Trapped in Love

Trapped in Love
74. Hamil



Sudah hampir dua puluh menit Alva duduk di sana, menundukkan kepalanya. Tangannya bahkan tidak berpindah tempat selama waktu itu. Alva terus menekan pelipisnya, kepalanya kini terasa berputar, keadaan itu membuatnya semakin tertekan.


‘Apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana? Kenapa lama sekali?’ alva membatin diikuti dengan kepalanya yang mendongak kea rah pintu putih dekat kursi rumah sakit yang bertuliskan UGD.


‘Adel kau kenapa, maafkan aku sayang, kenapa kau membuatku menjadi gila seperti ini, aku tidak bisa kehilanganmu adel’ lagi lagi alva merutuk dalam hati. Rasanya dia ingin sekali mendobrak pintu itu dan melihat wanita yang berada di dalam sana, apa dia baik baik saja? Alva benar benar ingin memastikannya.


Perasaan itu kembali, perasaan takut sama seperti beberapa tahun silam, di saat dia harus kehilangan seseorang, alva memejamkan matanya, air mata kembali mengalir di pipinya, dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya jika adelia menyetujui ucapan asal yang keluar begitu saja dari mulutnya.


‘Pergilah, jika memang itu yang kau inginkan mari kita berpisah’


“alva_”


Bayangan satu jam yang lalu itu melintas dengan sangat cepat. Ketika pertengkaran hebat itu terjadi, ketika wanita itu tiba tiba ambruk tepat didepan matanya, setelah ia mengucapkan kalimat terkutuk itu dengan sangat lancar dari mulutnya sendiri.


‘Apa yang sudah kau lakukan alva! Kau bodoh’ umpat alva dalam hati untuk dirinya sendiri.


Emosi sudah mengalahkan akal sehatnya. Alva sadar, tadi itu dia bertindak terlalu jauh tanpa berpikir, dan untuk pertama kalinya alva gagal dalam mengendalikan dirinya sendiri.


Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa adelia tiba tiba pingsan seperti itu? Apa karena darah yang keluar dari tubuhnya, atau karena hal lain.


Banyak sekali pertanyaan yang alva lontarkan pada dirinya sendiri dan banyak sekali kalimat makian untuk dirinya sendiri, pertanyaan yang bahkan sulit ia jawab, rasanya dia akan lebih suka di beri pertanyaan seputar rumus rumus matematika yang jelas ia bisa pecahkan dengan sangat mudah.


Alva mengacak rambutnya asal, ‘Astaga ini sama sekali bukan kau alva!’ umpat pria itu sekali lagi pada dirinya sendiri, apa sebesar itu pengaruh adelia bagi dirinya, dia cemburu hanya dengan pelukan saja, bahkan dia tidak pernah se cemburu itu saat lana di peluk oleh sahabat pria nya, tapi entah kenapa Adelia telah menghancurkan semua akal sehat alva.


Alva bahkan akan lebih memilih gila memikirkan gossip tentang dirinya dulu yang dinyatakan seorang gay dari pada harus benar benar gila karena memikirkan adelia meninggalkannya.


‘ya tuhan, aku mohon berhenti menyiksaku seperti ini’ doa alva di dalam hati.


‘ceklek’ pintu UGD akhirnya terbuka, seorang dokter keluar dari sana, “keluarga pasien?” tanya dokter itu.


“ya? Saya!” alva reflek bangun dari tempat duduknya, suara dokter itu berhasil memecahkan semua kinerja otak pria itu. Seorang dokter yang tadi menangani adelia tampak tersenyum ramah pada alva yang sekarang terlihat sangat mengerikan. Dari apa yang alva lihat dokter wanita berumur dua puluh delapan tahunan itu terlihat cukup terkejut ketika melihat dirinya yang mendekat.


“Apa anda tuan Alva?” tanya dokter itu memastikan.


Sepertinya wanita itu bukan hanya terkejut karena wajah alva yang tampak mengerikan tapi juga karena mendapatkan dirinya sendiri yang tidka percaya dengan keberadaan pengusaha terkenal di dunia itu sedan gada di depannya, suara dokter itu bahkan terdengar ragu.


“Bagaimana dok?” tanya alva membuyarkan lamunan dokter wanita itu.


“apa?” dokter dengan name tag sinta angraini itu terlihat cukup bodoh sekarang. Ia tersadar ketika seorang perawat yang setia berdiri di belakang tubuhnya memanggil namanya bahkan menyikutnya secara terang terangan. “Ahh, itu__ sebaiknya kita bicarakan di dalam ruangan saya saja” jelas dokter itu salah tingkah karena ketahuan baru saja melamun.


.


“selamat tuan Alva, istri anda hamil” beberapa kata yang diucapkan oleh dokter Sinta, membuat alva membelalakkan matanya tidak percaya.


“ha-hamil? I-istri saya hamil?” beo alva tidak percaya.


Dokter sinta mengangguk sambil tersenyum ramah, “ benar, istri anda sedang hamil tuan alva, dan sekarang usia kandungannya baru menginjak 3 minggu, jika dia tidak pingsan mungkin anda belum tau tentang kehamilan ini” jelas dokter sinta sekali lagi.


“Dokter yakin istri saya hamil?” tanya alva sekali lagi.


“Sangat yakin tuan Alva” angguk dokter sinta.


‘istriku hamil? Apa benar adelia sedang hamil? Adelia hamil? Anak siapa?’ beberapa pertanyaan muncul dalam kepala alva. ‘Astaga kau ini bodoh atau apa alva, tentu saja itu adalah anakmu alva, kau bahkan adalah pria pertama yang mengambil mahkota kesuciannya, kau juga bahkan menidurinya hampir setiap malam. Tanpa alat kontrasepsi ataupun alat lain untuk mencegah kehamilannya, kau juga menumpahkan semua cairanmu di dalam ra-him wanita itu tanpa sisa, bahkan selama ini kau selalu menjaga ketat adelia untuk keluar kemana saja, adelia sudah hidup seperti orang yang berada dalam penjara, bagaimana bisa dia hamil anak orang lain’ pikiran alva terus berkecamuk dalam otaknya.


Alva sangat yakin seratus persen bahwa anak dalam perut adelia adalah anaknya bukan anak pria lain atau anak Keanu, memikirkan pria itu hati alva kembali memanas. Luapan emosinya kembali, secara tidak langsung pria itulah yang sudah membuat mereka bertengkar hebat dan membuat adelia harus terbaring di rumah sakit.


Tapi mengingat tentang anak, ada perasaan hangat yang menjalar dalam hatinya yang mulai menghancurkan emosinya sedikit demi sedikit.


.


Setelah bicara dengan dokter Sinta, alva menerima sebuah kejutan yang membuatnya cukup shock, pria itu sekarang berakhir di sini, di ruangan dimana adelia sedang menjalani perawatannya. Wanita itu saat ini masih terbaring dan setia menutup matanya.


Menurut apa yang dia dengar dari dokter Sinta, Adelia mengalami stress yang membuat tubuhnya yang sedang hamil bekerja tidak stabil dan terguncang hebat. Karena itulah adelia pingsan. Beruntung sekali ketiganya tidak mengalami sesuatu yang buruk. Hanya mengalami sedikit tekanan dan kelelahan saja.


‘Apa yang membuatnya tertekan? Apa hidup denganku?’ tanya alva dalam hati. Alva ingat adelia pernah mengatakan secara lantang pada Ervan bahwa dirinya hidup tertekan denganku. alva mengusap kepalanya frustasi.


...🪕🪕🪕🪕🪕...