Trapped in Love

Trapped in Love
99. Bonchap



Seven Years Later – EPILOG


“Lempar bolanya kesini bang!” teriak seorang bocah kecil.


“Tidak mau, kau harus mengambilnya sendiri” protes bocah yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya.


“Bang!!” protes bocah itu lagi.


“Axel~ apa yang sedang kau lakukan? Cepat ke sini kita main bersama”.


Axel menggeleng menyampaikan penolakannya. Dari jarak beberapa meter tepat disamping lapangan, Axel hanya duduk berdiam diri di bangku kayu taman. Rasanya hari ini dia malas sekali bermain. Jika tahu begini tadi itu dia pulang saja menemani saudara kembarnya di rumah, tidak usah mengikuti ajakan Dimas dan juga Johan.


Haruskah dia menghubungi daddy dan mommy nya agar menjemputnya lebih cepat. Sepertinya kurang dari lima belas menit lagi pun mereka akan segera datang menjemput, ini sudah terhitung dua jam waktu bermainnya saat pulang sekolah.


Mau tidak mau Axel mengeluarkan benda kesayangannya untuk di ajak bermain. Disaat seperti ini, hanya PSP yang bisa membuat mood-nya kembali membaik.


“Arghh!”


Dalam waktu lima menit bersama PSP-nya, Axel mengalihkan matanya, suara itu berhasil menarik perhatian bocah delapan tahun tersebut. Di jarak yang tidak jauh dari posisinya, Axel melihat seorang gadis kecil meringkuk memegang lututnya sendiri.


“kau tidak apa?”


“Oh, ini berdarah”


Setelah lekat menatap wajah gadis itu tanpa bersuara, Axel menyampingkan tas di punggungnya, tangannya bergerak menggeledah isi tas, mencari sesuatu yang bisa menutupi luka kecil di lutut gadis itu.


“Kau tidak apa-apa?”


Axel terundang oleh suara familiar itu. Disampingnya sudah ada Dimas yang sepertinya terlihat peduli pada gadis kecil di depan Axel.


“Ini, biar aku plester lukamu.”


“terima kasih kak”


Setelah Dimas selesai memasangkan plester di lutut gadis kecil itu, dia terlihat menuntun wanita itu berdiri. Sedangkan Axel, tangannya saja masih berada di sana, di dalam tas, memegang erat plester yang dia dapat kurang cepat dari Dimas.


“Johan, bantu aku menuntunnya.”


“iya bang”


Johan, bocah enam tahun itu tampak membantu Dimas menuntun gadis kecil itu duduk di salah satu bangku kayu taman. Sedangkan Axel, dia kembali pada tempatnya semula, duduk di bangku yang posisinya bersebrangan dengan Dimas, Johan dan juga gadis kecil yang tidak di kenalnya.


Axel suka melihatnya, mata gadis kecil itu. Dia memiliki mata yang berwarna coklat berbinar saat menatap dirinya. Dia gadis yang manis.


“Kenapa duduk sendiri disini?”


Kepala Axel mendongak, dia tahu siapa pemilik suara itu. Di depanya Axel melihat wanita cantik itu tersenyum lembut menenangkan. “mommy”


“Kenapa?”


“tidak jadi” Kepala Axel tampak menggeleng kecil. Dia bangun dari posisi duduknya tanpa mempedulikan ekspresi penuh tanya di wajah ibu-nya. “Ayo, kita pulang.”


Adelia yang sudah hafal tabiat anak itu hanya mendelikan bahu. Jika tidak ingin membuat mood anak itu semakin buruk, sebaiknya tidak usah bertanya terlalu banyak. Axel mewarisi sifat dingin Alva dengan sangat baik walau wajahnya memiliki wajah adelia.


“kakak!!”


Merasa yakin dengan suara itu, Axel membalikan tubuhnya. Dibelakang sana, tampak gadis kecil itu berlari kecil menghampiri Axel yang berdiri disamping Adelia.


“terima kasih ya kak”


Axel tampak diam tak memberi reaksi. Wajah datarnya tak bisa di tebak dengan apa yang dipikirkannya sekarang. Hanya saja matanya tertuju tajam pada gadis itu, gadis kecil yang bisa di perkirakan memiliki usia yang sama dengan Johan.


“Ini”


“untuk apa?”


“Sebagai ucapan terima kasihku.”


Axel dengan ragu menerima permen lollipop yang di ulurkan oleh tangan gadis itu. Gadis yang sekarang tampak memperlihatkan senyumannya.


“Ayo, lain kali kita bermain bersama.”


Axel mengangguk. Ajakan gadis itu terlihat cukup ampuh untuk mendorong senyumannya keluar. Astaga, bagaimana bisa pria delapan tahun sudah memiliki senyuman semempesona itu. Benar-benar warisan Alva.


“Anisa~”


Gadis kecil di depan Axel memutar kepalanya ke belakang. Di sana dari balik tubuh gadis itu tampak seorang wanita berumuran sama seperti ibu-nya melambaikan tangan kearah mereka. Mungkin lebih spesifiknya ke arah gadis di hadapan Axel.


Gadis yang di panggil Anisa oleh ibunya itu akhirnya melesat pergi dari hadapan Axel dan juga Adelia. Wanita yang sejak tadi hanya diam menyaksikan interaksi gadis kecil itu bersama anaknya tampak mengulum senyum.


“Kau dengar?”


“Apa?” Axel mendongak saat wanita disampingnya melempar pertanyaan ambigu.


“Nama gadis itu.”


“Anisa”


Adelia terlihat mengangguk-ngangguk kecil. Senyuman misteriusnya kembali terlihat, wanita itu tampak membungkukan kecil tubuhnya saat wanita seusianya melakukan hal itu. Ibu dari anak gadis itu tersenyum mencoba berpamitan dari jarak yang cukup jauh. Adelia kenal wanita itu, berikut dengan suaminya. Mereka pernah berada di acara amal yang sama. “Anisa Sebastian”


“Apa?”


Adelia menunduk kecil menatap putranya. “Namanya, Anisa Sebastian” Ulangnya lagi yang tak memberikan perubahan di raut wajah Axel. “Dia anak dari teman Mommy dan Daddy” lanjut Adelia penuh percaya diri.


Tanpa suara Axel terlihat membulatkan bibirnya. Memberi tanda jika dia mengerti.


“Ayo, lihat Daddy dan adikmu sudah menunggu lama di sana.”


Adelia mengadah mengarahkan tangannya ke arah seseorang yang berdiri di samping body mobil. Alva tampak melambaikan tanganya ke arah mereka berdua, sedangkan Alexa sedang tersenyum dari jendela mobil yang terbuka.


“Abang, Abang Axel!”


Suara itu tampak mengundang gerakan Adelia dan juga Axel untuk kembali berhenti. Mereka menoleh kebelakang, menemukan keberadaan Dimas dan juga Johan. Anak dari pria bernama Ervan itu terlihat sangat bersemangat sekali berlari mendekati Axel.


Axel tanpa bertanya dan hanya menunjukan raut wajah bertanyanya itu sudah dapat membuat Johan kembali berbicara.


“Abang Dimas bilang, dia mau mengajak kita bertarung mendapatkan Anisa”


“Apa?!”


Axel tidak menyembunyikan keterkejutannya. Berbeda dengan Adelia, wanita itu terlihat mengulum senyum geli di bibir mungilnya. Anak-anak kecil ini kenapa bersikap seolah-olah mereka pria dewasa. Sulit di percaya.


“Kenapa? Tidak mau?” Dimas menghujat ekspresi wajah itu.


“Tidak, hanya saja___ ”


-Tin-Tin-Tin-


“Kita bicara lagi besok di sekolah. Hai tante, Axel bye.. Ayo Johan”


Tanpa menunggu jawaban dari Axel, Dimas segera menarik Johan untuk mengikutinya. Tak jauh dari sana mobil-mobil yang menjemput mereka berdua sudah menunggu. Berbeda dengan Axel yang di jemput langsung oleh orang tuanya, Dimas dan Johan harus terbiasa di jemput oleh supir masing-masing. Kedua orang tua anak itu kadang terlalu memiliki kesibukan yang luar biasa.


“Ayo, kita juga harus pulang.”


Tanpa menjawab, Axel mengikuti mommy-nya. Tangan mereka bertautan, berjalan mendekati sosok Alva yang sudah cukup lama menunggu.


“Apa aku bisa menang dalam pertarungan?”


Adelia tanpa menghentikan langkah kaki mereka tampak tersenyum sebelum memberikan jawaban. “Jika takdir sudah berkehendak, kenapa tidak.”


“Jadi aku hanya perlu menyerahkannya pada takdir?”


“Tidak” Adelia menggeleng kecil. Matanya menerawang. “Kita harus tetap berusaha.”


“Seperti itu?”


“Tentu. Manusia harus tetap berusaha untuk mengejar apa yang di inginkannya, setidaknya mereka harus menunjukan yang terbaik untuk itu. Mengenai akhir-nya akan seperti apa? Tuhan-lah yang akan memutuskannya. Dia yang akan menilai, mana yang pantas dan tidak pantas untuk kita dapatkan dari hasil kerja keras kita.”


Seperti dirinya yang berusaha dengan keras mendapatkan hati pria itu. Alva yang sekarang sudah menjadi suaminya.


“Orang yang bersama kita hari ini belum tentu menjadi orang yang akan bersama kita dimasa depan, seseorang yang kita cintai hari ini belum tentu menjadi orang yang akan kita cintai dimasa depan. Begitupun dengan orang yang hari ini bukanlah siapa-siapa bagi dirimu, dia belum tentu akan menjadi orang asing di masa depanmu nanti.”


Axel tampak diam memikirkan ucapan panjang Mommy-nya. Tidak usah di ragukan mengenai sistem kerja otak anak ini. Dengan mudah, Axel bisa memahami maksud kalimat itu.


“Keputusan Tuhan bisa berubah, tapi takdir akhir manusia tidak akan bisa berubah.”


Kalimat itu mengantarkan mereka pada pria yang sejak tadi menunggu. Alva tersenyum membelai kepala istrinya, gerakan tangannya merambat hingga ke wajah Adelia.


“Seperti Takdir Kita” sahut Alva sambil memberikan ciuman di pipi adelia.


Axel dan Alexa hanya bisa menggeleng melihat tingkah kedua orang tuanya.


...🩰🩰🩰🩰🩰...