
Flashback
'Apakah aku akan sebahagia Yesra jika berharap ada wanita yang benar-benar tulus mencintaiku? Aku hanya mencintai satu orang yang seharusnya tidak aku cintai.'
"Yusto! Kenapa kau berhenti? Cepatlah kemari!" teriak Yesra yang sudah agak jauh di depannya.
"Iya! Aku segera kesana!"
'Sepertinya,hal itu tidak penting untukku sekarang.'
"Dasar,kenapa malah diam saja!"
"Maaf,Aku terpikirkan sesuatu tadi."
"Eh? Soal apa? Putri Silviana?" goda Yesra.
"Tidak.Lupakan." jawab Yusto tegas.
.
.
Episode 99
"Yesra,wajahmu pucat,kau sakit?"
"Tidak. Aku hanya sedikit kelelahan. Aku baik-baik saja."
Yesra dan Yusto berjalan-jalan di pasar karna ada festival. Festival ini adalah salah satu dari proses ujian yang diadakan selama 4 hari untuk memberi kesempatan para calon permaisuri menaikan reputasi mereka di mata rakyat kekaisaran.
"Ada restoran disana. Ayo kita makan dulu." ajak Yusto.
"Aku tidak nafsu makan.." jawab Yesra lemas.
Yusto memperhatikan cara berjalan Yesra yang sedikit aneh. Udara tidak terlalu panas dan sebelumnya Yesra baik-baik saja. Ia makin cemas dengan keadaan adiknya sekarang.
"Lebih baik kita pulang."
"Tapi kita baru sebentar..aku mau melihat-lihat lagi.."
"Dengan kondisimu yang seperti ini? Jangan membuatku cemas."
"Ugh..baiklah.."
Yusto membantu Yesra berjalan menuju kereta kuda mereka. Tinggal beberapa langkah lagi, Yesra tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri.
"YESRA!!"
Yusto yang syok mencoba membangunkan Yesra. Tidak berpikir lama,ia langsung mengangkat Yesra dan masuk ke kereta.
"Cepat jalankan kereta nya!"
"B-baik!"
Yusto masih mencoba membangunkan Yesra.Tubuhnya dingin,keringat keluar begitu banyak. Yesra tampak sangat kesakitan. Tubuhnya gemetar tak karuan.
"Yesra! Kau masih mendengarku?!Yesra!"
Yusto mencoba mengecek kaki Yesra. Betapa kagetnya ia melihat kaki Yesra bengkak dan sepatunya tampak ternoda darah. Karna tertutup gaun panjang Yesra,ia tidak menyadarinya. Ia sempat mencium aroma darah beberapa saat lalu tapi ia mengabaikannya.
"Sial!"
Yusto bergegas melepas sepatu Yesra.Ia tambah dikejutkan karna kaki Yesra sudah berlumuran darah dan ada sebuah jarum kecil dengan racun di dalam sepatu itu.
Sesampainya di istana. Yusto segera berlari keluar dari kereta kuda menuju Istana Ruby. Ia meminta pelayan untuk segera memanggil dokter dan Lily. Raut wajahnya begitu cemas.
"S-sakit.." gumam Yesra merasakan sakit yang luar biasa di kakinya.
"Bersabarlah Yesra..dokter dan Lily akan segera kesini."
Beberapa jam kemudian,Istana Ruby.
"Bagaimana kondisinya??"
"Tuan Putri terkena racun yang cukup mematikan. Jika telat sedikit saja nyawa beliau bisa menjadi taruhannya. Untungnya karna kekuatan Yang Mulia Miscess racun itu bisa di netralisir." jelas dokter.
"Syukurlah.."
Raut wajah Yusto akhirnya lega. Dia bisa tenang walau Yesra belum siuman.
"Tapi.."
Lily dan dokter tampak murung.Yusti heran kenapa mereka berekspresi seperti itu.
"Tapi apa?" tanya Yusto.
Lily menghirup nafas panjang dan membuangnya perlahan.
"Yusto..efek samping racun itu..tidak bisa ku hilangkan..." ucap Lily.
"Apa maksudnya?" tanya Yusto.
"Racun itu adalah racun paling mematikan,Tuan Muda.Jika telat sedikit saja nyawanya bisa melayang,dan jika bisa selamat ia akan lumpuh.." jawab Dokter.
Yusto membelalak kaget. Dadanya sesak. Udara seolah tidak bergerak di sekitarnya.
"Maksudmu..Yesra..lumpuh lagi?.." tanya Yusto.
"Karna kekuatan Yang Mulia Miscess, kelumpuhan ini hanya sementara. Kemungkinan 2 bulan lagi beliau bisa kembali normal." jawab Dokter.
"Maafkan aku,Yusto..Racun itu bukan racun tanaman racun melainkan racun dari darah iblis yang terlarang.Seharusnya racun itu sudah dihapuskan, tapi aku tidak tahu kenapa bisa begini.." jelas Lily.
"..." Yusto masih terdiam. Ia termenung sambil menatap hampa ke arah Yesra yang terbarung di kasurnya.
"Terimakasih dokter,kau bisa kembali. Lily, terimakasih.."
"Baik,Tuan. Saya permisi." Dokter undur diri lebih dulu. Lily masih berdiri di tempatnya.
"Akan ku tanyakan hal ini pada Vel dan Zergan nanti. Kau tahu pasti apa yang akan kau lakukan setelah ini bukan?"
"Tentu saja. Aku akan menemukan orang yang melakukan ini pada adikku.Tidak akan ku maafkan."
.
Kediaman Everon,Ruang Kerja Lucas.
"Tuan,Yang Mulia Miscess datang."
"Lily? Suruh dia masuk."
"Bibi!"
Lily masuk ke ruang kerja Lucas begitu mendapat izin. Ada Lucas,Ken,Ian,dan Asher disana. Raut wajah Lily tampak muram. Ian segera mendekati Lily dan menatap wajah wanita itu lekat-lekat.
"Ada apa,Lily?" tanya Ian.
"Kenapa raut wajahmu muram?" tanya Lucas.
Lily terdiam sebentar. Tangannya mengepal seolah menahan amarah.
"Lily?"
"Huft..Yesra.."
"Ibu?/Yesra?"
deg!.
Seluruh ruangan langsung hening. Petir diluar menyambar dan menyadarkan mereka semua.
"Apa maksudmu?.." tanya Ian syok.
"Seseorang meletakan jarum di sepatu Yesra yang sudah diolesi racun darah iblis..racun itu sudah dimusnahkan.Aku tidak tahu siapa yang melakukan itu..Aku sudah menetralisir racun nya tapi efek samping racun itu tidak bisa ku hilangkan begitu saja.Racun itu digunakan dengan dosis cukup tinggi karna sudah menjalar sampai ke pinggang dalam waktu cepat." jawab Lily.
"Grand Duke Everon.."
"Aku mengerti..Aku akan menyusul."
"...aku pergi dulu,Lily."
"Iya.."
Ian langsung berlari keluar ruangan dan menuju keretanya,pergi menuju istana. Lucas masih diam di tempatnya dengan ekspresi marah.
"Lily,apakah kamu sudah menghubungi Zergan?" tanya Ken.
"Belum. Aku langsung kesini karna harus memberitahu Ian dan kak Lucas." jawab Lily.
"Baiklah. Aku akan menemui Zergan. Lucas-"
"Aku tahu..Aku akan melakukan segala cara untuk menemukan pelaku itu."
Ken pun mengangguk lalu pergi.Asher melihat raut wajah Lucas yang mengernyit marah.
"Ayah.."
Suara Asher menyadarkan Lucas. Ia mencoba menenangkan pikirannya dan tersenyum ke arah Asher.
"Ada apa,Ash?" tanya Lucas lembut.
"Ibu mana?.." tanya Asher khawatir.
Lucas terdiam. Ia berdiri dari tempatnya sambil menggendong Asher.
"Kakak.."
"Lily,aku akan mengerahkan pasukan di istana untuk mencari pelakunya. Jangan sebarkan hal ini ke pihak luar. Hanya keluarga kaisar yang boleh tahu mengenai hal ini.Tutup mulut,telinga dan mata para putri dan pangeran.Jangan sampai mereka tahu." ucap Lucas.
"Baiklah.Aku akan kembali ke mansion untuk menanyakan hal ini pada Vel."
"Aku mengerti.."
Istana Ruby.
"Y-yang Mulia Grand Duke.."
"Dimana adik-adikku?"
"Mereka ada di dalam kamar."
"Kenapa jalur ke istana ruby ditutup?"
"Tuan Muda memerintahkannya begitu kembali dari jalan-jalan.."
"Baiklah. Kerja bagus."
Ian masuk ke istana ruby. Langkahnya cepat sampai di depan pintu kamar Yesra. Ia mengetuk pintu dan masuk.
Tampak Yusto duduk di sebelah Yesra sambil menggenggam tangan Yesra.Hujan mulai turun dan udara mulai masuk lewat jendela yang terbuka.
"Kau bisa sakit."
Ian berjalan ke arah jendela dan menutup nya. Tidak ada respon dari Yusto.
"Kak."
"Hm?"
"Kenapa Yesra harus kesakitan lagi?"
"Yusto.."
"Kenapa harus dia?..Kenapa?..Apakah seburuk itu Yesra di mata orang-orang?"
"Yesra anak yang baik dan perhatian. Dia tidak pernah menyakiti siapapun kecuali dirinya sendiri."
Yusto terdiam,air mata mulai menetes perlahan dari matanya.
"Dia merasakannya lagi..Dia merasakan kelumpuhan yang mengerikan itu lagi,kak.."
Ian sedikit kaget Yusto bisa menangis di depannya terang-terangan begini. Biasanya dia akan menahan air matanya.
"Lucas pasti mengerahkan seluruh pasukan bimbingannya di istana untuk mencari pelaku. Hal ini tidak akan disebarkan pihak luar. Untuk sekarang kita hanya bisa berdoa dan mencari jalan keluar untuk Yesra." ucap Ian.
Yusto masih menangis. Ia menggenggam tangan Yesra makin erat. Ian tidak tega melihat Yusto dan hanya bisa menepuk pundaknya.
Tak lama kemudian,tangan Yesra bergerak. Yusto yang menyadari pergerakan itu langsung melihat Yesra.
"Yesra?"
Perlahan mata Yesra terbuka. Mata sayu yang tampak kelelahan itu mencari sumber suara yang memanggil namanya.
"Dimana?.."
"?!" Ian dan Yusto sama kagetnya dengan jawaban Yesra.
"Yesra? Kakak disini." Ian menggenggam tangan Yesra yang lain.Yesra tampak kebingungan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kakak?..Yusto?..Kalian dimana?.. Kenapa hanya suara kalian yang terdengar?.."
Yusto dan Ian membelalak tak percaya. Tatapan kosong dari mata emas Yesra,tidak akan ada yang percaya bahwa itu hanya sekedar 'tatapan kosong' melainkan..kebutaan.
"Kakak?..Yusto?Ini dimana? Aku merasakan hal yang kukenal..ini tidak nyaman.." ucap Yesra ketakutan.
"Yesra..aku disini." Yusto menggenggam tangan Yesra dengan kuat.
"Yusto..disini gelap..aku tidak bisa merasakan kaki ku lagi...aku takut.." ucap Yesra gemetaran.
Yusto menangis makin deras. Ian pun mulai menangis melihat Yesra yang begitu syok dan mulai menangis.
Yesra bangun dari tidurnya dan mencari-cari Yusto di sekitarnya. Yusto sontak memeluk Yesra dengan erat.
"Maafkan aku..Maafkan aku tidak bisa melindungi mu,Yesra.." ucap Yusto diantara isak tangisnya.
"Kenapa kau minta maaf?.. Jangan menangis,Yusto..Katakan padaku!.." ucap Yesra mulai menangis seperti Yusto.
"Yesra.." Ian mulai berbicara.
"Kakak.. apa yang terjadi padaku?.." tanya Yesra.
"Kamu..lumpuh dan buta.." jawab Ian menahan air matanya.
Yesra membelalak. Ia begitu syok mendengar itu.Tubuhnya lemas seketika. Yusto masih memeluk Yesra mencoba menyabarkan adiknya itu.
"Tidak..TIDAKK!!!!"
Para pelayan yang mendengar teriakan Yesra dari luar ikut merasa sedih. Mereka tidak bisa menolong orang yang mereka layani dengan baik.
Bersambung...