertinya hal ini memang harus diselidiki lebih dalam,dan Kel harus ikut serta dalam penyelidikan ini"


"Iya.."


Ian melihat Lily yang masih murung.Wanita itu benar-benar membuat hatinya bergerak.Ian mendekati Lily yang duduk di depannya dan menempelkan keningnya ke kening Lily,


"Jangan khawatir,kakakmu adalah orang yang tidak terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu.Dan juga,aku selalu ada disini jika kamu butuh bantuan." ucap Ian lembut walau ekspresi nya datar.


Melihat tatapan Ian yang datar tapi hangat itu.Lily merasa sedikit lega karna Ian menghiburnya seperti itu.Wajahnya tampak lebih segar dan senyuman tertampang diwajahnya.


"Tentu saja"


Sesaat setelah itu,para pelayan membawa teh dan beberapa camilan yang sudah Lily minta.


"Oh ya,kamu bilang akan mengatakan hal terjadi pada Vel kemarin kan?" tanya Lily,


"Benar.Kemarin, Vel merasakan kutukan iblis dan aura milik bangsa elf di kristal mana keluarga Grand Duke Darvin" jawab Ian,


"Eh?Elf?" tanya Lily heran,


"Iya.Vel bilang kutukan iblis itu hanya bisa diangkat oleh seseorang yang sudah menjalin hubungan dengan Raja Iblis,seperti Kel.Tapi Vel keras kepala,karna takut kristal mana itu akan mati dan memengaruhi kekuatan kristal mana yang lain.Jadi,Vel terpaksa menyerap kutukan itu dengan menjadikan tangannya sebagai korban.Dilihay dari kondisinya kemarin,dia benar-benar parah karna menahan sakit yang luar biasa" jawab Ian menjelaskan,


"Demi kristal mana..dia sampai seperti itu.." ucap Lily kasihan,


"Bagaimana dengan kondisinya sekarang??" tanya Ian,


"Kutukan nya perlahan menggerogoti aliran mananya..dan Vel sangat kesakitan,untungnya Zergan sudah memberikan obat pereda rasa sakit menggunakan sihir putihnya" jawab Lily,


"Apakah kamu mau menjenguknya?" lanjut Lily bertanya,


"Baiklah" jawab Ian,


Lily dan Ian pergi ke Paviliun Vel dan Bel. Sesampainya disana,Lily dan Ian melihat Vel sedang sarapan dengan Bel dari ambang pintu.


"Oh!Lily!Selamat pagi!" ucap Bel riang,


"Selamat pagi Bel,dan Vel"balas Lily berjalan mendekati ranjang Vel,diikuti Ian,


"Selamat pagi juga Lily.Lho?Ian bersamamu juga?" tanya Vel,


"Ian mulai bertugas dan untuk beberapa bulan kedepan akan tinggal di ibu kota,sekalian datang menjenguk mu dan menceritakan hal yang terjadi kemarin" jawab Lily,


"Aku tidak berniat menjenguknya,aku berniat menjenguk mu" ucap Ian datar,


"Bukankah sekalian menjenguk Vel?tadi kamu sendiri yang minta" balas Lily,


"Tidak" ucap Ian cepat,


"B-baiklah.."


Lily dan Ian mengobrol agak lama dengan Vel dan Bel.Sampai-sampai Lily lupa dengan apa yang menimpanya semalam.


/Disisi lain,di Kuil Suci


Zergan sedang melakukan beberapa tes melalui cairan sihir yang kemungkinan terkandung pada Kristal Mana.Tak lama kemudian Pendeta Agung datang menemui Zergan dengan terburu-buru,


"Yang Mulia,Grand Duke Everon tiba untuk menemui anda",


"Hm?Lucas?Dia tidak mengirim surat apapun padaku",


"Sepertinya hal ini mendesak,beliau sudah menunggu di ruang doa",


"Begitu ya..Baiklah,Damian kau selesaikan 2 lembar uji coba ini,aku akan pergi menemuinya"


"Baiklah Yang Mulia" '2 lembar..mungkin maksudnya 2 gunung..' batin Pendeta Agung pasrah,


/Di ruang doa


Lucas duduk terdiam sambil menunggu Zergan disana.Sampai Zergan tiba,Lucas masih duduk diam.


"Ada apa Lucas?" tanya Zergan sambil berjalan mendekati Lucas,


Lucas berdiri dan membungkuk pada Zergan,


"Salam kepada Yang Mulia Saint, utusan Dewa Agung Lucitus" ucap Lucas memberi salam,


"Tidak perlu kaku begitu,angkat badanmu" balas Zergan merasa terbebani,


"Jadi,apa yang ingin kau bicarakan??" lanjut Zergan bertanya,


"Kemarin,anda pergi ke istana untuk memeriksa kondisi Permaisuri Renata bukan??" tanya Lucas,


"Benar,dan juga Pangeran Arhen, tapi sayangnya Pangeran sedang tidak ada di tempat,dia pergi ke perbatasan hutan Drimson",jawab Zergan,


"Bagaimana dengan kondisi Permaisuri?.." tanya Lucas cemas,


"Tubuh beliau sangat lemah setelah mengamuk,aku merasakan aura gelap yang terpancar di sekitar beliau saat terbaring lemah.Itu bukan sihir,dan bukan juga kekuatan suci" jawab Zergan,


"Saya butuh bantuan anda Yang Mulia",


"Bantuan?"


"Sebenarnya,tadi malam di mansion Lily,saya hendak mencari Fei karna dia tidak ada di kamarnya,dan saya juga bertanya pada beberapa pelayan yang masih terbangun,tapi tidak seorang pun melihat nya.Lalu,saat berjalan di lorong,saya mendengar suara teriakan Fei yang berkata.. 'Mati kau' "


"Apa?!?"


"Saya mendengar nya di dekat kamar Lily..lalu saya mendobrak pintu kamar Lily dan melihat Fei yang menggila di serang Lily,lebih tepatnya Lily melindungi diri dari serangan Fei" jelas Lucas merasa bersalah,


"Lady Chartina menyerang Marchioness?!? Bagaimana bisa?!?" tanya Zergan kaget dan panik,


"Saya tidak tau detailnya,tapi apa yang saya lihat saat itu bukan Fei.. matanya Fei hijau, sedangkan saat itu matanya merah,saya juga melihat sebuah pisau dapur yang tergeletak didekat Lily dan Fei" jawab Lucas,


"Apakah ada bukti kalau Lady Chartina yang menyerang Marchioness?.." tanya Zergan mengepalkan tangannya erat,


"Tidak ada tapi..saya yakin itu adalah kondisi yang sama dengan Permaisuri Renata..sesuai dengan ucapan para dayang yang melayani Permaisuri" jawab Lucas sambil kembali mengingat,


"Kondisi yang sama?.."


"Menurut para dayang,sebelum Permaisuri mengamuk,beliau tampak sangat senang,lalu perlahan beliau mengamuk di meja makan dengan mata yang merah,mungkin tidak terlalu terlihat karna warna mata permaisuri merah muda.Setelah beliau mengamuk, beliau pingsan dan terbaring lemas di tempat tidur",


"Benar..para pelayan juga mengatakan hal yang sama..mungkin saja..mereka dikendalikan oleh sesuatu"


"Dikendalikan??Ah..Fei..mungkin saja"


"Kita harus meminta bantuan Putra Mahkota dan Grand Duke Darvin kali ini",


/Disisi Lily dan Ian


"Ian,apa maksudmu aura elf di kristal mana??"


"Itu adalah kemampuan yang dimiliki bangsa elf selama ratusan tahun,aura bertindak sesuai keinginan pemiliknya,tapi aku tidak pernah tau bagaimana menyalurkan sebuah aura ke Kristal,itu pun tidak pernah ada di dalam sejarah kekaisaran ini",


"Tanah Malterra..mungkin jika kesana kita bisa menemukan petunjuk!" ucap Lily semangat,


"Jangan nekat"


"Hiks.."


Bersambung..