
Flashback
"Ini bisa membantu kalian melewati portal wilayah-ibu kota,tapi ini hanya bisa digunakan 4 kali,karna sihir ku juga mulai bermasalah,maka dari itu berhati-hatilah" jawab Zergan,
"Terimakasih Zergan,aku akan menggunakannya sebaik mungkin" jawab Lily sambil tersenyum,
Lalu mereka berempat langsung pergi ke Grand Duchy Darvin menggunakan portal.Zergan meminta Pendeta Agung untuk menulis surat ke Lucas yang akan dikirim ke mansion Lily,lalu memintanya istirahat.
'Lucas..tunangannya adalah Lady Fei..dia adalah keturunan dari wanita ter-kejam dulu..aku harap sifat psikopat leluhurnya tidak menurun padanya..'
.
.
Episode 58
1 jam berlalu,Lily dan rombongannya sudah sampai di perbatasan wilayah Grand Duchy Darvin.
"Waahh, pemandangannya berubah" ucap Lily sambil melihat ke arah luar jendela kereta,
.
"Kakak melakukan renovasi rumah warga secara massal 2 tahun lalu, lebih tepatnya setelah cuaca ekstrem yang telah merusak rumah-rumah warga desa" jelas Yesra yang ikut naik kereta kuda Lily,
"Aku juga mendengar kabarnya,katanya Ian berjasa besar dalam renovasi kali ini,semua rakyat Grand Duchy Darvin jadi lebih tenang karna ada pelindung sihir di setiap rumah" ucap Lily kagum,
"Benar,kakak sangat memperhatikan rakyat Grand Duchy, bahkan kakak mengabaikan panggilan Putra Mahkota demi rakyat" jelas Yesra sambil menghela nafas panjang,
"Eh?!Mengabaikan?!yang benar saja..",
'Ian memang sangat blak-blakan,dia sampai mengabaikan panggilan Putra Mahkota seperti itu..' batin Lily cemas,
"Tapi Putra Mahkota juga memaklumi hal itu,jika berada di posisi kakak pasti Putra Mahkota juga memikirkan rakyat terlebih dahulu" ucap Yesra,
"Aku pun juga begitu" balas Lily,
Lily membuka jendela kereta dan angin berhembus lembut masuk ke dalam kereta,
"Segarnya" gumam Lily sambil menatap luar,
"Ah.." Yesra menatap Lily lumayan lama,
'Apakah Lily memang secantik ini sejak dulu ya?Ah tidak..lebih tepatnya dia tambah cantik,ia benar-benar mempesona,aku sama sekali tidak merasa bosan menatapnya sejak pertama kali bertemu.Apakah kakak jatuh cinta sejak bertemu Lily?Tapi kapan mereka bertemu?'
Beberapa menit berlalu,mereka tiba di kastel Grand Duke Darvin.
'Sepertinya diperbesar ya?' batin Lily menatap kastel megah itu,
"Selamat Datang Tuan-tuan muda,Nona,dan Marchioness Gradina" sambut para pelayan dan kepala pengurus di depan pintu kastel,
"Bagaimana dengan kondisi ayah?" tanya Ian,
"Soal itu...beliau sudah benar-benar parah" jawab Kepala pengurus ragu-ragu,
"Apa!?"
Mereka berempat langsung bergegas masuk ke dalam dan menuju kamar Grand Duke.Sesampainya disana mereka melihat Grand Duchess duduk di samping Grand Duke yang terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur,
"Ayah!!" Yesra berlari duluan menghampiri Grand Duke dan Grand Duchess,
"Yesra ya?...selamat datang.." ucap Grand Duke lemah,
"Ian..Yusto..Ya ampun!Lily!? Kenapa kamu kesini tanpa mengabari ku?!" tanya Grand Duchess terkejut melihat Lily datang bersama anak-anaknya,ia menghampiri Lily yang masih berdiri diambang pintu dengan ekspresi sedih,
"Saya terburu-buru datang kesini, jadi tidak sempat memberi anda kabar,maafkan saya" jawab Lily pelan,
"Tidak apa-apa..aku sangat berterimakasih padamu bisa datang kemari disaat seperti ini.." Grand Duchess dan Lily berjalan mendekati Grand Duke,
"Suamiku,Lily datang menjenguk mu.." ucap Grand Duchess pada Grand Duke,
"Ah.. Marchioness..senang bertemu dengan anda lagi.." ucap Grand Duke makin lemah,
"Tolong panggil saya Lily saja Yang Mulia.." jawab Lily,
"Ibu..ayah pasti akan baik baik saja kan?.." tanya Yusto sedih,
"Tidak ada..yang bisa kita lakukan lagi Yusto.." jawab Grand Duchess menahan air matanya,
"Tidak mungkin!..ayah..bertahanlah!.." ucap Yesra sambil menggenggam tangan ayahnya,
Ian mendekati Lily yang duduk berdiri diseblah Grand Duchess,ia mengisyaratkan untuk bicara dua mata di luar kamar,
/di luar kamar
"Ada apa Ian?" tanya Lily,
"Apakah ayah benar-benar tidak bisa diselamatkan?.." tanya Ian dengan ekspresi sedih,
Lily tersentak mendengar pertanyaan Ian,ia juga tidak mau membiarkan Grand Duke pergi begitu saja,
"Tidak ada..beliau sudah tidak bisa diselamatkan.." jawab Lily,
"Bagaimana dengan sihirmu?..benar-benar tidak bisa ya?.." tanya Ian lagi,dan Lily mengangguk,penyakit Grand Duke kali ini sudah tidak bisa Lily selesai kan,
"Ayah!Ayah!!" teriakan Yesra dari dalam mengejutkan Lily dan Ian,mereka berdua langsung kembali masuk ke kamar Grand Duke.
Grand Duke tampak sangat kesakitan,nafasnya tidak beraturan,dan wajahnya makin pucat.Lily segera mendekati Grand Duke dan menggenggam tangan beliau,mencoba melakukan sesuatu dengan sihirnya,
"Yang Mulia!Tolong bertahan sebentar lagi!"
Rasa sakit yang dirasakan Grand Duke perlahan menghilang,tapi nafasnya masih tidak beraturan,
"Lily..." gumam Grand Duke memanggil Lily,
"Tolong bertahan Yang Mulia..!Saya kan berusaha semaksimal mungkin..!", ucap Lily fokus menyalurkan sihirnya pada Grand Duke,
"Tidak perlu..waktuku sudah habis..",
"Jangan berkata seperti itu!..saya akan menemukan segala cara untuk menyelamatkan anda..!"
"Semua manusia pasti akan mati pada waktunya.. terimakasih telah berusaha..tapi waktuku sudah tiba...",
"Ayah!Kumohon jangan berkata seperti itu!..ayah janji tidak akan meninggalkan kita kan!" ucap Yesra sambil menangis,
"Yusto..",
"Iya..ayah..",
"Ayah titip Yesra dan Ibu padamu..Ian akan sibuk setelah menjadi Grand Duke..kau lah yang akan membantu kakakmu kedepannya..."
"...b-baik.."
"Ayah!Jangan berkata seperti itu..!" ucap Ian cemas,
"Ian..kau jagalah baik-baik ibu,adik-adikmu..dan juga..Lily..semua orang yang berharga untukmu..h-hah.." perlahan nafas Grand Duke makin melemah,Lily makin panik dan mencoba mengerahkan sihirnya lebih banyak,
"Lily..aku berharap besar padamu.. terimakasih dan..aku..minta maaf.."
Grand Duke menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengatakan kata-kata terakhirnya pada Lily,semua orang langsung panik dan mencoba membangunkan Grand Duke,
"Suamiku!Kenapa kau pergi seperti ini?!.."
"Ayah!!Ku mohon buka matamu!Jangan tinggalkan kami seperti ini!Ayah sudah janji! Tepati lah janji itu!!Ayah!!",
Tangisan Grand Duchess dan Yesra memenuhi ruangan itu,Yusto menangis diam,dan Ian menatap ayahnya tidak percaya,
"...t-tidak mungkin..", Lily benar-benar syok berat,air mata perlahan keluar dari mata birunya yang jernih.
Esoknya,Grand Duke langsung dimakamkan dan Ian serta yang lain pergi ke Ibu kota untuk melantik Ian menjadi Grand Duke Darvin selanjutnya.Selesai pelantikan di istana,Ian hendak kembali ke Grand Duchy bersama yang lainnya,tapi Lily tetap tinggal di Ibu kota untuk menenangkan diri.
/setelah pelantikan,di mansion Lily,
Ian dan yang lainnya mengantar Lily pulang ke mansionnya terlebih dahulu sebelum kembali ke Grand Duchy,
"Kembalilah..aku akan kesana jika sudah membaik..", ucap Lily pada Ian,
"Jangan terlalu memaksakan dirimu.." ucap Ian sambil memeluk Lily,
"Iya.." jawab Lily membalas pelukan Ian,
"Aku akan segera mengirim orang untuk menjemputmu ketika kau sudah baikkan",
"Terimakasih..sampai jumpa..",
Ian mencium punggung tangan Lily lalu pergi,Lily hanya menatap kereta kuda yang berjalan menjauh lalu masuk ke mansion,
"Aku pulang.."
"Selamat datang Nyonya!"
Para pelayan menyambut Lily seperti biasanya,begitu juga Kepala Pelayan dan Rina,
"Kembalilah,kalian sudah bekerja keras..aku duluan.."
Para pelayan ikut cemas karna Lily tampak sangat lesu.Kabar kematian Grand Duke Darvin telah menyebar ke seluruh pelosok Kekaisaran dalam 1 hari,dan pelantikan Ian menjadi kepala keluarga Darvin yang baru menghebohkan rakyat Kekaisaran.
"Lily?..kau tidak apa apa?.." tanya Fei menghampiri Lily,
"Kak Fei..aku baik-baik saja..aku ingin istirahat.." jawab Lily lalu pergi ke kamarnya,
"Ah..Lily.."
Sesampainya di kamar,Lily menjatuhkan tubuhnya lalu tertidur,
"Cika?Kau tidak apa apa?",
"Eh?.."
Padang rumput yang luas,langit biru yang cerah,angin yang berhembus lembut,dan gadis berambut putih perak dan mata biru muda yang cerah menatap nya sedu,
"Lily..lama tidak bertemu",
"Aku tau apa yang terjadi,Grand Duke Darvin sudah meninggal bukan?" tanya Lily memastikan,
"Sejujurnya aku merasakan kehilangan seseorang yang berharga lagi.." jawab Cika,
"Aku paham perasaan mu..Omong-omong,kakak sudah punya tunangan kan?" tanya Lily,
"Benar,namanya Fei,dia gadis yang baik" jawab Cika,
"Jangan lengah,banyak wanita yang memanfaatkan posisi kakak sebagai Grand Duke Everon, dulu aku sering mendapat ancaman dari para wanita yang menyukai kakak" jelas Lily serius,
"Sebenarnya entah kenapa aku juga merasa waspada pada kak Fei..terkadang" balas Cika,
"Fei..aku pernah mendengar nama itu sebelumnya..tapi dimana ya",
"Eh?Kau kenal kak Fei?",
"Bukan kenal,aku hanya tau namanya",
"Begitu ya..ah,aku belum menyambut kak Lucas,aku pergi dulu ya",
"Iya,hati-hati Cika..",
Lily terbangun dari tidurnya,hawa panas menyelimuti tubuhnya,
'Panasnya..'
Lily beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju balkon.Angin bertiup tenang,langit jingga yang indah terpantul pada kolam air mancur,
'Suasana ini..aku merasakan dejavu yang tidak asing..'
Lily mengingat saat ia dan Ian menghabiskan waktu bersama di desa Grand Duchy 4 tahun lalu,tapi rasa sakit menyerang kepalanya,
"Kenapa tubuhku selemah ini..",
"Lily!!Kami pulang!"-Bel
"Eh?..Vel?..Bel?"
"Eh?Lily?!"-Vel
Bersambung...