Vita Nova

Vita Nova
Episode 18 "Saudara lain"



Flashback


"Iblis itu sudah mengetahui kekuatanmu" ucap Vel serius,


"Tapi,aku tidak memberi tahu nya" ucapku,


"Dia itu penyihir,dia bisa merasakan kekuatan sihir dimana mana" ucap Vel,


"Tapi tenang saja,dia akan berpikir kekuatan sihirmu masih lemah karna tidak memancarkan aura yang kuat" ucap Bel,


"Kenapa?" tanyaku,


"Karna kalung yang kami berikan untukmu,aku sudah bilang itu 2 minggu yang lalu" ucap Vel,


"Oh begitu, terimakasih.."ucapku khawatir,


'Aku harus berhati hati dengan Ian,tapi.. apakah aku bisa mencintai nya walau sudah tau dia bisa saja berkhianat'


.


.


Episode 18


Di akhir pekan, cuaca sangat cerah dan sejuk walau salju turun.Aku berencana jalan jalan di desa untuk menenangkan diri sekaligus melihat lihat keadaan setelah ayah dan ibu meninggal.


Aku hanya memakai pakaian gadis desa dan topi untuk menutup rambut perak ku. Aku pergi tanpa pengawalan seorangpun.


"Desa lebih tenang daripada yang aku pikirkan" gumamku sambil berjalan jalan,


"Hei,apa kau sudah dengar tentang Nona Lily?katanya dia akan menikah dengan Tuan Muda Levian" kata seorang pria yang duduk di sebuah kafe kecil bersama temannya,


"Benarkah?aku kasian pada Nona" ucap teman pria itu,


"Benar juga ya,bisa bisanya Nona bertunangan dengan seorang iblis sepertinya.Bagaimana nasib nona kita nanti?" jawab Pria itu,


"Apalagi,wilayah kita sudah masuk ke Grand Duchy Everon, benar benar peningkatan pesat!Tapi Tuan Grand Duke Muda belum memiliki tunangan, siapa yang akan mewarisi gelar Grand Duke jika beliau tidak punya anak?" ucap teman pria itu agak lesu,


"Jika nona Lily bisa mempunyai 2 anak kelak dan Tuan Grand Duke Muda tidak akan punya pasangan bahkan anak,salah satunya bisa menjadi penerus Everon" ucap pria yang satunya,


'Benar..Kakak pernah berkata tidak akan menikah sampai dia mati karna aku lebih penting untuknya' pikirku,


Aku melanjutkan berjalan jalan dan membeli makanan yang tidak kumakan di kediaman.Aku juga membelikan Rina perhiasan kecil yang cocok di rambut biru tosca nya.


'Rina akan suka ini' pikirku,


Setelah berjalan jalan sampai matahari hampir terbenam dan membeli barang,aku berencana langsung pulang.Tapi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi,


/bruk,seorang pria menabrak ku sampai badanku hampir terjatuh,


"Eh-!",lalu sekejap pria itu juga menangkap tubuhku,


"Maafkan saya Nona" ucap Pria itu,


"Ah!t-tidak apa apa!" ucapku gagap karna malu,


Lalu pemuda itu melepaskan rangkulan tangannya dari tubuhku,


"Saya benar benar tidak sengaja,maafkan saya" ucap pemuda itu,


"Tidak apa apa,saya juga salah karna tidak melihat jalan" ucapku sambil membungkuk,


Lalu angin berhembus agak kencang,topi yang kupakai terbang tertiup angin dan rambut perak ku bergerak mengikuti hembusan angin,cahaya matahari sore yang berkilau mengenai rambut perak ku.


"Pedang" gumam Pria itu,


"Yaa??" tanyaku,


"Rambut anda seperti pedang nona,sangat indah" ucapnya sambil tersenyum,


"T-terima kasih" ucapku dengan muka memerah,


"Biarkan saya memperkenalkan diri" ucap pria itu sambil melepas topi nya,


"Saya Marquess Ruvenda,Ken Ruvenda,Nona" Rambut perak yang sama denganku dan mata hijau cerah yang mirip dengan kakak,


"Saya Lily Everon" ucapku memperkenalkan diri,


"Hoi! Lily!darimana saja kau dasar?!" teriak Kakak sambil menghampiri ku menaiki kuda,


"Kakak?!" teriak ku terkejut,


"Dasar kau ini membuatku khawatir saja!kenapa kau tidak memberitahu ku dulu?!" omel kakak setelah turun dari kuda,


"Maaf.." jawabku lesu,


"Sudah lama tidak bertemu ya,Lucas" ucap Ken pada Kakak,


"E-eh?!Ken?!" teriak kakak terkejut,


"Eh?eh?kenapa?" tanyaku,


Mereka tetap diam sambil menatap satu sama lain,


"Huh, Lily ayo kita pulang,dan Ken,kita harus bicara"ucap Kakak,


"Baiklah" ucapku dan Ken bersamaan,


Aku naik kuda bersama kakak, dan Ken naik kuda yang dia bawa,lalu kami pulang ke kediaman.


/Di kediaman/


"Lily,gantilah bajumu" ucap Kakak yang sedang duduk dengan Ken di ruang tamu,


"Baik" ucapku lalu masuk ke kamar dan berganti baju,


Setelah ganti baju dengan gaun,aku kembali ke ruang tamu,


"Kakak?" ucapku dari ambang pintu,


"Aku hanya ingin melihat mu dan adik ku" ucap Ken,


'Adik?' pikirku,


"Hey ayolah,kita sudah 14 tahun tidak bertemu layaknya keluarga" ucap Ken,


'Keluarga??apa lagi ini?' pikirku,


"Kita tidak bertemu selama itu karna kau sendiri..Jika saja saat itu kau membiarkanku pergi bersama Marquess,aku pasti akan menuntut mereka dan tetap bersamamu dan Lily" ucap kakak agak lesu sekaligus marah,


"Bagaimana bisa aku membiarkan penerus keluarga seperti mu tercoreng nama baiknya..aku hanya anak yang tidak ada nilainya" ucap Ken dengan senyum terpaksa


"Tapi kau itu tetap Adikku!kau adalah kembaran ku!aku tidak peduli aku akan jadi apa..setidaknya..aku bisa tetap bersamamu..dan tidak ingin kau terluka.."


"Ken adalah kakakku?.." ucapku masuk ke ruangan itu,


"Lily?.. sejak kapan kau masuk?" tanya Kakak,


"Jawab saja pertanyaannya ku!apa aku punya kakak lain selain Kakak?!Kenapa Kakak tidak bilang apa apa padaku?!" teriak ku pada kakak sambil hampir menangis,


"Aku ingin memberitahu mu disaat yang tepat.." jawab Kakak,


"Aku pikir hanya tinggal Kakak yang aku miliki.." ucapku pelan,


"Hanya?..mana ayah dan ibu?" Tanya Ken,


"..mereka sudah meninggal beberapa hari lalu.." ucap Kakak,sesaat ruangan sangat sunyi,


"begitukah...aku sangat terlambat datang kesini..harusnya aku bisa pulang lebih cepat..maaf" ucap Ken sedih,


"Jangan diungkit lagi..Lily bisa kembali sedih" ucap Kakak,


"Tidak apa apa kak.. aku baik baik saja.." ucapku dengan senyum terpaksa,lalu duduk diseblah kakak,


"Jelaskan padaku dari awal kak" ucapku,


"Baiklah,sudah saatnya kau juga tau" ucap kakak,


"14 tahun lalu,saat kau masih berumur 2 Tahun,kediaman kita di masuki penyusup utusan Marquess Ruvenda. Para penyusup itu memanfaatkan waktu di malam hari untuk membawamu pergi,tapi ayah yang melihatmu dibawa lari,langsung mengerahkan para kesatria malam dan langsung turun tangan di halaman. Ibu,Aku,dan Ken juga ikut berlari ke halaman setelah mendengar teriakan ayah mengerahkan para kesatria malam. Malam itu penyusup itu berkata "Serahkan salah satu putra mu jika ingin putrimu selamat" sambil meletakan pedang yang sangat tajam ke lehermu.Waktu itu aku tidak bisa berpikir sama sekali dan langsung maju mendekati penyusup itu, tetapi ayah mengentikan ku karna aku pewaris gelar suatu saat,tapi ayah juga tidak ingin Ken langsung menyerahkan dirinya.Tak lama setelah itu,penyusup itu mulai mendekatkan pedangnya lebih dalam ke lehermu,sampai sedikit berdarah,karna kamu masih kecil,kamu langsung menangis dengan sangat keras. Ken yang waktu itu menatap kosong ke arah penyusup itu maju menggantikan diriku tanpa mendengar perkataan ayah,setelah itu kamu diletakan ditanah dan membawa Ken pergi.Aku yang tidak bisa berbuat apa apa..dan membiarkan Ken dirampas,merasa sangat tidak berguna..aku terus berpikir apa yang terjadi dengan Ken,dan apa yang harus kulakukan untuknya..tapi ayah berkata kalau Ken akan baik baik saja setelah beliau pergi ke Marquess Ruvenda,dan aku hanya bisa percaya.." jelas kakak,


"Jadi..bekas luka ini" gumamku sambil menyentuh luka gores dileher,


"Benar,itu bekas pedang penyusup" ucap Kakak,


"Yah,walau begitu,tuan Marquess memperlakukan ku seperti anaknya sendiri, tapi aku tidak suka itu karna dia hanya sok baik" ucap Ken,


"Jadi Ken adalah kakakku?" tanyaku pada kakak,


"Iya, sekaligus kembaran ku" ucap kakak,


"Jadi tadi yang kakak ku sendiri yang bikin aku baper ?" ucapku datar,


"Baper??apa itu?" tanya Ken dan kakak,


"Sudahlah lupakan!tapi..aku senang karna setidaknya,tidak hanya kakak yang ingin menjagaku" ucapku pelan dengan senyum tipis,


"Aku senang jika kau senang" ucap mereka bersamaan,


"pftt" ucapku menahan tawa,


"Aku duluan" ucap mereka lagi lagi bersamaan,


"Hey!apa apaan kau ini!?" dan lagi,


"Berhentilah mengikuti ku!" dan lagi lagi,


"Sudahlah!!" teriak mereka bersamaan,


"Woe..kau mau mati?.." ucap mereka bersamaan lagi dengan nada dingin dan mencengkam,


"Berhentilah mengikuti ku dasar sialan!!" teriak mereka bersamaan (lagi) sambil beradu kepala,


"baiklah.." ucap mereka,


"Dasar Rumput liar!" teriak mereka bersamaan dan sangat pas,


"Sudahlah,kalian memang sudah ditakdirkan sepemikiran,beruntunglah karna sangat langka kembaran yang seperti itu" ucapku mencoba menenangkan mereka,


"Jadi,aku tidak akan memanggil kakak dengan 'Kakak' lagi" lanjutku,


"Hah?apa maksudmu?" tanya Kak Lucas,


"Sekarang aku akan memanggil kalian Kak Lucas dan Kak Ken" jawabku bangga sambil minum teh,


"Hey!kakakmu itu cuma aku!" ucap kakak menolak keputusanku sambil menangis seperti orang bodoh,


"Tidak boleh,Kak Ken juga kakak ku" ucapku sombong,


"Ken..INI SEMUA GARA GARA KAU!!" ucap kakak marah,


"Apa?aku ini jelas sekali kakaknya Li-" "DIAMLAH KAU DASAR ADIK TIDAK BERGUNA!LILY TIDAK MEMANGGIL KU KAKAK LAGI MELAINKAN KAK LUCAS GARA GARA KEDATANGANMU!!" omel Kak Lucas setelah melempar Kak Ken dengan kursi (Darimana dia dapat kursi itu?-_-"),


"Apa?!aku juga kakaknya!tidak adil jika hanya kau yang dianggap kakak! jika hanya kau yang kakak,lalu aku apa?!" ucap Kak Ken penuh emosi lalu beradu kepala lagi dengan Kak Lucas,


"Tentu saja hanya sebuah debu dipojok ruangan!tidak lebih tentunya!" ucap Kak Lucas ngotot tidak mau kalah,


"Dasar Ular!" ucap Kak Ken,


"Dasar Kutu!" balas Kak Lucas,


Begitulah seterusnya sekitar 2 jam,tak sadar sudah larut malam dan terpaksa Kak Ken menginap sampai besok,begitulah seharusnya.


"Aku akan menginap selama 2 bulan" ucapnya tanpa rasa bersalah,


"Apa kau gelandangan yang tidak punya rumah?!" bantah Kak Lucas ngomel,lalu mereka bertengkar lagi sebelum tidur,


Aku menghela nafas karna lelah dengan sikap mereka yang sama keras kepala,


'Ya ampun,bagaimana nasib keluarga ini jika dua Butiran debu ini tidak berhenti berkelahi'


Bersambung...


Halo semua!>< hari ini author up 2x yess🐝✨Dan Novel "Tuan Marquess dan Arwah Penyihir" sudah keluar(≧▽≦)✨dan makasii buat support nya ya semua🥺✨karna novel ini up pas author lagi senggang aja tehee~✨sekian dulu ya, terimakasih banyak semua🗿✨