
Flashback
"DASAR JAMUR BUSUK!KEMBALIKAN LILY KU! JANGAN KARNA KAU TAMPAN KAU BISA MENGAMBILNYA SEENAKNYA!!" Vel berteriak marah sambil mencoba mengejar Ian tapi ditahan oleh Bel,
"Berhentilah Stan!Kau ini juga tampan!" Bel berkata keras dan membuat Vel berhenti berlari(?),
"Iya,aku memang tampan dan sangat rupawan" Vel berkata dengan sangat narsisnya dan ekspresi maskulin nya yang glowing membahana menyilaukan mata (?)
"Apa itu? menjijikkan" ucap Bel dan Kel bersamaan dengan kacamata hitam yang sudah mereka pakai,
"APA MAKSUD KALIAN MENJIJIKAN?!DAN DARIMANA KALIAN DAPAT KACAMATA SEPERTI ITU?!"
.
.
Episode 26
Sejak saat itu,Vel,Bel,dan Kel tinggal bersama Lily.Mereka bertiga tinggal di Paviliun yang cocok untuk mereka bertiga,walau Kel ikut bersama Lily,dan sihir cahayanya telah kembali,dia tetap setia menjadi tangan kanan Ian.
Tak lama juga setelah pesta itu, butik milik Madam Sena dibanjiri pelanggan dengan pesanan gaun yang Lily pakai. Bukannya menaikan harga,tetapi Madam Sena menurunkan harga menjadi 90 gold saja dan bisa dicicil,agar rakyat kalangan bangsawan biasa juga bisa memakai gaun yang dibuat oleh masternya itu.
Sudah 2 bulan berlalu sejak kejadian itu,musim semi sudah tiba dan semua orang makin ceria.Bahkan banyak penduduk yang menikah di musim semi karna banyak latar yang bagus untuk pernikahan.
Lily juga sudah menyelesaikan kesalahpahaman antara dirinya dan Ian,dia bahkan rela tidak makan 4 hari jika Lily tidak memaafkannya,tentu saja Lily akan langsung memaafkannya.
Bahkan setelah itu Putra Mahkota Felix datang menemui Lily langsung untuk meminta maaf saat kejadian di kafe waktu itu,dan Lily bertanya apakah Putra Mahkota tau tentang Sihir Nigreos selain Keluarga Darvin,tapi nihil,Putra Mahkota sama sekali tidak tahu tentang pemilik sihir Nigreos kecuali Keluarga Darvin.
"Aku ingin kencan",
"Kencan?baiklah,kau mau kemana?"
"Aku tidak tahu,bukankah kau lebih tau karna sering berpergian?",
"Aku pergi untuk tugas,bukan untuk kencan",
"Hmp-!",
Lily dan Ian sedang berbincang di sebuah Tea House terkenal di Ibu Kota,dan membahas tentang kencan mereka,
"Kenapa kau tiba tiba ingin kencan?biasanya kau tidak seperti ini,ada apa?" tanya Ian pada Lily yang sedang ngambek,
"Aku ingin bersenang-senang denganmu,hanya berdua" jawab Lily malu tapi masih ngambek,
"Bukankah kita lebih baik langsung menikah?itu akan lebih mudah dan menyenangkan",ucapan Ian terdengar licik(?) di telinga Lily,
"T-tidak bisa!jika kita sudah menikah maka kau akan jadi Grand Duke dan akan makin sibuk,aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu" Lily tidak mau menghabiskan waktu di masa mudanya menjadi istri yang ditinggal suami karna sibuk mengurus wilayah,
'Bisa bisa aku jadi janda' pikir Lily,
"Baiklah,akan ku carikan tempat yang bagus untuk kencan kita berdua,jangan khawatir" ucap Ian tulus,hal itu membuat Lily makin malu,
"B-baguslah kalau begitu" Lily masih malu malu menjawab perkataan Ian,
"Aku dengar ada bangsawan baru dari sebuah negara kecil yang hancur di tangan Negara Sekutu. Disini dia menjabat sebagai sekretaris Kaisar dan mendapat gelar Marquess" ucap Ian sambil memikirkan hal serius,
"Marquess?bukankah itu berlebihan?dia hanya datang dari sebuah negara kecil yang hancur,akan lebih baik jika memberinya gelar Baron atau Viscount"ujarku,
"Aku juga pikir begitu,tapi sebenarnya sudah sekitar beberapa bulan dia disini" ucap Ian,
"Siapa sebenarnya Marquess itu?" Lily langsung meminum tehnya dengan agak emosi,
"Marquess Ruvenda" Lily langsung menyemburkan teh yang dia minum saking terkejutnya,
"Apa itu kebiasaan gadis bangsawan?" Ian bertanya sambil memandang datar Lily,
"MARQUESS RUVENDA?!" Teriak Lily,semua orang langsung memperhatikan Lily yang berteriak sangat keras,
"Duduklah" ucap Ian singkat,
"Maaf.." gumam Lily malu,
"Kenapa kau sangat terkejut?" tanya Ian bingung,
"Anuu itu sebenarnya.." Lily masih malu sekaligus ragu untuk mengatakan kebenarannya,
Tak lama kemudian seseorang dari luar mendobrak pintu Tea House dan menodongkan pistol ke arah kepala salah satu pelanggan di dekat pintu dan menembak kepala pelanggan itu.Darah yang bercucuran membasahi bagian pintu depan,
"PERAMPOKAN!!" seseorang berteriak ketakutan dan seluruh ruangan menjadi kacau.Seluruh orang mencoba keluar lewat pintu belakang tapi salah satu teman perampok itu sudah menjaga pintu dan tidak ada yang bisa kabur kemana mana,
"Serahkan semua uang yang kalian miliki! atau akan ku tembak kalian satu persatu!" ucap Perampok itu,
"Sudahlah Claud, kita tidak membutuhkan uang mereka", seorang Pria masuk dengan tenang kedalam Tea House,
'Suara ini.. sepertinya tidak asing..' batin Lily,
"Maaf Tuan Tony" jawab perampok itu,
"Tony?!" Lily sangat terkejut setelah mendengar nama itu,
"Ya ampun,Lily?!kenapa kau disini?jangan jangan ini memang takdir kita?" Tony,yang tak lain dan tak bukan adalah mantan kekasih Lily,
"Jaga ucapan mu!" Lily marah karna kata kata Tony,
"Kenapa?bukankah kita kekasih selamanya.Walau kau mengajak ku putus,aku tidak akan menerima itu, Lily-ku" ucapnya dengan sombong,
"Kau sudah keterlaluan..lebih baik kau pergi!" teriak Lily sedikit ketakutan melihat tatapan Tony,
"Siapa kau menyuruh-khk!" Tembakan melayang ke arah kepala Tony.Tidak berhenti sampai disitu,tembakan lain mengarah ke perut dan kakinya,
"Kau akan menerima akibatnya,Anak Pelacur",ternyata semua tembakan yang mengarah me Tony adalah tembakan yang berasal dari Ian,
"Ian..?!" Lily sangat terkejut sekaligus ketakutan dengan tatapan Ian yang lurus ke arah Tony yang sudah mati di lantai,dengan pistol yang masih tegak ke arah yang dia tatap sambil memeluk Lily erat,
Baru pertama kali Lily melihat Ian membunuh seseorang,jadi begini ekspresi Ian saat membunuh orang lain di Medan perang ataupun tidak.Sosok yang sangat menakutkan sampai membuat Lily gemetar hebat.Entah hanya halusinasi Lily karna ketakutan,mata Ian yang awalnya biru tua yang cerah berubah menjadi merah gelap yang sangat menakutkan.
"Apa kalian mau pergi bersama dengan pria brengsek itu?.." Ian menekankan ucapannya sampai membuat para perampok ketakutan dan melarikan diri,tidak terkecuali para pelanggan yang lari terbirit-birit. Lily masih ketakutan dan pikirannya kacau,tubuhnya masih bergetar,
"Fiuh.." Ian menghela nafas panjang dan aura nya yang menakutkan mulai menghilang,matanya kembali menjadi biru tua yang indah,
"Lily,?!" Ian sangat terkejut melihat Lily yang gemetar ketakutan dengan ekspresi menatap Ian seperti monster.Walau Ian sudah sering melihat ekspresi itu,tapi berbeda dengan Lily, dia merasa sangat bersalah karna tindakannya yang ceroboh dan tidak memikirkan Lily yang ada bersamanya,
"Maafkan aku Lily, aku tidak bermaksud membuatmu takut seperti ini.." Ian memeluk Lily dan mencoba menenangkan nya,
"T-tidak apa apa.." Lily menjawab gagap dan melepas pelukan Ian,
"Tatap mataku" ucap Ian tegas sambil memegang kedua lengan Lily,
"T-tidak bisa.." jawab Lily,
"Tataplah" ucapan Ian mulai merendah.Lily mencoba menatap mata Ian walau masih agak ketakutan.Lily pun menatap mata Ian,tapi dia tidak melihat mata merah itu lagi,melainkan mata biru tua yang indah yang selalu menatap nya tulus,
"syukurlah.." Lily sudah berhenti gemetar dan menatap Ian lega,tetapi dia langsung terjatuh lemas dan pingsan,
"Lily?..LILY!!",
Setelah itu Ian langsung membawa Ian kembali ke mansion Everon di Ibu Kota.Sesampainya di sana Lucas sangat terkejut melihat keadaan adiknya yang tidak sadarkan diri,lalu segera memanggil dokter.Seluruh mansion panik karna Lily yang tidak segera sadarkan diri walau sudah diperiksa dokter,
"Kenapa Lily bisa seperti ini?.." tanya Lucas pada Ian sambil memandang Lily yang terbaring lemas di tempat tidur,
"Dia melihat diriku yang lain" jawab Ian datar,
"Apa maksudmu?" Lucas mulai kebingungan dengan ucapan Ian,
"Iblis.Dia melihat diriku saat ada di medan perang atau saat membunuh orang.Sepertinya dia akan trauma,ini salahku" ucap Ian lesu,
"Ini bukan salahmu,jika saja si Tony itu tidak membuat kekacauan,hal ini juga tidak akan terjadi.Dasar orang itu hanya membuat Lily tambah trauma" ucap Lucas menenangkan Ian,
"Sebenarnya siapa pria itu dan apa yang sebenarnya terjadi dengan Lily dulu?" tanya Ian,
'Aku benar benar belum mengenal Lily lebih jauh',
"Tony adalah mantan kekasih Lily,dulu Lily adalah wanita yang mengencani banyak pria,dan Tony adalah salah satunya.Dia adalah putra kedua dari Baron Sitren dan cinta mati pada Lily,sehingga ketika Lily memutuskan hubungan dengannya,dia tidak bisa menerima itu dan Lily meninggalkan nya. Dia seperti orang gila yang kehilangan hal terpenting dalam hidupnya.Dulu dia pernah menculik Lily dan mengurungnya di gubuk kecil yang gelap di tengah hutan selama 1 minggu.Aku mencari Lily kemana mana dan bertanya pada Tony langsung,tapi dia menjawab tidak tahu karna Lily memutuskan hubungan dengannya.Aku sempat berhenti mencarinya karna politik di medan perang,untungnya seorang penebang pohon menemukan nya dan membawanya ke pengawal kerajaan. Sejak saat itu,Lily tidak terlalu sering keluar rumah dan takut dengan ruangan yang sempit dan gelap,dia juga takut pada aura iblis mu karna mirip dengan Tony saat mengurungnya di gubuk kecil itu,walau kau jauh lebih seram" jelas Lucas,
"Aku benar benar tidak tahu soal itu.Kupikir dia wania yang periang dan tidak pernah melakukan sesuatu dengan ceroboh" ucap Ian,
"Dia seperti itu sejak diracuni,aku juga bingung kenapa dia tiba tiba berubah.Sampai sekarang tidak ditemukan siapa yang menaruh racun pada makanan Lily" Lucas terlihat kesal ketika membahas tentang racun itu,
"Kakak.." Lily bergumam dengan suara yang sangat lemah dan matanya yang sayu,betapa terkejutnya Ian dan Lucas melihat Lily mulai siuman,
"Lily?!"
Bersambung...
Halo minna⊂((・▽・))⊃,maaf ya author telat up lagi huhu •́ ‿ ,•̀karna bentar lagi author ada banyak ujian,jadi mungkin bakal hiatus setelah Eps 30/Bab 32,hehe maaf ya.Sekian terima kasih ( ◜‿◝ )♡