
Flashback
"Aku mencintaimu.Perasaan yang tidak seharusnya muncul ini mengganggu tapi aku menyukainya,karna penyebabnya adalah dirimu."
Lily membelalak.Semburat merah tipis muncul di kedua pipinya yang putih.
"Setelah semua ini selesai,bersediakah kamu menikah denganku?"
Ian tersenyum lembut dan manis.Perasaan tulus dari seorang pria yang pertama kali Lily rasakan.Tanpa sadar air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya. Rasa senang dan haru memenuhi pikiran dan hati kedua orang itu.
"Iya,aku bersedia!"
.
.
Episode 99
"Saya mengaku kalah,baginda!"
"Baiklah.Kau sudah berusaha,aku menghormati keberanian mu."
"Terimakasih banyak."
Seminggu berlalu sejak kejadian itu. Remina dan Chaster kembali ke kerajaan Clovarn dan Chaster naik ke tahta raja. Kondisi Zergan sudah pulih sutuhnya dan pelindung juga sudah di pulihkan oleh Vel.
Sesuai ajakan 'latih tanding' yang di bicarakan Felix,Shavad dan Felix melakukan latih tanding itu. Sangat terlihat perbedaan antara mereka. Hanya dalam 10 menit Felix berhasil menbuat Shavad tunduk.
"Luar biasa. Kekuatan baginda dan pangeran Shavad sangat berbeda jauh." ucap Tenoah kagum.
"Tapi sepertinya baginda tadi hampir kalah jika tidak sadar dengan gerakan kaki pangeran Shavad." ujar Charlos.
"Pangeran Shavad lincah sekali ya." ucap Evelyn.
"Kakak sudah dilatih kelincahannya sejak kecil.Walau tenaganya tidak besar tapi dengan memanfaatkan kelincahannya,kakak bisa menghindar saat terpojok." jelas Demiera bangga.
Felix membantu Shavad berdiri dan menghampiri para putri dan pangeran yang melihat latih tanding mereka.
"Anda luar biasa baginda.Pangeran Shavad juga sudah berusaha keras." ucap Arta.
"Terimakasih. Pangeran Shavad sangat lincah, hampir saja aku dikalahkan." ujar Felix sambil tertawa.
"Anda berlebihan,baginda." balas Shavad.
Mereka tertawa bersama setelah latih tanding. Tiba-tiba, Lucas datang bersama seorang anak kecil yang tidak lain adalah Asher.
"Salam pada baginda Kaisar." Lucas memberi salam pada Felix dan diikuti oleh Asher.
"Oh,Lucas. Kenapa kau membawa Asher kesini?" tanya Felix heran.
"Permaisuri sedang tidak sehat dan Kenneth ada urusan di wilayah Mark. Asher juga merindukan Yesra." jawab Lucas.
Para pangeran dan putri menatap Asher dan Yesra bergantian. Mereka sangat mirip.
"A-anu,baginda siapa anak kecil ini?" tanya Claudia.
"Dia sangat mirip dengan putri Yesra." ucap Tenoah.
"Ah..itu.."
"Ibu!"
Sontak seluruh orang di sana kaget dan tidak percaya apa yang barusan mereka dengar. Yesra tersenyum dan mendekat ke Lucas dan Asher.
"Kenapa? Kamu tidak ada teman ya?" Yesra menggendong Asher. Felix hanya bisa terdiam membatu begitupun Lucas yang tutup mulut.Para putri dan pangeran juga diam seribu bahasa,tidak berani membuka suara.
"Ayah sibuk. Aku kesepian." ucap Asher sambil menunjuk Lucas.
Keadaan makin hening. Lucas benar-benar seperti patung sekarang.
"Aku akan menjelaskan semuanya.." ucap Felix agak berat.
Felix mengajak mereka ke istana nya untuk menjelaskan semua yang terjadi. Dari awal asal usul Asher dan semua masalah yang sebenarnya terjadi. Felix juga menjelaskan kenapa Asher memanggil Yesra ibu dan Lucas ayah. Mendengar penjelasan Felix,para putri dan pangeran pun paham dan lega kesalahan pahaman mereka diluruskan.
"Maafkan saya,putri Yesra dan Grand Duke Everon. Saya tidak berpikir jauh sebelumnya dan asal membuat pikiran tidak mengenakan." ucap Shavad.
"Saya juga,maafkan saya."
"Maafkan saya putri dan Grand Duke."
"Tidak apa-apa,saya juga paham kenapa kalian salah paham. Keberadaan Asher sebenarnya masih di sembunyikan dari masyarakat dan hanya beberapa orang yang tahu. Kebetulan sebentar lagi agenda pengetahuan sejarah asal mula kekaisaran dan para penguasanya. Ini akan menjadi sedikit rahasia tambahan.Saya mohon pada kalian untuk tutup mulut soal ini sampai di nobatkan nya salah satu dari putri sebagai permaisuri." ucap Felix.
Para pangeran dan putri mengerti dan berjanji akan tutup mulut soal Asher.
"Anu,baginda bolehkah saya bertanya?"
"Silahkan putri Silviana."
"Apakah saat salah satu dari kami naik ke posisi permaisuri,pangeran Asher akan menempati posisi sebagai putra mahkota?"
"Itu semua tergantung Asher.Jika dia berminat pada tahta maka ia akan bersaing dengan pangeran dari permaisuri.Tapi jika dia tidak berminat pada tahta,dia akan menjadi penerus Grand Duke Everon,atau dia bisa lepas dari semua itu dan menjadi dirinya sendiri sesuai pilihannya."
Semua orang tersenyum mendengar jawaban Felix. Benar,ini adil untuk Asher. Masa depannya tergantung pada dirinya sendiri,bukan berdasarkan tuntutan orang lain.
Waktu mereka hanya 4 hari sebelum ujian pengetahuan sejarah kekaisaran.Mereka belajar begitu giat demi lolos ujian kali ini.
Hari Ujian
"Para putri,apakah kalian sudah siap?"
"Kami siap,Yang Mulia Ibu suri."
Ujian pengetahuan ini dipimpin langsung oleh ibu suri. Felix, Lucas, dan Lily juga mengawasi.
"Baiklah.Aku harap kalian semua akan menerima keputusan apapun yang aku ambil."
Ujian ini pun dimulai. Para putri melakukan ujian dengan penuh keyakinan akan diri mereka. Lily yang mengawasi pun senang karna tidak ada yang bermain licik diantara mereka.
.
.
"Kalian sudah bekerja keras. Aku berterima kasih pada kalian karna sudah berusaha melewati ujian ini."
"Terimakasih banyak,baginda."
Lucas memberikan sepucuk kertas hasil dari ujian ini pada Felix. Senyuman terukir di wajah pria itu.
"Aku bangga pada kalian.Tapi aku sangat minta maaf karna salah satu dari kalian tidak lolos dalam ujian ini.."
Raut wajah para putri berubah drastis.Mereka bingung siapa yang tidak lolos dalam ujian kali ini.
"Putri..Silviana."
Suasana hening. Begitu hening dan sepi.
Istana Ruby
"Paman,ibu?"
"Yesra akan kembali sebentar lagi,Asher.Apakah kamu lapar?"
"Aku bosan."
"Kalau begitu, ayo keluar."
Yusto mengajak Asher jalan-jalan di taman istana ruby. Seperti namanya, istana itu di dominasi warna merah.
"Paman,ibu suka bunga apa?"
"Dia suka semua bunga. Tapi dia suka bunga mawar merah."
"Kenapa?"
"Yesra..begitu mengidamkan seorang pria yang benar-benar mencintainya. Tapi,dulu kami lumpuh karna kecelakaan jadi harapannya hancur. Dia tidak lagi menyukai bunga mawar merah,sampai suatu ketika Lily datang di hidup kami dan mengubah segalanya. Harapan Yesra yang hancur dapat di kembalikan karna Lily."
Wajah Asher berubah masam. Dia sepertinya tidak suka akan sesuatu.
"Ada apa,Asher?" tanya Yusto bingung.
"Ibu punya ayah. Apakah ayah tidak mencintai ibu? Apa arti mencintai yang sebenarnya,paman?"
Pertanyaan Asher membuat Yusto terdiam.Apa arti sebenarnya dari cinta itu?
"Asher,kamu akan tahu saat waktunya sudah tiba,untuk sekarang jangan berpikir tentang hal itu karna terlalu rumit." jawab Yusto sambil tersenyum.
Asher masih tampak kurang puas.Ia menyembunyikan wajahnya di pundak Yusto.
"Apakah paman tidak mencintai seseorang?"
Yusto terdiam.Ia tidak mau menjawab pertanyaan itu.
"Ada. Tapi aku tidak bisa menggapainya walau aku berusaha."
Asher melihat raut wajah Yusto yang tersenyum pahit. Dia tidak paham orang dewasa.
"Asher!"
Suara Lucas yang memanggil Asher dari belakang mengalihkan perhatian Yusto dan Asher. Yesra bersamanya,itu artinya ujian sudah selesai.
"Ayah! Ibu!"
Asher turun dari gendongan Yusto dan berlari menuju Lucas.
"Apa kamu bosan menunggu terlalu lama? Maafkan aku."
"Tidak apa-apa,ayah! Paman Yusto bersamaku seharian."
Lucas tersenyum. Ia melihat Yusto tersenyum kearahnya. Tapi,senyuman itu mengganjal di nata Lucas.
"Yusto, terimakasih sudah menemani Asher." ucap Yesra.
"Bukan masalah. Dia anak yang penurut." balas Yusto sambil tersenyum.
"Bagaimana hasil ujiannya?" lanjut Yusto bertanya.
"Ah soal itu..Putri Silviana tidak lolos." jawab Lucas ragu.
"Begitu ya..tapi dilihat dari tingkah lakunya selama ku amati,dia tidak berminat dengan tahta permaisuri sejak awal. Aku juga melihat tangannya yang sedikit bengkak walau tertutup sarung tangan." ujar Yusto.
"Dia punya energi dan niat yang kuat dalam berpedang. Aku harap dia bisa melanjutkan hobinya tanpa memikirkan tanggapan orang." ucap Lucas.
"Kalian masuklah.Udara sudah makin dingin,aku akan menyiapkan teh dah makan malam."
"Terimakasih Yesra,maafkan aku merepotkan mu."
"Tidak apa-apa,kak Lucas. Kau pasti lelah. Ayo istirahat dulu."
Yusto dan Lucas mengikuti Yesra dari belakang.Yusto berhenti,menatap punggung Yesra dan Lucas yang makin menjauh.
'Apakah aku akan sebahagia Yesra jika berharap ada wanita yang benar-benar tulus mencintaiku? Aku hanya mencintai satu orang yang seharusnya tidak aku cintai.'
"Yusto! Kenapa kau berhenti? Cepatlah kemari!" teriak Yesra yang sudah agak jauh di depannya.
"Iya! Aku segera kesana!"
'Sepertinya,hal itu tidak penting untukku sekarang.'
"Dasar,kenapa malah diam saja!"
"Maaf,Aku terpikirkan sesuatu tadi."
"Eh? Soal apa? Putri Silviana?" goda Yesra.
"Tidak.Lupakan." jawab Yusto tegas.
Bersambung...