
Flashback
"Rina,kau tidak apa apa?" Lily mengkhawatirkan Rina yang ternyata adalah putri Duke Ricardo,
"Saya..saya minta maaf Nona.." Rina menangis pelan,dia tidak menyangka Lily akan terlibat dalam masalah pribadinya seperti ini,
"Jelaskan,apa yang sebenarnya terjadi?",Lucas bertanya pada Rina dengan ekspresi serius,
"Kakak!Jangan mengintrogasi orang yang ketakutan!lebih baik kita pulang dulu,biarkan petugas keamanan yang bertindak" Lucas tidak bisa melawan Lily karna takut bernasib seperti pada pelaku,
"Maafkan saya Nona..saya.."
"Tidak apa apa Rina,tenanglah..aku disini"
.
.
Episode 34
"Lebih baik kita kembali sekarang, kemungkinan insiden ini bisa membuat Lily dan pelayannya trauma"-Lucas
"Sepertinya begitu,kalau begitu kita serahkan tugas ini pada Ian"-Ken
"Kenapa aku?"-Ian
"Soalnya ini adalah insiden yang berkaitan dengan adik Grand Duke Darvin dan Marquess Ruvenda,bukankah seharusnya kami sebagai kakak harus berada di sisi adiknya yang baru saja mengalami insiden menakutkan?"-Ken
"Tapi aku sebagai tunangannya tidak bisa mengabaikannya,rumor apa lagi yang akan beredar nanti?"-Ian
"Lalu bagaimana situasi disini?"-Ken
"Aku akan mengatasi nya",seorang pemuda datang bersama beberapa pengawal kerajaan,
"Putra Mahkota?!",Lily hendak memberi salam tapi Putra Mahkota menolak dengan bahasa isyarat,
"Kenapa anda disini Putra Mahkota?" tanya Lucas penasaran,
"Aku mendapat tugas dari kaisar untuk menginvestigasi kasus ini,dan kebetulan kalian juga tidak bisa meninggalkan Lady Lily dan pelayannya sendirian" Putra Mahkota menjelaskan kedatangan nya atas nama Kaisar,
"Oh ya,aku bertemu seseorang yang mencarimu Grand Duke Muda Darvin" Putra Mahkota menunjukan seorang pemuda yang sudah pasti adalah Irvan,tidak ada lagi orang yang mencari Lucas seketat Irvan selain Lily dan Kepala Pelayan,
"Irvan?!Kenapa kau disini?!"Lucas benar benar dibuat terkejut dengan kedatangan Irvan,
"Saya menjalankan tugas sebagai asisten anda,tentu saja saya kemari untuk menjemput anda setelah mendengar kabar lokasi anda dari para prajurit.Tuan,kita harus segera kembali dan menyelesaikan pekerjaan anda yang menumpuk,banyak laporan yang harus anda selesaikan mulai dari perusakan perabotan,menggunakan prajurit elite tanpa persiapan,dan lain lain." jelas Irvan tegas,
"Yang benar saja.." bisa dilihat roh Lucas keluar dari tubuhnya dengan tenang,
"Pft!kalian pergilah,aku akan menyelesaikan kasus ini secepat mungkin,dan lady..",
"Hum?", Putra Mahkota mendekat pada Lily dan mencium punggung tangannya,
"Saya akan segera menjenguk anda setelah kasus ini selesai" ujarnya dengan senyum tak berdosa,sedangkan dibelakangnya 3 pemuda melototi nya dengan aura yang mengerikan,
"A-ah,iyaa terimakasih banyak atas perhatian anda Putra Mahkota.." jawab Lily enggan,
"Baiklah Lady"
Mereka pun pulang sesuai perintah Putra Mahkota,Ian berkata kalau sementara dia akan menginap di Ibu kota untuk memastikan keadaan Lily,walau Lily berkata kalau dia baik baik saja,tetapi Ian menolak dengan tegas,dan bersikeras untuk tinggal di Ibu kota,
/Di mansion Everon
"Ah aku lupa kalau tanganku terluka" gumam Lily begitu masuk ke mansion,
"APA?!", Lucas dan Ken langsung panik begitu mendengar gumaman Lily,
'Pendengaran mereka tajam juga..' batin Lily,
"Mana yang luka?!"-Lucas
"Kenapa bisa terluka?!"-Ken
"Lukanya dalam sekali!cepat panggil dokter!"-Lucas
"Bagaimana jika tanganmu yang lembut ini patah?!"-Ken
"Ini tidak bisa dibiarkan!Hukum mati si breng*sek itu!Dia membuat tangan adik kita terluka!"-Lucas
"Benar benar!Tidak bisa dibiarkan begitu saja!"-Ken
"BERHENTILAH MELEBIH LEBIHKAN SESUATU!!" Lily dibuat emosi akibat kakak kakaknya yang terlalu overprotektif padanya,
"Hah..Meri,tolong ambilkan air hangat dan kain,jangan lupa perban" minta Lily pada salah satu pelayan,
"Baik Nona" pelayan itu segera pergi mengambil air dan kain sesuai permintaan Lily,
"Rina,duduklah disini" Lily menggenggam tangan Rina dan menuntunnya ke ruang tengah,
"..." Rina hanya terdiam tanpa berkata apa apa,
"Tidak apa apa jika kau tidak mau bercerita,sekarang lebih baik kau istirahat",
"Tidak nona..saya akan menjelaskan nya" ucap Rina lesu,sembari itu pelayan mengobati tangan Lily,
"Huh..nama asli saya Viona Rushela Ricardo, seperti kata Kak Thevan,saya adalah anak haram dari Duke Ricardo dan ibu saya Viscountess Margaret.Viscount yang seharusnya ayah saya tahu kalau Duke Ricardo menjalin hubungan gelap dengan ibu saya.Karna depresi,beliau bunuh diri meninggalkan ibu yang sedang hamil.Duke Ricardo yang kehilangan istrinya setelah melahirkan putri pertamanya 2 tahun sebelum saya lahir,menikah dengan ibu saya tanpa pesta,sejak saat itu lah Duchess Ricardo yang merupakan ibu saya sekarang tidak pernah menampakan diri ke pergaulan sosialita.Saya tumbuh di kediaman Duke selama 7 tahun,tanpa kasih sayang Duke dan kakak kakak saya..hanya Ibu dan Kakak saya dari Viscount yang memperhatikan,bahkan para pelayan tidak peduli pada kami.Setelah itu saya dikirim ke vila yang jauh dari rumah utama,waktu itu kakak saya dari Viscount berumur 16 tahun,dia pergi dari Duchy untuk merantau dan berjanji akan kembali,meninggalkan saya dan Ibu sendirian.Tak lama setelah kakak pergi,ibu jatuh sakit,Duke bahkan tidak peduli.Selama 2 tahun ibu hanya bisa terbaring lemah,tidak ada obat yang bisa membantu ibu,maka dari itu diam diam saya keluar dari Duchy, menitipkan ibu pada pelayan pribadi saya dan masuk ke keluarga Everon sebagai pelayan pribadi Nona dengan nama Rina Margaret,dan di waktu yang sama,saya mendengar kabar kalau kakak saya sudah diangkat menjadi Viscount Margaret diumur 18 tahun.Sejak saat itu saya selalu mengirim surat pada kakak,tetapi..dia berhenti membalas ketika sudah menikah 8 tahun lalu..Saya sudah tidak percaya pada siapa siapa lagi..hanya Ibu harapan terakhir saya,lalu Nona selalu bersikap baik pada saya,maka dari itu saya masih punya keinginan untuk hidup..Saya tidak berpikir untuk kembali ke Duke Ricardo kecuali untuk ibu saya..setiap hari saya diam diam mengirim orang ke Duke Ricardo untuk memberi obat pada Ibu.." Rina menjelaskan semuanya sambil menangis,dia mengingat kembali kenangan buruk selama berada di kediaman Ricardo.
"Ya ampun.." Lily tidak bisa berkata kata lagi mendengar cerita Rina yang merupakan putri bungsu Duke Ricardo yang sangat menyedihkan.
"Bagaimana sikap putri pertama Duke?" tanya Lucas,
"Sebenarnya..dia adalah gadis yang lembut dan baik..Kakak adalah satu satunya teman bermain saya disana sebelum saya pindah ke vila..walau hanya sesaat." jawab Rina sedikit tersenyum mengingat putri pertama Duke Ricardo.
"Siapa namanya?" tanya Lucas pada Ken.
"Putri pertama Duke Ricardo,Senia Ruin Ricardo.Kita bertemu dengannya saat hendak pulang dari kediaman Ricardo." jawab Ken sambil mengingat ngingat.
Tak lama,Ian masuk ke ruang tengah setelah mengatur pasukannya di tempat latihan mansion Darvin.
"Oh,maksudmu gadis berambut hitam dan mata merah tua itu?Hem,dia mirip dengan putri kedua Marquess Minela yang meninggal." Ian dan Lily langsung tersentak.
"Tidak,matanya berwarna ungu,dia mirip dengan Duchess sebelumnya." ucap Ken membenarkan perkataan Lucas yang salah.
"Begitukah??humm,lho?Lily?kenapa kau pucat begitu?apa kau sakit?" Lucas sadar perubahan Lily yang tiba tiba,wajahnya pucat dan berkeringat dingin.
"Tidak apa apa..aku hanya lelah..aku akan istirahat di kamar.." Lily hendak berjalan keluar, tapi Ian masih berdiri di ambang pintu.
"Ikut aku." Ian langsung menarik Lily keluar dari ruangan itu menuju kamar Lily.
"T-tunggu Ian!" Lily mencoba menghentikan Ian tapi tubuhnya lemas,dia tidak bisa menolak lagi.
Begitu sampai di kamar Lily,Ian mengunci pintu dan duduk di kasur,mendekatkan Lily padanya dan bertanya,
"Apa kau.. memikirkan putri pertama Duke?" tanya Ian datar.
"Tidak." jawab Lily cepat.
"Jujur padaku Lily,apa kau cemburu?" tanya Ian sekali lagi.
"Kubilang tidak." Lily memalingkan wajahnya dari Ian dengan wajah suram.
"..." Ian menyentuhkan dahinya ke dahi Lily dan menghela nafas.
"Huh..dengarkan aku Lily.Aku sudah melupakan Anna,dan hanya kau yang ada di sampingku sekarang.Jadi kumohon jangan palingkan wajahmu dariku." ucap Ian lembut.
Lily terdiam dan menatap Ian sedu.Entah bagaimana perasaannya yang bercampur aduk sekarang,tapi dia juga tidak bisa mempercayai Ian sepenuhnya.
"Baiklah,tapi aku harap kau tidak melakukan hal yang macam-macam." ucap Lily cemberut.
"Baiklah Tuan Putri." Ian mencium pipi Lily dan memeluknya.
"Dasar manja." gumam Lily sambil mengelus rambut Ian.
"Apakah aku harus bermain kasar?" tanya Ian dengan senyum liciknya.
"A-apa maksudmu,dasar!"
Bersambung...