
Flashback
"Bunga favoritku sudah jelas,Lily"
"Oh!benar juga,Lily kan nama bunga,itu bunga yang indah" Ucap Yesra,
"A-apa maksudmu dasar bodoh!" ucapku menentang perkataan Ian sebelumnya dengan muka merah,
"Kau memang lucu Lily" ucapnya sambil mencubit pipiku,
"Hey!itu sakit bodoh!" teriakku,
Sekilas aku melihat muka Yusto yang murung,dan aku tidak paham apa yang dipikirkan nya saat ini.
.
.
Episode 11
Selama tinggal di kediaman Ian,aku menikmati waktu bersama Yusto dan Yesra.Senyuman yang dulu sempat menghilang telah kembali, dan mata kosong yang biasanya di tunjukan, kembali bersinar.
Tak terasa musim sudah berganti. Musim gugur yang dipenuhi daun berguguran berganti menjadi salju putih yang turun dari langit.Suhu udara makin dingin,akan mudah bagi seseorang terkena flu dan demam.
Aku masih di berada Grand Duchy,telatnya dikediaman Grand Duke,masih 2 Minggu lagi sampai Grand Duke dan Grand Duchess kembali.
"Lily,aku ingin keluar"ucap Yesra memohon,
"Apa kamu akan baik baik saja?diluar sangat dingin" ucapku khawatir pada Yesra karna tubuhnya yang lemah,
"Tidak apa apa,aku sehat kok" jawabnya santai,
"Baiklah,aku akan mengambilkan mantel dan sarung tanganmu dulu" ucapku lalu meminta pelayan mengambilkan mantel dan sarung tangan untuk Yesra,
Setelah selesai bersiap siap,aku mengantar Yesra keluar untuk melihat lihat taman,
"Wah,indah sekali" gumam Yesra,
"Kau suka?" tanyaku,
"Iya,aku sangat suka!" jawabnya gembira,
"Apa kau ingin bermain salju?" tanyaku dengan niat licik,
"Bermain salju?nadamu berbicara sangatlah licik Lily" ucapnya,
"Terlihat ya?.." ucapku lesu,
"Pft,tentu saja terlihat" ucap Yesra tertawa,
"Huft..Baiklah,jadi kita akan membuat manusia salju" jawab ku senang,
"Manusia salju??" tanya Yesra terheran heran,
"Iya,pertama kita harus membuat 3 bola salju raksasa" ucapku lalu mengumpulkan salju yang sudah menumpuk dan membentuk nya benjadi bulat,
"Wahh,aku ingin membantu!" ucap Yesra bersemangat,
"Baiklah,bantu aku merapikan bola bola raksasa ini ya" ucapku,
"Iyaa" jawab Yesra,
Kami berdua menghabiskan waktu bersama membuat manusia salju.Yesra terlihat bersenang senang dengan hal ini. Tak lama kemudian Yusto datang dan meminta kami berdua masuk karna cuaca makin memburuk,dan kami hanya menuruti perkataannya.
"Dasar Yusto,aku kan ingin bermain main" gumam Yesra kesal dikamarnya,
"Cuacanya memang memburuk,Yusto hanya mengkhawatirkan mu" ucapku pada Yesra,
"Tapi aku ingin bersenang senang" jawabnya cemberut,
"Kita bisa melakukannya besok" ucapku agar Yesra sedikit senang,
"Humm,baiklah" jawabnya menurut,
Tak lama kemudian,Kepala Pelayan datang ke kamar Yesra dan memintaku untuk menemui Ian.Tanpa basa basi aku langsung pergi menemui Ian di ruang kerjanya.
/Diruang kerja Ian/
"Ada apa memanggil ku?" tanyaku pada Ian,
Ian terlihat sangat sibuk dengan lembaran lembaran kertas yang menumpuk bagaikan gunung,
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu" ucap Ian dengan nada datar yang serius,
"Tanyakan saja"jawabku,
"Apa kau tau tentang sihir Viridis?"tanya Ian,
"Viridis?bukankah itu sihir tingkat atas yang sudah hilang sejak ratusan tahun lalu?,pihak kekaisaran juga tidak mencari keberadaan sihir itu lagi" jawabku,
(+):Viridis adalah kekuatan sihir kuno yang sangat kuat,dan hanya dimiliki oleh 3 penyihir agung kekaisaran.Saking kuatnya sihir itu,banyak penjahat dari kekaisaran lain hendak mencuri kekuatan itu berkali kali tapi gagal dan berhenti.Tapi semenjak kematian 2 penyihir agung karna terkena wabah mengerikan yang terjadi ratusan tahun lalu,kekuatan sihir Viridis mulai menghilang,dan tinggal 1 penyihir agung yang tersisa, tetapi dia hilang tanpa jejak.Banyak penyihir kekaisaran dan bangsawan penyihir terdahulu melakukan penyelidikan tentang sihir itu tapi hasil yang didapat nihil,Sihir Viridis pun dianggap hilang selama ratusan tahun.
"Benar sekali,tetapi akhir akhir ini para penyihir mulai mencari keberadaan sihir itu lagi"jelas Ian,
"Kenapa?? percuma juga dicari,sihir itu benar benar sudah hilang"ucapku menentang,
"Para penyihir merasakan kekuatan sihir yang sangat besar,dan itu berada di Kediaman Darvin"ucapnya,
"Bukankah itu sudah jelas?Keluarga Darvin merupakan salah satu dari 3 bangsawan penyihir di seluruh kekaisaran" jawabku,
"Tetapi,Kekuatan Sihir di Kediaman Darvin tidak sebesar itu" ucap Ian sedikit bingung,
"Lalu,darimana sihir itu berasal?" tanyaku penasaran,
"Sekarang masih dalam masa penyelidikan di seluruh Grand Duchy" jawab Ian,
"Bukankah itu akan memerlukan waktu yang lama? Grand Duchy ini sangat luas,hanya sampai ke perbatasan saja butuh waktu 2 jam lebih" ucapku tidak mengerti apa yang dipikirkan Ian,
"Para penyihir menggunakan kereta sihir agar dapat menyelidiki sihir kuno ini diseluruh Grand Duchy,sekitar 4-6hari akan selesai" jelasnya,
"Begitu kah.Tapi akan bahaya jika pemilik sihir itu menggunakannya untuk hal negatif,apalagi di kediaman Grand Duchy Darvin ini,reputasi kalian sebagai keluarga penyihir juga akan memburuk" ucapku khawatir,
"Tenang saja,aku bisa mengatasi hal itu" ucap Ian mencoba menenangkan ku,
"Baiklah" jawabku,
"Dan aku ingin minta tolong padamu Lily,jika ada gerak gerik mencurigakan dari Yusto atau Yesra segera beritahu aku" minta Ian,
"Tentu,aku akan melakukannya" jawabku meyakinkan Ian,
/skip malam/
"Sudah selarut ini,apa Ian masih bekerja ya?" gumamku sendirian,
Karna khawatir,aku pergi ke ruang kerja Ian untuk melihat keadaannya,
/Di ruang kerja/
Aku mengetuk pintu ruang kerja Ian,dan Ian menyuruh ku masuk tanpa pikir panjang,
"Ada apa kau kesini malam malam begini?" tanya Ian yang masih sibuk dengan kertas kertas diatas meja kerjanya,
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau masih bekerja sampai selarut ini?" jawabku sambil bertanya,
"Masih banyak hal yang harus ku selesaikan" jawabnya masih fokus ke kertas-kertas itu,
"Kau bisa melanjutkannya besok,kau bahkan tidak ikut makan malam tadi"ucapku mengomeli nya,
"Aku masih bisa bertahan,jika aku sudah lelah aku akan berhenti" ucapnya tetap datar,
Tapi aku bisa melihat raut wajahnya yang sangat pucat,terlihat jelas kalau dia kelelahan.Tanpa pikir panjang aku mendekati Ian dan menarik lengannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Ian agak kebingungan,
"Ikuti saja" ucapku masih menarik lengannya.Aku membawa Ian ke Kamarnya dengan niat dia bisa beristirahat,tapi tidak kusangka dia dengan mudah tetap berjalan mengikutiku sesuai perkataanku
/di kamar Ian/
"Berbaringlah" ucapku pada Ian,
"Hah?" ucap Ian tidak mengerti dengan tampangnya yang datar tapi terlihat bodoh,
"Berbaringlah dan tidur,lanjutkan pekerjaan mu besok" ucapku memperjelas,
"Tidak mau" ucapnya singkat,
Terpaksa aku harus membuatnya terbaring. Ian berdiri tepat di samping tempat tidur,jadi akan mudah bagiku membuatnya berbaring.
"Tidurlah!" ucapku sambil mendorong tubuh Ian ke kasur,tapi usaha itu gagal,tubuhnya terlalu kuat untuk dijatuhkan,
"Kau berniat mendorongku dengan kekuatan sekecil itu?" tanya Ian mengejekku,
"Aku sudah melakukannya sekuat tenaga!" balasku menentang,
"Mana mungkin itu sekuat tenaga" lanjutnya masih mengejekku,
"P-pokoknya kau harus tidur!" ucapku kesal,
"Baiklah"jawab Ian lalu duduk dipinggir kasur. Tapi Ian menarik tanganku yang membuatku menjatuhkan tubuhku diatasnya,
"A-apa apaan kau ini Ian?!" teriakku dengan muka yang sudah memerah,
"Tidurlah bersamaku" ucapnya sambil tersenyum licik,
"Tidak mau!kita kan masih bertunangan!" teriakku menentang ajakannya,
Tapi Ian tidak memperdulikan perkataanku,dia memelukku dan memutar badannya sehingga aku berada diseblahnya,
"Kumohon.." ucapnya lelah,lalu tertidur sambil memelukku,
'Sial!aku tidak bisa melepas pelukannya!'pikirku sambil mencoba lepas tapi tidak berhasil,
Aku terpaksa menemani Ian tidur.Wajahnya saat tertidur sangat imut dan tampan,walau memang dia tampan tadi aura nya berbeda. Ian saat tertidur seperti kucing,dan saat bekerja seperti harimau.
"Andai kau tau kalau aku bukanlah Lily" gumamku sambil menyentuh wajah Ian pelan,tanpa sadar aku pun ikut tertidur.
.
.
.
.
"Aku dimana??.." gumamku pelan setelah pelan pelan membuka mata,tampak ruangan berwarna putih sepenuhnya,tanpa jendela ataupun pintu,
"Halo Lily" ucap seekor(?) burung raksasa dengan sayap api yang membara,
"Maaf anda siapa??dan saya dimana?" tanyaku pada orang(?) itu,
"Hahaha!aku tau kau akan terkejut,disini adalah Dunia Dlupenax,dunia para Dewa yang melindungi Kekaisaran Raveldra" ucapnya
"Dunia para Dewa!?" teriakku terkejut,
"Lisera memberitahu ku tentang dirimu" ucapnya,
"Maksud anda Dewi Lisera?jadi..Anda Dewa Lucitus!?" tanyaku memastikan,
"Kau sangat cerdas nona.Benar aku adalah Lucitus,Dewa Api pelindung Kekaisaran Raveldra" ucapnya sopan,
"Kenapa saya bisa berada disini??bagaimana dengan Ian??" tanyaku pada Dewa Lucitus,
"Hanya separuh dari jiwamu berada disini,saat kau terbangun nanti,kau akan kembali" jelas Dewa,
"Begitu,jadi ada alasan apa anda membawa saya kemari??" tanyaku,
"Lisera bilang warna masa depanmu berwarna putih,ini sangat langka dan bahkan belum terjadi sebelumnya.Aku membawa separuh dari jiwamu kesini agar aku bisa melihatnya lebih jelas"jelasnya,
"Baiklah" jawabku,
Setelah itu,Dewa Lucitus menutupi tubuhku dengan Api yang tidak panas dan membaca sebuah mantra.
"Hum??" gumam Dewa,
"Ada apa?apakah ada yang salah??" tanyaku,
"Jiwa mu berbeda" ucapnya,
"Apa maksudnya??" tanyaku lagi,
"Kau bukan dari dunia ini,siapa kau sebenarnya?" tanya Dewa Lucitus keheranan,
'Apa yang harus ku katakan?..'
Bersambung...
Yoo Minna!⊂((・▽・))⊃✨udah lama gak update lagi ya,hehe mau gimana lagi,author sibuk rl. Mungkin bakal jarang update karna udah mulai sekolah•́ ‿ ,•̀ makasii ya yang udah baca novel ini,sekian dulu terima gaji 🗿✨