Trapped in Love

Trapped in Love
79. Kita akan membesarkannya



Demi apapun dia merindukan wajah itu. Wajah Alva saat tertidur. Rasanya waktunya tertidur begitu panjang sehingga Adelia merasa jika dirinya sudah tidak melihat Alva dalam waktu yang sangat lama. Adelia beranjak dari tempat tidurnya, mendekat ke arah sofa. Kondisinya bahkan sudah cukup baik untuk berdiri dan kembali berjalan. Lagi pula dia hanya pingsan, bukan sakit.


Adelia berjongkok disisi sofa yang ditiduri Alva, mencoba memuaskan rasa hausnya yang sudah tidak tertolong lagi dengan melihat garis wajah pria itu. Tampan, pria ini selalu terlihat tampan dalam kondisi apapun. Bahkan Adelia yakin, sekalipun Alva menjadi gelandangan, pria ini akan tetap terlihat tampan dan tidak kehilangan pesonanya.


Astaga bagaimana bisa kau membayangkan pria ini menjadi gelandangan. Adelia tersenyum geli dengan hasil imajinasinya. Mengingat berapa banyak harta pria ini, sesuatu yang dipikirkannya hanyalah kemustahilan.


“Kau bangun?” tanya adelia spontan begitu melihat mata alva terbuka.


“Apa yang kau lakukan?”


Pertanyaan Adelia justru terbalas oleh pertanyaan Alva. Pria itu bergegas bangun dari posisi tidurnya ketika menemukan Adelia ada dihadapannya, menarik kedua sisi lengan Adelia agar terbangun dari posisinya, menggeser wanita itu agar duduk di sofa tepat di samping tubuhnya. “Kenapa kau duduk di bawah? kenapa tidak terbaring saja di tempat tidur? Kau tidak apa kan?”


Adelia hanya mengangguk kecil. Meskipun Alva berbicara dengan nada datar tapi Adelia bisa menangkap kekhawatiran dari kalimat pria itu.


“Al, aku, aku____” ucapan adelia terpotong.


“Diam lah, kau harus istirahat.”


“Aku bahkan sudah tertidur lebih dari dua belas jam. Apa kau menyuruhku untuk tidur selamanya?” gerutu adelia tanpa sadar.


Alva tidak menjawab. Pernyataan wanita didepannya sungguh tidak masuk akal. Yang benar saja, menyuruh wanita ini tidur untuk selamanya. Melihat Adelia pingsan lebih dari tiga puluh menit saja dia sudah seperti orang kehilangan akal sehat. Bagaimana bisa Adelia berbicara hal bodoh seperti itu.


Sejak awal Alva memang tidak berniat menjawab. Dia hanya menatap Adelia meyakinkan dirinya jika wanita ini sudah terbangun, jika istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Dengan gerakan tak terbaca, Alva sudah membuat wanita itu berpindah tempat tepat di gendongannya. Membawa tubuh istrinya kembali terbaring diatas ranjang rumah sakit.


“Aku baik-baik saja, aku ingin pulang” gumam adelia pelan.


“Biar Dokter yang menentukan.”


“Al~”


“Tutup mulut jika kau ingin benda itu selamat.”


Detik itu juga Adelia menutup mulutnya serapat mungkin. Membiarkan saja tangan pria itu menarik selimut menutupi tubuhnya. Adelia menatap lekat kearah wajah pria itu. Ada yang ingin dia bicarakan, tapi bagaimana dengan reaksi Alva nantinya. “al” panggil adelia pelan.


“Hm” alva hanya menjawab dengan berdeham, dia sibuk merapikan selimut yang adelia kenakan.


“Bayi ini___”


Alva berhenti dari gerakannya membereskan letak selimut di tubuh Adelia. Pria itu diam beberapa saat sampai akhirnya memilih duduk disisi Adelia diatas ranjang. Tangan Alva bergerak kecil meraih salah satu tangan wanitanya. Menggenggamnya, menatap wajah wanita itu lembut. “Kita harus merawatnya bukan?”


Ada perasaan lega di sana. Apa itu artinya Alva mau menerima keberadaan bayi ini? Apa pria ini juga tidak akan menceraikan dirinya dan merawat bayi ini bersama-sama hingga akhir.


“Kau tidak marah?”


“Alasan apa yang membuatku harus marah?”


Untuk beberapa saat keduanya diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pikiran yang bahkan sama bodohnya itu berkeliaran bebas di otak mereka. Jika Adelia berpikir Alva akan marah karena kehamilannya, Alva bahkan berpikir Adelia akan membenci dirinya karena membuat wanita itu hamil. Mereka cukup bodoh untuk memahami kondisi masing-masing.


“Kau akan melakukannya bukan?”


“Apa?” Adelia membeo polos. Setelah cukup lama diam Alva justru bertanya sesuatu yang bahkan sulit dia mengerti.


“Bayi kita, merawatnya.”


Bayi kita? Tuhan, apa aku tidak salah dengar. Alva mengatakan ‘bayi kita’ atas kepemilikan bayi dalam perutku. Meskipun itu kata sederhana yang memang sering keluar dari mulut kedua pasangan suami istri, rasanya Adelia terlalu bahagia. Bahagia karena Alva yang mengatakan kalimat itu. “Tentu.”


Sebuah senyuman yang sangat jarang sekali terjadi itu terbit begitu tulus dibibir Alva.


‘Tuhan aku tidak ingin kehilangan nya. Bolehkah?’ tanya adelia dalam hati.


Diwaktu kebahagiannya, tiba-tiba Adelia memikirkan hal yang membuatnya tidak cukup tenang. Senyumannya berlahan menghilang, Adelia memaksakan dirinya untuk bangun dan duduk meskipun Alva sempat melarangnya. Tangannya yang lain yang tak tersentuh Alva bergerak dan mendarat diatas permukaan punggung tangan Alva yang terbalut perban. Tangan yang saat ini menggenggam tangannya sendiri. “Al~”


“Apa?” Perubahan ekspresi Adelia yang tiba-tiba cukup membuat Alva diliputi perasaan cemas.


“Perceraian itu? perceraian yang kau katakan.”


“Itu tidak akan pernah terjadi.”


Saat itu juga Adelia merasakan dirinya bisa kembali bernafas. Kebahagiannya bertambah. Senyumannya kembali mengembang menghiasi wajah cantiknya yang dihiasi beberapa luka kecil.


“Kau harus tahu, kejadian itu semuanya tidak benar. Aku dan keanu kami____”


“Aku bilang untuk menutup mulutmu” potong alva.


“Aku akan menutupnya.” Adelia refleks terdiam saat peringat itu terlontar lagi dari mulut suaminya. Menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahannya agar tidak lagi kembali berbicara.


“Aku menyuruhmu untuk menutup benda itu, bukan menggigitnya.”


“apa?”


Setelah kalimat itu Adelia tidak lagi merasakan apapun selain tubuhnya yang tiba-tiba menegang. Matanya refleks tertutup dengan sendirinya saat bibir Alva mendarat dipermukaan bibirnya. Menge_sap nya lembut. Luapan rindu begitu ketara di sana. Adelia ikut membalasnya, mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Alva saat getaran itu kembali terjadi. Hingga beberapa menit sampai kedua bibir mereka terlepas.


Alva menatap lekat ke arah wanitanya. Ke arah wajah yang saat ini memiliki beberapa plester transparan untuk menutupi lukanya. Luka yang dihasilkan oleh ulah Alva. “Maafkan aku”


Alva Membelai lembut pipi Adelia dengan tangannya. Menyusuri luka-luka kecil di wajah putih istrinya, lalu direspon dengan tangan Adelia yang mendarat diatas punggung tangan Alva.


“Tidak apa”


Wanita didepannya selalu mengatakan baik-baik saja meskipun dalam keadaan terluka. Kepala Alva kembali mendekat hingga sapuan bibir Alva mendarat dipermukaan dahi Adelia. “Jangan membuatku cemas lagi.”


Adelia mengangguk patuh dibarengi dengan senyumannya yang merekah cantik bagai bunga di musim semi. Keduanya melebur jadi satu dalam pelukan hangat, melepas perasaan rindu.


...🥍🥍🥍🥍🥍...