Trapped in Love

Trapped in Love
30. Si Dingin Alva



Adelia mengerjabkan matanya, kemarin dia baru saja sampai ke Indonesia setelah berbulan madu bersama Alva dengan waktu yang cukup lama. Adelia sekali lagi mengerjabkan matanya dan bibirnya melengkungkan senyuman indah, sudah pasti itu karena pemandangan yang dia dapat ketika mat aitu terbuka.


Tubuh Alva yang terbaring pulas dalam tidurnya. Wajah yang beberapa hari ini menjadi kesukaan adelia. Sosok Alva yang bagaikan kulkas dua pintu, irit bicara dan tidak normal sama sekali tidak terlihat di sana, sekarang yang terlihat di depan mata adelia hanyalah sosok alva yang terpejam Bagai seorang bayi.


Adelia sangat menyukainya, melihat alva yang tertidur.


Dengan enggan akhirnya adelia beranjak dari sana setelah lima belas menit menikmati wajah alva yang terbaring di sampingnya di atas satu tempat tidur.


Mereka benar benar saling menepati perjanjian pernikahan yang sudah mereka buat, keduanya memilih tinggal di apartemen milik Alva, apartemen minimalis elegan yang memang hanya memiliki satu kamar tidur, satu ruang tamu, ruang tengah yang merangkap sebagai ruang televisi, dapur dan juga ruang makan, lalu yang terakhir satu ruang kerja milik alva. Apartemen itu jelas jelas di design khusus untuk satu orang dan didekorasi sesuai dengan selera pria itu. Semua yang ada di dalam situ berkelas, bahkan hanya sebuah cangkir kopi.


“Jika kamu mau mengganti interiornya, gantilah, aku tidak masalah” adelia teringat ucapan alva yang menyuruhnya untuk mengganti interior dan desain apartemen itu jika adelia mau, tapi adelia memutuskan untuk tidak mengganti apapun, toh isi dalam sana cukup nyaman buat dia tinggali.


“Tidak perlu mencuci baju atau membersihkan apartemen ini, karena setiap dua atau tiga hari sekali akan ada pembantu yang membersihkan rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah” kembali adelia mengingat peringatan dari alva saat dia melihat tumpukan baju kotor di dekat mesin cuci.


Adelia sedikit berdebat dengan alva saat alva melarangnya untuk memasak, kalau bersih bersih memang adelia tidak pandai untuk melakukan itu, tapi kalau memasak adelia jagonya, dia suka memasak makanan tapi alva tidak ingin dia lelah dan menyuruh memesan makanan siap saji saja dari restoran atau tempat lain.


Dan akhirnya perdebatan itu berakhir dengan kemenangan adelia, gadis itu bisa menentukan kapan dia ingin memasak dan jika dia kelelahan alva sama sekali tidak melarangnya untuk memesan makanan dari luar.


Seperti hari ini Adelia sangat lelah karena perjalanan panjang yang dia lalui dari china menuju Indonesia, dia akhirnya memesan makanan siap saji dari restoran untuk dia dan alva nikmati di pagi hari, Setelah memesan makanan gadis itu bergegas ke dapur untuk membuat kopi dan susu, bulan madu bersama alva membuat adelia tau bahwa pria itu sangat suka minum kopi di pagi hari, jadi dia memutuskan untuk membuatkan alva kopi, sedangkan susu tentu saja untuk dirinya karena adelia lebih suka susu dibanding kopi.


Adelia bergerak kesana kemari di dapur untuk membuat kopi dan susu serta membuat roti untuk tambahan makanan mereka, takutnya makanan pesanan mereka lama datang, jadi adelia memutuskan membuat roti sedikit.


Alva yang baru bangun segera keluar dari kamarnya, pria itu menyandarkan tubuhnya di dinding melihat adelia yang bergerak kesana kemari sambil mengomel kecil, dia mulai terbiasa dengan omelan istrinya di pagi hari, karena memang adelia itu tidak pernah bisa diam, diamnya adelia menandakan ada masalah yang terjadi, jadi alva lebih suka melihat gadis itu mengomel dari pada diam.


‘Ting tong ting tong’


Adelia menoleh, suara bel berhasil mengalihkan tatapannya dari apa yang sedang dia kerjakan, gadis itu baru sadar dengan kehadiran alva di dekatnya, karena pria itu masih berdiri di sana melipat tangannya di depan dada.


Alva itu sangat berbahaya, karena jika dilihat dari cangkangnya saja dia terlihat sangat mempesona, apa lagi sikap dingin tapi perhatian, hal itu yang membuat adelia selalu hampir terpesona pada alva.


Tanpa mempedulikan tatapan pria itu kepadanya, adelia berlalu begitu saja melewati tubuh alva. Bahkan adelia tidak akan pernah memperdulikan, jika alva harus melihatnya dalam keadaan te_lan_jang sekalipun, sudah cukup godaan lingerie yang di suruh alva untuk di hentikan, itu berarti dengan itu saja tidak berpengaruh, adelia tidak akan lagi mau menggoda alva secara terang terangan.


Kemeja putih dan hotpants yang sebenarnya tidak terlihat mengingat hotpants itu tertutup oleh panjangnya kemeja putih yang melekat di tubuhnya tidak dapat membuat adelia terlihat canggung berkeliaran di depan mata alva, dia bahkan pernah seperti hanya memakai bikini dengan lingerie transparan, dan itu adelia akui alva tidak terpengaruh.


Sudah adelia katakan, te_lan_jangpun dia tidak peduli, jadi meskipun dia berkeliaran dengan baju seperti itu tidak masalah, dan sekarang kemeja itu ternyata sedikit menerawang memperlihatkan bagian dalam tubuhnya.


Adelia mendekati pintu utama apartemen, membukanya dan menemukan seorang pria pengantar makanan datang untuk mengantarkan makanan pesanan mereka.


Pria itu membungkuk ragu. Memperhatikan adelia lebih dari biasanya dia melihat para pembeli makanan, mata pria itu tertarik menatap lekukan tubuh adelia yang terbalut kemeja putih longgarnya. Meskipun tidak benar benar terlihat mencolok. Tapi mata pria itu masih bisa menembus bra hitam dibalik kemeja putih itu.


“Biar aku saja”


Adelia terhentak mundur saat tiba tiba alva menarik tubuh gadis itu ke belakangnya, menyembunyikan gadis itu dibelakang tubuhnya.


Sikap manis itu sama sekali tidak dimengerti adelia, dia malah merutuki alva dengan nada sepelan yang ia bisa mengingat di sana ada orang lain selain dirinya dan juga alva. Adelia tidak mau orang lain tahu ketidak normalan rumah tangga mereka.


“jaga matamu jika kau tidak ingin kehilangan pekerjaanmu hari ini juga” Ancam Alva sambil menyerahkan selembar kertas yang sudah di tanda tanganinya sebagai bukti jika makanan itu sudah ia terima. Sementara pria yang alva peringatkan hanya menunduk takut. Siapa yang tidak takut dengan kuasa alva. Peringatan dari pria itu bukan hanya sekedar ancaman jika alva mau semua akan langsung dia lakukan.


“Maaf tuan” ucap pengantar makanan ketakutan.


Tanpa memberi respon apapun lagi, Alva menutup pintu dengan sangat tidak menyenangkan, pengantar makanan itu masih berdiri di sana saat alva membanting pintu itu agar tertutup. Sedangkan adelia yang ada di belakangnya hanya mengerjab bingung. Karena alva tadi berbisik pada si pengantar makanan jadi adelia tidak mendengarnya.


...🎷🎷🎷🎷🎷...