Vita Nova

Vita Nova
Episode 86 "Hak dan Perasaan"



Flashback


"Yang Mulia,saya adalah tuan acara,jadi saya harus mengantar tamu saya untuk istirahat." ucap Zarex serius.


"Dia adikku, biarkan aku yang mengantarnya." balas Putra Mahkota.


"Itu bisa menjadi bahan gosip karna saya tidak memperhatikan tamu saya sendiri."


"Bukankah kau tuan acara? Seharusnya kau tetap di tempatmu."


Suasana berubah tegang diantara Putra Mahkota dan Zarex,hanya karna persoalan mengantar Yesra ke ruang istirahat.Lucas,Ken,Lily dan Ian tidak bisa ikut campur lagi jika Putra Mahkota sudah mengeluarkan egonya.


.


.


Episode 86


"Zarex,ada apa ini?"


"Ah,ibu.."


"Salam untuk Duchess."


"Salam untuk Putra Mahkota."


Duchess datang menghampiri keributan Zarex dan Putra Mahkota, dibelakangnya diikuti Senia dan Viona.


"Kakak,ada apa?" tanya Senia.


"Tuan Putri tidak enak badan,aku hendak mengantar beliau ke ruang istirahat tetapi Putra Mahkota menghentikanku." jawab Zarex.


"Aku sudah bilang biar aku yang mengantarnya." ucap Putra Mahkota menahan emosinya.


"Yang Mulia,saya tidak bisa membiarkan Tuan Putri makin kelelahan,saya permisi."


"Tuan Putri,maafkan saya."


"Ya?-AHH!"


Zarex langsung mengangkat Yesra dan pergi membawanya ke ruang peristirahatan.Duchess cukup kaget tak terkecuali mereka yang melihat aksi Zarex yang nekat di depan Putra Mahkota.


"Senia,Viona,ikuti kakak kalian." ucap Duchess.


"Baik!" Senia dan Viona pun segera pergi menyusul Zarex.


Lily mendekati Duchess dan meminta maaf atas keributan yang terjadi.Duchess tidak mempermasalahkan itu dan meminta untuk menikmati acara.


"Yang Mulia,kenapa anda begitu marah tadi?" tanya Lily.


Putra Mahkota terdiam.Dia mencari alasan dia melakukan itu tadi, bahkan dia sendiri tidak tahu kenapa dia marah.


"Aku hanya takut pria itu melakukan hal macam-macam pada Yesra.Lagipula dia 'terlalu tua' untuk Yesra." jawab Putra Mahkota tanpa rasa bersalah.


Kata 'terlalu tua' dari mulut Putra Mahkota menusuk Lucas dan Ken yang seumuran dengan Zarex.Mereka jadi berpikir keras tentang umur mereka.


'Aku setua itu kah?..' pikir mereka meratapi nasib.


"Yang Mulia,anda berpikir terlalu jauh.. ahahaha." Lily terkekeh kecil melihat tingkah konyol Putra Mahkota.


Lagi-lagi perasaan Putra Mahkota goyah melihat wajah Lily yang tersenyum itu.Dia sangat menyukai senyum wanita itu,suara,rambut,mata,dan sifatnya.Dadanya sangat sakit harus melepas perasaan sepihak itu.


"Huh.." Putra Mahkota mencoba menstabilkan nafasnya dan menahan dadanya yang sesak.


"Yang Mulia,anda baik-baik saja?" tanya Lily cemas.


"Aku tidak apa-apa..hanya sedikit panas ya disini.." jawab Putra Mahkota mencari alasan.


Lily pun sadar bahwa pakaian para bangsawan sekarang sangat tebal,terlebih para wanita yang harus menggunakan berlapis-lapis pakaian.


'Ini alasan aku benci model gaun yang mengembang.' pikir Lily.Ia pun menghampiri Duchess yang berbincang dengan para wanita lain tidak jauh darinya.


"Duchess."


"Iya,Yang Mulia?"


"Maaf saya akan sedikit mengacau."


"Apa?"


Lily mengeluarkan sihir angin dan es seperti yang ia lakukan pada Yesra tadi.Mengarahkannya pada langit-langit ruangan yang sangat megah dan menembaknya tepat di tengah.


Udara di ruangan itu seketika berubah sejuk ditambah butiran es kecil yang jatuh perlahan dari atas.


"Wah sejuknya!"


"Seperti berada di ruangan musim dingin!"


"Sekarang musim gugur tapi terasa panas.Yang Mulia Marchioness yang terbaik!"


"Enaknya."


Putra Mahkota pun sadar,ini akan jadi terakhir kalinya Lily berada di dalam hatinya.Kejutan Lily di acara ini,adalah obat untuk menghilangkan perasaannya yang ia pendam selama ini.


'Setelah ini akan berakhir..Bukankah begitu,Ian?'


Putra Mahkota menatap Ian sambil tersenyum pahit.Ian membalas senyuman itu dengan senyuman tipis dan membungkuk pada Putra Mahkota,seolah berterimakasih padanya.


Akhir dari perasaan terpendam Putra Mahkota terhadap Lily selama 4 tahun.Perasaan yang seharusnya tidak singgah di hati pria itu.Terkadang seseorang jatuh cinta disaat yang tidak tepat,membuatnya sangat tersakiti.Pada akhirnya perasaan itu akan berakhir dengan penyesalan atau keikhlasan.


.


.


Tak terasa 2 bulan berlalu.Musim dingin sudah tiba sejak 1 bulan yang lalu.Tugas Lily dan Zergan juga bertambah karna Arina sudah hampir memasuki bulan ke-9.Para pendeta wanita beberapa kali mengecek keadaan Arina seminggu 2x agar tetap aman sampai tanggal kelahiran.Lily sering sekali memberikan Bunga Dewa yang ia dapatkan dari Bel.


Di sisi yang bersamaan pula,Lucas dibuat pusing karna para pekerja dirumahnya terlebih Irvan sangat menunggu Lucas menjadi ayah sambung dari anak Pangeran Arhen dan Arina.Mereka sudah mulai membayangkan betapa lucunya bayi yang akan tiba nanti,bahkan sudah menyiapkan 4 buah kamar hanya untuk bayi itu.


2 bulan sudah berlalu sejak Putra Mahkota mengikhlaskan perasaannya.Ia tampak menyibukkan diri dengan menyelesaikan semua tugas istana sampai 1 tahun kedepan(kecuali pemilihan Putri Mahkota), membuatnya tidak punya pekerjaan sekarang dan menghabiskan waktu untuk sering-sering mengunjungi Yusto dan Yesra bersama Ratu di wilayah Darvin.Atau,terkadang Zarex juga tiba-tiba berada di kastil Darvin untuk menjenguk Yesra.Seperti biasa,hawa menyeramkan akan muncul diantara Zarex dan Putra Mahkota ketika bertemu.


Tak lupa,Ian dan Ken bekerja sama dalam bidang pertahanan di seluruh perbatasan,mereka bahkan berhasil menangkap para koruptor hanya dalan waktu 2 minggu,sebuah prestasi yang tidak mengherankan lagi jika itu Ian dan Ken.


Tentu saja, hubungan Lily dan Ian menjadi sangat akrab dan romantis.Ian sering mengajak Lily jalan-jalan dan menikmati wisata ketika ada waktu luang.Kabar bahwa 'Kisah Sang Tiran dan Putri Dewa' akan menjadi kisah paling bersejarah sepanjang masa.Walau terkadang mereka bertengkar karna Lily datang bulan atau tiba-tiba ingin makanan 'aneh',untungnya Zergan sangat paham dengan sikap sahabatnya satu itu.


Si kembar dan Zergan juga mulai sangat akrab sejak Zergan memperkenalkan 'game' pada Vel.Hanya saja,mereka akan akrab jika si kembar berubah menjadi anak kecil.Saat kembali ke wujud dewasa,mereka akan sangat canggung,tapi itu hanya untuk beberapa lama.


/Istana Permaisuri, Paviliun.


"Arina,apa kamu tidak enak badan?"


"Saya tidak apa-apa,Pangeran."


"Ada apa??" tanya Arina.


"Aku sudah bilang panggil aku Arhen..Aku tidak mau kamu memanggil ku dengan canggung begitu." jawab Pangeran Arhen memeluk perut Arina yang sudah besar.


Arina terkekeh kecil.Ia mengusap lembut rambut Pangeran Arhen.


"Kenapa suami ku sangat sensitif akhir-akhir ini?" ucap Arina menggoda Pangeran.


"Arina ayolah!Aku juga ingin menjadi suami dan calon ayah yang baik.Bukankah aneh jika seorang istri memanggil suaminya dengan 'Anda'?Aku suami mu,bukan majikan." rengek Pangeran Arhen.


"Iya iya.Berhentilah merengek suamiku."


"Tidak mau!Hmp!"


'Dia jadi manja sekali..'


Sikap Pangeran Arhen pada Arina berubah 180°.Dia menjadi sangat perhatian dan manja terhadap Arina.Orang-orang yang melihat mereka pun berpikir bahwa mereka sangat serasi.Diam-diam Yang Mulia Ratu dan Permaisuri pun tersipu malu melihat tingkah lucu Pangeran Arhen pada Arina yang selama ini tidak pernah ia tunjukan dari balik pintu.


Zergan yang mendapat tugas mengecek kondisi Arina hari ini melihat Yang Mulia Ratu dan Permaisuri yang mengendap-ngendap di balik pintu.


"Yang Mulia..apa yang anda lakukan?.." tanya Zergan heran dan kaget.


Dibelakang Zergan ada Demian.Ia ikut ke Istana karna menggantikan Lily yang sibuk mengurus pelabuhan.


"Ohoo~!Yang Mulia Saint,saya sedang melihat kelakuan putra saya yang sangat langka terjadi bersama Yang Mulia Ratu." ucap Permaisuri masih tersipu malu.


"Tuan Saint, kemarilah dan lihat juga!" ajak Yang Mulia Ratu.


"Saya harus segera memeriksa tapi..Apa boleh buat saya juga penasaran!" pada akhirnya Zergan pun ikut mengintip.


"Yang Mulia Saint..Anda tidak boleh begini.." ucap Demian dengan senyuman hampa dan tatapan kosongnya itu.


"Damian kemarilah!"


"Kenapa anda malah bersemangat.."


BRAKK!


"Maaf Pangeran dan Lady,saya terpaksa membuka pintu dengan keras karna sedikit macet." Demian tidak tahan lagi dan terpaksa membuka pintu lumayan kasar.


"ARGHH!!DAMIAN!!"


Pangeran Arhen tampak sedikit kesal.


"Kenapa cepat sekali?Padahal masih 3 menit lagi." ucapnya.


"Benar!Kenapa kita harus terburu-buru!" ucap Zergan ikut kesal.


"Pendeta,anda terlalu tertib!" ucap Yang Mulia Ratu dan Permaisuri.


Damian tersenyum,matanya benar-benar kosong menatap datar lurus.Harapannya untuk hidup sekarang sirna.


'Aku ingin kembali pada Dewa..' pikirnya.


Tak berselang lama.Zergan dan Damian pun segera mengecek kondisi kandungan Arina.Walau Pangeran Arhen mengamuk karna Zergan menyentuh perut Arina, untungnya ada Permaisuri dan Yang Mulia Ratu untuk menenangkannya.


"Damian,catat ini dan laporkan pada Marchioness nanti."


"Baik!"


Setelah pemeriksaan selesai,Pangeran Arhen langsung tiduran di paha Arina sambil mengelus perut Arina.


"Pangeran,saya ada kabar untuk anda." ucap Zergan sambil tersenyum tipis.


"Ada apa?" tanya Pangeran Arhen masih ganas.


"Anda anda laki-laki." jawab Zergan singkat padat dan jelas tanpa basa-basi.


"Eh?.."


"APAAA?!!!!"


Seluruh isi ruangan kaget bukan main,tak terkecuali Damian yang belum selesai mendata hasil pemeriksaan Zergan.Sedangkan Zergan masih tenang mempertahankan ekspresinya.


"L-laki-laki?!" tanya Ratu dan Permaisuri bersamaan.


"Benar,Yang Mulia." jawab Zergan tenang.


"Tenang saja.Karna ayah sambung dari anak ini nanti adalah Grand Duke Everon,ia tidak akan terobsesi menjadi pewaris tahta.Kecuali sesuatu hal yang berubah terjadi di masa depan nanti.Percayakan pada Grand Duke,dia pria yang tidak akan meremehkan harga dirinya sendiri." lanjut Zergan.


"Tidak apa-apa jika anak ini akan terobsesi atau menginginkan tahta atau tidak." ucap Arina.


"Arina?"


"Bukankah itu hak anak ini nanti sebagai putra dari anda, Pangeran?"


"Itu benar tapi..Apakah kakak akan menerimanya semudah itu?..Suatu saat kakak pasti akan menikah dan memiliki anak,jika sesuatu terjadi pada saat perebutan tahta..aku tidak mau anakku menjadi korban juga." ucap Pangeran.


"Itu tidak akan terjadi,Arhen."


"Eh?Kakak?"


Putra Mahkota datang menemui Pangeran Arhen begitu melihat Zergan masuk ke istana tadi.


"Salam untuk Putra Mahkota." ucap Zergan dan Damian.


"Salam Tuan Saint,dan Pendeta Agung." balas Putra Mahkota.


"Felix,apa maksudmu??" tanya Ratu.


"Aku memikirkan hal itu juga sejak beberapa bulan lalu.Tapi aku berpikir untuk tidak memaksa anakku nanti atau anak mu untuk berebut tahta.Itu tergantung diri mereka sendiri.Aku hanya ingin, setidaknya memberikan kebebasan politik untuk anakmu seperti apa yang kau harapkan selama ini,Arhen." ucap Putra Mahkota.


"Jika seandainya mereka berdua tidak berniat naik tahta,apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ratu.


"Jika itu terjadi,maka kemampuan mereka akan diukur dan yang terbaik akan meneruskan tahta.Mau bagaimana pun,mereka juga memiliki hak untuk melakukan apa yang mereka mau tanpa mendengarkan pendapat orang lain tentang hal yang mereka sukai." jawab Putra Mahkota.


"Saya setuju dengan anda.Semua anak punya hal yang mereka sukai.Diumur yang masih muda,mereka masih memiliki banyak waktu untuk mengembangkan bakat mereka.Jika kita memaksa mereka melakukan hal yang tidak mereka sukai dan menuntutnya untuk selalu sempurna,itu sama aja membuat tekanan pada mereka.Mereka hanya bisa dimanfaatkan oleh orang disekitar mereka.. kesalahan kecil pun harus mereka bayar dengan luka di tubuh dan mental mereka.." ucap Zergan.Suaranya makin lama makin rendah.


Putra Mahkota tahu siapa yang dipikirkan Zergan sekarang.


"Jadi,apakah kakak tidak masalah siapa yang akan naik tahta nanti?" tanya Pangeran Arhen.


"Tentu saja.Tugas kita nanti hanyalah mendukung dan menghormati keputusan yang anak-anak kita buat.Dan,tentunya itu bermaksud ke hal yang baik." jawab Putra Mahkota sambil tersenyum.


Pangeran Arhen baru pertama kali melihat Putra Mahkota tersenyum kepadanya setelah sekian lama.Pangeran membalas senyuman itu dengan ikhlas.


"Terimakasih,kak Felix."


Bersambung...