
Flashback
"Tidak ada waktu lagi.." Lucas mengeluarkan sebuah alat komunikasi dari sakunya dan menghubungkannya dengan alat komunikasi milik Irvan.
"Irvan..",
"Tuan Besar!Apa yang and-" "
Kerahkan seluruh pasukan elite untuk segera pergi ke pusat kota!Temukan Lily sampai ke pelosok negeri bagaimana pun caranya!Temukan pelaku dan kelompoknya dan bawa kepadaku hidup ataupun mati!"
'**Lily..kami akan menemukanmu..tolong bertahanlah sedikit lagi..jangan sampai sesuatu terjadi**.."
.
.
Episode 33
"Lho..?dimana ini?..gelap sekali." perlahan Lily membuka matanya,semua gelap,dia tidak dapat melihat apa apa,kepala nya pusing karna efek samping gas tidur tadi.
"Sial, bagaimana bisa aku tertangkap semudah ini.." gumam Lily kesal.
'Eh?tangan dan kakiku tidak bisa bergerak..Apa ini?tali?berani-beraninya dia menyekap seorang gadis lemah sepertiku! Sebenarnya dimana ini?'
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kayu terbuka dan langkah sepatu seseorang sekitar 2 orang yang berjalan mendekati Lily.Salah satu pria membuka penutup mata Lily dan melihatnya dengan teliti.
"Apa wanita ini yang Tuan Muda cari?" tanya pria itu pada pria disampingnya.
"Tuan bilang matanya merah,sedangkan wanita itu bermata biru,sudah pasti bukan dia." jawab pria disampingnya,yang sudah pasti rekannya.
"Itu artinya wanita 'itu' yang dicari Tuan Muda." pria pertama menunjuk pada seorang wanita di seblah Lily,tak salah lagi itu adalah Rina.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Lily pada kedua pria itu.
"Kami hanya melakukan tugas yang diminta Tuan Muda kami,tapi sayang sekali kau harus terlibat Nona." ucap pria pertama.
"Benar,yah mungkin Nona ini bisa diajak bermain." ucap pria kedua.
Kedua pria itu menatap Lily dengan *****.Tentunya hal itu membuat Lily risih dan jijik terhadap mereka.
'Apa yang harus kulakukan?Tidak ada benda tajam di-eh..serpihan kayu!' Lily menemukan benda yang bisa dia gunakan untuk melepas tali di tangannya.Untungnya serpihan kayu itu tidak terlalu jauh darinya.Dia mencoba meraih kayu itu dan berusaha merobek tali yang mengikat tangannya.
"ugh.. Nona?" Rina perlahan tersadar.
"Rina!Syukurlah kau baik baik saja." ucap Lily sedikit lega melihat Rina sudah siuman.
"Lihat!Warna mata wanita itu merah!cepat panggil Tuan Muda kemari!" salah satu dari mereka langsung pergi keluar dan memanggil orang yang mereka sebut 'tuan muda'
"Kalian diam saja disitu sampai tuan kami kemari!" ucap pria yang masih berdiri tegak di depan Lily dan Rina.
"Nona.. maafkan saya..harusnya saya lebih memperhatikan.." ucap Rina meminta maaf pada Lily dengan mata berkaca-kaca.Lily tahu ini bukan kesalahan Rina,tapi dia juga tidak bisa mengabaikan permintaan maaf Rina.
"Sudahlah Rina,ini bukan salahmu..",
"HEI HEI HEI!JANGAN BERBISIK BISIK SEPERTI ITU!Lagian tidak akan ada yang bisa mendengar kalian walau kalian berteriak sekeras mungkin,hahaha" ucap pria yang menjaga mereka.
'Seharusnya aku memperbaiki jam pasir ku lebih cepat,aku tidak menyangka hal ini bisa terjadi pada gadis muda seperti ku.' pikir Lily sambil menghela nafas panjang.
"Oh ya Rina, kenapa para pria itu mencarimu?" tanya Lily penasaran.
Rina terdiam dan gugup,seolah menutupi sesuatu dari Lily.
"Saya juga tidak tahu Nona..saya tidak pernah berurusan dengan keluarga bangsawan selain keluarga nona.." jawab Rina lesu.
'Bukankah dia juga bangsawan?'
/Beberapa waktu lalu,di tempat Ian.
Di ruang kerjanya,Ian duduk dengan sangat tidak tenang.Ia terus-terusan menghela nafas dan mondar-mandir di ruangannya.
"Hah..kenapa aku tidak bisa tenang? firasat ku buruk sekali.." gumam Ian kesal.
tok!tok!tok!
"Kakak,apa aku boleh masuk?" ucap Yesra dari luar.
"Hm?Masuklah" balas Ian.
Yesra datang menemui Ian bersama Yusto, seperti biasa mereka selalu berdua kemana saja.
"Kalian bisa keluar dulu,aku akan memanggil kalian jika sudah selesai." ucap Yesra pada pelayan.
"Baik Nona" pelayan yang mengantar Yesra dan Yusto ke ruang Ian pergi sesuai perkataan Yesra.
"Ada apa?" tanya Ian.
"Kakak,apa Lily baik baik saja?" tanya Yesra.Ia tampak cemas.Sangat terlihat dari wajahnya.
"3 hari lalu aku bertemu dengannya,dan dia baik baik saja, tapi aku belum mendapat surat lagi darinya." jawab Ian heran.
"Kak,aku dengar dari Sir Johan kalau Ibu kota sedang dibuat kacau karna ada kasus pembunuhan dan penculikan." ucap Yusto.Ia tau kalau Ian sedang memiliki firasat buruk.
"Pembunuhan dan penculikan?siapa yang dibunuh?" tanya Ian makin dibuat penasaran dengan ucapan Yusto.
"Katanya korban pembunuhan adalah seorang kusir keluarga bangsawan,sedangkan yang diculik adalah majikan kusir itu.Sudah banyak kasus.Dari yang aku dengar beberapa waktu lalu dari temanku di ibu kota,ada kusir yang membawa seorang Lady berambut putih perak dan pelayannya berambut biru tosca." jelas Yusto.Sontak Ian terkejut begitu mendengar majikan kusir yang dibunuh itu.
"Seperti yang aku katakan.Kak,gadis bangsawan berambut putih perak di kekaisaran hanya Lily dan putri Viscount Turner,tapi mustahil kalau lady yang diculik adalah putri Viscount Turner,karna dia sudah lama meninggal karna wabah." Yusto menegaskan kembali maksud perkataannya pada Ian.Tidak memakan waktu setelah perkataan Yusto,Ian langsung berlari keluar,mengambil kudanya dan meminta pasukan untuk membuka portal menuju Ibu kota.
'Tidak..Lily tidak mungkin diculik..tapi kalau itu benar,aku tidak akan membiarkan tubuh para penculik itu utuh sampai mati.'
/Diposisi Lily dan Rina.
'Lepas!sekarang tinggal kaki',
Seorang pemuda dengan rambut merah tua dan mata merah memasuki ruangan dimana Lily dan Rina disekap.Pakaian rapi khas keluarga bangsawan kelas atas sangat mencolok di tempat kumuh seperti itu.
"Oh!Tuan Muda!saya sudah menangkap wanita yang anda cari!" ucap pria yang mengawasi Lily dan Rina.
"Kerja bagus." Pemuda itu berjalan perlahan mendekati Rina dan berjongkok didepannya.
"Lama tidak bertemu ya,Viona." ucap pemuda itu menyapa Rina dengan nama lain.Walau ucapannya terdengar ramah,tapi aura nya sangat bertolak belakang.
"Maaf Tuan,tapi saya tidak mengenali anda.." jawab Rina sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Benarkah?Kalau begitu mari kita berkenalan,aku putra kedua Duke Ricardo,Thevan Fiel Ricardo,kakakmu." ucap pemuda yang mengaku anak kedua dari Duke Ricardo.
"Tuan Thevan,saya adalah putri dari Viscountess Margaret..jadi saya harap anda tidak seenaknya menganggap diri anda kakak saya.." jawab Rina tegas.
"Benarkah?Tapi bukankah kita hanya beda ibu?Ayah kita sama bukan?Kenapa kau tidak menganggap ku kakakmu?Aku sedih sekali mendengarnya.." Thevan berbicara seolah dia menyindir Rina yang merupakan anak di luar nikah antara Duke Ricardo dan Viscountess Margaret.
"...." Rina terdiam,dia tidak membantah fakta itu.
"Kenapa?apa kau-KHAK!!" sebuah tendangan maut(?)dari Lily menghantam 'benda' diantara kedua paha kaki Thevan.Thevan langsung tersungkur ke tanah lemas tak berdaya.
"Apa yang-?!" sekali lagi serangan dari Lily melayang ke wajah pria yang mengawasinya tadi,sampai sampai pria itu terhempas ke dinding dan tak sadarkan diri.
"N-nona?!" Rina terkejut bukan main melihat Lily menyerang kedua orang itu.
"Rina!ayo keluar!" Sebelum sempat kabur,salah satu pria yang tadi memanggil Thevan masuk dan mencoba menyerang Lily.
"MATI KAU!" Pria itu berlari dan mengarahkan sebuah kapak pada Lily.Tapi pria itu kalah cepat,sebuah potongan kayu tajam menembus lehernya,membuat pria itu terjatuh dan mati di tempat.Darah berceceran dimana-mana,tidak sedikit pula darah terkena wajah dan gaun Lily karna jarak nya tidak jauh.
"Hah..dasar merepotkan!" Lily berdiri dan menghampiri Thevan,lalu menginjak wajah Thevan dengan sepatu hak tinggi nya.
"Apa yang harus ku lakukan padamu?Hm,saatnya tidur siang Tuan Muda!" pukulan dari Lily melayang ke wajah Thevan membuatnya pingsan di tempat.
"Nona..anda tidak apa apa?!" Rina begitu cemas melihat Lily yang terkena noda darah dan tangannya yang sedikit terluka karna potongan kayu.
"Tidak apa-apa Rina,jangan khawatirkan aku.Sekarang kita harus pergi." Lily segera melepas ikatan pada tangan dan kaki Rina.
Saat hendak berlari keluar bersama Rina,seseorang menghancurkan pintu masuk ke ruangan itu dengan sangat keras.
"Apa yang terjadi?!" Lily melihat 3 bayangan samar-samar dari arah pintu yang dihancurkan,lama lama bayangan itu terlihat jelas.
"Kakak-kakak?Ian??" ucap Lily kebingungan melihat mereka bertiga datang secara bersamaan hanya terbengong di tempat.
"Lily!kau baik baik saja?!" Lucas segera berlari kearah Lily bersama Ken.
"Semua pasukan amankan tempat ini!Jangan ada yang boleh keluar sebelum investigasi selesai!" Ian mengarahkan para pasukan yang dibawa Lucas untuk menyegel area itu.
"Kakak,apa yang terjadi?" tanya Lily polos pada Lucas dan Ken.
"Seharusnya kami yang bertanya!apa yang terjadi padamu?!Dan-!? Darah apa ini?!apa kau terluka?!" tanya Lucas sangat panik begitu melihat darah yang mengenai wajah dan gaun Lily.
"Tidak apa apa,ini bukan darahku." jawab Lily sambil tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
"Syukurlah kau baik baik saja..aku begitu cemas.." ucap Lucas langsung memeluk Lily erat.
"Hey!Aku ini juga kakaknya!" Ken mendorong Lucas supaya menyingkir dari Lily dan berganti memeluknya.
"Ugh..sesak!Jangan fokus padaku dulu,tangkap pelakunya!" Ken langsung melepas pelukannya dan sigap memegang pedang di pinggangnya.
"Mana pelaku itu?!akan ku bunuh mereka!" ucap Ken sambil mengeluarkan pedangnya dengan penuh amarah.
"Mereka sudah tepar." Lily menunjukan Thevan dan kedua anak buahnya yang sudah tidak berdaya.
"S-siapa yang membunuh yang satu ini?..Kenapa yang satu lagi terpental sampai sana?.." Lucas dan Ken melihat kedua anak buah Thevan yang dihabisi Lily dalam satu kali serang.
"Tidak tahu yah..hohoho.." ucap Lily memalingkan wajahnya dan tidak mau mengakui perbuatannya.
"Jadi pelaku sebenarnya adalah putra kedua Duke Ricardo?Cih,cara busuk apa yang sebenarnya dia inginkan?" ucap Ian mendekat pada Thevan yang masih tidak sadarkan diri.
"Apa-apaan wajahnya itu? kenapa dia babak belur seperti itu?aku hampir tidak mengenalinya.." ucap Ken heran.Lucas dan Ian mengangguk setuju dengan perkataan Ken.Wajah Thevan benar benar babak belur tak dapat dikenali karna lebam.
"Entahlah.." Lily tidak mau menjawab semua pertanyaan yang memenuhi kepala ketiga pemuda itu.
"Rina,kau tidak apa apa?" tanya Lily cemas.
"Saya..saya minta maaf nona.." Rina menangis pelan.Dia tidak menyangka Lily akan terlibat dalam masalah pribadinya seperti ini.
"Jelaskan,apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lucas serius.
"Kakak!Jangan mengintrogasi orang yang ketakutan!Lebih baik kita pulang dulu,biarkan petugas keamanan yang bertindak." ucap Lily.
"Maafkan saya Nona..saya.."
"Tidak apa apa Rina,tenanglah..aku disini."
Bersambung...