
Flashback
'Oh! Pertemuan pertama Kak Lucas dan Kak Fei saat proyek kapal besi yang ku sarankan?fiks,aku jenius!' pikir Lily,
"Aku mengamati mereka sebentar. Tanpa sadar aku terlalu fokus pada Lucas karna senyuman nya,aku dengar dia disana karna ada pekerjaan dengan Marquess Ruvenda,mereka terlihat sangat dekat.Lalu saat menjelang sore,aku tidak sengaja berpapasan dengannya di pantai,pesonanya sangat terlihat dari dekat.Sejak saat itu kami mulai akrab,saat ada acara di istana,dia selalu mengajakku,sampai beberapa bulan lalu dia melamarku.Lalu kami bertunangan..begitulah..ahh aku sangat malu mengingat saat dia melamarku".
'Kak Lucas bisa romantis?!'
.
.
Episode 53
Matahari mulai naik dan panas makin terik,Lily dan Fei memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mansion dan makan siang bersama Vel dan Bel.
/Di meja makan,
Lily duduk di kursi kepala keluarga, diseblah kanan nya duduk Vel dan Bel yang sedikit berdebat,lalu diseblah kirinya duduk Fei yang masih berbincang dengan Lily sambil menunggu makanan datang.Walau terlihat biasa biasa saja,tapi diantara Lily dan Vel terlihat suatu jarak tipis yang membuat mereka berdua canggung dan tidak saling mengobrol atau bertatap muka,
"Tristan,kenapa kau tidak menatap Lily sama sekali?apa kau berdebat dengannya?" bisik Bel pada Vel diseblahnya,
"T-tidak ada.." Vel memalingkan wajahnya dari Bel cepat,
"Aneh"
Tak lama kemudian,beberapa troli makanan datang membawa berbagai macam makanan enak,Vel yang sangat suka makanan berseri seri dan matanya berbinar-binar,
"Tunjukan sopan santunmu!" ucap Bel sambil memukul perut Vel,
"B-baik.." Vel kembali tenang begitu mendapat pukulan dari Bel,
Mereka berempat pun makan bersama dengan tenang,kecuali Vel yang agak rakus dengan makanan makanan enak di depan matanya,
"Bisakah kau makan dengan tenang?!" teriak Bel emosi,
"Memangnya kenapa?Ini kesempatan yang harus digunakan semaksimal mungkin tau!"jawab Vel dengan mulut yang penuh dengan makanan,
"Kau ini ya..",
Lily hanya tertawa kecil melihat tingkah laku mereka berdua,
"Kak Fei, bagaimana rasa ma-hum??"
Fei fokus menatap kedepan dan tidak mendengar perkataan Lily.Lily mengikuti arah pandangan Fei,dan itu tertuju pada Vel.Kembali menatap Fei, Lily melihat Fei tersenyum tipis dengan mata sayu dan semburat merah tipis di pipi nya,
'Kenapa Kak Fei seperti itu ya?..entah kenapa.. firasatku aneh' pikir Lily,
Selesai makan siang,Vel dan Bel kembali ke paviliun untuk meneliti sesuatu tentang Tanah Malterra dan Eudon yang tidak kunjung kembali.Sedangkan Lily diam diam mulai bekerja lagi tanpa sepengetahuan Fei atau Jeremy di perpustakaan di lantai 4,
'Aku belum memberitahu Vel dan Bel tentang masalah Kristal Mana, seharusnya aku tanya mereka tadi ya, tapi mereka meneliti Tanah Malterra dan Eudon..aku tidak mau membebani mereka',
Lily melanjutkan pekerjaannya yang semakin banyak karna besok adalah rapat yang besar, menentukan nasib Arina dan keluarganya.
"Huh..kondisi Kaisar juga belum membaik,rapat besar karena pencemaran nama baik Miscess akan terjadi besok,dan kondisi pelabuhan yang makin ramai..ini membuatku stress!"
Lily mengambil smartphone nya dari kantong dress dan memutar sebuah lagu favoritnya dan mulai menyanyi pelan.Suaranya bergema karna perpustakaan sangat kosong dan sunyi,hanya cahaya yang masuk melalui jendela yang menemani Lily di kursi nya itu.
"Trisela sialan,bisa bisanya dia menyuruhku ke perpustakaan menakutkan di lantai 4 ini hanya untuk menemukan buku tentang Tanah Malterra",Vel bergumam kesal sambil berjalan menuju perpustakaan di lantai 4, dibelakangnya tampak Fei yang mengikutinya diam diam,
'Kemana Tuan Vel akan pergi ya?aku penasaran',
Sesampainya di depan pintu masuk perpustakaan,Vel mendengar suara yang sangat merdu sedang menyanyikan sebuah lagu,
'Suara ini..meredakan emosiku..'
Vel membuka pintu perpustakaan pelan-pelan,dan mendapati Lily yang sedang duduk di sebuah kursi meja kerja disinari cahaya matahari yang masuk dari jendela sambil menyanyi.Rambut putih peraknya tampak berkilau seperti pedang dan membuat Vel terdiam sambil menatap Lily dalam dalam.
"Lily.."
Lily terkejut dan langsung sadar begitu mendengar suara Vel.Melihat Vel berdiri di ambang pintu,sudah pasti dia sudah cukup lama berada disana,
"V-vel?k-kenapa kau disini?" tanya Lily gugup,
Vel mengabaikan perkataan Lily dan mendekat kearahnya perlahan,
"Vel?ada apa denganmu?" tanya Lily sekali lagi,
Vel sudah berdiri tepat di depan Lily dengan tatapan sayu,dia tampak ingin menangis.Lily khawatir terjadi sesuatu antara Vel dan Bel,
"Kenapa kau menunjukan ekspresi seperti itu?..",
"Akhirnya aku bisa bernafas lega..",
"Eh?apa maksud mu?"
Vel menggenggam tangan Lily dan meletakkannya di pipinya.Telapak tangan Lily yang halus mengusap lembut wajah Vel, menenangkan ekspresi Vel yang tadinya tampak kesal menjadi tenang,
"Dadaku sakit akhir-akhir ini..ingin rasanya aku mengamuk dan menghancurkan benua ini dengan sekali petikan jari..tapi.. begitu mendengar nyanyian mu,semua rasa sesak dan amarah itu hilang..sihir apa yang ada di dalam dirimu sebenarnya.." ucap Vel dengan lembut dan tenang,Lily tidak pernah mendengar suara Vel yang begitu lembut sebelumnya,
"Sekarang sudah tidak.." jawab Vel,
Perlahan tangan Lily melingkar pada leher Vel, Lily memeluk Vel dengan penuh perasaan,membawa perasaan tenang pada Vel,
'Pelukan ini..sangat kurindukan..'
Vel kembali memeluk Lily erat sambil mengusap rambut Lily perlahan.Diambang pintu,tampak Fei yang menatap mereka berdua tidak percaya.Fei tampak sangat terkejut sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak,
'A-apa ini?..kenapa dadaku sangat sesak..?tidak..ini tidak boleh terjadi!' Fei langsung berjalan keluar dari perpustakaan dengan wajah yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya,
Vel yang masih memeluk Lily tersadar dan mendorong Lily ke meja dan merebahkannya.Lily yang terkejut hanya bisa terbengong dan tersipu malu,
"A-anu..Vel..posisi ini..agak..",
Kedua tangan Lily masih digenggam Vel,dia tidak bisa melawan selain menyadarkan Vel,
"Bagaimana bisa kau membuat ku seperti ini..?" gumam Vel sambil menatap Lily dalam,
"Apa maksudmu??",
"Kau.. membuatku ingin memilikimu seutuhnya..aku tidak ingin membagimu dengan siapa pun.."
"Vel..sadarlah!apa yang kau lakukan?!"
Vel tersadar begitu Lily sedikit berteriak, melihat posisinya yang berada di atas Lily membuatnya sangat malu dan wajahnya berubah merah,
"M-MAAF!AKU TIDAK SENGAJA!" Vel langsung mundur menjauhi Lily,
"Ada apa denganmu?Apa kau tidak enak badan??" Lily bangun dari posisinya dengan wajah cemas,
"Ah.. sepertinya aku terlalu lelah karna mencari petunjuk tentang Tanah Malterra dan Eudon.."
"Akan lebih baik jika aku membantumu",
"T-tidak perlu..lagian kau masih butuh banyak istirahat dan tidak boleh bekerja,kenapa kau malah ada disini?"
"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku begitu saja",
"Dasar kau ini",
Vel mendekat ke Lily dan menjitak dahinya,
"Sakit tau!Kenapa tiba tiba?!" Lily kesakitan karna jitakkan dari Vel yang agak kuat mengenai dahinya,
"Perhatikan kondisimu dulu baru lakukan pekerjaan! Bagaimana kau bisa bekerja dengan kondisi sakit?"
"Cih.."
Vel menyusuri beberapa rak buku untuk mencari buku yang diminta Bel padanya tadi.Setelah menemukan 3 buku yang berkaitan dengan Tanah Malterra dan Eudon,Vel berbincang dengan Lily sebentar, mereka tertawa bersama setelah saling menjauhi satu sama lain.
Di sisi lain,disebuah ruangan di Istana,terdapat 3 orang yang sedang berdiskusi dengan aura gelap yang menyelimuti ruangan itu.Putra Mahkota Felix,Lucas,dan Ian sedang rapat pribadi di ruangan Putra Mahkota,
"Jadi bagaimana dengan rapat besok?",tanya Putra Mahkota,
"Sepertinya akan sulit karna pengikut Duke Wilen yang banyak", jawab Lucas sambil membolak-balik halaman beberapa lembar kertas di tangannya,
"Dan juga,mereka tidak akan membiarkan Duke Wilen jatuh menjadi rakyat biasa hanya karna Lady Arina" lanjutnya,
"Tapi ini sudah menyalahi undang-udang no.138 tahun 401 kalender Kekaisaran Raveldra, 'barang siapa menghina(melecehkan) dan menjatuhkan nama baik orang suci, maka dijatuhi penurunan kasta 3-4 tingkat',dan Duke Wilen akan diturunkan menjadi Viscount atau Baron,tapi itu tidak cukup.." ucap Ian suram,
"SETUJU." jawab Lucas dan Putra Mahkota bersamaan,
"Duchess Wilen sudah tiada,dan Duke Wilen tidak mau menikah lagi,Lady Eri yang merupakan kakak Lady Arina sudah menikah dengan seorang Count,maka keuangan jatuh pada Lady Arina" jelas Lucas,
"Bagaimana dengan putra Duke Wilen?" tanya Ian penasaran,
"Maksud mu Olux? dia sedang melakukan perjalanan ke luar negri selama 6 tahun,kira kira dia akan kembali kesini 4 bulan lagi karna panggilan Duke" jawab Lucas sambil membolak-balik halaman kertas yang lain,
"Dia pasti akan sangat terkejut dan kena mental begitu tau ayahnya bangkrut dan turun kasta hanya karna perbuatan adiknya,HAHAHA!" Putra Mahkota terlihat puas mengatakan hal itu sambil tertawa,
"Omong-omong Grand Duke,kenapa anda masih belum melaksanakan pernikahan dengan Lady Fei?anda sudah terlalu tua untuk menikah" ucap Ian tanpa rasa bersalah,
"Aku ini masih 28,masih ada kesempatan,lagi pula aku percaya pada Fei kalau dia akan menunggu ku", jawab Lucas,tapi berlawanan dengan perkataan nya,raut wajahnya terlihat bingung,
"Kau sendiri bagaimana? Marchioness Gradina pasti sedang menunggu mu untuk mempersiapkan acara pernikahan bukan?" tanya Putra Mahkota pada Ian,
"Saya masih ada rasa bersalah padanya,dan kondisi Kaisar sedang tidak baik baik saja,akan banyak rumor buruk yang tersebar jika melangsungkan pernikahan di saat seperti ini" jawab Ian tenang,
"Dasar!Bisa bisanya memamerkan tunangan kalian di depan Putra Mahkota yang bahkan belum mempunyai tunangan!, kapan aku punya pasangan?!Setidaknya kenalkan lah satu gadis untukku!" rengek Putra Mahkota sambil menangis tersedu-sedu,
"Bukankah anda sendiri yang menolak para wanita?.." jawab Ian dan Lucas bengong,
"MEREKA BUKAN SELERAKU!"
Bersambung...