Vita Nova

Vita Nova
Episode 89 "Kesalahpahaman"



Flashback


"Kakak pasti makin jatuh cinta padamu." ucap Yesra menggoda Ian.


"Sejak awal aku sudah mencintainya." balas Ian sambil memeluk Lily dari belakang.


"Oi!Jangan memeluk adikku!!" teriak Lucas dan Ken bersamaan.Beberapa saat lalu mereka sempat bertengkar entah karna apa.


Suasana diantara mereka sangatlah damai.Walau beberapa kali rasa rindu muncul karna urusan pribadi mereka masing-masing,tapi hubungan mereka tetap terjalin erat dan makin erat.


.


.


Episode 90


"Kakak,ada surat dari Baginda Kaisar."


"Surat?"


Lily memberikan surat dari Felix pada Lucas.Begitu membukanya,Lucas membaca setiap kata dengan sangat serius.


"Utusan dari negeri Luanvier akan tiba 2 minggu lagi.Mereka bilang Putri Silviana dan Pangeran Arta yang akan datang." ucap Lucas.


"Mungkinkah untuk menjalin kerja sama?Sebentar lagi pemilihan putri mahkota yang datang dari seluruh negeri." ujar Lily.


"Itu bisa jadi,tapi..kenapa beliau mengatakan untuk bersiap dengan sangat baik menyambut utusan Luanvier?"


"Ah,itu karna barang-barang yang dipesan baginda sebagian besar berasal dari Luanvier jadi kita harus menyambut mereka dengan sangat baik sebagai ucapan terimakasih."


"Hm,begitu,baiklah.Lily aku akan pergi ke istana,aku titip Ash." ucap Lucas.


"Baiklah,kak."


Lucas bersiap-siap dan hendak pergi ke istana.Asher melihat Lily mengantar Lucas ke depan.Tampak Lucas menaiki kereta dan pergi.Asher segera berlari menyusul Lucas.


"Ayah!!"


"Eh,Asher!Berhenti!"


Ia terlambat.Lucas sudah pergi keluar gerbang.


"Bibi.. kemana ayah akan pergi?" tanya Asher tampak sedih.


"Kakak pergi ke istana untuk menemui Baginda Kaisar,ada hal penting untuk diurus.Kakak akan segera kembali." jawab Lily.


'Dia anak berumur 2 tahun?..Cara bicaranya sangat lancar,bahkan terlalu lancar..'


"A-apakah..ayah dan ibu benar-benar akan berpisah?..B-baginda Kaisar akan mengambil ibu?.." tanya Asher sudah hampir menangis.


"A-apa?! Siapa yang berkata begitu?!" tanya Lily kaget.


Asher menceritakan hal terjadi di kastil Everon seminggu yang lalu.Lily pun kaget mendengar Asher berbicara dengan apa yang dikatakan Felix.


"Tidak apa-apa,Ash.Baginda hanya bercanda sebatas sahabat kakak dan kakak sepupu Yesra.Tidak akan ada masalah." ucap Lily.


"Benarkah?..Bibi tidak bohong kan?" tanya Asher memastikan.


"Tentu saja!" jawab Lily.


'Kakak pasti tertekan selama ini, karna Asher mengira dia dan Yesra adalah suami istri..' pikir Lily.


"Asher!Kamu dimana?"


"Ibu!Aku disini!"


Yesra mencari Asher sejak tadi.Ia hendak memanggil Asher untuk segera makan siang.


"Yesra,kau baik-baik saja?.." tanya Lily.


"Ya?Apa maksudmu?Tentu saja." jawab Yesra dengan polos.


"Kau menikah dengan kakak?.." tanya Lily berbisik.


"Apa maksudmu,Lily?..Dia itu kakak ku nanti.." jawab Yesra lesu.


"Soalnya Asher mengira kalian sepasang suami istri.." ucap Lily.


"Aku ibu asuhnya dan kak Lucas ayah angkatnya..Dia sudah diberikan doa kesucian Dewa Beyola sejak lahir dan akulah walinya,jadi aku harus selalu mengawasinya." ujar Yesra tambah sedikit terbebani.


"Kau sudah pantas jadi ibu,Yesra."


"Aku masih 23!"


Setelah makan siang,Yesra pergi menidurkan Asher.Ken pergi ke istana karna panggilan Lucas yang katanya mendesak.Sekarang tinggal Ian dan Lily yang ada di mansion Everon.


"Ian pelan-pelan.."


"Jika tidak ditekan tidak akan terasa, Lily.Tahanlah."


"Tapi sakit.."


"Bertahanlah sedikit lagi."


"Eghh..AKHHH!!"


"Bagaimana?Sudah enakkan?"


plak!


"Sakit bodoh!Rasanya mau patah!"


"Ini salahmu sendiri mengangkat barang yang seharusnya tidak kamu angkat.Tubuhmu itu lemah,akhirnya terjatuh dan kakimu terkilir."


"Maaf.."


Beberapa waktu lalu,Lily hendak memindah sebuah kotak yang cukup besar di kamar lamanya untuk dikemas pulang.Saat hendak turun ke lantai bawah,Lily terpeleset di tangga.Untungnya Ian ada di dekat sana dan sigap menangkap Lily.Walau kaki Lily terkilir tapi selain itu dia baik-baik saja.


"Sebaiknya sekarang kamu istirahat.Aku akan panggilan dokter." ucap Ian.


"Tidak!Temani aku disini." ujar Lily sambil menarik lengan baju Ian agar ia tidak pergi.


"Baiklah,dasar manja."


Akhirnya,Ian mau tidak mau menemani Lily di kamar.Lily terus-menerus mengoceh tentang Zergan yang seenaknya masuk ke mansionnya dan mengambil makanan di dapur.Walau sudah pasti Zergan juga punya banyak makanan di kuil,tapi dia lebih suka makanan di rumah Lily.Terkadang dia tiba-tiba sudah tidur di sofa atau di kamar.


'Imutnya..' pikir Ian.


"Oh ya!Ian,apakah kamu tahu siapa yang kira-kira akan menjadi Putri Mahkota?" tanya Lily.


"Mungkin..hm,Putri Rubia dari Kerajaan Pexilon.Kerajaan itu cukup kuat dan sangat menguntungkan Kekaisaran." jawab Ian.


"Sebenarnya.."


"Hm?"


Lily menceritakan apa yang dikatakan Asher padanya tadi pada Ian.


"pft."


"Jangan tertawa!"


"Ahahaa,betapa polosnya anak itu mengira Yesra dan kakakmu sepasang suami istri.Jika memang benar,maka kakakmu adalah adikku atau aku yang jadi adiknya dan adikku sendiri?"


"Eghh,Ian ini bukan saatnya bercanda,aku serius."


Ian makin gemas melihat Lily marah seperti itu.Ingin sekali ia menerkam wanita yang tampak seperti hamster didepannya.


"Apakah Baginda Kaisar pernah jatuh cinta sebelumnya??" tanya Lily.


Ian tersentak.Ia kembali mengingat pembicaraannya dengan Baginda Kaisar 2 tahun lalu.


Flashback


"Aku..menyukai Lily sejak pesta pertunangannya denganmu 4 tahun lalu."


"Apa?"


"Yang Mulia.."


"Bicaralah santai.Tidak ada seorang pun disini."


"...kenapa kau tidak mengatakannya sejak lama?" tanya Ian.


"Aku selalu ragu dengan perasaan ini.Rasa asing yang baru pertama kali ku rasakan.Aku baru menyadari kalau aku benar-benar menyukai Lily saat ia datang ke istana 2 tahun lalu.Saat itu aku termenung sendirian di taman,dan tidak ada seorang pun disana.Hari itu hujan turun cukup deras dan aku basah kuyup diguyur hujan.Lily datang membawa payung miliknya dan melindungi ku dari hujan."


"Saat itu.. mungkinkah saat perang perbatasan Giralda?Aku tidak ada di ibu kota saat itu.."


"Benar.Saat itu ayah turun tangan langsung karna itu perbatasan yang dijaga lama oleh keluarga ibu suri,jadi aku menetap di Istana untuk menggantikan ayah.. Saat itu, tatapan Lily begitu dalam ditambah senyumannya yang begitu manis membuatku terpana."


pyarr!


Gelas yang ada di tangan Ian langsung pecah begitu Felix mengatakan hal itu.


"A-aku belum selesai.." ucap Felix sedikit merinding.


"Tidak usah dipedulikan.Lanjutkan." ujar Ian sedikit ngeri.


'Aku takut kau akan menancapkan pecahan kaca itu ke dadaku..'


"Huh..Aku terdiam menatap mata birunya yang begitu indah.Ia memiringkan kepalanya heran sambil berkata, "Apakah anda mau minum teh bersama saya,Yang Mulia?" .Aku sangat mengingat suaranya yang begitu lembut keluar dari mulutnya.Tanpa sadar aku juga menerima tawarannya.Sejak saat itulah aku yakin kalau aku benar-benar menyukai wanita itu." lanjut Felix.


"Kau tidak mengatakan padanya?" tanya Ian.Keningnya tampak mengrenyit kesal.


"Aku..tidak ingin ditolak terang-terangan.. Menyukainya diam-diam seperti ini cukup menyakitkan,tapi aku menikmatinya."


Suara Felix terdengar sedu.Senyuman pahitnya benar-benar tidak bisa menutupi rasa sakit karna menyukai wanita yang tidak seharusnya ia sukai.


/Back


"Ian?"


"..."


"Ian!"


"Eh?Ah,maaf."


"Apa yang kamu pikirkan?Padahal aku sedang bertanya."


"Aku sedang mencari jawaban dari pertanyaan mu."


"Bohong.Kamu pasti sedang melamun."


"Ahahaa."


Ian tersenyum tipis.Ia menatap Lily cukup lama.


"Apa?" tanya Lily heran.


"Orang yang disukai Baginda Kaisar dulu adalah seorang wanita cantik,elegan,dan sangat lembut." jawab Ian kembali dengan wajah datarnya.


"Benarkah?!Siapa?!" Lily tampak antusias mendengarnya.


"Rahasia.Tapi,wanita itu sudah memiliki pasangan,lebih tepatnya tunangan.Baginda jatuh hati pada wanita itu disaat yang sangat tidak tepat." ujar Ian.


"Apakah wanita itu sangat cantik?Ku dengar,Baginda Kaisar dulu sama sekali tidak tertarik pada wanita manapun." tanya Lily.


"Iya,dia sangat cantik dan menggemaskan.Suaranya sangat lembut.Senyumannya begitu manis seolah bisa memabukanmu.Dia sangat ramah walau dulunya dikenal sebagai wanita jahat." jawab Ian.


Lily mengernyitkan dahinya kesal.Ia tidak percaya Ian akan memuji 'wanita lain'.


"Kenapa?" tanya Ian pura-pura tidak tahu.


"Bisa-bisanya kamu memuji wanita lain di depan calon istrimu sendiri.Terserahlah!" jawab Lily dan langsung menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut.


"Entahlah.Apakah itu bisa disebut 'wanita lain'?" ujar Ian menggoda Lily.


"Pikir saja sendiri!Hmp!" balas Lily.Ia benar-benar tampak kesal.


"Jangan marah begitu,istriku."


"AKHHH!!I-Ian,jangan memanggilku begitu!"


"Memangnya kenapa? Sebentar lagi kamu akan jadi istriku."


"Egh..TETAP SAJA!!"


.


.


Hari mulai gelap,Lucas dan Ken baru saja pulang dari istana.Seperti biasa,Asher menyambut kepulangan Lucas dengan sangat antusias.


"Dimana Lily?" tanya Lucas.


"Dia ada di kamar bersama kakak.Aku dengar tadi Lily terpeleset di tangga saat membawa barang dan kakinya terkilir.." jawab Yesra ragu-ragu.


"APAA?!!!"


Lucas dan Ken segera berlari ke kamar Lily.Asher dan Yesra hanya terbengong melihat Lucas dan Ken berlari sangat cepat.Begitu sampai di depan pintu kamar,tidak pakai lama Ken langsung mendobrak pintu kamar Lily dengan sangat keras.


"Lily!Apa yang-!?"


Lily duduk di kasur.Rambutnya basah dan ia hanya memakai handuk.Wajah Lucas dan Ken langsung berubah merah padam di ambang pintu.Lily bahkan terdiam tidak bisa berkata-kata dengan wajah yang sama merahnya dengan mereka berdua.


"AKHHHH!!!KELUARR!!"


Tanpa pikir panjang,Lily mengeluarkan sihirnya dan menyerang Lucas dan Ken sampai terpental ke dinding lorong.Pintu kembali tertutup walau sedikit rusak.Lucas dan Ken babak belur karna serangan Lily.


"Apa yang kalian lakukan?.."


Ian tiba di depan kamar Lily dan melihat Lucas dan Ken terduduk lemas di samping dinding.Wajah polos Ian sangat jujur mengatakan dia tidak tahu apa-apa.


"Eh?..Ian?.."


Lucas dan Ken pun keheranan menatap Ian diluar kamar.Bolak-balik mereka menatap kamar Lily dan berganti menatap Ian.


"Sepertinya kalian dihajar Lily ya?.." tanya Ian.


Pintu kamar Lily terbuka.Lily mengintip kondisi diluar diam-diam.


"Masuklah.." ucapnya sedikit malu-malu.


"Haa.."


/di dalam kamar Lily.


"Maaf Lily..kami tidak tahu kalau kamu sedang ganti baju.."


"Kami terlalu khawatir dengan kaki mu jadi..ya..eum..maaf."


Lucas dan Ken sampai berlutut dihadapan Lily hanya untuk minta maaf.Ian diam-diam menatap tajam keduanya dari belakang begitu mendengar apa yang sebenarnya terjadi.


"Hah..sudahlah.Lagipula aku juga berlebihan tadi,maaf..aku juga terlalu terkejut." ujar Lily ikut merasa bersalah.


"T-TIDAK TIDAK!!KENAPA KAMU YANG SALAH?!"


"LUCAS BENAR! KAMU TIDAK BERSALAH SAMA SEKALI!ITU TERJADI SPONTAN DAN WAJAR!.."


Lily terdiam.Ia menatap kedua kakaknya lekat-lekat.Senyuman tipis diikuti suara tawa Lily yang terdengar jelas.


"Ahahaha!Kalian ini menggemaskan sekali."


Lucas dan Ken tersentak.Mereka saling bertukar pandang dan tersenyum.Akhirnya tiga bersaudara itu tertawa bersama.


Di sudut lain,Ian masih sibuk memikirkan kejadian Lucas dan Ken yang melihat tubuh Lily setelah mandi (walau ditutup handuk).


'Mereka melihatnya..Ini tidak boleh sampai terjadi..tidak akan pernah lagi!'


Bersambung...