Vita Nova

Vita Nova
Episode 80 "Janji"



Flashback


"Bahkan pangkatmu itu sama seperti kurir.." gumam Vel dengan wajah datarnya menatap Kel.


"ARGH KALIAN INI!Aku adalah satu-satunya yang bisa mengirim orang dalam jarak ribuan kilometer dalam waktu beberapa menit! Seharusnya aku dibayar mahal untuk itu!" jawab Kel emosi.


"SUDAHLAH!DIAM ATAU KU HABISI KALIAN!" ucap Bel ikut emosi.


"Baik.." jawab Vel dan Kel bersamaan.


"Dan juga..aku akan mengira sebuah cinta diantara mereka akan menarik.Hihihi!" ucap Bel dengan senyuman liciknya.


"Siapa maksudmu?" tanya Vel dan Kel bersamaan.


"Hum..Putra Mahkota dan Tuan Putri?"


.


.


Episode 80


Sudah 1 minggu Lily,Zergan berada di wilayah Darvin.Sudah saatnya mereka kembali ke ibu kota.Putra Mahkota dan Lucas sudah kembali 2 hari lebih cepat untuk laporan.


"Lily,aku ingin ikut denganmu.Aku akan baik-baik saja." ujar Yesra.


"Tidak boleh,bukankah Zergan sudah bilang kamu masih perlu istirahat.Ibu kota juga bukan tempat yang cocok untuk dijadikan tempat pemulihan mu,itu hanya akan menambah beban." balas Lily.


"Hmm..benar tapi.."


"Yesra, pikirkanlah keadaan mu dulu.Kita akan kesana bersama saat pembangunan desa sudah selesai." ucap Ian membujuk Yesra.


"Baiklah kak.." ucap Yesra.


Lily hanya bisa tersenyum tipis.Yesra hanya bisa menggerutu tidak jelas pada Yusto yang tidak paham apa yang diucapkan Yesra.


"Lily,makin lama kita jadi jarang bertemu.Aku ingin terus berada disisi mu tapi untuk sekarang akan sulit." ucap Ian.


"Aku tahu itu. Mau bagaimana lagi,akhir-akhir ini masalah terus berdatangan." balas Lily dengan senyum tipis.


'Sejujurnya aku juga sangat lelah dan ingin menghabiskan waktu untuk liburan..' ucap Lily menangis dalam hatinya.


"Aku masih khawatir dengan keadaan kakakmu.Dia terlihat banyak pikiran." ujar Ian.


"Ya ampun kamu mengkhawatirkan kak Lucas?Lucunya!" ucap Lily jahil.


"Kakak memang selalu banyak pikiran.Beban yang dipikulnya selama ini sangat banyak. Walau ada kak Ken yang setia membantunya tapi aku merasa beban nya tidak berkurang." lanjut Lily.


"Kakak mu butuh istirahat.Ajak lah dia pergi ke tempat yang tenang untuk berlibur." ucap Ian menyarankan.


"Aku akan melakukannya ketika keadaan sudah membaik." balas Lily.


Zergan yang sudah menunggu lama di kereta kuda merasa kesal karna Ian menahan Lily terlalu lama.


"Oi!Ayo pergi!" teriak Zergan dari dalam kereta.


"Dasar anak itu..tidak bisakah dia bertahan sebentar? Menyebalkan.." gumam Lily kesal.


"Lily,hati-hati di jalan.Semoga dewa selalu melindungi mu." ucap Yusto.


"Lily,cepatlah menikah dengan kakak agar kamu tetap disini!" ucap Yesra kegirangan.


Sontak wajah Lily berubah merah padam.Ian hanya bisa tersenyum licik dan melirik Lily.


"A-apa?!" tanya Lily pada Ian.


"Tidak." jawab Ian sambil terkekeh kecil.


"Dasar!"


Di samping itu,Yusto hanya bisa tersenyum pahit.Sekarang dia tahu kalau Lily tidak akan pernah menjadi miliknya.Hatinya terasa sakit tapi itulah kenyataannya.


"Aku akan mengantar Lily sampai ke portal. Kalian jaga kastil dan jangan lupa minta para pelayan menyiapkan perjamuan,sebentar lagi Duke Ricardo akan tiba." ucap Ian pada Yusto dan Yesra.


"Baik!" jawab mereka bersamaan.


Lily dan Ian segera menuju kereta kuda.Dikawal pasukan Lily dan beberapa utusan Ian.Ian secara khusus berada di samping kereta kuda untuk tetap menjaga keamanan Lily sepenuhnya.


"Egh..aku tidak terbiasa naik kereta kuda.." gumam Zergan merasakan mual dan pusing.


"Kau kan mabuk kendaraan beroda 4.Jangankan kereta kuda,bahkan naik ATV pun kau sudah mual sepanjang jalan." ucap Lily.


"Aku ingin tidur saja.." Zergan hendak langsung berbaring tapi dia lupa kalau tingginya tidak mendukung.


"ADUH!!" kepalanya terbentur sangat keras.Para pasukan diluar yang menjaga pun kaget mendengar suara benturan kepala Zergan yang sangat keras.


Ian mengetuk jendela kereta karna kaget dan khawatir apa yang terjadi di dalam.Lily segera membuka jendela dan mendapati wajah Ian yang kaget.


"Ada apa Ian?" tanya Lily.


"Apa yang terjadi?suaranya sangat keras,begitupun teriakan Saint Zergan.." tanya Ian heran.


"Eh? Terdengar? Padahal kereta ini cukup kedap suara karna khusus pengawalan ketat.." ucap Lily bingung.


"Benarkah?Tapi suaranya sangat keras.."


"Kepala Zergan terbentur saat ia hendak berbaring.Padahal dia tahu kalau tingginya sangat tidak mendukung.Kamu saja tidak muat berbaring apa lagi dia." jelas Lily khawatir setelah tahu suara benturan tadi cukup keras sampai terdengar di luar kereta kuda.


"Sepertinya beliau sangat kesakitan.." ucap Ian cemas.


"Tidak apa-apa,dia tahan banting." ucap Lily dengan senyum sumringah.


"Ah..baiklah."


Lily menutup kembali jendela dan menatap Zergan tajam.


"Obati aku." ucap Zergan dengan wajah datar tapi kesal.


"Tidak.Kau bisa mengobati dirimu sendiri!" balas Lily.


"Kau tidak bisa menggunakan sihir penyembuh pada dirimu sendiri.Apa kau tidak tahu?" tanya Zergan sambil mengusap-usap kepalanya yang sangat nyeri.


"Aku baru tahu.Kalau begitu kemarilah,akan ku obati kepala mu." ucap Lily menepuk bangku diseblahnya,meminta Zergan duduk disana.


"Baiklah.." Zergan pun pindah ke sebelah Lily.


Lily pun segera mengobati kepala Zergan sebelum makin parah. Ian diluar sedikit penasaran apa yang di bicarakan Lily dan Zergan sejak tadi.Walau hanya terdengar pelan,tapi Ian bisa mendengar bahasa yang mereka gunakan berbeda.


"Aku ingin belajar bahasa mereka hmm.." gumam Ian.


"Tuan Besar,apakah anda mengatakan sesuatu?" tanya salah satu kesatria dibelakang Ian.


"Tidak." jawab Ian cepat.


Lily selesai mengobati kepala Zergan.Rasa pusing masih sedikit dirasakan Zergan karna mabuk darat.


"Aku ingin tidur.." gumam Zergan dengan wajah pucatnya.


"Bersandarlah padaku,aku akan membangunkan mu saat kita sudah sampai di ibu kota." ucap Lily.


"Baiklah.. terimakasih.." Zergan segera bersandar pada pundak Lily.Mata coklat sayu nya tampak sangat kelelahan.


"Kau mau mampir ke mansion ku?akan ku buatkan bubur ayam kesukaanmu" tanya Lily menawarkan.


"Boleh.Aku akan mengirim merpati pada Demian nanti." jawab Zergan.


"Baiklah.Mau soda?" tanya Lily lagi.


"Ahaha!Lagian siapa yang punya soda dizaman ini?"


"Benar juga,aku beruntung kau tidak mencoba membunuhku lagi seperti saat wisata."


"H-hey!Aku tidak sengaja waktu itu!'


Zergan menatap lama lengan putih Lily yang begitu mulus.Tangan yang dulu ia lihat penuh dengan bekas luka cambuk,memar dan pernah patah,sekarang benar-benar berbeda.Tanpa sadar, Zergan sudah mengusap lembut lengan Lily.


"Kenapa?" tanya Lily.Rupaya ia tidak terkejut dengan tingkah Zergan.


"Jika dulu kau tidak merasakan siksaan itu, apakah tangan mu akan sama seperti sekarang?" tanya Zergan dengan nada rendah.


"Hmm, entahlah.Tanganku tidak seputih ini dulu.Aku benar-benar seperti orang yang tidak pernah merawat diri." jawab Lily sambil tersenyum tipis.


"Apakah,sejak kepergian ku siksaan ibumu makin parah?sejak datang kesini aku selalu memikirkan itu." tanya Zergan lesu.


'Suara Zergan lembut sekali,baru pertama kali ini aku mendengarnya.'


"Iya.Beliau pernah mencongkel salah satu mataku dan menjualnya.Aku buta sebelah." jawab Lily.


Zergan tertegun mendengarnya.Dia sangat tahu apa yang dirasakan Lily dulu dan bagaimana ia menjalani nya sendirian tanpa dirinya.Sebelum dia pergi,Zergan selalu ada di samping Lily untuk membela nya dari ibu tirinya yang kejam.Bahkan setelah kepergiannya kekejaman itu tidak berhenti.Rasa kesal terus menumpuk di dada Zergan dan terasa sangat menyakitkan.


"Cika."


"Hm?Apa?"


Ia menggenggam tangan Lily dengan erat.Perbedaan ukuran tangan mereka sangat jelas.Urat di tangan Zergan sangat terlihat karna genggamannya yang sangat erat.


"Aku berjanji akan terus melindungi mu..Aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi.Sampai kapanpun." ucap Zergan sedikit menggertak giginya.


Lily tersenyum tipis dan menyenderkan kepalanya di kepala Zergan.


"Terimakasih Zergan.Aku percaya padamu." ucap Lily.


"Tentu saja kau harus percaya!Aku ini sahabat mu!" ucap Zergan.


"Iya iya" balas Lily.


"Benar, seperti itu,sejak dulu dan seterusnya.Kita adalah sahabat di kehidupan selanjutnya dan seterusnya.Ya, seperti itu terus." ucap Zergan sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kau berjanji?" tanya Lily menyodorkan jari kelingkingnya.


Zergan tersenyum tipis dan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Lily.


"Tentu saja aku berjanji." jawab Zergan.


"Huhu,aku percaya itu.Tidurlah."


"Iya."


Lily tersenyum tipis.Matanya berkaca-kaca saking terharu dengan sikap Zergan yang tidak pernah berubah.Sangat bersemangat,ia juga tampan dan populer di kampus dulu,pintar dan punya banyak bakat,sekaligus sahabat yang sangat setia dan terus berada di sisinya untuk mendukung setiap langkah.


'Aku bersyukur bisa bertemu dengan mu Zergan.Entah apa yang bisa ku lakukan dulu dan sekarang tanpamu. Aku harap kau juga bahagia seterusnya.'


Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di portal wilayah-ibu kota.


"Lily,buka jendelanya." ucap Ian sambil mengetuk jendela.


Lily membuka jendela dan mendapati dirinya dan rombongannya sudah tiba di depan portal.


"Kita harus berpisah disini." ucap Ian pada Lily.


"Benar.Kita akan bertemu lagi nanti.Aku akan menunggu mu." balas Lily sambil tersenyum pada Ian.


Ian membalas senyuman Lily dengan senyuman tipis. Begitu melihat ada yang aneh,Ian memiringkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Lily.


"Kenapa kau tidak bergerak?" tanya Ian.


"Zergan tertidur di pundak ku,jadi aku tidak bisa bergerak leluasa agar dia bisa nyaman.Aku kasihan karna dia mabuk darat seperti ini." jawab Lily.


Ian mengernyitkan keningnya.Lily yang kebingungan dengan ekspresi Ian hanya bisa menatap polos kearahnya.


'Awas saja pria itu.. berani-beraninya dia tidur di bahu Lily!Aku tidak akan memaafkannya!' batin Ian.


Ian turun dari kudanya lalu membuka pintu kereta.Lily yang kebingungan dengan tingkah Ian hanya diam.Ian menggenggam tangan Lily dan mencium punggung tangannya.


"Lily,aku 'berjanji' akan terus membuatmu bahagia seumur hidupku.Sampai kapan pun kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang akan mengisi hatiku.Jika suatu saat ada pria lain yang membahagiakan mu lebih dariku,maka aku akan membunuhnya." ucap Ian datar tapi terkesan romantis.


Lily sempat kagum dan malu diawal ucapan Ian tapi langsung syok diakhir kata-katanya.


"T-tidak perlu sampai membunuh!Lagian aku sudah pasti akan memilihmu karna kamu satu-satunya pria untukku." ucap Lily sedikit memerah.


Ian tersenyum tipis lalu melepaskan tangan Lily.


"Hati-hati di jalan.Aku akan segera kesana menemui mu." ucap Ian.


"Aku akan menunggu." balas Lily.


Pintu kereta kembali tertutup.Rombongan Lily dan Zergan masuk ke portal meninggalkan wilayah Darvin kembali ke Ibu kota.


Ian masih disana menatap kepergian Lily. Walau tidak lama lagi mereka akan bertemu tapi rasa rindu sudah muncul saja di hati Ian.


"Tuan besar,sudah waktunya kembali." ucap salah satu kesatria.


"Aku merindukannya." gumam Ian.


"Calon nyonya baru saja pergi..anda sudah rindu pada beliau..?" tanya kesatria itu heran sekaligus kaget.Begitu juga kesatria yang lain.


"Dia pergi terlalu lama!Kapan dia kembali?Sudah 2 menit sejak dia pergi seharusnya dia sudah kembali." ucap Ian blak-blakan.


"Tuan besar..beliau baru saja pergi!" ucap kesatria yang lain.


"Hmm,begitukah?"


'Gawat!Tuan besar sudah tidak waras!Nyonya cepatlah kembali!' batin pasukan.


Lily yang masih berada di rute portal memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak kemarin.


"Tatapan Putra Mahkota pada Yesra aneh sekali waktu itu, hmmm." ucap Lily sambil berpikir serius.


Tanpa ia sadari.Mereka sudah sampai di ibu kota.Lily masih sibuk berpikir.


"Yang Mulia." panggil seseorang dari luar kereta sambil mengetuk jendela.


Lily tersadar dan segera membuka jendela.


"Ada apa pendeta?" tanya Lily pada pendeta bawahan Zergan.


"Yang Mulia Saint tertidur tapi kita sudah sampai di ibu kota,apakah beliau akan dibangunkan?" tanya pendeta.


"Dia akan kembali ke mansion bersamaku.Rombongan Zergan kembalilah ke kuil." jawab Lily.


"Baik,Yang Mulia Saintess." Pendeta itu segera memberitahu rombongannya dan kembali ke kuil suci terlebih dahulu.Hari sudah mulai sore dan langit mulai berubah jingga.


"Perasaan yang aneh.Hm?" tetesan hujan mulai turun dari langit.Padahal langit begitu cerah berwarna jingga kebiruan,tapi hujan lembut turun perlahan dari langit.Ditambah angin yang berhembus lembut.


"Indahnya.. Seperti permata.." gumam Lily takjub begitu melihat keluar.


Zergan terbangun dari tidurnya karna tetesan hujan yang masuk.Ia melihat Lily menghadap keluar jendela dengan wajah yang begitu senang.


'Dia tersenyum.'


Bersambung...