Vita Nova

Vita Nova
Episode 90 "Menikah"



Flashback


Lily terdiam.Ia menatap kedua kakaknya lekat-lekat.Senyuman tipis diikuti suara tawa Lily yang terdengar jelas.


"Ahahaha!Kalian ini menggemaskan sekali."


Lucas dan Ken tersentak.Mereka saling bertukar pandang dan tersenyum.Akhirnya tiga bersaudara itu tertawa bersama.


Di sudut lain,Ian masih sibuk memikirkan kejadian Lucas dan Ken yang melihat tubuh Lily setelah mandi (walau ditutup handuk).


'Mereka melihatnya..Ini tidak boleh sampai terjadi..tidak akan pernah lagi!'


.


.


Episode 91


3 hari setelah itu,Yusto tiba di ibu kota.Dia telat 1 hari karna ada masalah yang tertunda dan menyelesaikannya lebih dulu.


Asher tampak sangat senang dengan kedatangan Yusto.Bisa dikatakan Yusto lebih mendidik Asher sebagai anak yang kuat dan berwibawa,sedangkan Lucas mendidiknya sebagai anak yang cerdas dan bijak,ditambah lagi Yesra mendidik Asher sebagai anak yang ramah dan sopan.Terkadang, sifat jahil Asher berasal dari ayahnya yang dulunya juga jahil pada Felix.


"Paman,kenapa paman tidak mirip dengan ibu?"


"Karna aku lebih mirip pada mendiang nenekmu, sedangkan Yesra mirip dengan mendiang kakekmu."


"Walau kalian kembar?"


"Tidak akan ada yang mengira kalau kami ini kembar.."


Saat itu juga,kebetulan ada Zergan disana yang numpang makan.Kebiasannya itu tidak mengherankan lagi bagi mereka semua.


"Lucas,dimana Lily?" tanya Zergan.


"Dia sedang pergi besama Ian ke istana untuk urusan penyambutan calon Putri Mahkota." jawab Lucas.


"Aku mau bubur ayam buatannya..abajbsksk." gumam Zergan tampak lemas.


'Bubur..ayam??..' pikir Lucas bingung.


/Sementara itu,di Istana.


"Baginda..acara kali ini sangat penting untuk mempersatukan kedua belah pihak,bagaimana bisa anda malah bermalas-malasan seperti ini?"


"Lily benar,Baginda.Apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati anda?"


"Kalian berdua ini.. KENAPA HARUS 5 NEGARA?!!TIDAK BISAKAH HANYA 1 ATAU 2?!!"


Ruang kerja Felix benar-benar dipenuhi oleh kertas-kertas tumpukan untuk persiapan penyambutan calon Putri Mahkota.Ia benar-benar stress memikirkan ini semua.


"Lalu apa yang anda inginkan??Acara ini juga untuk menambah persahabatan dengan negara lain.." ucap Lily mulai lelah.


Melihat Lily yang tampak kelelahan,Ian sontak menatap tajam ke arah Felix.


"Baginda..anda mau melakukannya kan?" tanya Ian penuh tekanan.


"T-Tentu saja!!A-akan ku lakukan sepenuh tenaga dan hati ku!" jawab Felix.


"Benarkah?!Kalau begitu kami akan mempersiapkan hal-hal untuk dekorasi istana dulu!" ucap Lily kembali girang.


"B-baiklah..kalau perlu sesuatu katakan saya pada kepala dayang istana kaisar.." ujar Felix.


"Baik!!Kami permisi dulu Baginda!Ayo Ian!!"


"Iya."


Wajah Ian kembali santai.Ia pun pergi mengikuti Lily dari belakang.Ruangan Kaisar sekarang sunyi, Felix pun bisa bernafas lega akhirnya.


'Aku pikir aku akan menjadi batu seperti yang diceritakan Tuan Saint Zergan..!' pikir Felix.


.


Lily berjalan di lorong istana tampak begitu girang.Ian yang melihat Lily girang seperti itu,ingin sekali mengganggunya dan membuatnya cemberut.


"Kenapa kamu sesenang itu?" tanya Ian.


"Tentu saja!Baginda akhirnya menyerahkan dekorasi istana dan persiapan istana yang akan dipakai para calon putri mahkota.Bukankah akan sangat menyenangkan melihat baginda Kaisar akan segera menikah?" jawab Lily begitu semangat.


"Lumayan.Tapi,apakah kamu akan bersemangat seperti ini juga saat pernikahan kita nanti?" tanya Ian tersenyum licik.


Wajah Lily perlahan berubah merah.Kata-kata Ian membuatnya malu.


"I-itu..TIDAK TAHU AH!!PIKIR SAJA SENDIRI!!"


Lily berjalan lebih cepat untuk menghindari tatapan Ian.Ia sangat malu memperlihatkan wajahnya yang direbus karna pertanyaan Ian itu.


Menikah.Kata yang yang tidak pernah dipikirkan Lily semasa hidupnya sebelum bertemu dengan Ian.Ekspresinya berubah heran mengingat kata itu akan dilaksanakan untuk Felix setelah mendapatkan putri mahkota.


'Menikah..ya?'


Persiapan berlangsung dengan lancar.Setidaknya ada 6 istana yang akan digunakan untuk tempat para calon putri mahkota.Sebelumnya, Lily bertanya pada Felix kenapa total istana yang digunakan ada 6 sedangkan calon putri mahkota hanya ada 5,tapi Felix tidak menjawab itu dan malah sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Apakah...Baginda menyukai seseorang?!Gawat!' pikir Lily.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Eh,Ian.Soal itu,aku berpikir ada 1 wanita yang akan masuk ke daftar calon putri mahkota selain yang dikatakan Baginda Kaisar.Mungkinkah dia orang yang di sukai baginda?"


Ian terdiam sejenak.Ekspresinya berubah ketika dia mendapat jawabannya.Senyuman tipis terukir di wajahnya.


"Apa?" tanya Lily heran.


"Sepertinya aku tahu orang itu siapa." jawab Ian.


"Siapa?"


"Kamu juga tahu."


Lily terdiam.Otaknya berputar memikirkan siapa itu.Seseorang terlintas di kepalanya.


"AKH!Jangan-jangan..!"


"Benar sekali."


"Yesra?!"


/Disisi Yesra.


"Hatchim!"


Yesra bersin cukup keras.Telinganya juga memerah.Sontak 4 orang menatap ke arahnya.


"Ibu,ada apa??" tanya Asher.


"Telingamu merah,apa kamu demam?" tanya Yusto.


"Aku selalu siap disini." ujar Zergan.


"Egh..tidak apa-apa.Sepertinya ada yang membicarakan ku." jawab Yesra.


"Oh,mungkin saja Baginda Kaisar atau kakak dan Lily." ujar Yusto.


"Eh?Kenapa Baginda Kaisar juga?" tanya Lucas.


"Kak Lucas tidak tahu?Yesra masuk sebagai kadidat Putri Mahkota.Sudah pasti mereka membicarakannya." jawab Yusto dengan polos.


"APAAAA?!!!"


/kembali ke sisi Ian dan Lily.


"Kamu tidak tahu? Baginda menyampaikan kabar ini padaku dan Yusto beberapa waktu lalu.Yah,mungkin saja sekarang Grand Duke Everon, Yesra dan Asher sudah tahu." ucap Ian.


"K-kenapa Yesra?!" tanya Lily.


"Setahun terakhir ini,baginda dan Yesra sering bersama saat baginda merasa tidak enak di istana.Karna Asher masih sangat kecil,dia tidak akan ingat kalau baginda dan Yesra juga punya 'hubungan spesial'." jawab Ian.


"Oh!Jadi itu alasan kakak sering berada di Istana setahun terakhir ini?Bisakah ini disebut perselingkuhan?.."


"Lily,jangan katakan hal yang membuat orang salah paham begitu..Yesra masih tinggal bersamaku.."


"Aku bercanda,Ian."


Tak berselang lama setelah itu, seseorang menghampiri Ian dan Lily yang sedang menyelesaikan renovasi istana ke 2.


"Sepertinya kalian kesusahan ya,Grand Duke dan Marchioness."


"Ya ampun,Yang Mulia Ibu suri."


Ibu suri datang menemui mereka.Wajah cantik beliau tidak berubah sama sekali.Ian dan Lily sigap memberi salam padanya.


"Semoga Dewa selalu memberkati anda,Yang Mulia." ucap mereka.


"Kalian juga.Apakah kalian kelelahan?Pasti butuh waktu lama untuk menyelesaikan ini." ucap ibu suri.


"Ini tidak seberapa dibanding kebahagiaan kami menyambut calon ratu dimasa depan.Baginda pasti juga menantikan hal ini." ujar Ian.


"Ian benar,Yang Mulia.Kami harus berusaha semaksimal mungkin demi calon-calon putri mahkota." lanjut Lily.


"Dulu aku berharap Marchioness lah yang menjadi ratu.Tapi melihat keponakan ku begitu jatuh hati,aku tidak tega." ucap ibu suri begitu jujur.


Ian pun kaget dan baru tahu soal ini,ia langsung menatap Lily.Lily memalingkan wajahnya dari Ian karna tidak mau disalahkan.


"Kamu akan mendapat hukuman nanti." ucap Ian tersenyum tipis.


"T-TIDAK AKAN!!" balas Lily.


"Komandan!"


Seorang prajurit dari pasukan Ian datang menghampiri mereka.Dia adalah wakil Ian,Sir Alphonse.


"Ada apa?"


"Anda harus datang ke tempat latihan,ada sedikit masalah.."


"Masalah?"


"Benar."


Ian terdiam.Baru kali ini dia mendapat kabar pasukannya ada masalah.


"Pergilah,Ian.Marchioness ada bersamaku." ucap ibu suri.


"Terimakasih,Yang Mulia.Saya pamit undur diri.Lily jangan pulang sebelum aku kembali." ujar Ian mencium kening Lily lalu pergi.


"B-baik.."


"Ya ampun~ anak muda."


"Yang Mulia jangan berkata seperti itu.."


Waktu berlalu dengan cepat.Langit gelap pertanda akan turun hujan di sore hari.Lily menunggu Ian di halaman istana sejak beberapa saat lalu.


'Menikah..Aku tidak memikirkan itu selama 17 tahun hidup sebagai 'Cika Amanda' dulu. Keadaan dirumah begitu menyiksa,seolah rumahku bukanlah 'rumah' bagiku.Mungkin sebelum ibu meninggal suasana begitu nyaman,perlahan itu menghilang ketika ayah menikah dengan wanita itu..dan makin parah ketika ayah meninggal..Bahkan di kampus,aku dibully setiap hari hanya karna kondisi dirumah.Bullyan itu mulai berkurang sejak aku bertemu dengan Zergan,betapa beruntungnya aku bertemu dengannya.Dia lelaki yang populer,paras yang tampan dan badan yang tinggi dan kekar,mungkin dulu aku hanya se dadanya(?) mungkin kurang.Multitalenta di bidang akademik dan non-akademik.Anak sulung seorang konglomerat terkemuka.Dia selalu tersenyum padaku dengan tulus,dan tidak terbayangkan dia adalah sahabatku dulu dan sekarang.'


Tanpa Lily sadari,air hujan sudah turun membasahi tanah dan dirinya dengan lembut.Dia menikmati guyuran hujan itu.


'Aku harap di kehidupan kali ini,aku bisa bahagia bersama orang-orang yang peduli padaku..dan orang yang ku cintai.'


"Kamu bisa sakit."


Lily mendongak ke atas.Ian sudah menutupi tubuhnya dengan jas nya dan membawa sebuah payung.


(fyi: payung hujan dikembangkan Zergan saat musim hujan di tahun ke 2 kepergian Lily ke wilayah Gradina.)


"Ian."


"Hm?"


Lily tersenyum lebar.Hatinya tenang begitu melihat wajah Ian di hadapannya sekarang.


"Aku penasaran dengan arti dibalik senyum mu yang begitu manis,apakah kamu merawat diri dengan gula?" ucap Ian balik tersenyum.


"Ini payung yang dikembangkan Zergan 5 tahun lalu bukan?Kenapa warna biru?" tanya Lily.


"Aku selalu teringat denganmu begitu melihat warna biru muda yang mirip dengan mata milikmu.Aku sangat merasa bersalah setiap hari selama 4 tahun itu.Seharunya aku tidak melakukan itu." jawab Ian mulai tampak sedih.


"Tidak apa-apa.Aku sudah memaafkanmu." ucap Lily.


Lily berdiri dan berbalik pada Ian.


"Ayo kita pulang." ucap Ian.


"Kemana?" tanya Lily tersenyum tipis.


"Tentu saja ke rumah." jawab Ian.


'Benar..Tempat ini adalah rumahku untuk seterusnya selama aku hidup.'


Bersambung...