Trapped in Love

Trapped in Love
60. Kembali Canggung



Tu-buh Alva bergerak lebih dulu yang disusul Adelia dengan mengikuti gerakan yang sama. Mata wanita itu lagi lagi tertutup, bi-birnya yang sedikit terbuka meloloskan desa-han-nya sendiri. Desa-han yang membuat Alva me-nik-ma-ti gerakan nya, desa-han yang membuat pria itu kehilangan lagi kendalinya. Alva bergerak semakin cepat. Mengejar kenik-ma-tan-nya.


“Alva~ al~ aahhh!”


Desa-han Adelia berhasil menjadi rang-sa-ngan lebih di tu-buh alva. Terlebih saat wanita itu memanggil namanya dalam desa-han tersebut. Dia semakin bergerak cepat yang di balas juga oleh istrinya. Tu-buh keduanya mene-gang, tangan adelia bahkan bergerak tak terkendali. Mere-mas rambut alva bahkan mencakar tanpa sadar punggung pria itu, mencari pelampiasan kenik-ma-tannya saat li-dah suaminya menjelajah liar di daerah telinga, le-her dan da-danya tanpa mengurangi kecepatan tubuhnya menghentak semakin dalam.


Ruangan itu ramai seketika oleh suara suara e-ro-tis mereka. Saat Alva meng-hen-tak semakin dalam maka ketika itu juga jeri-tan adelia menggema. Memberitahu jika dirinya terlalu menik-mati gera-kan suaminya.


“Adel~ Ohh”


“Alva~ aku...”


“Argghh…”


Desa-han panjang keduanya menggema, melebur menjadi satu. Menjadi bukti atas ke-nik-ma-tan sur-ga dunia yang baru saja mereka raih bersama.


Sem-protan kuat terjadi beberapa kali memasuki ra-him wanita itu. Keduanya tere-ngah menik-mati tiap detik sisa sia kenik-matan itu. Mata keduanya terpejam yang lambat laun membuat mereka kehilangan kesadaran dengan sendirinya.


Satu malam pa-nas kembali terjadi.


...🎺🎺🎺🎺🎺...


Alva terjaga setelah menyadari Cahaya matahari menerobos masuk ke celah celah mata, dan itu berhasil menyilaukan pandangannya. Jendela kaca besar tepat di depannya menjadi pemandangan pertama yang ia dapati setelah kesadarannya terkumpul sempurna. Bukan jendela itu yang mengundang perhatian pria itu. Bayangan tu-buh wanita yang berdiri di sana, di luar balkon kamar itu yang menjadi perhatian alva. Pria itu melihat adelia berada di sana. Dalam balutan jubah mandi berwarna putih.


Otaknya tiba tiba berputar cepat. Kilatan bayang bayangannya dengan wanita itu semalam teringat jelas di sana. Dimulai dengan kedatangan mereka ke hotel itu, pertemuan dengan Jeremy dan luna, percakapan dengan ervan, dan kalimat ketiga orang yang membuat istrinya murka, hingga sampai dimana dia menci-um wanita itu di depan umum. Dan semuanya berakhir di kamar itu. Berakhir dengan kejadian di mana dia kehilangan lagi kendalinya. Kejadian yang mengharuskan ria ini menyentuh lagi istrinya. Dan mungkin menyakitinya lagi sesuatu yang sebenarnya percuma dia sesali.


Tanpa merubah ekspresinya, Alva bergerak kecil. Mencari dimana jasnya tergeletak asal. Alva merogoh sesuatu dari dalam kantung jas itu. Membuka layar kunci ponselnya, dan menekan satu dial nomor untuk dihubungi.


📲“Bawakan pakaian untukku dan juga untuk adelia, sekarang”. Tanpa menunggu jawaban dari pelayan tua yang sejak kecil menjaganya, alva segera mematikan telepon itu secara sepihak. Pelayan Anton adalah pria tua yang menjaga alva sejak alva pindah ke rumah kakeknya, pria tua itu adalah asisten kakeknya. Dari pada menyuruh Ervan yang membawakan baju dia dan adelia, alva lebih memilih untuk meminta bantuan pak tua itu, karena Alva tau bagaimana hubungan Ervan dan Adelia yang sering bertengkar apalagi Alva tidak ingin adelia kembali marah dengan dirinya kalau dia memanggil ervan.


Karena Alva tidak tau jika Adelia dan Ervan sudah berbaikan, dan juga Adelia sudah tau rahasia yang dia simpan.


Pandangan Alva kembali beralih pada adelia yang masih dalam posisi yang sama walau alva yakin adelia mendengar suaranya.


Alva mengacak rambutnya frustasi, dia tidak pernah berada dalam situasi seperti itu, apa yang harus dia lakukan? Apa memeluk adelia dari belakang atau meminta maaf lagi? Alva menggelengkan kepalanya dan kembali mengacak rambutnya frustasi.


‘Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah dan tidak pergi dariku?’ tanya alva dalam hati.


Alva kembali menatap punggung wanita yang masih betah berada di balkon dengan pandangan sendu, perlahan pria itu tegak dan memilih berjalan menuju kamar mandi, Alva memutuskan untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum pelayan setianya datang membawa pakaian ganti untuk mereka berdua.


.


Adelia sedikit menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pintu yang tertutup, entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu, tapi saat ini kepalanya sedang kacau.


📲“Halo” jawab adelia datar.


📲“Del?! Aku liat berita terbaru tentangmu, ada dimana kamu sekarang? Kenapa tidak ke butik?” tanya Nara beruntun.


📲“Ahh sudah keluar beritanya, apa yang dikatakan di sana? Apa bagus atau buruk?” tanya adelia datar.


📲“semua beritanya adalah berita bagus, del suara kamu kenapa? Kamu sedang ada dimana sekarang?” tanya Nara cemas, mungkin karena sangat hapal dengan sifat adelia, maka gadis itu dengan mudah mengetahui suasana hati adelia saat ini.


📲“Hotel” jawab adelia singkat.


📲“Del, jangan bilang kamu dan alva sudah melakukan itu?!” pekik Nara tidak percaya.


📲“Hmm” jawab adelia singkat, wanita itu memandang kosong kearah depan.


📲“del, apapun yang terjadi jangan mengambil kesimpulan dari hasil pemikiranmu, tanyakan langsung dengan mulutmu pada alva, jangan pernah menarik keputusan dari khayalan yang ada dalam kepalamu!” omel Nara, gadis itu sangat tau Adelia itu mempunyai khayalan yang luar biasa mengerikan bahkan mungkin akan membuat orang orang geleng geleng kepala dengan khayalan adelia.


Adelia tersenyum kecil dan tertawa pelan.


📲“Emang apa yang aku pikirkan, seperti kamu bisa membaca pikiranku saja” sindir adelia.


📲“Aku memang tidak bisa membacanya tapi aku bisa menebaknya itu adalah pikiran pikiran negative, jadi jangan mengambil keputusan berdasarkan hasil pemikiran mu” nasehat nara sekali lagi.


📲“Nar, aku takut ini adalah hadiah perpisahan bagiku” lirih adelia sambil tersenyum kecut.


📲“kan benarkan! Perpisahan apa hah! Kalau dia mau berpisah darimu dia tidak akan me-ni-duri mu, ADELIA!” pekik Nara sekencang kencangnya.


📲“ya bisa saja kan” balas adelia sambil cemberut.


📲“Aku heran sama kamu del, kamu itu pintar tapi hasil khayalanmu itu terlalu luar biasa polos! Jangan berpikiran macam macam, sekarang datangi alva dan tanyakan dia mau apa padamu, jangan menerka nerkanya!” amuk Nara.


📲“dia sedang di kamar mandi, apa aku harus gedor?”


Mungkin di sebrang sana Nara sedang menjedukkan kepalanya ke dinding karena punya sahabat pintar bin polos seperti adelia, kalau di tanyakan soal pelajaran dan bahasa jangan tanya adelia jagonya, kalau di tanya soal perasaan jangan di tanya soalnya adelia itu super bodoh dalam urusan asmara. Bahkan saat bersama Keanu Adelia yang mengejar ngejar dirinya, mungkin karena alasan itu Keanu bosan pada adelia.


📲“Tidak perlu, cukup kamu tunggu dia selesai dan tanyakan padanya, kenapa dia meni-durimu dan apa yang dia mau sekarang, jangan berasumsi yang lain atau membayangkan hal lainnya” peringat Nara.


📲“Iya baiklah nara” jawab Adelia pasrah.


...🎮🎮🎮🎮🎮...