
Jeremy mengepalkan tangannya geram dengan ucapan yang keluar dari mulut alva, itu pertanda alva benar benar melupakan adiknya yang mati karena melindungi Alva. Jeremy hanya ingin alva tersiksa dengan kematian adiknya selamanya, dia sangat membenci alva karena itu dia ingin alva menikah dengan Luna yang wajahnya sudah sangat mirip dengan Lana, dia ingin alva terus terbayang dengan masa lalunya.
“Beberapa hari lagi adalah hari kematian Lana, aku mau kau datang, karena lana pasti senang dengan kedatanganmu” ujar Jeremy.
“ya aku akan datang” jawab alva.
“Dan aku ingin menitipkan luna padamu untuk beberapa hari” lanjut Jeremy.
Alva menoleh menatap Luna yang tersenyum ke arahnya. “kalau itu aku tidak bisa, apartemenku hanya ada 1 kamar, apa dia mau tidur di sofa dan mendengar suara erotis aku dan istriku yang sedang melakukan kegiatan panas kami? Ahh, kami juga kadang melakukannya di sofa atau dimana saja, maklum pengantin baru” tolak alva sambil memberikan banyak alasan.
“Hanya beberapa hari saja, aku ada urusan penting, dan luna tidak bisa meninggalkan pekerjaannya disini, aku memintamu menjaga adikku hanya beberapa hari, tidak usah di apartemen mu, kan ada hotel” Jeremy menatap serius alva, seolah olah seperti sedang menagih hutang pada pria itu.
“Dia sudah besar, kenapa masih harus dijagain, aku tidak bisa menjaganya, untuk menjaga istriku saja aku kesusahan, aku tidak mau kehilangan lagi, jadi aku tidak ingin penjagaanku berkurang pada istriku” tolak alva lagi.
“Kau benar benar tidak bisa aku mintai tolong Alva! Gara gara kamu adikku mati! Apa kamu masih tidak mau menerima permintaan kecil dariku!” Jeremy tampak mulai emosi.
“Alva tidak pernah berhutang padamu Jeremy! Kenapa dia harus menerima permintaanmu? Adikmu sudah besar, dia bisa menjaga dirinya sendiri, tidak harus selalu di lindungi, kalau benar dia takut di ganggu orang pesan saja jasa bodyguard untuk mengikuti dia kemanapun dia pergi, kematian lana bukan sesuatu yang membuat alva selamanya berhutang padamu, ingat alva tidak pernah meminta untuk di selamatkan!” sela Ervan.
.
“wahh mereka berdua memang tidak pernah bisa melihat kamu bahagia” omel Ervan sambil duduk di sofa menatap alva yang sudah duduk di kursi tempat dia bekerja. “kau yakin akan ke pemakaman Lana?”
“Yakin” jawab alva singkat tanpa menatap Ervan.
“Adelia bagaimana? Dia sudah tau? Hari itu adalah hari libur, aku tau kalian berdua akan mendekam di apartemen kalian setiap hari libur” sindir ervan.
“Itu urusanku ervan, kau tidak perlu ikut campur” balas Alva datar.
...🎺🎺🎺🎺🎺...
Adelia dan Alva memulainya dengan baik. Pernikahan yang di awali hanya dengan sebuah perjanjian untuk saling menguntungkan kedua belah pihak terlupakan. Lambat laun sikap mengambang mereka mulai menghilang, tidak ada lagi kecanggungan di sana meskipun perdebatan kecil masih sering terjadi di antara kedua pasangan itu. Mereka lebih sering terlihat mesra dan romantic jika sedang berdua saja.
Mungkin sebagian orang akan menganggap hal itu aneh, karena sikap mereka benar benar berubah drastis satu sama lain. Rasanya terlalu cepat, tapi mereka tetap mencobanya. Mencari jawaban atas apa yang mereka rasakan. Setidaknya mereka bisa menjadi pasangan kekasih untuk sekarang ini.
Keduanya hanya ingin saling berbagi, saling melengkapi dan memiliki satu sama lain yang saat ini baru mereka jadikan alasan untuk tetap bersama, ungkapan cinta masih belum terdengar, mereka cukup dengan apa yang ada di depan mereka saja, asalkan berada disisi masing masing. Adelia dan Alva merasa cukup untuk saat ini. Asalkan bisa saling melihat dan berada di jarak yang sama, bisa mencium tanpa sembunyi sembunyi, keduanya merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang tidak sepenuhnya mereka sadari itu.
“Nah ini” Adelia meletakkan kopi dan beberapa cemilan di depan alva, wanita itu ikutan duduk di sebelah alva dengan bersandar pada bahu pria itu, adelia ikutan menonton acara yang sedang Alva saksikan.
Dering ponsel adelia membuat wanita itu mendengus kesal, dengan sangat malas adelia berjalan menuju kamar utama dimana dia meninggalkan ponselnya tadi. Wanita itu kembali ke sofa dan kali ini menjadikan paha alva sebagai tempat dia menyandarkan kepalanya.
“Siapa sih ini?” gumam adelia melihat nomor tidak di kenal yang sedang menghubunginya, biasanya kalau klien akan lebih dulu mengirim pesan padanya sebelum menelpon dia secara langsung, karena para pelanggan Adelia sudah tau etika wanita itu dalam berbisnis.
“Siapa?” Alva menunduk dan ikutan melihat layar ponsel adelia.
“Ini” adelia mengangkat ponselnya agar alva lebih jelas melihat layar ponselnya.
Alva mulai membaca nomor yang tertera di sana, mata pria itu membulat sempurna untuk beberapa detik, hanya beberapa detik karena alva bisa menahan ekspresinya menjadi datar, “mungkin klien kamu” ujar alva datar, berusaha menahan diri untuk tidak segera merebut ponsel yang ada di tangan istrinya.
“Hmm.. mungkin, apa aku hubungi lagi ya?” adelia mulai menekan ponselnya hendak menelpon ulang karena telepon tadi sudah mati.
“gak perlu, ini hari libur, dan jangan menerima telepon dari orang yang tidak dikenal” alva merebut ponsel yang ada di tangan adelia dengan satu gerakan cepat.
“Siapa tau klien, sini kan ponselnya al~” adelia berusaha meraih ponselnya namun alva masih berusaha menjauhkan ponsel itu darinya.
“Mulai sekarang janji sama aku, kalau kamu hanya mengangkat telepon dari orang yang sudah kamu kenal, kalau nomor yang tidak di kenal jangan pernah diangkat” ujar alva sekali lagi.
“Ihhh kalau klien baru gimana? Sini kan ponsel adel” rengek adelia, wanita itu sudah duduk sambil berusaha meraih ponselnya.
“beli saja ponsel baru, satu ponsel pribadi satu lagi ponsel klien kerja, yang ponsel klien biar nara yang pegang” Alva masih bersih keras dengan perintahnya.
“gak mau emang kenapa sih, nah loh itu ngubungi lagi, ayo sini kan” pinta adelia lagi.
Alva melempar ponsel adelia ke sofa samping dan langsung menindih tubuh gadis itu, “mulai gak nurut sama suami, mau kena hukum” ancam alva.
Adelia bukannya takut malah tertawa kecil, nafas alva yang menerpa wajahnya terasa geli makanya dia tersenyum dan tertawa kecil.
‘cup’ Tawa adelia hilang saat alva sudah menempelkan bi-birnya pada bi-bir milik adelia. Pria itu mulai mengu-lum bi-bir milik adelia, tangan alva juga tidak tinggal diam, mulai masuk ke dalam baju adelia dan memberikan re-ma-san pelan pada squisy milik adelia yang masih tertutupi dengan pakaiannya.
‘Ting tong ting tong’
...🏒🏒🏒🏒🏒...
Terima kasih untuk pendukung novel author selama ini author mohon tolong bantu author untuk like, vote dan comment nya ya, bantuan kalian membuat author semangat buat up, kalau likenya banyak author janji akan up 5 bab sehari